Tampilkan postingan dengan label OpenSource. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OpenSource. Tampilkan semua postingan

Selasa, Mei 29, 2012

Tips Cara Cepat Membangun Aplikasi Web dengan Scaffolding

JAMAN sekarang ada Open Source itu enak, saking enaknya, saat ini kalau membuat aplikasi cukup main generate sana generate sini, jadi hemat waktu. Syaratnya lakukan analisis dan perancangan yang benar, implementasi ke program tak sampai 5 menit! :-)

Percaya gak?

Ok, langsung saja. Kita coba membuat aplikasi CRUD peminjaman buku perpustakaan dengan menggunakan teknik Scaffolding. Scaffolding ini dulu digunakan Framework CodeIgniter versi 1.7.2, tapi versi 2.1 ini tidak lagi karena "konon" ada kelemahan. CMIIW. :-)

Nah, database perpustakaan ini setidaknya terdiri atas 2 buah entitas, yaitu 'anggota' dan 'buku', dan satu buah relasi 'miminjam'. Diagram ERD-nya sebagai berikut:

ERD Perpustakaan

Setelah itu, generate ERD tersebut dan import ke MySQL.

Jika berhasil, langkah berikut membuat aplikasi web CRUD dengan PHP. Anda tak perlu memprogram, cukup bermodal ERD yang benar tersebut. Unduh Scaffoldr versi terbaru, dan ikuti petunjuknya.

Voila! Tak sampai 5 menit program sudah jadi.

Form Edit Anggota Perpustakaan
Form Edit Buku

Form List Buku

Form Peminjaman

Betul enakan? :-D

Minggu, Mei 06, 2012

Mengatasi Problem Ubuntu 12.04 Precise Pangolin pada Acer TravelMate 2420

BELUM lama ini sistem operasi Linux Ubuntu 12.04 telah dirilis untuk publik dunia, dan sudah menjadi kebiasaan sebelumnya jika saat akan menggunakan sistem versi baru, saya menunggu beberapa lama untuk mengetahui perkembangan kelebihan dan kekurangannya lebih dulu. Alasannya sederhana, untuk mengganti sistem lama dengan sistem baru itu butuh waktu dan effort yang tidak sedikit. Tapi saya pikir, hari Jumat kemarin ada waktu luang untuk mencobanya, maka langsung saja deh dimulai.

Saat mencoba Live DVD dan instalasi. Dok. pribadi.


Berikut catatan saya:

Spesifikasi komputer yang akan saya pasang Ubuntu 12.04 adalah laptop lawas dengan usia sekira 6 tahunan, Acer TravelMate 2420, memory 1.5 GB, dan ruang HDD < 10 GB (untuk direktori root / dan swap 1.5 GB).

Live DVD 

Selesai membakar ubuntu-12.04-dvd-i386.iso yang diunduh di kambing.ui.ac.id, langsung saya coba Live DVD tersebut. Hal pertama yang terlihat loading cukup berat. Unity desktop berjalan by default. Satu kendala tampak saat memutar Swansong yang dinyanyikan Josh Wooward, speaker laptop tak mengeluarkan suara, tapi bersuara saat dicolok earphone atau speaker booster.

Instalasi

Setelah mem-backup database dan beberapa berkas penting, proses instalasi dijalankan dengan waktu < 1 jam. Saya pertahankan Windows XP -- original, academic version, yang biasa digunakan untuk pekerjaan lain dalam menjalankan program khusus -- agar berdampingan atau dual boot. Proses instalasi tak ada masalah berarti, semua proses dilalui dengan lancar.

Gnome Shell pada Ubuntu 12.04 saya, cukup nyaman dan stabil.

Testing

Secara keseluruhan proses instalasi dan menjalankan beberapa aplikasi cukup lancar, dan saat ini hanya ada 3 masalah yang saya temui, masing-masing kasus mungkin berbeda tiap orang:
  1. GRUB rusak, saat booting muncul pesan ini:
    error: file not found
    grub rescue>
  2. Saat memutar aplikasi film dan musik, Sound tidak keluar suara sama sekali baik dari speaker laptop maupun booster.
  3. Gagal instalasi MySQL Workbench karena belum tersedia versi untuk Ubuntu 12.04 ini.

Penyelesaian

Solusi GRUB,
  1. Jalankan Live DVD dan terhubung ke Internet
  2. Lalu ikuti langkah di sini: https://help.ubuntu.com/community/Boot-Repair

Solusi Sound tak keluar suara,
  1. Sediakan koneksi Internet dengan bandwidth memadai dan stabil.
  2. Selesaikan dengan langkah yang ada disini: https://help.ubuntu.com/community/SoundTroubleshootingProcedure, jangan lupa pilih untuk versi 12.04

Catatan:
Ketika dalam tahap unduh saya kehabisan quota bandwidth, sehingga proses unduh macet di tengah jalan, dan proses instalasi tidak sempurna. Meski begitu, ternyata suara keluar saat jack speaker dicolok ke speaker booster. Untuk saya solusi ini sudah cukup. :-)

Solusi instalasi MySQL Workbench,

Masalah ada pada tidak tersedianya library yang sudah tidak disediakan untuk versi 12.04 ini: libmysqlclient16 dan libzip1

Library tersebut tersedia untuk versi 11.10 Oneiric, untuk itu ambil saja masing-masing libmysqlclient16 disini http://packages.ubuntu.com/oneiric/libmysqlclient16 dan libzip1 disini http://packages.ubuntu.com/oneiric/libzip1 sesuai masing-masing arsitektur mesin komputer Anda, lalu instal.

$ sudo dpkg -i *.deb


Setelah itu, install masing-masing library berikutnya:

$ sudo apt-get install python-paramiko python-pysqlite2 libctemplate0 libgtkmm-2.4-1c2a


Unduh MySQL Workbench untuk Ubuntu versi 11.04, lalu install dengan dpkg.

Jika semua berhasil jalan dengan baik, saya ucapkan selamat Anda layak jadi Linuxer! :-D

Selasa, September 06, 2011

Tutorial Menjalankan XAMPP Setiap Kali Booting pada Ubuntu GNU/Linux

Masih melanjutkan pertanyaan dari email yang belum terjawab, berikut tutorial sederhana menjalankan XAMPP setiap kali booting di Ubuntu 11.04 Natty Narwhal yang baru diinstalasi.

