Tampilkan postingan dengan label Blogging. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blogging. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Desember 08, 2012

Menilai, Pekerjaan Sulit Dosen selain Mengajar

PERNYATAAN ini setidaknya saya baca dari status jejaring sosial dosen-dosen teknik ITB, UGM dan ITS, selang beberapa bulan lalu. Meski dosen tersebut dari latar belakang disiplin ilmu yang berbeda, tapi konteks pernyataannya sama, sama-sama sulit menilai hasil belajar mahasiswanya selama satu semester. Mahasiswa tsb sebenarnya pandai, tapi kenyataannya mendapatkan nilai kurang.

Saya sendiri sudah membuktikan pernyataan itu ada benarnya, saat mengetahui bahwa mahasiswa ybs sebenarnya pandai dan hasil belajarnya sangat baik, akan tetapi kenyataannya ybs abai terhadap kelengkapan nilai yang lain. Abai? Ya, sepertinya ia tidak peduli jika salah satu nilainya tidak lengkap. Akibatnya, perhitungan nilai akhir secara obyektif keluar dengan hasil kurang memuaskan.

Nah, soal penilaian obyektif inilah yang kadang jadi masalah. Memang, paling mudah adalah penilaian obyektif ini, cukup melihat dari aktivitas dan hasil evaluasi belajarnya, kemudian dibobot dan dijumlahkan, lalu keluarlah nilai akhir, selesai. Namun, penilaian obyektif kadang mengabaikan unsur subyektif, yaitu perilaku (attitude).

Contohnya begini, kemarin saat mengajar pemrograman web, ada mahasiswa yang bisa mengikuti materi dengan cepat. Suatu ketika ia kesulitan dan bertanya mengapa programnya tak berjalan. Saya datang dan melihat apa kesalahan kodenya. Ternyata dalam entri database ia sisipkan beberapa entri dengan kata-kata, maaf, kurang ajar dan sangat tidak sopan. Meski mungkin tidak ditujukan pada saya, namun saya tidak nyaman dan segera tinggalkan ybs tanpa solusi.

Penilaian obyektif itu bukan berarti melepas tanggung jawab moral dan etika. Meski pandai dan hasil evaluasi sangat baik, namun apabila itu semua diperoleh dengan cara curang misalnya, apalagi kurang ajar, maka hal subyektif seperti ini perlu menjadi pertimbangan. Inilah sulitnya menilai itu.

Bagaimana menurut Anda?

Rabu, Desember 05, 2012

Blogging, Bukan sekedar Tulisan

Beberapa hari lalu saya mendapat kabar baik, menggembirakan gitu deh. Kabar itu bercerita bahwa apa yang telah saya kerjakan selama belasan tahun ini, mulai mendapat perhatian. Mudah-mudahan perhatian itu terus berkesinambungan, lancar, dan berkah, aamiin.

Hah! Belasan tahun baru sekarang dapat perhatian, emang perhatian apaan? Siapa yang kasih perhatian kok sampe gembira gitu?

Ah, mau tau aja, entar kepo loh... :-D

Jadi, apa yang sudah dilakukan belasan tahun itu?

Salah duanya adalah menulis dan blogging. Menulis itu hal yang biasa, blogging juga hal yang biasa yang kulakukan sejak lebih dari 7 tahun lalu. Nah, selama dalam kurun waktu itu saya sudah merasakan manfaat positifnya, seperti kepuasan hingga finansial, gak seberapa sih, paling bisa buat bayar hosting dan beli pulsa saja. Tujuan awal blogging sih bisa ditelusuri disini, jadi kepuasan hingga finansial itu hanya efek samping. Meski menulis dan blogging itu berbeda, tapi ya gitu deh... sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. :-D

Ah, lebay... Biasa aja kali... :P

Jadi begini, emm... mulai dari mana ya... emm... yang jelas begini, saya mendapat manfaat lebih dari biasanya dari kebiasaan saya menulis dan blogging ini. Itu saja sih.

Iyaa... Tau... Menulis dan blogging gitu loh... Tapiii... Manfaatnya apa... Coba sebutin satuuu... saja!

Lha itu sudah dibahas di paragraf pertama, baca ga sih lo?

Bentar... Dibaca ulang dolo... yang mana coba?! Gak ada kan? Lha wong cuman nulis gini aja kok gembira luar biasa, gimana sih lo... gak jelas... *sambil telunjuk ditempelin ke pelipis lalu bilang 'pake otak!' dan bibir nyengir

Iya ya... Nulis kek gini aja... Lo juga bisa ya kan? Nah, kalau sudah bisa menulis itu patut disyukuri, bahwa menulis itu juga salah satu nikmat yang dianugerahkan Yang Maha Kuasa. Cara mensyukurinya, salah satunya adalah dengan menulis yang baik. Menurut saya sih tulisan baik itu secara tekstual memenuhi kaidah bahasa yang benar dan secara kontekstual bisa memberikan pengaruh positif bagi pembacanya, begitu lah. :-D

#monolog #iseng #blogging #menulis #bukancopypaste #asli

Minggu, Juni 24, 2012

Gowes dan Baut Kendaraan

Menyelam sambil minum air. Pepatah ini mungkin cocok digunakan untuk menggambarkan kegiatan yang salah satunya baru saja pagi ini saya lakukan.

Apaan itu?

Gowes sambil "minum" baut, eh, maksudnya sambil memulung baut dan mur motor yang tergeletak di pinggir jalan, sepanjang jalan yang saya lalui saat gowes. Eh, jadi pemulung baut. Lumayan bisa dijual lagi kiloan. :-)

Kebanyakan baut-baut itu berukuran sedang, seperti baut plat nomor, baut penguat knalpot, baut sayap motor, dan sebagian kecil seukuran jempol kaki pria dewasa, mungkin bautnya truk. Untuk yang gede ini saya tak memungutnya, gak tahu kenapa hehehe...

Paling banyak baut-baut itu saya temukan di sepanjang jalan Minyak. Kondisi jalan yang mulus, sedikit lenggang, dan lebar ini mungkin menyebabkan kendaraan yang lewat di jalan itu memacu laju cukup kencang. Bagi kendaraan yang bautnya kendur dan tidak kuat, tentu baut dan murnya mudah lepas. Ini berbahaya.

Beberapa baut itu masih kelihatan baru, meski ada juga baut yang sudah berkarat. Saya hanya memilih yang masih bagus saja, yang masih layak untuk digunakan kembali. Maklum, harga sebiji baut dan mur bagus saat ini cukup mahal, di atas Rp 2 ribuan.

Pelajaran :
- periksa kembali kekuatan baut dan mur kendaraan sebelum digunakan berpergian.
- jangan ngebut meski jalanan lenggang, apalagi ramai kendaraan.


Jumat, Juni 15, 2012

Unik: Bukan Sekadar Hiasan Dinding

BEBERAPA waktu yang lalu saya bersama seorang rekan berkesempatan mengikuti acara diskusi selama 2 hari di gedung Bank Indonesia Balikpapan, soal UKM. Diskusi berlangsung dari pagi hingga sore, sehingga ada waktu jeda untuk ishoma dan sempat melihat-lihat suasana gedung yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Salah satunya adalah hiasan dinding ini, sebuah komitmen pegawai yang cukup bagus untuk mengingatkan para pegawai dan siapa saja yang lewat disana. Saat diamati beberapa tanda tangan yang tertera tampak mulai dari pimpinan BI sampai pegawai turut membubuhkan tanda tangan. Seolah-olah menunjukkan bahwa seluruh pegawai BI bertekad maju dan berkembang bersama jajaran pimpinan.

