Tampilkan postingan dengan label Trip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trip. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juli 13, 2008

Dari Kondangan Minum Es Dawet Banjarnegara

Hari minggu lalu, 6 Juli 2008, ada teman yang nikahan di Klaten, kami sekelas -- ada yang bolos -- akhirnya berangkat sama-sama. Jujugan di KPTU, lalu berangkat dengan 5 (6?) mobil, yaa... mirip konvoi, hanya saya dan Azhar naik tigernya. Kenapa nggak sama-sama naik mobil? Yaa... biar bisa lihat-lihat pemandangan, lagian menghindari mabok, si Azhar juga pulang kampung. Lumayan jauh juga sampai di Klaten, lalu acara demi acara berlalu, ya... seperti biasa adat Jawa halus, bahasanya pun sulit saya pahami -- padahal orang Jawa tulen.

Urusan kondangan pernikahannya teman, tahun ini ada banyak yang masuk daftar, pertama si Himawan yang diadain di JEC dan dihadiri para pejabat, ada pak Amien Rais, ada menteri... wah. Orang penting banget. Lalu nikahnya si Dian Gondrong -- sudah jadi bos malah baru nikah -- di Malang. Lalu si Nur di Gresik, yang ini bisanya cuman titip salam doang, si Titik Klaten, disusul bulan Agustus nanti tampaknya juga ada, si Said di Balikpapan, tapi kayaknya enggak bisa datang. Belum termasuk undangan tetangga kampung yang nikah... weleh.




Kembali ke cerita awal, sehabis pulangan kondangan dari Klaten, bareng Azhar saya sempatkan mampir di Bogem -- setelah Prambanan -- pinggir jalan minum es dawet Banjarnegara. Rasanya seger, manis, enak. Lupa sudah berapa kali saya minum es dawet di situ, yang jelas pertama kali saya minum bareng istri dan anak-anak sehabis dari Prambanan tahun lalu. Waktu itu BBM belum naik, sekarang BBM sudah naik pun harga segelas es dawet Banjarnegera masih stabil, Rp 1.000. Padahal, segelas es teh dengan volume yang sama lebih mahal 2x lipatnya.

Rabu, Juni 11, 2008

Gudeg Kayu



Rasanya, tak banyak mahasiswa yang tahu dimana makan gudeg yang enak. Pernah tanya teman yang sudah tahunan tinggal di Jogja, dimana makan gudeg yang enak? Jawabnya di daerah Malioboro. Hmm... setelah dicoba, walah... kerongkongan ini susah menelan, glek. Pernah juga mencoba di utara kantor pusat UGM, 10 meter dari lampu merah perempatan kaliurang - selokan mataram, seperti posting saya terdahulu di sini.


Tapi, dari semua itu rasanya masih beda banget dengan Gudeg Kayu di Jalan Solo, persis depan hotel Saphir - Saphir Square. Gudeg Kayu? Sepintas saya kira itu hanya namanya saja, malah ada yang mengira lauknya campur kayu hehehe... Saya sendiri bingung kenapa disebut gudeg kayu, tapi setelah datang ke sana, lalu memesan dan duduk, baru tahu, ternyata warung gudeg ini satu atap dengan penjual kayu untuk bangunan. Ow... begitu ya, tapi saya masih agak ragu, mau tanya sendiri kok kayak wartawan saja. Sambil makan, lauk telor bacem dan... lauk mirip serabut kayu, lho kok? Setelah dimakan, hmm... nyam-nyam, empuk enak, serabut kayu itu ternyata ayam goreng, yang diambil dagingnya. Tambah es teh manis, 2 biji gorengan, jumlah seluruhnya hanya Rp 8.000 saja, bandingkan dengan harga seporsi nasi goreng saja tanpa minum di Balikpapan. :P

SGPC is SeGo PeCel

Ketika tahu ada tulisan besar "SGPC" di daerah Klebengan depan Universitas Negeri Jogja (dulu IKIP Jogja), saya bingung, SGPC itu apaan sih? Setelah tahu, walah... ternyata SeGo PeCel tho... ndeso ya... ;-)