Sebelumnya saya pastikan komputer saya belum berisi web server Apache, buka terminal dan ketik:
:~$ sudo service ap //tekan tab sampai muncul nama2 service
apparmor apport

Tak ada apache2, dengan demikian belum ada web server Apache yang aktif yang dapat mengganggu uji coba ini.

Untuk instalasi ada 4 langkah seperti petunjuk dari situsnya:
  1. Download 
  2. Installation 
  3. Start 
  4. Test 
Installation

Gunakan terminal untuk instalasi, masuk dimana file unduhan berada dan ketik untuk sekaligus membuat direktori /opt:
:~$ sudo tar xvfz xampp-linux-1.7.4.tar.gz -C /opt
 
Start
Kemudian jalankan:
:~$ sudo /opt/lampp/lampp start
Starting XAMPP 1.7.4...
XAMPP: Starting Apache with SSL (and PHP5)...
XAMPP: Starting MySQL...
XAMPP: Starting ProFTPD...
XAMPP for Linux started.
 
Test 
Untuk lihat status apakah XAMPP dalam kondisi running atau tidak, ketik ini:
:~$ sudo /opt/lampp/lampp status 
Version: XAMPP for Linux 1.7.4 
Apache is running. 
MySQL is running. 
ProFTPD is running. 

Bisa juga buka browser dan akses http://localhost

Nah, sampai di sini shutdown dan booting lagi, lalu cek statusnya:
:~$ sudo /opt/lampp/lampp status 
Version: XAMPP for Linux 1.7.4 
Apache is not running. 
MySQL is not running. 
ProFTPD is not running. 


is not running, berarti nggak jalan. Untuk menjalankan setiapkali boot-up di Ubuntu ada 2 cara, cara tradisional atau cara Upstart.

Cara Tradisional

Ingat runlevel? Sebuah runlevel adalah sebuah kondisi operasi yang telah ditetapkan pada sistem operasi mirip Unix. Sederhananya, sebuah 'runlevel' menentukan program mana yang dijalankan pada saat startup sistem. Sebagian besar berurusan dengan sistem startup.

Runlevel Linux secara umum diberi nomor 0 sampai 6. Runlevel berhenti di nomor enam untuk alasan praktis dan historis, tetapi bisa memiliki tingkatan lebih jika diinginkan. Di Ubuntu 6.10 (Edgy Eft) dan versi berikutnya letak nomor level ini ada di direktori "/etc/rc{runlevel}.d/".

Langsung saja, agar XAMPP jalan setiap kali booting, maka dengan cara tradisional buka terminal dan ketik:
:~$ sudo nano /etc/rc.local

Lalu sisipkan skrip ini sebelum 'exit 0' dan simpan:
sudo /opt/lampp/lampp start

Booting lagi dan cek status lagi, voila! :-)

Nah, skrip yang ada rc.local ini akan diseksekusi di semua runlevel (/etc/rc1.d, /etc/rc2.d dst...)

Cara Upstart

Mulai Ubuntu 6.10 (Edgy Eft) dan versi berikutnya menggunakan Upstart sebagai pengganti proses init-tradisional, tetapi Ubuntu masih menyediakan skrip init-tradisional dan SysV-rc Upstart yang cocok digunakan untuk memulai service.

Semua “service” yang dipanggil terletak di direktori “/etc/init.d/”, di contoh akan dikupas membuat service xampp

Buka terminal dan ketik:
:~$ sudo nano /etc/init.d/xampp

lalu sisipkan skrip ini dan simpan:
sudo /opt/lampp/lampp start

buat file eksekusi:
:~$ sudo chmod +x /etc/init.d/xampp

kemudian update rc.d
:~$ sudo update-rc.d xampp defaults

Booting lagi dan cek status lagi, voila! :-)

Semoga bermanfaat.
Referensi:
[1] RcLocalHowto
[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Runlevel
[3] Debian and Ubuntu Linux Run Levels
[4] UbuntuBootupHowto
[5] InitScriptList
[6] http://en.wikipedia.org/wiki/Init
[7] An introduction to run-levels
[8] http://en.wikipedia.org/wiki/Upstart 
[9] http://wiki.linuxquestions.org/wiki/Run_Levels

Rabu, Juni 23, 2010

Tutorial: PostgreSQL - Dasar Setup Server dengan psql

Bagi pemula, mengenal lebih dulu psql sebagai klien antarmuka berbasis baris perintah akan mempermudah nantinya penggunaan klien berbasis GUI seperti PgAdmin atau phpPgAdmin. psql menawarkan cara kuat untuk mengelola setiap aspek dari server PostgreSQL. Dibundel dengan distribusi PostgreSQL, psql fungsinya mirip dengan klien mysql pada MySQL maupun tool Oracle SQL * Plus. Dengan psql, pengguna dapat membuat dan menghapus database, tablespace, dan table, melakukan transaksi, mengeksekusi query umum seperti CREATE, SELECT, INSERT, DELETE, dan melakukan banyak perintah lainnya. Pada tutorial ini hanya menyajikan cara belajar dasar-dasar fitur psql secara sederhana pada Ubuntu Linux (beberapa distro mungkin sedikit berbeda cara setup servernya).

Asumsi

Untuk belajar psql ini diasumsikan telah mengenal konsep basis data dan SQL.

Pada tutorial ini ujicoba menggunakan Ubuntu Linux 9.04 dan PostgreSQL 8.3 atau bisa juga versi di atasnya, dan cara instalasi PostgreSQL silakan merujuk cara dari komunitas Ubuntu, untuk beberapa distro selain Ubuntu mungkin sedikit berbeda.

Instalasi

subura@localhost:~$ sudo apt-get install postgresql

User dan Database Baru

Setelah sukses menginstalasi, coba membuat user baru yang memiliki privilege sebagai superuser, perintahnya sebagai berikut.

subura@localhost:~$ sudo -u postgres createuser --superuser $USER
subura@localhost:~$ sudo -u postgres psql

$USER itu biasanya nama username Login Ubuntu, tapi di tutorial ini dibuat user berbeda dengan user login, misal: foo

subura@localhost:~$ sudo -u postgres createuser --superuser foo
subura@localhost:~$ sudo -u postgres psql
[sudo] password for subura:
Welcome to psql 8.3.10, the PostgreSQL interactive terminal.