Komitmen Bersama Pegawai BI Balikpapan
Hiasan dinding ini terletak di lantai dasar tepat lalu lalang pintu masuk sebelah kanan gedung, dan itu tampaknya sengaja dipasang disana, mungkin sebagai pengingat pegawai setiap kali masuk kerja dan melalui jalan tersebut.

Jadi ingat di pintu pagar gedung sekolah, biasanya ada papan pengumuman dengan tulisan besar: “Anda Terlambat Datang!” hihihi...

Sementara itu ada yang unik di Perpustakaan Kota Balikpapan, hiasan dinding ini tampaknya ditujukan untuk pengunjung. Berada persis di ujung tangga naik lantai 3. Berisi prosedur atau Flow Chart peminjaman dan pengembalian buku. Cukup simple sih, meski saya sendiri bingung membacanya.

Prosedur Peminjaman dan Pengembalian Buku
Perpustakaan Kota Balikpapan



Awalnya saya tidak tertarik saat melewatinya, tetapi sepulangnya hendak turun tangga saya jadi penasaran saat melihatnya kembali, ada yang aneh dengan simbol yang digunakan, bandingkan dengan dari Wikipedia ini.

Meski begitu, saya yakin ini memang bukan sekadar hiasan dinding, tapi memang ada pesan yang ingin disampaikan. Kalaupun Flow Chart itu standar-standar saja, mungkin saya tidak tertarik melihatnya.

Memang bukan sekadar hiasan dinding. :-)

Kamis, Juni 14, 2012

Ada Apa dengan Statistik Blogger?

HARI ini saya buka blog ini dan memeriksa Statistik, tapi tampaknya sistem counter tidak mencatat ringkasan kunjungan sama sekali alias 0 kunjungan. Cukup aneh. Loh kok? Ya... setidaknya ada robot atau apalah namanya, meski bukan orang tetapi ada sejumlah kecil kunjungan.

Penasaran, beberapa kali di-refresh counter tetap 0. Pada ikhtisar perbulan ternyata tercatat selama 7 hari loss, mulai tanggal 7/6/2012 - 14/6/2012, dan Google pagerank turun menjadi 2 dari 3. Hiks...

Ada apa gerangan? #halah #pentinggaksih

 

Update:
Ternyata selama itu saya gak nge-check kalau saja CNAME pada DNS terhapus tanpa sengaja, eh, sengaja sih... salah hapus, hiks... :-)

Senin, Mei 28, 2012

Tarik ATM di BNI46 Hanya 50 Ribu, Biayanya 25 Ribu?

HARI Minggu sore kemarin, 27/5/2012, saya bersama anak-anak jalan-jalan ke Toko Buku Gramedia di Balikpapan Center untuk sekadar refreshing sambil melihat kalau saja ada informasi buku baru. Mengingat sekadar jalan-jalan, kami membatasi uang jajan harus tak lebih dari anggaran.

Dalam perjalanan menuju tempat tujuan, kami sempatkan mampir di anjungan tunai SPBU Pertamina Kalianyar Balikpapan untuk mengambil sejumlah kecil dana. Awalnya, saya masuk ke mesin ATM BCA karena memang saya miliki kartu ATM BCA. Di mesin ATM tersebut ternyata hanya menyediakan nominal 100 ribuan saja, padahal saya butuh 150 ribu. Setelah berhasil menarik 100 ribu, saya menuju ATM Mandiri, tetapi batal karena tidak menyediakan 50 ribuan.

Pilihan berikutnya saya beralih ke deretan mesin ATM BNI, dan berhasil menarik 50 ribuan dengan kartu ATM BCA saya. Tetapi saya tersentak, jumlah saldo saya berkurang cukup drastis! Sekitar 25 ribuan!

Bukti transaksi dilihat melalui Internet Banking BCA, Senin, 28/5/2012. Dok. pribadi.


Senin pagi ini, 28/5/2012, saya sempatkan cek di Internet Banking BCA dan memang benar, saldo Interchange berkurang 25 ribu. Saya tidak tahu apakah biaya sebesar 25 ribu tersebut adalah biaya untuk BCA atau BNI, atau untuk keduanya?

Alangkah baiknya jika di mesin ATM (semua Bank) tersebut ditempel pemberitahuan mengenai rincian biaya tarik antar bank (Interchange) dalam jaringannya. Agar masyarakat yang tidak menjadi nasabahnya tidak menjadi korban biaya yang tidak diketahui seperti ini. Bukankah saat ini kita masuk dalam era keterbukaan informasi?

Sungguh ini pengalaman berharga, barangkali ini bermanfaat untuk pembaca yang lain.

Update:
Informasi lengkap disini!

Minggu, Mei 06, 2012

Mobile Blog Post by Blogger-droid, Tak Ada Alasan nge-Blog

PEMBACA yang budiman, jika Anda adalah pengguna Android dan seorang blogger, maka mungkin kini Anda tidak ada alasan untuk tidak nge-blog barang sehari saja. Mengapa? Di Android kini telah tersedia berbagai tools yang bisa digunakan untuk posting artikel blog secara mobile. Nah loh!


Bagi Blogger pengguna Wordpress ada aplikasi  Wordpress for Android yang cukup apik meski di layar sempit, dan bagi pengguna blogger.com juga tersedia aplikasi Blogger-droid, seperti yang saya gunakan untuk posting artikel ini.


Memang sih, baik Blogger-droid maupun Wordpress for Android hanyalah alat atau tools yang digunakan untuk membantu saja, perumpamaannya sama dengan pisau.


Seorang ibu rumah tangga yang  punya pisau tajam belum tentu mahir menggunakan pisau tersebut untuk mengupas bawang merah misalnya, pun juga belum tentu mahir memasak. Tapi ingat, meski tidak langsung mahir, setidaknya ia menjadi cepat belajar mengupas dan memasak dengan cepat, plus semangat karena pisaunya keren dan tajam.


Apakah tulisan ini berarti pernyataan bahwa saya akan nge-blog rutin minimal sehari sekali, entah apapun isinya? Oh, tentu saja tidak. Ibu rumah tangga pun tak selalu memasak setiap hari bila ada kesibukan lain, dan mengupas bawang merah pun tak melulu menggunakan pisau itu juga kan?


Jadi, alasan (tidak) nge-blog masih ada juga kan ya... :-D


Published with Blogger-droid v2.0.4

Sabtu, Maret 24, 2012

Sepeda, Moda Transportasi Alternatif dan Modal Narsis di Balikpapan

Lebih dari 5.000 pencinta olahraga sepeda memenuhi
Lapangan Merdeka, Balikpapan, Minggu (29/1/2012).
Dok. Kaltimpost.co.id

Dalam sepekan ini saya mencoba menghidupkan kembali dan membiasakan diri bersepeda menuju tempat kerja atau kampus. Mulanya, gowes ini untuk olah raga yang bila ada kesempatan saya lakukan di Minggu pagi atau Sabtu sore, kadang bersama istri, sesekali bersama anak-anak, baik jarak pendek atau jauh untuk ukuran kami.

