Buku biasanya terdiri atas bagian-bagian seperti sampul, kata pengantar, daftar isi, daftar gambar, bab, hingga lampiran yang masing-masing memiliki nomor halaman berbeda-beda. Ada yang tanpa nomor halaman, nomor Romawi, nomor angka, hingga nomor abjad. Beberapa orang ada yang membuat laporan atau buku dengan cara dipecah menjadi beberapa berkas dokumen menurut nomor halaman. Dengan begitu dalam satu direktori/folder ada beberapa berkas seperti cover.doc, daftar-isi.doc, bab1.doc, bab2.doc, sampai lampiran.doc untuk sebuah naskah buku.
Berkas dokumen yang terpecah-pecah tersebut tentu tidak efisien dari sisi penulis, sebab penyuntingan menjadi lama karena butuh ketelitian lebih detil, dan ini mengganggu konsentrasi menulis saat dikejar deadline. Bagaimana bila institusi menghendaki laporan harus dipecah per bab untuk alasan berkas menjadi lebih kecil dan praktis di-donwload misalnya? Oh, itu bisa dilakukan belakangan, yang penting fokus konten lebih dulu.
Nah, berikut tutorial membuat nomor halaman yang berbeda-beda dalam satu berkas dokumen menggunakan LibreOffice/OpenOffice.
1. Diasumsikan sudah ada beberapa halaman dan akan membuat seperti contoh berikut ini.
2. Tekan F11, pilih Page Styles, dan buat style baru dengan nama HalamanRomawi, lalu ikuti langkah seperti gambar berikutnya.
3. Buat style baru HalamanAngka dan ikuti langkah seperti gambar berikutnya.
4. Arahkan pointer pada lembar kerja yang akan dibuat nomor halaman Romawi, lalu pada Styles and Formatting tekan double-click pada HalamanRomawi.
5. Untuk halaman berikutnya, misalnya nomor halaman angka, pilih menu Insert > Manual Break > Page Break > HalamanAngka, lalu sesuaikan nomor halamannya menurut keinginan.
Sampai disini sudah bisa dilanjutkan sendiri step-by-step.
Semoga bermanfaat.
Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan
Rabu, Januari 04, 2012
Kamis, Desember 01, 2011
Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas menulis
Selama bulan November kemarin perhatian menulis saya beralih menuju ke blog yang akunnya sudah saya miliki sejak 5 tahun yang lalu di Wordpress.com ini. Saya membuat tulisan soal apa saja yang bisa saya tulis, entah itu kejadian yang ada disekitar saya, soal pekerjaan, atau soal apa yang perlu saya catat dari apa yang saya dengar, lihat, baca, rasa, atau saya alami. Semua tulisan bukan untuk siapa-siapa kecuali untuk catatan saya sendiri, adapun orang lain suka atau tidak itu bukan masalah, inilah yang saya suka dengan blog, bebas tapi ada tapinya. :-)
Menulis dimulai dari komitmen, lalu ada kemampuan (baca: sehat) dan kesempatan yang mendukung. Alhamdulillah syukur atas nikmat sehat dan kesempatan itu.
Hasilnya, terhitung dalam sebulanan itu saya berhasil membuat posting sekitar 31 catatan artikel, meski cukup banyak kutipan. Ini berarti hampir tiap hari saya posting artikel. Ada beberapa kunjungan dari blogger lain, bahkan beberapa di antaranya ada yang berlangganan, wah! Padahal blog tersebut sengaja saya biarkan untuk percobaan, tidak di-broadcast ke milis atau sindikasi blog lainnya, cukup di twit dari twitter pribadi saja. Mungkin dirasa manfaat beberapa pembaca yang tertarik pun me-retweet, duh terima kasih ya. Swear deh ini bikin saya lebay banget.
Terlepas dari lebay-lebayan itu, saya sepakat dengan Ian Sommerville soal faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas software engineering dalam bukunya Software Engineering. Pasalnya, saya rasa ada benarnya terdapat persamaan antara programmer dengan penulis seperti yang pernah saya catat itu. Faktor-faktor itu adalah:
Itu catatan saya di awal Desember ini.
Menulis dimulai dari komitmen, lalu ada kemampuan (baca: sehat) dan kesempatan yang mendukung. Alhamdulillah syukur atas nikmat sehat dan kesempatan itu.
Hasilnya, terhitung dalam sebulanan itu saya berhasil membuat posting sekitar 31 catatan artikel, meski cukup banyak kutipan. Ini berarti hampir tiap hari saya posting artikel. Ada beberapa kunjungan dari blogger lain, bahkan beberapa di antaranya ada yang berlangganan, wah! Padahal blog tersebut sengaja saya biarkan untuk percobaan, tidak di-broadcast ke milis atau sindikasi blog lainnya, cukup di twit dari twitter pribadi saja. Mungkin dirasa manfaat beberapa pembaca yang tertarik pun me-retweet, duh terima kasih ya. Swear deh ini bikin saya lebay banget.
Terlepas dari lebay-lebayan itu, saya sepakat dengan Ian Sommerville soal faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas software engineering dalam bukunya Software Engineering. Pasalnya, saya rasa ada benarnya terdapat persamaan antara programmer dengan penulis seperti yang pernah saya catat itu. Faktor-faktor itu adalah:
- Pengalaman domain tulis-menulis. Penulis yang telah memahami domain tulis-menulis, mengerti tata bahasa, ejaan, tanda baca, akurasi data, mungkin merupakan yang paling produktif.
- Kualitas proses, proses penulisan yang dipakai memiliki efek yang signifikan pada produktivitas. Ada cara atau metode untuk memproduksi software seperti SDLC yang ditunjang tools yang tepat. Dengan begitu software yang dihasilkan cepat dan tepat sesuai dengan rencana. Begitu juga menulis. Misal ada tools improvement seperti editing, pemandu, pengutip, yang bisa memperbaiki kesalahan, membimbing menulis, dan mengutip rujukan secara cepat dan tepat.
- Ukuran tulisan, tulisan yang singkat, pendek, padat, rutin, lama-lama menjadi bukit, mirip prinsip modularitas pengembangan sistem yang makin membesar.
- Dukungan teknologi, ada Internet dan tools untuk menulis cepat, mudah, nyaman, posting, dan voila! Online... online!
- dan lingkungan menulis, suasana nyaman dan mendukung ini harus ada, jika berisik, gaduh, ramai, mencekam... agak sulit menulis deh.
Itu catatan saya di awal Desember ini.
Langganan:
Postingan (Atom)