Type: \copyright for distribution terms
\h for help with SQL commands
\? for help with psql commands
\g or terminate with semicolon to execute query
\q to quit

postgres=#

Berikan password pada user 'foo'

postgres=# \password foo
Enter new password:
Enter it again:

Sekarang quit dengan perintah \q untuk masuk ke terminal lagi, lalu agar lebih mudah, coba buat database baru dengan nama yang sama dengan user: foo

subura@localhost:~$ createdb foo

Coba masuk login melalui psql menuju database 'foo' dan user 'foo', ketik:

subura@localhost:~$ psql foo
Welcome to psql 8.3.10, the PostgreSQL interactive terminal.

Type: \copyright for distribution terms
\h for help with SQL commands
\? for help with psql commands
\g or terminate with semicolon to execute query
\q to quit

foo=#

Untuk melihat list semua database, ketik:

foo=# \l
List of databases
Name | Owner | Encoding
-----------+----------+----------
foo | subura | UTF8
postgres | postgres | UTF8
sekolah | subura | UTF8
subura | subura | UTF8
template0 | postgres | UTF8
template1 | postgres | UTF8

(6 rows)

foo=#

OK, sukses!

Alternatif lain membuat user baru yang memiliki hak penuh atas suatu database seperti berikut ini:

subura@localhost:~$ sudo -u postgres createuser -D -A -P myuser
[sudo] password for subura:
Enter password for new role:
Enter it again:
Shall the new role be allowed to create more new roles? (y/n) y

Perintah -D menghendaki myuser tidak memiliki hak membuat database baru, -A tidak memiliki hak menambahkan user baru, dan -P akan memberikan pertanyaan password pada prompt untuk user myuser. Pertanyaan 'Shall the new role be allowed to create more new roles? (y/n)' bila jawaban y (yes), maka myuser bisa membuat role baru.

Buat database baru dengan user myuser:

subura@localhost:~$ sudo -u postgres createdb -O myuser mydb

Bila berhasil, coba masuk via psql

subura@localhost:~$ psql mydb
Welcome to psql 8.3.10, the PostgreSQL interactive terminal.

Type: \copyright for distribution terms
\h for help with SQL commands
\? for help with psql commands
\g or terminate with semicolon to execute query
\q to quit

mydb=#

Lihat list database, apakah mydb dan user myuser sudah ada dalam list

mydb=#\l
List of databases
Name | Owner | Encoding
-----------+----------+----------
foo | subura | UTF8
mydb | myuser | UTF8
postgres | postgres | UTF8
sekolah | subura | UTF8
subura | subura | UTF8
template0 | postgres | UTF8
template1 | postgres | UTF8
(7 rows)

mydb=#

Ok ternyata ada, sukses lagi, berikan perintah SELECT untuk mengetahui psql mendengarkan perintah ini.

mydb=# select version();

version

----------------------------------------------------------------------------------------------------

PostgreSQL 8.3.10 on i486-pc-linux-gnu, compiled by GCC gcc-4.3.real (Ubuntu 4.3.3-5ubuntu4) 4.3.3

(1 row)


Yup, coba lagi:

mydb=# select current_date;

date

------------

2010-06-23

(1 row)

mydb=# select 10 * 10;

?column?

----------

100

(1 row)


Mantap, sampai di sini dulu. ;-)

Minggu, Juni 20, 2010

Tips and Trick: Mengambil Foto Asli yang Lekat pada Berkas Dokumen MS Word

Suatu ketika saya menerima email dari seorang kolega yang menyebutkan bahwa beliau telah mengirimkan beberapa gambar foto. Setelah membuka email, saya tidak menemukan foto yang dimaksud selain berkas (file) dokumen yang berekstensi doc (berkas dengan format standar MS Word) yang berukuran besar. Segera saya unduh berkas tersebut dan saya buka dengan OpenOffice Writer. Sayang sekali, setelah terbuka foto yang ada di dalamnya terlihat seperti 'penyok', bisa jadi itu disebabkan adanya usaha me-resize foto agar tampak kecil sesuai ukuran halaman dokumen Microsoft Word. Jika foto hanya di-capture (take-screenshot) atau di-copy paste dan di-edit dengan software malah bisa hancur hasilnya, belum lagi mengedit itu butuh waktu. Setelah dipikir-pikir akhirnya saya ingat cara mengambil foto itu persis aslinya, bukan sekedar persis atau mirip, tapi asli, tentu lengkap dengan metadata yang berisi data atau informasi foto tersebut, halah... ;-)

Mau tahu caranya?

Bongkar berkas itu. Caranya, buka berkas doc tersebut dengan OpenOffice Writer, kemudian Save-As dengan format .odt (jenis ekstensi dari format dokumen OpenOffice Writer), lalu simpan. Berikutnya buka Nautilus (seperti Windows Expoler) menuju direktori dimana berkas tersebut disimpan, arahkan pointer pada berkas .odt tersebut, klik kanan mouse pointer, dan pilih Extract. Selanjutnya dalam extract berkas odt itu foto bisa ditemukan di direktori Pictures. Selesai.

Menggunakan OpenSource itu terbukti menguntungkan, kan ya?! ;-)

Semoga bermanfaat.

Kamis, Juni 10, 2010

Konversi MDB ke Format CSV Menggunakan mdbtools di Linux

Bagi sebagian orang atau organisasi, mungkin sudah banyak langkah-langkah atau cara migrasi dari perangkat lunak Proprietary ke Open Source. Salah satu caranya adalah konversi database dari format MDB milik Microsoft Access ke format CSV, untuk kemudian diimpor ke DBMS Open Source seperti SQLite, MySQL atau PostgreSQL. Walaupun cara ini kelihatan 'basi' karena berdasarkan sumber sudah ada sekitar 4 tahunan, tapi lumayan bagus untuk mengingat lagi teknik-teknik pengelolaan data, maklum, kadang sering lupa... :-)

Bagi pengguna Ubuntu Linux (9.04), bersyukur dan berbahagialah, karena di repository standard mdbtools mudah ditemukan dan diinstall, mari bekerja di terminal, ketik:
$ sudo apt-get install mdbtools
Setelah sukses menginstal, masuk ke direktori dimana file .mdb ada untuk diimpor, lihat daftar tabelnya:

$ mdb-tables database.mdb

Lebih lengkap perintah show tables bisa dilihat di manual:

$ man mdb-tables

Export ke format CSV

$ mdb-export nama_file.mdb nama_table > nama_file.csv

Sumber bacaan:
Converting Microsoft Access MDB Into CSV Or MySQL In Linux

Catatan:
- cara ini lebih cocok untuk organisasi kecil atau UKM (Usaha Kecil Menengah).
- hati-hati untuk tabel dengan tipe data OLE Object dari Access yang digunakan untuk menyimpan image/gambar/foto, karena sifat CSV lebih cocok ke data text, sehingga dikhawatirkan data rusak.
- kelebihan mdbtools ini bisa mengambil data walaupun file .mdb diproteksi password dari Access, jadi hati-hatilah.
- penulis tidak bertanggung jawab terhadap kehilangan/kerusakan/kesalahan penggunaan cara ini, segala resiko ditanggung sendiri.

Minggu, November 22, 2009

10 Alasan Eee PC 701 menggunakan Ubuntu 9.04 Desktop

ASUS Eee PC 701 4G sempat populer medio 2007 lalu, dan kini 2 tahun lebih mungkin sudah dilupakan banyak orang. Sebaliknya, saya malah beranggapan inilah OLPC XO Laptop unik yang ada saat ini, murah, mungil, ringan, bandel, mobile, dan cocok banget untuk belajar anak-anak sekolah dasar. Ya, itulah alasan pertama saya ingin memilikinya, selain untuk hiburan secara mobile seperti membaca, menulis, menyelesaikan pekerjaan ringan, atau sekedar bersantai bermain social-network. :-)

Saya mendapatkan baru dalam kondisi preinstalled Windows XP OEM Licensed dan tak ada pilihan lain, sehingga harga lebih mahal jika dibanding dalam kondisi tanpa OS. Perkirakan saya harga tanpa Windows XP sekitar $100 US, jauh turun dari harga tahun 2007 lalu sekitar $399 US. Tapi sayang, konon, produsen membatasi distribusi Eee PC 7” ini di beberapa wilayah negara, sehingga untuk mendapatkannya secara bebas sekarang ini agak sulit.

Nah, omong-omong bila ingin memasang sistem operasi Linux, maka pilihan saya jatuh pada distro Ubuntu 9.04 Jaunty Jackalope versi Desktop Standard daripada versi Netbook Remix. Berikut alasannya:
  • Perangkat Lunak Bebas dan Open Source (PLBOS)
    PLBOS dipilih karena terbukti cocok, murah, nyaman, dan lebih bebas tanpa ada kekawatiran yang berlebihan berkenaan masalah lisensi, ketergantungan, dan vulnerabilitas sistem. Meski demikian, OS lain yang sudah ada tetap dibiarkan di tempatnya, karena sudah terbeli dan untuk pilihan lain yang relevan dengan kebutuhan.
  • Telah teruji luas.
    Sejak rilis bulan April lalu, sudah banyak catatan komunitas yang mengulas keunggulan Ubuntu 9.04 berjalan baik di Eee PC 701, yang menunjukkan hardware dikenali dengan baik oleh sistem ~$ hwinfo.
  • Ketersediaan Repository.
    Kebetulan saya sudah memiliki DVD repository, sehingga bila memerlukan paket-paket besar bisa secara offline, sedangkan untuk keperluan support dan update paket kecil cukup akses Internet murah sesuai infrastruktur provider broadband di Indonesia. DVD repository dibutuhkan untuk menghindari ketergantungan dan pemborosan Internet.
  • Cocok dengan layar 7 inchi.
    Meski resolusi layar terbatas hingga mode 800x480, tapi tampilan tetap bisa diatur agar jendela dialog dapat memperlihatkan tombolnya, misalnya dengan menonaktifkan Constraint Y pada compiz-config-setting-manager, mengecilkan font-size, auto-hide panel dan mengatur global-menu ala MacOS. Mungkin bisa juga menkonfigurasi ulang xorg.conf atau xrandr, tapi belum sempat berhasil.
  • Dapat menjalankan perangkat lunak sesuai kebutuhan dasar.
    Kebutuhan yang dimaksud disini adalah kebutuhan belajar anak yang memerlukan perangkat lunak ringan untuk membantu merangsang imajinasinya dengan harapan muncul ide kreatif sehingga tumbuh inovasi, apapun hasilnya. Sesuai usianya di sekolah dasar tingkat pertama, perangkat lunak dasar itu seperti Gcompris, Tuxpaint, Childsplay, Inkscape, Gimp, OpenOffice (for Kids) yang digunakan untuk menerapkan hasil belajar di sekolah (menulis, berhitung, bahasa Inggris, atau menggambar) atau mengaji (mengenal dan menulis huruf Arab).
  • Kurang familiar menggunakan Netbook Remix.
    Beberapa aplikasi tidak berfungsi sebagaimana mestinya di Netbook Remix, jendela dialog terasa kaku, compiz tidak berjalan baik, sulit mengatur tampilan, anak-anak tidak terbiasa menggunakan desktop berbeda dari yang sebelumnya digunakan orangtuanya, dsb.
  • Mendukung Mobilitas.
    Perpaduan antara Ubuntu 9.04 dan XO Laptop ini sangat menarik, ringkas, dan ringan seperti membawa sebuah buku atau e-book reader. Meski begitu, hati-hati membawanya di tempat umum atau saat berkendaraan di mobil, pesawat, kapal laut, bersantai di pinggir pantai, atau dimana saja. Hal itu karena bentuknya yang kecil dan asyik, orang sering lupa menyimpannya kembali ketika selesai menggunakannya.
  • Menanti Ubuntu 10.4 LTS Lucid Lynx.
    Dari beberapa rilis yang pernah saya coba, sepertinya rilis Long Time Support (LTS) Ubuntu memiliki stabilitas lebih baik untuk produktifitas. Maaf, pendapat ini tanpa referensi dan subyektif menurut saya hanya berdasar pengalaman menggunakan cukup lama Ubuntu Hardy Heron sebagai primary OS. Apalagi aktivitas install sistem operasi baru cukup menyita waktu. Meski demikian, saat ini sepertinya repository main Ubuntu 9.04 sudah tidak menyediakan ubuntu-restricted-extras atau gstreamer terpisah yang harus diinstalasi agar bisa memutar dan mendengarkan musik MP3 dan format restricted proprietary lainnya. Cukup instalasi Audacious dan VLC Player, maka paket ketergantungan (dependency packet) restricted tadi akan mengikutinya, sehingga lebih mudah dan ringkas. CMIIW.
  • Battery tua.
    XO Laptop ini sepertinya stok lama, karena diidentifikasi battery tua oleh sistem, sehingga umur battery aktif tanpa listrik sekitar 1 jam untuk aktivitas Internet, sedang tanpa Internet sekitar kurang dari 1,5 jam saja, cukup singkat.
  • Hard-Disk SSD 4 GB.
    Cukup kecil, tapi saya tambahkan 8 GB Removable Disk untuk data dan boot Ubuntu 9.04, syukurlah bisa booting dan running normal, cukup cepat. Berkas penting dan besar disimpan di tempat lain atau online storage, ringkas bukan?