Jarak terjauh kami lebih kurang 20 km, dengan rute mulai dari Baru Tengah, Karang Anyar, Pelabuhan Semayang, Kantor Walikota, Markoni, Gunung Malang, Karang Jati, Rapak, Karang Anyar, dan kembali ke Baru Tengah. Sedangkan jarak pendek hanya seputar Jembatan Sepaku dan Pasar Pandansari.

Secara umum kontur dan kondisi jalan cukup bagus untuk dilalui dengan bersepeda, dan jalan masih dalam area bisnis di kota Balikpapan. Saat ini yang diperlukan adalah jalur hijau dan rambu-rambu khusus pesepeda.

*******

Dalam 3 tahun terakhir saya perhatikan banyak event fun bike atau cross country yang diadakan di Balikpapan. Muncul pula kelompok atau komunitas sepeda seperti onthel mania maupun komunitas sepeda dari perusahaan maupun jejaring sosial. Beberapa perusahaan besar yang ada di Balikpapan pun sejak 3 tahun lalu bekerja sama dengan pemerintah kota menyediakan jalur hijau khusus untuk pesepeda. Ini pertanda baik regulator dan fasilitator untuk para pengguna sepeda.

Sayang sekali, kegiatan bersepeda hanya ramai di akhir pekan saja, bahkan tidak sedikit digunakan untuk heboh ajang pamer sepeda maupun kostum pakaian. Artinya, selama ini sepeda masih digunakan untuk sekadar bersenang-senang saja di akhir pekan. Sepeda belum menjadi alat transportasi alternatif menggantikan mesin-mesin berasap, yang memenuhi jalanan dan banyak menguras bahan bakar minyak.

Meski demikian, saya optimis bahwa suatu saat masyarakat, tidak hanya Balikpapan, secara perlahan akan merubah moda transportasinya beralih ke sepeda. Hal ini didukung adanya fakta -- dari event fun bike tersebut -- yang menunjukkan bahwa sebagian masyarakat kota telah memiliki sepeda dan mulai menggunakan sepeda untuk beberapa kegiatan dasar seperti olah raga, bekerja, belanja ke pasar, atau antar jemput anak sekolah.

Fakta berikutnya adalah jumlah pengendara motor yang cukup besar dan kemacetan yang terjadi di beberapa ruas jalan pada waktu pergi dan pulang kerja. Apabila kemacetan terus terjadi setiap hari, secara psikologis akan mendorong masyarakat mencari transportasi alternatif. Meski jumlahnya tidak banyak, tetapi setidaknya ikut memberikan pengaruh ekonomi.

Mari hitung-hitungan, diasumsikan jika setiap satu orang mengkonsumsi bensin 1 liter sehari, dan dalam satu kota ada 1000 orang beralih moda transportasi ke sepeda, maka berarti ada 1000 liter per hari yang bisa dihemat kota Balikpapan. Bisa dibayangkan berapa penghematan yang bisa diperoleh dalam sebulan, setahun, 10 tahun? Ini baru salah satu cara mengalihkan konsumsi BBM (bensin) dan kemacetan dengan bersepeda, dan mungkin masih ada banyak cara lain.

Untuk itu dibutuhkan sosialisasi (sosio kultural) guna menumbuhkan kesadaran masyarakat dan budaya bersepeda. Diawali dari gerakan sepeda di lingkungan pemerintah kota, SKPD, sekolah hingga perusahaan-perusahaan dalam gerakan bike to work, bike to office, bike to school atau apalah namanya. Gerakan ini diperlukan paling tidak agar masyarakat tidak minder menggunakan sepeda. Kabarnya gerakan ini sudah ada dan diadakan setiap hari Jumat, sebagai Hari Bersepeda bagi masyarakat Kota Minyak

Bila sudah ada gerakan tersebut, secara perlahan pemerintah kota diharapkan menyediakan fasilitas atau sarana, dan memberlakukan waktu-waktu khusus bebas kendaraan bermotor dan truk pada jalan raya tertentu, atau penambahan fasilitas jalur hijau dan rambu-rambu khusus untuk pesepeda.

Campur tangan pemerintah ini diperlukan untuk menfasilitasi dan memberikan kepastian hukum pada masyarakat, seperti langkah pemerintah pusat pada konsumsi minyak tanah beralih ke gas alam, dan terbukti mampu meredam ketergantungan masyarakat akan minyak tanah. Begitu juga terhadap ketergantungan bensin, pemerintah kota perlu campur tangan mengatur dan memfasilitasi penduduk kotanya dengan baik. Ini terbukti dengan adanya peraturan sementara pembatasan BBM seperti dilansir di media massa ini.

Jika sudah ada kepastian hukum dan sarana prasarana, masyarakat akan merasa aman dan nyaman bersepeda, yang implikasinya ikut menyumbang penghematan BBM, khususnya bensin.

Bagaimana pendapat Anda?

Minggu, Februari 05, 2012

The Rules of Parenting, Opini tentang Aturan Pengasuhan Anak bagi Orang Tua


Kurang lebih seminggu ini di sela-sela rutinitas saya sempatkan membaca buku ini, The Rules of Parenting karya Richard Templar. Meski penulisnya menilai buku ini tidak kontroversial, tetapi saya – dan mungkin beberapa pembaca lainnya – malah menilai kontroversial, karena berisi tentang opini 100 aturan pengasuhan bagi orang tua yang memiliki anak balita hingga remaja atau sebelum usia 18 tahun. Opini? Ya, setidaknya menurut saya, karena ditulis berdasarkan pengamatan dan pengalaman selama dua kali berumah tangga dan pergaulannya dengan orang tua lain.

Penulis buku bestseller internasional The Rules of Life ini tampaknya memang ahli menuangkan pikirannya dengan baik ke dalam kalimat sederhana dan enak dimengerti. Mungkin itu yang membuat orang tertarik membaca, sehingga terjual laris manis. Ini terlihat dari penjelasan dari aturan-aturan pengasuhan yang ditulisnya, sangat runtut, bahkan ia mampu mengaitkan aturan satu dengan aturan lainnya dengan baik.