Omong-omong SGPC, di Jogja banyak banget, harganya variasi sesuai ukuran kantong, mulai yang kantong cekak sampai kantong tebal ada. Untuk yang kantong cekak, saya coba di area Candi Prambanan, weih... jauh amat! Wehehe... ini sekalian jalan ke sana antar ponakan yang datang dari Bontang, setelah capek mutar-mutar candi baru makan minum di pinggir jalan. Seporsi (sakpincuk) SGPC standard plus dua potong tahu (setengah jadi) bacem hanya Rp 5.000 saja, lebih murah dibanding bensin premium seliter. Hmm... nyam-nyam, lumayan buat ganjel perut.

Berikutnya Gudeg Kayu.

Rabu, Mei 28, 2008

Pengalaman Transaksi Online Ticketing


Membaca pengalaman Pak Adriyanto membeli tiket pesawat Mandala Air di mandalaair.com, saya jadi teringat pengalaman yang sama yang sudah saya lakukan hingga kini. Tak beda jauh dengan pengalaman beliau, pembelian tiket secara online saya lakukan sudah berjalan beberapa waktu yang lalu, juga termasuk rekan-rekan lainnya yang 'senasib' dengan saya.

Saya sendiri menjadi member untuk beberapa maskapai penerbangan yang menyediakan pembelian tiket secara online. Untuk menjadi member pun cukup mudah dan gratis. Dari beberapa maskapai tersebut, yang sering saya gunakan adalah Mandala Air dan Lion Air, sedang Batavia Air agak sulit, karena setahu saya hanya menyediakan pembayaran via kartu kredit Visa atau Mastercard. Pernah ketika mencoba memasukkan data Visa ATM Mandiri ternyata tidak bisa diproses oleh sistem, ya sudah akhirnya batal dan cari yang lebih mudah. Bagaimana dengan Garuda? Belum pernah dicoba, sejak penghapusan rute penerbangan Balikpapan-Jogjakarta, saya tidak tahu lagi kabarnya.

Sekedar menambahkan informasi yang sudah ada, dengan adanya pembelian tiket online ini kadang membuat saya menjadi agak selenge'an. Betapa tidak, tiket pesawat yang saya gunakan cukup berupa print-out ATM saja, kertas faksimili kecil, lusuh, dilipat dan disimpan di dompet, kelihatan remeh temeh dan tidak berguna. Bisa juga berupa print-out pembayaran dari Internet Banking atau cetak kode pemesanan pada ½ halaman folio atau lebih kecil lagi untuk diselipkan ke dompet bercampur dengan karcis-karcis lainnya. Kok begitu? Bagaimana bila melewati petugas penjaga bandara ketika hendak masuk pemeriksaan bagasi atau ketika check-in? Syukurlah, selama ini saya lancar-lancar saja. Tetapi ini bukan saran yang baik bila sewaktu-waktu ada masalah nantinya, jadi jangan hanya bergantung penuh pada print-out pembayaran dari bank saja. Sangat disarankan juga mencetak tiket yang dikeluarkan oleh sistem pembelian tiket maskapai penerbangan tersebut. Sehingga bila ada masalah ketika melewati pemeriksaan diharapkan akan lebih mudah dan membantu.

Selain itu, kemudahan yang saya dapatkan adalah pengiriman berita melalui email, kemudian bisa membandingkan harga tiket antar maskapai penerbangan dan memilih harga tiket yang paling murah, juga memilih waktu keberangkatan (seperti tiket lebaran tahun ini oleh Air Asia) yang jauh hari sudah disediakan dan mulai diserbu masyarakat, dan beberapa kemudahan lainnya.

Sayang sekali, hampir semua sistem pembelian tiket online yang saya gunakan saat ini tidak menyediakan aplikasi pembatalan atau perubahan jadwal keberangkatan untuk umum, hanya disediakan untuk kantor cabang atau agen resmi saja. Sehingga bila melakukan pembatalan atau perubahan jadwal keberangkatan harus melalui kantor cabang terdekat, plus biaya administrasi dan pembatalan yang disesuaikan dengan perubahan harga. Saya tidak tahu bila seandainya ada perubahan jadwal, taruhlah mundur beberapa hari dari jadwal sebelumnya, apakah dengan demikian harga bisa jadi lebih murah? Sepertinya tidak ada penurunan harga, coba lihat kembali fare-rules.