Demikian alasannya, bagaimana dengan alasan Anda?

Senin, September 14, 2009

Simulasi Rukyatul Hilal 1 Syawal 1430 H

Seperti yang banyak diketahui, di Indonesia menjelang 2 hari raya Islam, Idul Fitri dan Idul Adha, pemerintah sibuk menggelar sidang itsbat dengan ahli hisab dan rukyat di Departemen Agama Jakarta, sehingga sebagian orang sering mendengar istilah rukyatul hilal atau mengamati bulan secara langsung. Hal ini karena berdasarkan perintah Rosululloh sebagai berikut: “Apabila kamu sekalian melihat hilal (bulan awal tanggal Ramadhan) maka berpuasalah (pada tanggal 1 Ramadhan), apabila kamu sekalian melihat hilal (bulan awal tanggal Syawal) maka berbukalah, dan apabila kamu sekalian melihat bulan tertutup (tak terlihat/terhalang), maka hitunglah 30 hari!” HR Muslim.

Nah, berikut hasil simulasi saya dengan menggunakan Stellarium pada Ubuntu 9.04 Jaunty Jackalope, dengan patokan: akan merukyat 1 Syawal 1430H di Balikpapan, dalam 1 bulan Hijriah ada yang terdiri atas 29 hari atau 30 hari. Awal 1 Ramadhan 1430 H jatuh pada tanggal 22 Agustus 2009, maka mulai merukyat pada tanggal 29 Ramadhan atau tanggal 19 September 2009 menjelang matahari terbenam. Hasilnya, berdasarkan simulasi ini hilal terlihat saat matahari terbenam, atau awal 1 Syawal jatuh pada tanggal 20 September 2009.



Simulasi ini tidak ada hubungannya dengan keterangan Menteri Agama Dr. KH Muhammad Maftuh Basyuni hari Senin ini, 14/09, tapi ini hanyalah simulasi dan hanya ilmu pengetahuan yang saya coba-coba saja. :-)

Semoga bermanfaat.

Minggu, September 13, 2009

Tips OpenOffice: Bug OpenOffice 3.x Non Stable

Pada tips sebelumnya saya sarankan untuk pekerjaan serius jangan ambil resiko menggunakan versi non stabil, berikut ini pengalaman saya.

Beberapa waktu yang lalu ketika sedang mengejar batas akhir pengumpulan paper, saya sempat iseng menaikkan OpenOffice 2.4 ke versi 3.1 di Ubuntu 8.04 Hardy Heron. Gara-garanya karena tertarik dengan fitur yang ada di OpenOffice Calc, entahlah sudah lupa, yang jelas fiturnya enggak penting banget buat kebutuhan mendesak saat itu. Tanpa melakukan review dulu, saya langsung hapus versi 2.4, lalu memasukkan repository launchpad untuk mengunduh versi 3.1 dan sukses.

Saat mencoba, masalah muncul ketika lay-out dokumen sedikit berubah, sehingga jumlah halaman bertambah lebih banyak. Setelah melakukan setting sama persis seperti pada versi 2.4, lay-out dokumen masih belum pas, seperti ada selisih sekian mili pada spasi. Saya ingat, font Times New Roman pada versi 2.4 saya ambil dari font asli Microsoft Windows, dan ternyata benar ketika hal yang sama saya terapkan pada versi 3.1, maka lay-out dokumen kembali normal, problem solved. Satu pelajaran: sepertinya ukuran (size: 12) font Times New Roman OpenOffice ada selisih sangat tipis dibanding ukuran font Times New Roman Microsoft Windows.

Masalah berikutnya, ketika melakukan editing dan melihat daftar isi, ada yang aneh dengan nomor sub-bab yang tidak urut. Syukurlah, sejak awal menggunakan Insert Indexes and Tables, maka solusinya tinggal melakukan penyesuaian langsung pada dokumen, dengan begitu daftar isi menyesuaikan secara otomatis. Disinilah bug itu ketahuan, fungsi Outline ternyata tidak tersedia (lihat tangkapan layar) pada kotak dialog Indexes and Tables. Karena deadline paper mendesak, maka saya coba lari ke Windows dan instalasi OpenOffice 3.1. Ding! Ternyata masalah sama, OMG! Tapi syukurlah, CD Jaunty Jackalope dari Shipit selalu digendong kemana-mana, dan disitu sudah ada OpenOffice 3.0, singkat kata: problem solved.

Berikut tangkapan layar Indexes and Tables:
OpenOffice 3.1 launchpad (non-stable) Ubuntu 8.04 Hardy Heron, Outline tidak ada.

OpenOffice 3.1 for Microsoft Windows, Outline tidak ada.

OpenOffice 3.0.1 stabil Ubuntu 9.04 Jaunty Jackalope, Outline ada.

Semoga bermanfaat.
________________________________________________
Tulisan ini dibuat untuk menyukseskan Lomba Blog Open Source P2I-LIPI dan Seminar Open Source P2I-LIPI 2009.