Tetapi, sering saya dibuat bertanya-tanya dengan apa yang ditulisnya, bukankah buku ini bicara soal aturan? Seperti pada pendahuluan, tampaknya ada pesan kontraproduktif, seperti ini:

Saya tidak mengatakan hanya ada 100 aturan yang harus Anda ikuti dan tidak ada aturan lainnya. Sama sekali tidak. Menurut pengamatan saya, aturan-aturan inilah yang paling penting. [xv]

Jika memang tidak harus diikuti, mengapa aturan-aturan itu penting dan menjadi The Rules?
Apalagi di halaman yang lain penulis dengan jelas menulis kalimat ini:

Saya hanya berusaha menuangkan beberapa prinsip kunci ke dalam tulisan sehingga lebih mudah bagi kita untuk mengikutinya. [145]

Bila pembaca menelusuri dari halaman ke halaman berikutnya mungkin akan menemukan kalimat-kalimat sejenis dan ambigu. Tampaknya penulis bermaksud menyembunyikan pesan agar tidak tampak terlalu keras mengatur pembaca, padahal keras atau lunak inti pesannya sama saja, sama-sama mengatur, dan mungkin secara tidak sadar merasa “lebih” dari orang lain, seperti ini:

Namun untungnya, saya di sini bukan untuk memaksa Anda menjadi seperti saya. Saya hanya meneruskan apa yang telah saya pelajari dari orang tua lain, banyak di antara mereka justru lebih sukses dari saya. [90]

Tampaknya penulis merasa lebih baik dari orang tua lain, dengan menyebutkan orang lain “lebih sukses” secara materi, dan merasa pola pengasuhannya lebih baik daripada orang tua lain.

Pada Aturan 80 soal perilaku sehat terhadap seks anak remaja, saya menangkap pesan penulis tidak secara tegas melarang seks pranikah. Secara implisit aturan ini tampaknya 'membolehkan' seks pranikah asalkan dilakukan dengan bertanggung jawab secara moral dan tidak merugikan kesehatan. Ini terlihat di akhir penjelasannya sebagai berikut:

Saya tidak berkata Anda tidak boleh melakukan hubungan seks pranikah, tapi saya hanya berpendapat tidaklah benar mempermainkan perasaan orang lain, atau menimbulkan risiko bagi kesehatan mereka. [205]

Membaca kalimat tersebut, seolah-olah akan memancing pertanyaan berikutnya: bagaimana dengan seks pranikah yang dilakukan suka sama suka dan pakai kondom?
Ini jelas kontroversial kan? Tentu banyak orang akan menjawab agama sangat jelas dan tegas melarang, bahkan jika melanggar ada sanksinya.

Mungkin pembaca harus membaca aturan demi aturan ala Richard Templar ini dengan pikiran jernih, cerdas, dan tidak emosional. Sepanjang yang saya baca, buku ini tidak menyinggung sedikit pun soal aturan agama atau yang terkait ibadah tertentu. Mungkin harapannya agar buku ini menjadi universal, sehingga mudah diterima masyarakat internasional, tanpa memandang suku, agama, ras, dan sosial.

Meski demikian, apabila pembaca menginginkan untuk memperluas wawasan tentang bagaimana pola pengasuhan anak sebelum usia 18 tahun, buku ini mungkin bisa dijadikan salah satu referensi. Seperti baru-baru ini, anak saya mengalami bullying dengan anak lain. Malam sebelumnya saya membaca Aturan 65 yang mengajarkan anak berani membela diri ketika di-bully atau diejek. Melihat kejadian tersebut, apa yang harus saya lakukan? Saya ikuti Aturan 65 tersebut dengan mendorong anak agar tampil percaya diri dan berani melawan ketika di-bully. Hasilnya, meski anak sempat menangis saat diejek, ia segera bangkit, melupakan tangis, dan kembali bermain. Bahkan anak yang nge-bully itu ternyata ketahuan cemen, karena tidak lama kemudian justru menangis karena di-bully orang lain. :-)

Selanjutnya, buku ini terserah Anda, dibaca atau tidak sama sekali, dan buku ini bukan kitab suci. Dari 100 aturan yang ada, Aturan 4 mengatakan bahwa hampir semua aturan sesekali dapat dilanggar. Ingat, ada kata hampir! Artinya, tidak semua rules itu boleh dilanggar, kalaupun ada yang dilanggar itupun sesekali saja, tidak boleh terlalu sering! :-D

Hadeeh... aturan kok boleh dilanggar. :-)

Rabu, Januari 18, 2012

Bayangkan Sebuah Dunia Tanpa Pengetahuan Bebas

Sebagai catatan. Hari ini, 18 Januari 2012 seluruh penentang SOPA dan PIPA melakukan unjuk rasa menggelapkan Internet selama 24 jam dengan sebutan Internet Blackout Day. Lihat Wikipedia edisi bahasa Inggris hari ini.

Kurang lebih terjemahan bebas pesannya seperti ini:

Bayangkan Sebuah Dunia Tanpa Pengetahuan Bebas

Selama lebih dari satu dekade, kami telah menghabiskan jutaan jam untuk membangun ensiklopedia terbesar dalam sejarah manusia. Kini, Kongres AS mempertimbangkan sebuah perundangan yang bisa berakibat fatal pada internet yang merdeka dan terbuka. Selama 24 jam, demi meningkatkan kesadaran akan isu ini, kami menggelapkan Wikipedia.

Berikut Wordpress.com


Bagaimana dengan Indonesia?
Pak Onno W Purbo, pegiat Internet dan Open Source ketika diminta pendapatnya mengatakan:


Referensi:
- SOPA dan Pengaruhnya Bagi Indonesia
- Wikipedia Bahasa Inggris Mulai Dimatikan

Selasa, Januari 10, 2012

Inilah Hosting Gratis Website Sekolah dari Unair!

Screenshot sch-id.net
Kabar baik untuk sekolah-sekolah yang sedang membutuhkan layanan hosting web sekolah tetapi terbentur anggaran yang minim. Informasi yang saya peroleh disini menyebutkan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menyediakan layanan hosting gratis, sch-id.net. Meski nantinya nama sekolah menggunakan subdomain dan dibawah TLD umum .net, tetapi sekilas memiliki ccTLD mirip .sch.id yang resmi dari pandi.or.id. Sebagai misal, jika nama sekolah adalah Sekolah Dasar Negeri 1001 Balikpapan, maka nama subdomain yang bisa diajukan adalah sdn1001.sch-id.net, keren kan? :-)

Kesan saya, tentu ini kesempatan bagus bagi sekolah-sekolah yang belum memiliki website. Apalagi layanan ini berada dan berjejaring dengan layanan lainnya seperti guru-indonesia.net, siswa-indonesia.net, dan yayasan-indonesia.net, yang memungkinkan sekolah dari daerah dapat "berbagi dan berbicara" dengan sekolah lain di seluruh Indonesia. Pengelolaannya pun tampaknya dikelola langsung oleh Unair sebagai bentuk pengabdian pada masyarakat dan komitmen Unair dalam memajukan dunia pendidikan Indonesia.

Hanya saja saya tidak tahu sampai kapan layanan hosting gratis ini disediakan dan bagaimana kualitas layanannya, misalnya untuk mem-backup konten bila terjadi gangguan, dan lain sebagainya. Mungkin informasi lebih lanjut dapat ditanyakan ke Pak Soegianto Soelistiono.

Analogi Kulkas

Kulkas atau lemari es fungsinya kurang lebih untuk mendinginkan makanan agar kondisi dan kesegarannya tetap terjaga. Kulkas, juga memiliki kapasitas yang berbeda sesuai peruntukannya, begitu pula kualitasnya. Ketika seseorang telah membeli kulkas, tindakan selanjutnya adalah mengisi kulkas dan merawatnya, isi pun tak boleh sembarangan, agar kesegaran makanan tidak terkontaminasi satu sama lain.