Saya berpendapat bahwa untuk membuat aplikasi pembatalan atau perubahan jadwal tersebut sebenarnya mudah saja dibuat, tetapi ini mungkin berkaitan dengan faktor lainnya yang harus dipertimbangkan, seperti faktor sosial dan keamanan. Bila awareness masyarakat tentang fungsi Internet dan e-commerce terus tumbuh dan membaik, tak pelak agen-agen penjualan tiket suatu saat akan banyak yang tutup. Seperti halnya banyak wartel (warung telekomunikasi) yang saya temui akhir-akhir ini sudah banyak yang tidak beroperasi, mengingat biaya telekomunikasi saat ini juga sudah semakin murah dan mudah.

Lalu, bagaimana dengan harga melalui pembelian tiket online ini? Setahu saya lebih murah bila dibandingkan dengan harga dari agen, selisih beberapa puluh ribu saja, jadi kalau Anda berminat membuka jasa penjualan tiket penerbangan saat ini masih terbuka kesempatan lebar... ;-)

Senin, April 07, 2008

Antara Andong, Iklan dan CRM



Andong nyentrik dan iklan telekomunikasi, kira-kira penumpangnya dapat benefit juga ya?

PS: Saya tidak tahu, bagaimana cara perusahaan telekomunikasi sekarang ini mempertahankan dan mengembangkan pelanggan loyalnya? Apakah di perusahaan tersebut menerapkan Customer Relationship Management (CRM)?

Secara umum dapat dikatakan bahwa CRM akan dibutuhkan bila usaha untuk mendapatkan pelanggan baru tidak mudah dan memerlukan dana yang jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya untuk mempertahankan pelanggan lama. Malah ada yang mengatakan, bahwa dari hasil penelitian mempertahankan pelanggan yang sudah ada jauh lebih mudah dibandingkan dengan mendapatkan pelanggan baru.

Hmm... masak iya sich? Mungkin ini yang menyebabkan hak-hak pelanggan loyal terabaikan, seperti pelanggan pasca-bayar yang tetap bayar mahal. Kalau begitu bagaimana kalau penggunaan CRM perlu ditinjau ulang? Atau mungkin memang salah menerapkan? Atau mungkin lebih penting untuk ganti-ganti nomor baru?

Minggu, Maret 30, 2008

Google Maps dan Peta Kuliner

Beberapa waktu yang lalu, saya mendownload perangkat lunak Google Maps for Mobile versi 2.0.3(#2035) platform Nokia-N70. Saat pertama mencoba gagal, ya sudah lain kali saja. Kalau tidak salah, saat itu juga saya membaca blogger Yogyakarta yang menceritakan pengalamannya ada Culinary Maps Jogja yang dijual pedagang asongan, hmm... ini dia. Secara tidak sengaja, sore sepulang kuliah saya menjumpai ada pedagang ini di perempatan Mataram Kaliurang. Setelah tawar menawar akhirnya saya dapatkan seharga 10 lembar uang seribuan.

Kenapa beli peta? Apa belum hapal jalanan Jogja?

Ya. Saya belum begitu familiar jalan-jalan di Jogja, sebenarnya tahu saja, hanya beberapa lokasi yang menyebutkan tempat tanpa alamat saja yang kadang bikin sebel. Selain itu, kadang saya butuh relaks, biasanya balas dendam soal makananan, dengan mencari tempat-tempat warung makan yang nyaman sekaligus enak. Maklum, hari-hari makan tidak teratur, apa adanya, kadang disebut 4 sehat saja sudah syukur, apalagi 5 sempurna. Ini yang kadang istri saya tak bosan-bosannya mengingatkan agar kondisi badan dan kesehatan dijaga. Sempat bulan lalu saya dibawakan tepung bubuk temulawak dan jahe bikinannya sendiri, agar rutin dan mudah saya minum.