Kamis, September 10, 2009

Tips OpenOffice: Tutorial Video Youtube Menulis Arab

Keistimewaan perangkat lunak bebas dan Open Source seperti OpenOffice ini memang luar biasa. Banyak sekali tools yang bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan ataupun dieksplorasi untuk menggali kreativitas maupun sekedar untuk hiburan, salah satunya adalah menulis Arab. Untuk yang satu ini sepertinya sudah banyak yang mengulasnya, bahkan sebelumnya saya juga pernah menulis hal yang sama. Namun kali ini, saya hanya mengulas dengan membuat video cara paling sederhana menulis Arab menggunakan OpenOffice di lingkungan Ubuntu 9.04 Jaunty Jackalope, tanpa repot-repot mengunduh berbagai macam software yang tidak diketahui keberadaannya atau bahkan beresiko menghadapi masalah keamanan sistem.



Selamat menikmati. :-)
________________________________________________
Tulisan ini dibuat untuk menyukseskan Lomba Blog Open Source P2I-LIPI dan Seminar Open Source P2I-LIPI 2009.

Tips OpenOffice: Portrait dan Landscape pada Satu Dokumen

Bagi pekerja kantoran, pekerja independen, siswa atau mahasiswa yang sering bekerja membuat artikel panjang, naskah cerita, proposal, atau paper ilmiah seperti jurnal, skripsi, tesis maupun desertasi, mungkin sudah terbiasa mengoperasikan Windows dan Microsoft Office untuk mendukung pekerjaannya. Sering dijumpai naskah yang sangat panjang yang terdiri atas beberapa halaman, apalagi orientasi halaman yang berbeda-beda, ada yang tegak (Portrait) ataupun membentang (Landscape) dalam satu dokumen yang berurutan nomor halamannya. Apalagi di dalam dokumen sudah termasuk sampul, kata pengantar, daftar isi otomatis, hingga lampiran tebal yang semuanya harus disusun cepat dan rapi, memiliki bookmarking, hyperlink, export ke format pdf sebagai e-book, dan sebagainya sehingga mudah dilakukan pencetakan, dokumentasi, atau didistribusikan untuk dimanfaatkan secara cepat dan ringkas sesuai tujuan dokumen.

Tapi, apakah semua pekerjaan tersebut bisa ditangani perangkat lunak bebas dan Open Source seperti Linux dan OpenOffice?

Itu mudah saja, dan tentu tak bisa dibahas semua di sini. Peningkatan versi OpenOffice saat ini semakin lengkap dan menarik, dengan harga yang Rp 0, fungsi yang diberikan OpenOffice tak kalah dengan fungsi Microsoft Office.


Sebagai misal untuk masalah pertama pada contoh gambar di atas berupa 2 halaman Portrait dan Landscape pada satu dokumen, maka langkahnya sebagai berikut:
  • Jalankan OpenOffice 3 atau versi 2.4 stabil dan dibawahnya, buat dokumen baru. Dalam hal ini saya gunakan OpenOffice 3.0 stabil pada Linux Ubuntu 9.04 Jaunty Jackalope. Untuk pekerjaan serius, disarankan gunakan versi stabil, jangan ambil resiko menggunakan versi non-stabil.

  • Sebagai percobaan, buat text Portrait dan Landscape.


  • Pilih menu Format > Styles and Formatting (F11), akan muncul kotak dialog kecil, pada menu pilih Page Styles.


  • Tambahkan fungsi baru dalam Page Styles, caranya, arahkan pointer pada area kosong, klik kanan dan pilih New, maka muncul kotak dialog Page Style.


  • Pada tab Organize, isi kolom Name: Portrait, lalu tekan tombol keyboard Tab, maka kolom Next Style akan mengikuti kolom Name. Lalu tekan OK.

  • Lakukan hal yang sama pada langkah 4 dan 5 untuk membuat fungsi Landscape, bedanya, pada Page Style pilih tab Page, lalu cek Orientation: Landscape. Kemudian OK.


  • Berikutnya, arahkan pointer di baris paling akhir sebelum text Landscape, pilih menu Insert > Manual Break, maka muncul kotak dialog. Cek bagian Page Break, pilih dropdown Landscape yang telah dibuat tadi. Tekan OK.


  • Hasil setidaknya seperti gambar pertama di atas tergantung pengaturan. Bila halaman berikutnya ingin kembali ke orientasi Portrait, lakukan Manual Break kembali dan pilih Page Style Portrait.

Mudah sekali, kan? :-)
_________________________________________
Tulisan ini dibuat untuk menyukseskan Lomba Blog Open Source P2I-LIPI dan Seminar Open Source P2I-LIPI 2009.

Senin, Juli 13, 2009

Bermain dengan RIA, Rich Internet Application


Tampaknya RIA akan menjadi mainan bagus di masa depan, beberapa waktu lalu saya sempat mencoba Facebook for AIR, tapi ternyata menggunakan resource CPU yang cukup tinggi. Sempat saya penasaran dengan Time Desktop, yaitu aplikasi desktop untuk pembaca Time.com, dan kecewa berat pada e-paper Kompas dan beberapa media Internet yang... ah, no-comment lah, namun kini terhibur kembali dengan adanya New York Times, dan wasting time bersama Seesmic Desktop yang cool banget.

Dari sisi Technological Mix, dukungan terhadap RIAs muncul beragam dari beberapa single technology macam Adobe dengan Adobe AIR, Microsoft dengan Silverlight, Sun Microsystems dengan JavaFX, atau Open Laszlo berbasis Open Source yang kompatibel dengan Flash dan diklaim tidak menyebabkan vendor-lock-in, tetapi yang perlu dari semua itu adalah pemanfaatan RIAs haruslah sama secara bebas digunakan untuk lintas platform, prinsipnya one runtime environment for all.

Semoga bermanfaat.

Minggu, Desember 21, 2008

Merasakan OpenSolaris


Nggak salah memang, OpenSolaris ini sepertinya akan menjadi besar dengan filosofi open-source yang diadopsinya, apalagi beberapa waktu lalu melihat sendiri dari dekat back-end provider telekomunikasi nasional menggunakan Solaris. OpenSolaris adalah derivative Solaris, beda sama sekali dengan Linux, tampak mirip saja sedikit seperti menggunakan Gnome Desktop, belum ada pilihan KDE. Beberapa command-line di Linux kabarnya dinyatakan berbahaya bila digunakan di sini, alasan pastinya belum saya temukan, seperti cara singkat shutdown. Kalau di Linux, shutdown biasa menggunakan poweroff, reboot, dkk. Meski command tersebut bisa dijalankan di OpenSolaris, tapi khusus OpenSolaris dan Solaris, perintah yang lebih aman dan cocok adalah shutdown Command, misalnya: # shutdown -i5 -g0 -y

Yang menarik, repository-nya cukup lengkap dan update, penasaran?