Pertanyaannya adalah siapa yang mengisi kulkas? Bagaimana merawatnya? Bagaimana agar isinya tetap segar dan menarik minat orang lain untuk mengambil isi kulkas dan menikmatinya?

Website sekolah, mestinya memiliki fungsi lebih dari sekadar kulkas, karena kulkas tak memiliki jejaring sosial kulkas. Ia hanya dimanfaatkan si empunya kulkas, tetapi pola pengelolaan mirip, sama-sama dirawat dan diisi konten yang berkualitas, segar dan tidak sembarangan. :-)

Untuk itu, bagi sekolah yang akan menggunakan layanan tersebut secara pribadi saya menyarankan agar ada operator yang siap mengelola dan mengisi konten dengan baik. Sebaik apapun kulkas, eh, website, jika tidak diisi konten yang bagus dan terkini akan tetap jadi barang biasa. :-D

Yuk, mari... :-)

Senin, Desember 05, 2011

SD: Semangat Menginspirasi Kaum Muda


Sabtu pagi kemarin di meja saya ada buku dari Pak Satria Dharma. Sebelumnya, Jumat malam Beliau mengadakan acara miladnya, dan kebetulan saat itu saya sedang bekerja sehingga tidak dapat menghadiri acara.

Isi buku sebagian besar diambil dari tulisan-tulisan yang ada di satriadharma.com berikut sebagian komentar yang ada. Untuk itulah, buku ini lebih ditujukan untuk kolega atau kenalan yang tidak sempat membaca artikel di situs tersebut secara online.

Saya sendiri sebagian besar sudah membacanya, sedangkan buku ini akan menambah koleksi saya di perpustakaan pribadi, siapa tahu akan menginspirasi anak-anak, keluarga, dan siapa saja yang berkunjung ke perpustakaan kecil saya.

Tentang konteks buku, secara pribadi saya menilai buku yang sarat dengan esai atau opini tentang pendidikan, Islam, dan pengalaman pribadi ini mampu memotivasi saya untuk menulis dan membaca. Jujur, blog saya ini awalnya termotivasi atas blog dan tulisan-tulisan beliau.

Hal yang tak bisa saya imbangi darinya adalah soal kecepatan menyusun kalimat dan mengetik. Salah satu fakta yang bisa dilihat adalah tulisannya yang diketik ketika melakukan perjalanan di dalam pesawat terbang. Meski saya melihat kemampuan mengetiknya yang luar biasa itu 11 tahun yang lalu -- ketika itu mementori saya --, tapi bunyi ketukan keyboard itu terasa masih terngiang di telinga saya sampai sekarang, seperti bunyi rentetan senjata.

Di buku ini ada hal-hal yang dapat memotivasi saya, seperti pelajaran hidup dari orangtuanya untuk tidak pernah mengeluh dalam mengarungi kehidupan di dunia, tentang sebuah epifani. Semangatnya untuk bekerja dan memotivasi siapa saja, terutama kaum muda untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa, dan masih banyak lagi.

Hm... Jadi pengen buat buku dari blog ini. Happy birthday Pak! :-)

Kamis, Desember 01, 2011

Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas menulis

Selama bulan November kemarin perhatian menulis saya beralih menuju ke blog yang akunnya sudah saya miliki sejak 5 tahun yang lalu di Wordpress.com ini. Saya membuat tulisan soal apa saja yang bisa saya tulis, entah itu kejadian yang ada disekitar saya, soal pekerjaan, atau soal apa yang perlu saya catat dari apa yang saya dengar, lihat, baca, rasa, atau saya alami. Semua tulisan bukan untuk siapa-siapa kecuali untuk catatan saya sendiri, adapun orang lain suka atau tidak itu bukan masalah, inilah yang saya suka dengan blog, bebas tapi ada tapinya. :-)

Menulis dimulai dari komitmen, lalu ada kemampuan (baca: sehat) dan kesempatan yang mendukung. Alhamdulillah syukur atas nikmat sehat dan kesempatan itu.

Hasilnya, terhitung dalam sebulanan itu saya berhasil membuat posting sekitar 31 catatan artikel, meski cukup banyak kutipan. Ini berarti hampir tiap hari saya posting artikel. Ada beberapa kunjungan dari blogger lain, bahkan beberapa di antaranya ada yang berlangganan, wah! Padahal blog tersebut sengaja saya biarkan untuk percobaan, tidak di-broadcast ke milis atau sindikasi blog lainnya, cukup di twit dari twitter pribadi saja. Mungkin dirasa manfaat beberapa pembaca yang tertarik pun me-retweet, duh terima kasih ya. Swear deh ini bikin saya lebay banget.

Terlepas dari lebay-lebayan itu, saya sepakat dengan Ian Sommerville soal faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas software engineering dalam bukunya Software Engineering. Pasalnya, saya rasa ada benarnya terdapat persamaan antara programmer dengan penulis seperti yang pernah saya catat itu. Faktor-faktor itu adalah:

  • Pengalaman domain tulis-menulis. Penulis yang telah memahami domain tulis-menulis, mengerti tata bahasa, ejaan, tanda baca, akurasi data, mungkin merupakan yang paling produktif.
  • Kualitas proses, proses penulisan yang dipakai memiliki efek yang signifikan pada produktivitas. Ada cara atau metode untuk memproduksi software seperti SDLC yang ditunjang tools yang tepat. Dengan begitu software yang dihasilkan cepat dan tepat sesuai dengan rencana. Begitu juga menulis. Misal ada tools improvement seperti editing, pemandu, pengutip, yang bisa memperbaiki kesalahan, membimbing menulis, dan mengutip rujukan secara cepat dan tepat.
  • Ukuran tulisan, tulisan yang singkat, pendek, padat, rutin, lama-lama menjadi bukit, mirip prinsip modularitas pengembangan sistem yang makin membesar.
  • Dukungan teknologi, ada Internet dan tools untuk menulis cepat, mudah, nyaman, posting, dan voila! Online... online!
  • dan lingkungan menulis, suasana nyaman dan mendukung ini harus ada, jika berisik, gaduh, ramai, mencekam... agak sulit menulis deh.

Itu catatan saya di awal Desember ini.

Minggu, Oktober 23, 2011

Membaca Buku Saja Tidak Cukup!

Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang cepat, dan teori-teori yang telah ditemukan sebelumnya kini segera usang dan ditinggalkan. Membaca buku saja di perpustakaan tidak cukup saat ini, bahkan Indiana Jones pernah bilang pada mahasiswanya sejak perang dunia pertama long time ago. :-)

Meski demikian, buku menjadi sumber awal dan dasar informasi, secara fisik tak lekas usang -- kecuali terbakar atau disobek-sobek atau dibuang ke laut. Bisa dikatakan buku menjadi inspirasi dan pemicu untuk tindakan berikutnya. Buku menjadi sangat berjasa bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang membentuk peradaban baru manusia seperti saat ini. Menjadikannya koleksi dan membacanya saja tidaklah cukup saat ini, ia butuh referensi lain yang sahih, agar kaya implementasi, tindakan, aksi, atau amal bagi pembacanya.