Dengan adanya peta kuliner, saya berharap dapat menjumpai sekaligus menjajal segala macam makanan sesuai peta tersebut. Tentu tidak semuanya dan sekaligus, setidaknya sesuai lingkar perut dan lidah serta ukuran kantong mahasiswa saja. ;-)

Lalu, bagaimana dengan Google Maps?

Google Maps sudah terinstalasi dan sudah bisa diakses, hanya saja membutuhkan resource dan biaya yang tidak sedikit. Setidaknya area tercover pada jaringan 3G atau Internet broadband, serta mobile device yang mendukung. Sebagai misal, saya berada di posisi perempatan Mataram Kaliurang, sedang ingin menuju Keraton Jogja. Dengan Google Maps, saya akan melihat jalur-jalur jalan yang menuju ke arah Keraton. Dari handset diperoleh besaran data terkirim 50 kilo byte (KB) dan data diterima 800 KB. Dengan demikian, bila dikalikan biaya rata-rata akses Internet dengan volume based taruhlah Rp 1,-/KB, maka akan dikenakan biaya Rp 850,- saja. Setelah dari Keraton, mau melanjutkan perjalanan lagi ke Prambanan atau mencari tempat makan misalnya, maka tinggal dihitung berapa biaya yang dibutuhkan. Kalau hanya untuk itu, saya kira peta kuliner sudah cukup membantu dan hemat.

Google Maps yang diakses secara mobile melalui handset akan lebih membantu, apabila saya adalah seorang ibnu-sabil yang sering melakukan perjalanan jauh dan berpindah-pindah kota, propinsi, bahkan antar negara. Dalam waktu tidak terlalu lama, saya kira Google Maps akan melengkapinya dengan disertai beberapa penunjuk jalan, tentu beberapa area harus didukung infrastruktur jaringan Internet yang memadai.

Bagaimana dengan yang di lokasi pengeboran minyak di lepas pantai atau rig, lalu penambangan di hutan, pekerjaan proyek infrastruktur hingga nelayan di laut misalnya, apakah bisa dengan Google Maps? Lebih dari itu, GPS berbasis satelit biasanya yang dipakai dan lebih memadai.

Jumat, Maret 21, 2008

Berkunjung ke Teman Lama

Pagi tadi berangkat dari Yogyakarta naik travel, alhamdulillah, akhirnya waktu isya' saya tiba di Malang, langsung menuju kediaman teman lama. Kunjungan ke rumahnya ini adalah atas tawarannya yang
disampaikan ketika chatting. Sempat saya maju mundur, apakah saya berani atau tidak, bahkan dalam perjalanan terlintas untuk balik kucing saja, putar balik ke tempat dahulu tinggal di Malang. Tetapi akhirnya saya harus menepati kesanggupan saya sebelumnya.

Tiba di rumah, saya langsung dijemputnya bersama suaminya. Saya tidak menyangka akan sambutannya yang begitu hangat, gaya berbicaranya yang medok logat Malang masih kental, membuat saya yang kaku ini jadi mengeluarkan gaya Suroboyoan saya, ya begitulah, jarak pertemuan yang lama semenjak masing-masing lulus sekitar 10 tahun lalu, cair begitu saja seperti sehari berpisah.

Segelas kopi panas dan segelas teh hangat plus camilan menjadi hidangan awal perjamuan. Karena pagi sebelum berangkat saya telah minum kopi, jadi saya pilih minum teh hangat saja. Perbicangan demi perbicangan membahas acara kopi darat serta kunjungan ke pernikahan salah seorang rekan, membuat perut saya main keroncong sendiri. Untunglah, tuan rumah tangggap lalu mengajak makan bareng di luar. Dari sini, materi perbincangan semakin melebar, dari perihal mobil antik yang mirip punya Mr Bean hingga masuk ke ranah pemrograman, walah!