Kamis, Juli 31, 2008

Membuat Situs ala DetikCom dengan Wordpress


Ternyata menggunakan Wordpress itu menyenangkan, setidaknya itu yang saya rasakan. Adanya perbaikan yang terus berkelanjutan, framework yang mudah dipelajari, desain themes yang sangat bervariasi dan mudah dikembangkan, plugin serta dukungan yang luas dari penjuru dunia memungkinkan Wordpress semakin berkembang pesat. Berbagai macam bentuk dan desain situs, baik yang sederhana hingga yang rumit, dengan Wordpress, itu semua bisa dikondisikan dalam keadaan serupa tapi tak sama. Sifat Wordpress yang terbuka, menjadikannya sebagai salah satu Content Management System (CMS) yang unggul dan memiliki komunitas yang luas dan kuat.

Seperti yang saya rasakan baru-baru ini, mengoprek dan mengaturnya pun tak begitu repot. Ketika melihat situs Detik.Com yang baru, kadang ada rasa semacam tantangan: bagaimana membuat dan mendesainnya? Bisakah cukup dibuat dengan Wordpress? Hmm... itu tak mudah. Beruntung, situs obyek contoh sudah ada, kali ini adalah situs detiksurabaya.com, sedang obyek client adalah stikom-bpp.ac.id. Repotnya, tak cukup tersedia waktu, tenaga dan tak punya senjata layaknya pegangan para desainer web pro. Mau tak mau, harus menyesuaikan kondisi apa adanya, lagi pula tak mau ambil resiko atau mengambil jalan pintas, so simple saja.

Maka, dimulailah proyek tantangan itu, berbekal senjata Ubuntu GNU/Linux, Apache, MySQL, Cssed, Bluefish, Gimp, dan beberapa koleksi browser seperti Firefox, Epiphany, Galeon dan Opera untuk sarana testing dan implementasi. Plus VirtualBox untuk menjalankan browser IE7 dan browser yang running di Windows, kemudian mengakses situs yang diuji coba di server local, akhirnya syukurlah tampilan tak berantakan lagi. Lega... Capek dolo ah... kering lagi. :P

Jumat, Juli 18, 2008

Menulis Arab di Linux

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ﷲِ وَبَرَكَاتُهُ


Mungkin posting saya ini sudah basi, mengingat hal ini sudah biasa digunakan oleh para pengguna komputer, terutama yang sering menulis tulisan Arab mengutip lafaz Al Quran atau Al Hadist. Bahkan ada orang Indonesia yang sering menggunakan Arab gundul -- tanpa harokat -- untuk menulis keseharian. Lho kok? Iya, saya dulu mempunyai teman yang hanya bisa membaca dan menulis Arab untuk sehari-harinya, bukan tulisan latin atau gedrik -- huruf tegak. Konon ceritanya ia memang SDTT -- sekolah dasar tidak tamat -- tapi pintar mengaji. Kendati demikian, terakhir beberapa tahun lalu bertemu sepertinya ia sudah mahir membaca.

Kembali ke topik, sering saya temui di berbagai milis menanyakan perihal cara menulis Arab di komputer. Kebanyakan jawaban mengarahkan penggunaan sistem operasi Windows Arabic yang sudah dibuat model Arab, atau install software ini itu, jujur saya tidak tahu apa yang diinstall. Dulu, saya pernah menulis Arab menggunakan Symbol pada MS Word, lumayan bagus, tapi Arabnya gundul tanpa harokat, dan keselnya bukan main, karena kilik-kilik satu-satu.

Saya kira, saat ini sudah banyak perangkat lunak untuk menulis karakter huruf yang aneh-aneh ala tulisan Jawa, Bali, Bugis, Rusia, Arab, Tagalog (Filipina), Thailand, Katakana (Jepang), Mandarin (China) dan sebagainya. Hanya yang jadi masalah adalah perbedaan bahasa dan kebanyakan orang belum tahu dan belum terbiasa saja. Nah, coba tanya om Google, banyak sekali informasi yang bisa dicoba.

Kalau saya sendiri lebih suka menggunakan Gucharmap, yaitu aplikasi peta karakter yang memungkinkan untuk menyisipkan karakter spesial tertentu pada sebuah dokumen atau text field. Dengan demikian, saya tak perlu menghapal simbol-simbol Arab pada keyboard atau menempeli simbol huruf Arab pada tiap-tiap tombol keyboard. Cukup bermain dengan mouse dan memilih karakter mana yang hendak disusun. Hebatnya, hurufnya langsung tersambung otomatis seperti demikian:

.اِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَا عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرْ

Kemudian bila telah tersusun satu atau beberapa kalimat, tinggal di-copy-paste ke OpenOffice Writer, kemudian tambahkan harokatnya di sana. Memang kelemahannya bila menulis dalam jumlah banyak, misalnya 100 kalimat, lebih baik menggunakan keyboard dan diketik langsung pada OpenOffice Writer. Syaratnya hanya aktifkan Arabic style pada Keyboard Preferences. Bila belum ada style Arabic, install lebih dulu SCIM (Smart Common Input Method) juga fonts Arabic. Saya menggunakan Ubuntu, tinggal buka Synaptic Package Manager atau ke terminal, ketik:

$ sudo apt-get install scim

Setelah itu coba lihat di panel atas, biasanya muncul keyboard indicator, tinggal pilih Arabic atau USA. Jangan lupa, instalasi juga paket Arabic untuk OpenOffice, untuk menulisnya pilih font Scheherazade. Ada yang telah menyusun program kecil sehingga memudahkan menulis Arab menyesuaikan style keyboard yang ada, coba kunjungi aksara Arab di wiki.ubuntu-id.org.

Selamat mencoba.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ﷲِ وَبَرَكَاتُهُ


Update:
Beberapa browser mungkin tidak bisa membaca dengan baik tulisan Arab di atas. Saya coba Firefox 3, Galeon, Epiphany terlihat masih bisa dibaca. Sedang Opera 9.5 for Linux terlihat putus-putus di antara harokatnya. Sedang di IE7, hanya huruf lam-alif tidak mengikat sempurna.