Selamat berakhir pekan! :-)

Jumat, Oktober 21, 2011

Persamaan Programmer dengan Penulis

Saya sepakat dengan quote yang dikutip Matt Mullenweg dari Brent Simmons saat 'ngobrol' dengan John Gruber tentang masa depan NetNewsWire. Menurut Simmons, penulis yang baik itu membaca banyak buku (sumber). Penulis yang baik melihat bagaimana penulis lain memecahkan masalah. Penulis yang baik juga memperhatikan apa yang terjadi saat ini sebanyak perhatiannya pada hal-hal sederhana lainnya. Penulis yang baik adalah pembaca lebih dulu, namun bermata elang (tajam, awas, dan jeli) serta pembaca yang berhati-hati.

Begitu juga developer -- atau programmer -- yang baik adalah sama: melihat aplikasi lain, "membaca" aplikasi tersebut, mencari persamaan dengan masalah yang mereka miliki, lalu bagaimana mereka menyelesaikan masalah tersebut. Developer melihat tren, melihat solusi baru, dan memperhatikan kapan sesuatu itu bekerja dan kapan tidak bekerja.

Berkonsentrasilah pada menulis itu sendiri, karena menjadi penulis yang baik akan membantu menjadi pembaca yang lebih baik, dan itu adalah hasil nyata.
Begitu kurang lebih quote selanjutnya.

Nice posting Matt! :-)

Kamis, Oktober 06, 2011

Inilah Alasan Mengapa Harus Datang ke ON|OFF 2011 Balikpapan


Dalam 2 hari terakhir pendaftaran event ON|OFF 2011 di Balikpapan yang akan digelar 2 hari lagi nanti ternyata tempat duduk yang disediakan panitia sudah fully booked, woh! Cepat sekali! Saking cepatnya, saya jadi penasaran dan pingin cari tahu apa biang keladinya. Selidik punya selidik, tampaknya hal itu disebabkan karena cicit-cuit tweeps di jejaring sosial Twitter! Wew...

Ah, itu sih biasa ya, gak heranlah... saya malah tertarik dengan pasar sapi, nah loh!

Bukan, bukan, ini bukan seperti pasar kambing atau pasar burung, tapi soal akun @pasarsapi yang dimiliki Mbak Ainun Chomsun di Twitter. Yang membuat penasaran saya adalah soal nama @pasarsapi hingga saya mencarinya sampai tengah malam, terus kepagian. Hasilnya?

Sila cermati perkenalannya disini dan pekerjaannya disitu, karena di posting ini tidak cukup untuk dibahas, terlalu panjang. :-)

Konon, ibu satu anak ini populer karena id @pasarsapi dan pengaruhnya di jejaring sosial Twitter. Salah satu yang paling fenomenal dan dicatat blogger adalah soal kritik -- bukan kripik -- pedasnya pada taksi Bluebird, selain juga perannya sebagai kepala sekolah Akademi Berbagi yang mengusung platform distributed teaching berkualitas. Soal seberapa besar pengaruhnya ini, menurut klout Mbak Ainun termasuk Specialist dengan score 71 saat ditulis posting ini.

Itu semua di atas yang pertama.

Yang kedua, inilah soal kepedulian itu, ada tantangan bagi para onliners lokal Balikpapan agar tidak hanya jago duduk diam berjam-jam online di depan laptop, tablet, atau BB-nya hanya untuk komentar saja, prihatin saja, atau 'memaki' ketidakadilan. Yuk, peduli dengan aksi maupun donasi. Kalau dalam istilah bahasa Ameriki-nya 'cancot taliwondo', maksudnya kurang lebih “singsingkan lengan baju dan celana, lalu bersegera untuk bertindak”. Miss Andy Merzy F akan mengakomodir aksi ini dalam borneonsdonate.com.

Ketiga, ada artis! Meski 'hanya' artis bintang iklan dan ikon provider telekomunikasi, tetapi untuk menjadi bintang iklan dan ikon itu tak semudah bayangan awam! Ada pertimbangan-pertimbangan ketat dan pertaruhan nama brand provider. Dia adalah Mbak Aulia Halimatussadiah atau Mbak Ollie, yang memiliki nickname @salsabeela. Meski dijadwalkan bukan sebagai pembicara, tetapi saya berharap ada sesi sharing mengenai kiat-kiatnya sebagai CTO kutukutubuku.com dan nulisbuku.com.

Keempat, untuk ikut acara ini bebas tanpa dipungut biaya alias gratis! Meski begitu, tetap harus melalui pendaftaran atau undangan dan jumlah peserta terbatas kapasitas, agar saat acara benar-benar mengenai sasaran dan manfaat dapat dirasakan peserta. Saya sendiri jika sudah submit ikutan, rasanya malu untuk tidak hadir. Kenapa malu? Pertama, jelas identitas saya sudah ada di panitia, malu ketahuan botek. Kedua, mungkin ada orang lain yang lebih membutuhkan untuk hadir, malu menyia-nyiakan kesempatan. Beruntunglah saya bukan peserta. :-)

Nah, jarang-jarang ada event yang berani berbagi dan bikin happy seperti ini.

Yuk, come on!

Jumat, September 23, 2011

Mengukur Readability Konten Web

Menulis konten untuk pengguna web memiliki tantangan tersendiri, yaitu mudah dibaca dan dipahami pengunjung (readability). Ketika konten sangat mudah dibaca, audiens dapat dengan cepat mencerna informasi yang dibagi. Beberapa informasi menyebutkan bahwa pengguna web memiliki rentang perhatian yang sangat pendek, tidak membaca artikel secara menyeluruh dan keseluruhan.

Hasil Studi

Sebuah studi yang menyelidiki perubahan dalam perilaku kebiasaan membaca yang dilakukan pengguna web di era digital menyimpulkan bahwa, pengguna web cenderung membaca cepat (skimming) untuk menemukan informasi yang diinginkannya, dengan cara mencari kata kunci dan membaca non-linear (bukan dari atas ke bawah).

Untuk itu, salah satu cara yang bisa diterapkan adalah menggunakan teknik headings. Tujuannya agar konten terorganisir dan pembaca langsung menemukan informasi yang dicarinya.

Mengukur Readability

Setelah sekian lama menulis, saya ingin tahu sampai dimana tingkat kemudahan konten blog ini dibaca dan dipahami. The Readability Test Tool, adalah Perangkat Uji Readability yang cukup fleksibel untuk menilai formula keterbacaan konten web.

Dari hasil uji coba, secara keseluruhan blog ini memiliki grade level sekitar 14. Ini berarti mudah dipahami oleh orang berusia 19 sampai 20 tahun. Hm... masih cukup sulit untuk anak-anak. :-)

Semoga bermanfaat.

Referensi
[1] 7 Best Practices for Improving Your Website’s Usability
[2] Show Numbers as Numerals When Writing for Online Readers

Update:
- Pengukuran untuk keseluruhan konten web dinamis akan berbeda hasilnya. Saat ini, Selasa, 4/10/2011, saya coba ukur kembali mendapat grade level 11 atau mudah dibaca dan dipahami orang usia 16-17 tahun.

