Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Selasa, Maret 17, 2009

Cerita tentang Maknyus

Kadang saya memperhatikan acara tv Wisata Kulinernya pak Bondan, mengapa sering kali pak Bondan memuji makanan yang disantapnya, maknyus? Kadang bertanya-tanya mengapa tak pernah ada ungkapan “Ini gak enak!” atau malah dimuntahkan?

Dalam etika Islam, Rasululloh memberikan contoh ketika berada pada jamuan makan untuk mengambil hidangan makanan yang paling dekat di sisinya, dan tidak berdiri 'nggayuk' makanan yang paling menggoda sekalipun yang berada nun jauh di ujung meja. Rasululloh juga memberikan contoh hanya memakan makanan yang halal, diketahui keberadaannya, menggunakan tangan kanan dengan 3 jarinya untuk mengambil makanan secukupnya masuk ke dalam mulut, menikmatinya perlahan dan tidak tergesa-gesa seperti mulut penuh, dan tentu saja menyantap makanan yang disukai. Itulah mengapa Rasululloh adalah manusia seperti kita manusia biasa, kadang suka, kadang ada yang tak suka. Untuk makanan yang tak disukai, Rasululloh hanya diam tidak memakannya, tidak pula sekalipun mencelanya, apalagi malah membahasnya yang tidak-tidak. ;-)

Baik sebelum dan sesudah menyantap makanan, Rasululloh selalu menyebut dan memuji kepada Alloh yang Maha Memberi atas nikmat yang disantapnya. Mengapa hal itu dilakukan Rasululloh? Karena Rasululloh sendiri pernah berkata bahwa bila seseorang menyebut asma Alloh ketika akan makan, maka setan dan temannya tidak akan ikut makan bersamanya. Setan, dimanapun selalu hadir di sisi seseorang untuk bersiap mengekploitasinya, setan tak berhenti mencari dimanapun titik kelemahan seseorang, hingga makanan yang hendak dimakan saat itu terjatuh dan kotor, setan pun berada di sana, menggoda agar makanan itu tidak dimakan dan terbuang! Sebaiknya bila memungkinkan, bersihkan bagian makanan yang kotor, lalu makanlah hingga bersih. Bersih? Ya bersih, itulah mengapa selesai makan nasi di piring pun sebaiknya hingga bersih tak tertinggal nasi sebijipun, bila perlu dijari-jari yang masih tersisa makanan pun bersih termakan, karena seseorang tidak tahu, pada bagian mana makanan yang dimakan ada berkahNya. Begitu pula ketika selesai menyantap makanan, Rasululloh juga pernah berkata bahwasannya Alloh niscaya meridhoi hambaNya yang makan makanan lalu memujiNya atas makanan yang dimakannya, atau minum lalu memujiNya atas minuman yang diminumnya, alhamdulillah... ;-)

Satu yang membuat saya terbahak bila teringat cerita Rasululloh menyantap makanan adalah beliau bukanlah orang yang rewel, bahkan membuat orang yang tadinya tidak suka makanan itu, akhirnya jadi ketagihan! Ada satu cerita, suatu ketika Rasululloh mengajak salah satu sahabatnya untuk makan bareng di rumahnya. Saat itu, pelayan menghidangkan beberapa potong roti saja tanpa lauk atau bumbu dan hanya ditemukan cuka. Maka apa kata beliau? Cuka adalah bumbu yang paling enak! ... maknyus! :-D

* Cerita sederhana di lingkungan terdekat, dipadusarikan dari HR Muslim Kitabul Ath'imah, ditulis ringan dengan harapan mudah dibaca, syukur-syukur akhirnya bermanfaat. Yogyakarta, 16 Maret 2009.

Kamis, Januari 15, 2009

Soto Madura


Jogjakarta memang surganya makanan enak dan murah, apalagi dengan harga kantong mahasiswa. Berdasarkan penerawangan saya di seputaran Pogung, ketika makan bareng di suatu warung makan, harga kantong mahasiswa itu tak lebih dari 5.000 rupiah, bahkan kurang dari itu. Nggak heran, dengan harga segitu, kalau mau makan soto pun bisa saja, meski soto -- yang sering saya nikmati juga -- ini hanyalah soto-sotoan, semangkuk kuah dan nasi yang sangat hemat daging, sekedar untuk ganjal perut.. ;-)

Nah, di awal tahun 2009 ini, makanan pertama yang saya santap di Jogja adalah soto madura ini. Jelas, ini baru benar-benar soto, lokasinya di jalan raya Solo selatan bandara Adi Sucipto. Kalau dari arah Solo, lokasi warung persis menjelang pertigaan lampu merah menuju bandara. Kondisinya sangat sederhana, dinding kayu, dari jalan raya kalau tidak diperhatikan betul-betul sering diabaikan orang begitu saja. Tapi jangan dikira, pertama kali saya tahu warung ini dari bau soto yang... hmm... bikin perut keroncongan. Nggak salah memang, seminggu kemudian saya datang lagi, ternyata banyak juga pengunjungnya, biasanya pasangan usia baya dan bermobil, sepertinya bukan dari kalangan mahasiswa.

Lalu, berapa harga seporsi itu? Hanya Rp 7.500 sudah penuh daging sapi, di dalamnya tambah telor rebus Rp 1.500, dan minum jeruk anget Rp 1.500. Jadi habis Rp 10.500 saja. Rasanya? Mantab, cocok banget dengan lidah.