Selasa, Juni 24, 2008

Produktifitas Menggunakan PLBOS

Perangkat lunak bebas dan Open Source (PLBOS) bisa digunakan untuk produktifitas kerja? Kenapa tidak? Tentu bisa dong. Sepengetahuan saya, saat ini penggunaan Linux sudah semakin banyak, beberapa bulan lalu saya masuk kelas, beberapa teman menggunakan sistem operasi bawaan dari pembelian laptopnya, Windows Vista. Saat itu, mungkin hanya saya saja yang menjadi bahan cibiran sebagai satu-satunya orang yang menggunakan barang gratisan dekstop Linux untuk kegiatan belajar – cieee... sok gaya elo... -- hehehe... iya, saya hanya user biasa yang baru belajar dan tidak mengerti apa-apa. Sebenarnya ada teman yang menggunakan Linux untuk server pribadinya, walaupun dalam keseharian tetap menggunakan Vista. Tapi entahlah, lambat laun saya lihat kini ada beberapa teman yang menggunakan Linux di laptopnya, ada yang menggunakan Linux Mint, Ubuntu, OpenSuse, Fedora, bahkan ternyata banyak yang mahir. Walaupun demikian, satu dua orang ada yang masih menggunakan Vmware untuk sekedar coba-coba. ;-)

Bukan hanya itu, Linux kini sudah hampir selalu digunakan di komputer kantor-kantor, perpustakaan, bagian tata usaha, administrasi keuangan, beberapa divisi dalam perusahaan, yang digunakan untuk operasioal sehari-hari menunjang proses produktifitas perusahaan dan sebagainya. Jadi, bisa dikatakan “ndeso” kalau kini belum tahu Linux. ;-)
Salah satu hal mengapa kini Linux banyak digunakan oleh masyarakat luas adalah kemudahan mengoperasikan dan dukungan pengembangannya yang sangat luas. Hampir segala perangkat keras komputer dapat menjalankannya, dan apabila kesulitan pun hampir selalu ditemukan solusinya di Internet atau teman terdekat. Ya, walaupun tidak tertutup kemungkinan banyak juga yang stress gara-gara gagal sini gagal sana... ;-)

Kalau begitu, kalau memang mudah menggunakan Linux dan OSS, contohnya apa?

Hmm... iya ya, kadang lebih suka omong doang, omdo gitu, nggak cocok dengan kenyataan sebenarnya. Hmm... gimana ya, ya... maafinlah, namanya juga manusia, oiya, berikut saya tuliskan tutorial Mudahnya Membuat Animasi dengan GIMP di Linux, yang saya posting di situsnya KPLI Balikpapan, mudah-mudahan bermanfaat. ;-)

Ditulis disela-sela mengerjakan PR, lagi bete... :P

Selasa, April 29, 2008

tasksel



Entahlah, awalnya saya hanya mau instalasi Netbeans 6 di Ubuntu 7.10 mengambil dari repository Ubuntu 8.04, ternyata space partisi sudah tak cukup, sehingga OpenJDK tak berhasil di-install. Solusinya harus resize partisi, cukup gawat, jadi hati-hati dan data di-backup dulu. Maka untuk partisi saya gunakan bantuan distro SystemRescueCD. Karena kapasitas hardisk hanya 40Gb yang terbagi 3 partisi, maka salah satu partisi harus 'rela' ditendang. Dan... pilihan jatuh pada space Windows XP yang banyak nganggur... hiks.

Setelah upgrade selesai, ternyata masih perlu tambal sulam sana-sini. Agar proses tambal lebih singkat, mudah, dan pas, maka tasksel bawaan Ubuntu 8.04 bisa langsung dicoba, sebelumnya arahkan ke repository utama (Main). Tapi, ternyata saya lebih suka konfigurasi sendiri, pingin bebas saja...

Senin, Januari 07, 2008

Sharpen English Skills with StarDict

I'm writing some articles on this blog with my English skill that messy having some destination. Some previous, I admittedly want to learn English language, but nothing challenge that absorbingly. Several time ago, the translator software were not available. Generally, after new release, if you want to install this software, you must buy it with several expensive value. It's also known as a proprietary software. Furthermore, if you've got this software, you must installing them on to Windows only. Stardict, the community software are very different that easy installed and free charge as well. It's available on to the Internet that online or off-line translating, running on a multi-platform operating system. I feel, I have a lot of assisted with this software that running on my Ubuntu Linux, as like writing this article. So, I would not hijacking proprietary software into completing my report or reading some articles on English language.

Ah, masak iya sich?

Rabu, Desember 12, 2007

Belajar Basis Data dengan MySQL, Bebaskan!


Salah satu kesulitan ketika menggunakan MySQL adalah berupa Text Console, jadi harus paham dan hapal sintaks SQL dan aturan mainnya, selalu ingat nama-nama tabel atau kolom hingga tipe datanya, dan banyak lagi yang cukup menyulitkan bukan? Ketika sudah terbiasa menggunakan aplikasi yang berada di lingkungan Windows, yang selalu dimanjakan dengan GUI yang memudahkan, maka MySQL Front adalah GUI front-end yang sangat membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut. Selain itu ada beberapa aplikasi serupa seperti MySQL Yog, HeidiSQL, atau mungkin sudah merasa cukup menggunakan phpMyAdmin yang berbasis web dan cross-platform, tentu masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Aplikasi ini kebanyakan bersifat gratis untuk versi GPLnya.

Sedang di Linux, kebebasan terletak pada penggunanya, kecuali phpMyAdmin, aplikasi-aplikasi di atas tidak cukup mudah ditemukan, karena pengembangnya tidak menyediakan. Tapi bagi user pemula, padanan aplikasi di Linux sangat banyak, di antaranya saya memilih MySQL Query Browser dan MySQL Administrator yang saling melengkapi, keduanya telah ada pada repository Ubuntu 7.10. So, saya merekomendasikan untuk digunakan bagi para pengajar basis data dalam mendukung proses kegiatan belajar mengajarnya. Segera ubah gaya belajar menjadi lebih bebas, kick illegal software!