Selasa, Agustus 16, 2011

Pentingnya Perhatikan Detil

Iklan Nokia. idownloadblog.com


Ini pelajaran berharga bagi siapa saja terutama bagian periklanan, humas, atau yang biasa berhubungan dengan layanan kustomer. Dikutip dari idownloadblog.com, iklan ini terlihat di sebuah mal di Australia. Nah, coba amati tampaknya perempuan dalam gambar ini sebenarnya menggunakan iPhone 4.

Lucunya, seseorang menemukan gambar wanita tersebut di iStockPhoto.com, dan desainer iklan tidak menyadari bahwa wanita itu menggunakan iPhone. Meski ini di toko kecil untuk menarik pengunjung toko tersebut, tetapi ini sungguh pelajaran yang sangat amat berharga!

Senin, Agustus 15, 2011

Apa yang Dicari di Blog ini?

Hari ini saya coba mengevaluasi blog ini setelah mengetahui pagerank turun drastis dari 2 menjadi 0 dan belum mengalami kenaikan sama sekali sejak 30 Juli 2011 lalu. Ini disebabkan karena setelah saya ganti domain pribadi dari sebelumnya yang menggunakan subdomain di blogspot. Dari mesin pencarian Google hingga saat ini pun masih menyimpan taut domain lama, http://subura2005.blogpsot.com, meski nantinya bila diklik akan dialihkan ke domain suburanugerah.com

Statistik Blog

Dari statistik blog ini terungkap, terhitung selama 1 bulan (17 Juli-15 Agustus 2011) artikel yang banyak diklik adalah artikel terbaru yang “panas”, misal tentang anak. Ada beberapa sebab yang mungkin menjadikan artikel tersebut paling banyak diklik.
1. Sharing ke jejaring sosial (saat itu saya share ke Google+ saja, belum ke yang lain).
2. Bertepatan dengan hari Anak Nasional, 23 Juli 2011.
3. Bertepatan dengan momen tahun ajaran baru 2011.
4. Referring sites.

Screenshot Statistik Bulanan, Juli-Agustus 2011

Tetapi untuk jangka panjang, yang selalu dicari user Internet adalah artikel tutorial ringan untuk pemula dan untuk kepentingan pembelajaran. Selama lebih dari 2 tahun (Mei 2009 – Agustus 2011), data berikut ini menjadi bukti yang bisa dijadikan acuan.

Screenshot Statistik Tahunan, per 2 tahunan


Konklusi

Dari informasi statistik ini bisa dibaca apa saja yang perlu dilakukan untuk menaikkan trafik blog. Beberapa diantaranya adalah membuat artikel “panas” atau berkaitan dengan momen yang pas, sharing ke jejaring sosial, referring sites, dan membuat tutorial atau petunjuk teknis. Penggunaan program backlinks dan semacamnya kurang prefer saya gunakan.

Senin, Juli 18, 2011

Tak Benar, Membiarkan Anak Bekerja di Usia Sekolah

Masih segar di ingatan, beberapa minggu menjelang tahun ajaran baru lalu berita media massa nasional mengangkat cerita mengenai anak-anak yang putus atau tidak sekolah dan memilih bekerja, seperti membajak sawah, berjualan, hingga isu politisi menelantarkan anak. Beberapa alasan mengapa tidak sekolah pun diangkat, dan alasan yang paling ditonjolkan adalah tidak ada biaya atau masalah kemiskinan. Minggu berganti, isu berita pun berganti, topik berita tentang anak terlantar dan anak bekerja hilang bagai disapu angin.

Serasa datang angin segar, Minggu ini saya membaca berita bahwa Walikota Manado bergerak mencari anak-anak yang putus sekolah dan yang bekerja untuk dikembalikan ke sekolah. Dikatakan, sebagai tulang punggung masa depan bangsa, anak-anak tak boleh dibiarkan bekerja, mereka harus bersekolah dan menikmati kesejahteraan, membiarkannya bekerja di usia sekolah adalah hal yang sama sekali tidak benar.

Eksploitasi Saat ini

Eksploitasi ekonomi yang memanfaatkan anak saat ini semakin canggih, salah satunya adalah sering kita jumpai di dunia industri hiburan televisi. Jika di jalanan anak-anak dibuat mengiba, di televisi justru dibuat menghibur. Masa bermain anak-anak yang menghibur, lucu, dan menyenangkan, itu berarti ada kesempatan yang bisa diambil dan menjadi nilai ekonomi (oportuniti) orang dewasa. Acara kontes-kontesan, sinetron, hingga hiburan kejar tayang yang melibatkan anak-anak menjadi komoditas industri hiburan. Ambil saja contoh beberapa anak yang kini menjadi komoditas hiburan televisi sebagai artis cilik. Orang tua kadang secara tidak sadar ikut mendorong anak-anak terlibat di dalamnya dengan alasan 'asal tidak merugikan ya gapapa donk', toh di acara tersebut anak-anak bermain dan sangat menyukainya, anak-anak juga tetap sekolah, lalu apa salahnya? Apalagi dapat duit bisa ditabung untuk bekal dewasa nanti, malah untung, kan?

Hak dan Mental Anak dalam Hukum Negara

Anak sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa memiliki hak asasi atau hak dasar sejak dilahirkan, sehingga tidak ada manusia atau pihak lain yang boleh merampas hak tersebut [1]. Hak dasar anak diakui secara universal, dan beberapa bentuk hak dasar anak ada1ah setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi [5].

Pasal 28B (ayat 2) UUD 1945 menyatakan bahwa “setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”, ini berarti bahwa anak mempunyai hak konstitusional dan negara wajib menjamin serta melindungi pemenuhan hak anak yang merupakan hak asasi manusia (HAM).

Edaran elektronik Konsep dan Pengertian Pengarusutamaan Hak Anak (PUHA) yang diterbitkan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan membuat kategori hak dasar anak menjadi 4 bagian antara lain:
  1. Hak Kelangsungan Hidup, seperti: hak hidup, hak memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai, hak untuk menikmati suatu kebudayaan dan agama, hak atas standar kehidupan yang memadai, hak atas nama, identitas dan kewarganegaraan.
  2. Hak Tumbuh Kembang, seperti: hak memperoleh pendidikan, hak untuk istirahat dan waktu luang, hak akses memperoleh perawatan dan dukungan orang tua.
  3. Hak Perlindungan, seperti: hak untuk dilindungi dari perlakuan salah dan penelantaran, hak untuk mendapatkan perawatan khusus bagi anak cacat/disabel, hak untuk memperoleh jaminan sosial, hak untuk dilindungi dari eksploitasi seksual komersial, hak untuk tidak menjadi korban child trafficking, hak untuk selamat dalam situasi darurat atau keadaaan sulit seperti dalam konflik bersenjata atau anak tanpa keluarga, hak untuk memperoleh bantuan hukum dan proses, peradilan yang memadai, hak untuk tidak diperlakukan diskriminatif, hak dilindungi terhadap eksploitasi ekonomi dan pekerjaan berbahaya.
  4. Hak Partisipasi, seperti: hak untuk menyampaikan pendapat, hak untuk kebebasan berserikat, hak atas kebebasan berekspresi, hak untuk memperoleh informasi, hak atas kebebasan pribadi, hak untuk kebebasan berpikir, berhati nurani dan beragama.