Minggu, Juli 13, 2008

Dari Kondangan Minum Es Dawet Banjarnegara

Hari minggu lalu, 6 Juli 2008, ada teman yang nikahan di Klaten, kami sekelas -- ada yang bolos -- akhirnya berangkat sama-sama. Jujugan di KPTU, lalu berangkat dengan 5 (6?) mobil, yaa... mirip konvoi, hanya saya dan Azhar naik tigernya. Kenapa nggak sama-sama naik mobil? Yaa... biar bisa lihat-lihat pemandangan, lagian menghindari mabok, si Azhar juga pulang kampung. Lumayan jauh juga sampai di Klaten, lalu acara demi acara berlalu, ya... seperti biasa adat Jawa halus, bahasanya pun sulit saya pahami -- padahal orang Jawa tulen.

Urusan kondangan pernikahannya teman, tahun ini ada banyak yang masuk daftar, pertama si Himawan yang diadain di JEC dan dihadiri para pejabat, ada pak Amien Rais, ada menteri... wah. Orang penting banget. Lalu nikahnya si Dian Gondrong -- sudah jadi bos malah baru nikah -- di Malang. Lalu si Nur di Gresik, yang ini bisanya cuman titip salam doang, si Titik Klaten, disusul bulan Agustus nanti tampaknya juga ada, si Said di Balikpapan, tapi kayaknya enggak bisa datang. Belum termasuk undangan tetangga kampung yang nikah... weleh.




Kembali ke cerita awal, sehabis pulangan kondangan dari Klaten, bareng Azhar saya sempatkan mampir di Bogem -- setelah Prambanan -- pinggir jalan minum es dawet Banjarnegara. Rasanya seger, manis, enak. Lupa sudah berapa kali saya minum es dawet di situ, yang jelas pertama kali saya minum bareng istri dan anak-anak sehabis dari Prambanan tahun lalu. Waktu itu BBM belum naik, sekarang BBM sudah naik pun harga segelas es dawet Banjarnegera masih stabil, Rp 1.000. Padahal, segelas es teh dengan volume yang sama lebih mahal 2x lipatnya.

Rabu, Juni 11, 2008

Gudeg Kayu



Rasanya, tak banyak mahasiswa yang tahu dimana makan gudeg yang enak. Pernah tanya teman yang sudah tahunan tinggal di Jogja, dimana makan gudeg yang enak? Jawabnya di daerah Malioboro. Hmm... setelah dicoba, walah... kerongkongan ini susah menelan, glek. Pernah juga mencoba di utara kantor pusat UGM, 10 meter dari lampu merah perempatan kaliurang - selokan mataram, seperti posting saya terdahulu di sini.


Tapi, dari semua itu rasanya masih beda banget dengan Gudeg Kayu di Jalan Solo, persis depan hotel Saphir - Saphir Square. Gudeg Kayu? Sepintas saya kira itu hanya namanya saja, malah ada yang mengira lauknya campur kayu hehehe... Saya sendiri bingung kenapa disebut gudeg kayu, tapi setelah datang ke sana, lalu memesan dan duduk, baru tahu, ternyata warung gudeg ini satu atap dengan penjual kayu untuk bangunan. Ow... begitu ya, tapi saya masih agak ragu, mau tanya sendiri kok kayak wartawan saja. Sambil makan, lauk telor bacem dan... lauk mirip serabut kayu, lho kok? Setelah dimakan, hmm... nyam-nyam, empuk enak, serabut kayu itu ternyata ayam goreng, yang diambil dagingnya. Tambah es teh manis, 2 biji gorengan, jumlah seluruhnya hanya Rp 8.000 saja, bandingkan dengan harga seporsi nasi goreng saja tanpa minum di Balikpapan. :P

SGPC is SeGo PeCel

Ketika tahu ada tulisan besar "SGPC" di daerah Klebengan depan Universitas Negeri Jogja (dulu IKIP Jogja), saya bingung, SGPC itu apaan sih? Setelah tahu, walah... ternyata SeGo PeCel tho... ndeso ya... ;-)


Omong-omong SGPC, di Jogja banyak banget, harganya variasi sesuai ukuran kantong, mulai yang kantong cekak sampai kantong tebal ada. Untuk yang kantong cekak, saya coba di area Candi Prambanan, weih... jauh amat! Wehehe... ini sekalian jalan ke sana antar ponakan yang datang dari Bontang, setelah capek mutar-mutar candi baru makan minum di pinggir jalan. Seporsi (sakpincuk) SGPC standard plus dua potong tahu (setengah jadi) bacem hanya Rp 5.000 saja, lebih murah dibanding bensin premium seliter. Hmm... nyam-nyam, lumayan buat ganjel perut.

Berikutnya Gudeg Kayu.

Rabu, Februari 06, 2008

Gudeg, Ah... Sudah Biasa


Bila mendengar kata “Yogya” atau ketika berkunjung ke sana, kadang ingatan kita akan tertuju pada beberapa frase atau kata yang kerap menjadi key word daerah istimewa ini, salah satunya adalah kata “Gudeg”. Tapi tahukah Anda, bahwa belum tentu bila sudah berada di Yogya kemudian pasti merasakan gudeg? Halah!

Cukup lama saya mendapatkan petunjuk dimana kira-kira penjual nasi gudeg yang sesuai lidah Jawa saya ini, sekitar 2 bulan, walah! Ternyata tidak jauh-jauh dari lokasi base camp saya, namanya gudeg mbarek, lokasinya di barek, Kaliurang. Di antaranya, saya prefer di daerah Selokan Mataram, sebelah utara kantor pusat UGM. Lauknya macem-macem default gudeg, standard nasional begitu, tapi bisa dikonfigurasi sendiri sesuai selera, jadi harganya juga macem-macem setidaknya kompatibel dengan kantong mahasiswa. Kalaupun rasa, mantap banget gak kalah enak, cuman nasinya sak uprit, tapi jangan khawatir, bisa nambah kok. Mau?

* Iseng, kira-kira key word apa yang paling populer mengikuti kata Yogyakarta? *