Pada Lembaran Tahun 2000 Nomor 30 tentang penjelasan atas Konvensi ILO No. 182 mengenai pelarangan dan tindakan segera penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak [1], saya menemukan informasi menarik tentang mental anak. Konvensi ini dimaksudkan untuk menghapuskan segala bentuk praktek mempekerjakan anak serta meningkatkan perlindungan dan penegakan hukum secara efektif sehingga akan lebih menjamin perlindungan anak dari eksploitasi ekonomi, pekerjaan yang membahayakan keselamatan dan kesehatan otak, mengganggu pendidikan, serta mengganggu perkembangan fisik dan mental anak.

Berkait dengan mental anak, istilah mental dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti berkaitan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga, atau dalam bentuk nomina berarti batin dan watak atau karakter atau kepribadian. Karakter dasar anak adalah seperti memiliki rasa ingin tahu (curiosity) yang tinggi, tahap tumbuh kembang, peniru yang ulung (imitator), dan rentan dieksploitasi (vulnerable). Pembentukan karakter ke arah yang baik membutuhkan strategi yang mendorong, mendampingi, dan membantu anak untuk melakukan pencapaian tumbuh kembang yang layak dan optimal sebagai makhluk individu dan sosial.

Menurut Prof. Suyanto Ph.D, karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat [6].

Usia Minimum Bekerja

Pada pasal 2 Konvensi tersebut, istilah "anak" berarti semua orang yang berusia di bawah 18 tahun [1][5]. Pada pasal 2 ayat (1) Konvensi, disebutkan Indonesia melampirkan Pernyataan (Declaration) yang menetapkan bahwa batas usia minimum untuk diperbolehkan bekerja yang diberlakukan di wilayah Republik Indonesia adalah 15 tahun. Yang menarik, angka 15 tahun ini tidak serta merta mutlak, tetapi ada pertimbangan-pertimbangan lain, misalnya diperbolehkan antara 13-15 tahun untuk pekerjaan yang ringan atau tidak beresiko (Pasal 7 Konvensi), dan minimum 18 tahun untuk pekerjaan beresiko (Pasal 3 Konvensi). Resiko disini kurang lebih adalah dapat membahayakan bagi kesehatan, perkembangan fisik dan mental anak, mengganggu kehadiran anak mengikuti pelajaran sekolah, mengganggu mengikuti orientasi kejuruan atau program pelatihan di sekolah, atau mengganggu kemampuan anak dalam menerima manfaat dari pelajaran sekolah [1].

Jika merujuk usia wajib belajar di Indonesia adalah 7-15 tahun [2][3], maka penggunaan Pasal 7 Konvensi tersebut menurut saya kurang aman atau sulit untuk bebas dari resiko-resiko di atas, bahkan rentan penyalahgunaan (abuse) baik yang dilakukan oleh industri hingga orang tua atau wali. Adapun fakir miskin dan anak-anak terlantar (yang kesulitan wajib belajar) dipelihara oleh negara [4]. Ini bukan berarti masyarakat lepas tangan tidak membantu, tetapi mencoba mengingatkan penguasa dan negara agar tidak lupa akan kewajiban hukum yang harus dipenuhi.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa usia minimum bekerja adalah sekurang-kurangnya 18 tahun. Apabila kurang dari 18 tahun, anak tidak berkewajiban bekerja dan harus mendapatkan pendidikan atau sekolah. Kewajiban untuk menanggung biaya sekolah anak merupakan tugas negara tanpa ada diskriminasi. Mengapa harus negara? Karena anak adalah tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan [5]. Selain itu, negara telah mengeluarkan produk hukumnya sendiri bahwa wajib belajar dijamin oleh negara [2][3].

Usia Minimum Sekolah

Usia 6 tahun dapat mengikuti wajib belajar atau sekolah pada jalur formal apabila anak dipandang siap baik secara fisik maupun mental. Dari sisi sekolah pun juga mempertimbangkan selama kapasitas kelas atau daya tampung masih memungkinkan [2][3]. Ini berarti yang menjadi prioritas wajib belajar adalah usia 7 tahun, dan sering dijadikan sebagai dasar atau pedoman penerimaan siswa baru (PSB) pada tahun ajaran baru seperti saat ini [2][3].

Adapun mulai usia 0 – 6 tahun, metode pendidikan yang diberikan adalah berupa rangsangan pendidikan yang ditujukan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki tahap usia berikutnya [3]. Tumbuh kembang ini adalah proses yang terjadi baik pada fisik maupun mental sesuai jenjang usianya. Materi dan metode rangsangan pendidikan pun disesuaikan dengan tingkat usianya, dan tentu saja melibatkan ahli atau pakar psikologi pendidikan anak usia dini. Sebaliknya, penggunaan materi dan metode yang tidak tepat justru akan merugikan anak itu sendiri. Tidak adil rasanya memperlakukan anak sama seperti halnya orang dewasa.

Kesimpulan

Yang disebut anak adalah semua orang yang berusia di bawah 18 tahun. Usia minimum bekerja adalah 18 tahun, baik pekerjaan beresiko atau tidak. Yang dimaksud resiko adalah dapat membahayakan bagi kesehatan, perkembangan fisik dan mental anak, mengganggu kehadiran anak mengikuti pelajaran sekolah, mengganggu mengikuti orientasi kejuruan atau program pelatihan di sekolah, atau mengganggu kemampuan anak dalam menerima manfaat dari pelajaran sekolah. Oleh karena itu, patut diapresiasi apa yang dilakukan oleh Walikota Manado untuk mencari dan mendata semua anak putus sekolah yang telah bekerja untuk dikembalikan ke sekolah, meski sebenarnya hal itu sudah menjadi kewajiban pemerintah sesuai peraturan pemerintah dan perundang-undangan. Langkah sang walikota layak dan semestinya diikuti pemerintah daerah lainnya.

Referensi:
[1] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2000 tentang Konstitusi Organisasi Ketenagakerjaan Internasional (International Labour Organization (ILO) Convention No. 182 Concerning The Prohibition And Immediate Action For The Elimination Of The Worst Forms Of Child Labour atau Konvensi ILO No. 182 Mengenai Pelarangan Dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak)
[2] Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar
[3] Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
[4] Undang-Undang Dasar 1945 pasal 34 ayat 1
[5] Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
[6] Prof. Suyanto Ph.D, Urgensi Pendidikan Karakter
[7] Konsep dan Pengertian Pengarusutamaan Hak Anak (PUHA), Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan

Penyangkalan (Disclaimer)
Tulisan ini disusun berdasarkan referensi yang diterjemahkan menurut sudut pandang penulis sebagai orang awam. Kekurangan pengetahuan mengenai hukum dan perundangan sangat rentan mengingat tulisan ini hanya untuk pembelajaran menulis dengan latar belakang penulis bukan dari bidang hukum maupun terkait. Penulis tidak bertanggung jawab bila tulisan ini digunakan sebagai pustaka atau referensi karya ilmiah, silakan pelajari referensi yang penulis gunakan di sini maupun referensi lainnya. Penulis tidak ada hubungan apapun dengan subyek yang disebutkan di tulisan ini. Apabila tulisan ini digunakan sebagai sumber berita silakan kontak penulis.