Tentu saja, bukan ia kalau tidak demikian, dulu waktu sekelas dengannya, ia terkenal dengan kecerdasannya berlari kencang, sudah saya akui luar biasa. "Bur, apa bedanya bahasa C dengan C++? Object oriented itu apa sih? Lawannya object oriented itu apa? Bedanya kalo Borland C, Visual C, gcc, itu apa? Unix itu turunan Linux apa Linux turunan Unix? Contohnya apa kalo itu object oriented, trus apa itu procedural? bla...bla...bla..." Gila dink! Itulah sebagian pertanyaannya yang dicecarkan pada saya, wajar pertanyaannya demikian karena latar belakangnya di Teknik Sipil. Jelas, saya kelabakan menjawab dengan mudah, jawaban bijak tentu bukan dengan menjawab apa
adanya, biasanya akan mudah dengan pemisalan atau analogi. Sedangkan memilih analogi yang tepat untuk menjelaskan saja butuh waktu, eh... sudah menyusul cecaran lainnya. Singkat jawaban, coba cari di Google dengan kata kunci tersebut hehehe...

Selesai makan, kita kembali ke rumah dan saya ditinggal sendirian untuk selanjutnya istirahat malam. Badan capek dan mata ngantuk, rasanya nyenyak bila dibuat tidur. Entahlah, melirik segelas kopi yang sedari tadi belum kuminum, rasanya pingin menyeruput saja, mubadzir dianggurin, seruput sedikit ah... akhirnya, hingga menjelang pagi mata ini masih kedip-kedip, nggak bisa tidur ding! Aaarrgh...!

Rabu, Februari 06, 2008

Gudeg, Ah... Sudah Biasa


Bila mendengar kata “Yogya” atau ketika berkunjung ke sana, kadang ingatan kita akan tertuju pada beberapa frase atau kata yang kerap menjadi key word daerah istimewa ini, salah satunya adalah kata “Gudeg”. Tapi tahukah Anda, bahwa belum tentu bila sudah berada di Yogya kemudian pasti merasakan gudeg? Halah!

Cukup lama saya mendapatkan petunjuk dimana kira-kira penjual nasi gudeg yang sesuai lidah Jawa saya ini, sekitar 2 bulan, walah! Ternyata tidak jauh-jauh dari lokasi base camp saya, namanya gudeg mbarek, lokasinya di barek, Kaliurang. Di antaranya, saya prefer di daerah Selokan Mataram, sebelah utara kantor pusat UGM. Lauknya macem-macem default gudeg, standard nasional begitu, tapi bisa dikonfigurasi sendiri sesuai selera, jadi harganya juga macem-macem setidaknya kompatibel dengan kantong mahasiswa. Kalaupun rasa, mantap banget gak kalah enak, cuman nasinya sak uprit, tapi jangan khawatir, bisa nambah kok. Mau?

* Iseng, kira-kira key word apa yang paling populer mengikuti kata Yogyakarta? *

Minggu, Februari 03, 2008

Di Borobudur, Kaki Limanya Luar Biasa


Awal Desember tahun lalu, saya, istri dan anak-anak sempat jalan-jalan ke Candi Borobudur, Magelang. Karena kunjungan ini pertama kalinya buat anak-anak, maka saya sebelumnya jauh hari harus mengenal medan lebih dulu, survey gitu, supaya minimal nggak tersesat di jalan keluar, yang memang sepertinya sengaja dibuat “sesat”. Lho kok? Pasalnya, saat survey, saya benar-benar tersesat setelah mengikuti petunjuk jalan menuju pintu keluar yang diarahkan melewati lapak-lapak kaki lima, yang sengaja dibuat berkelok-kelok panjang sekali dan harus melewati lapak-lapak yang lainnya, beuh... kalau memang nggak niat beli suvenir di lapak, dijamin ngomel-ngomel capek dech. Jadi, paling tidak kudu nyiapin tenaga buat supaya kedua kaki ini kuat naik turun candi yang luas itu, juga buat lewat lapak-lapak.

Nah, karena sudah tahu jalan sebelumnya, maka saya memotong jalan tidak mengikuti petunjuk jalan yang terpasang di sana, padahal dilarang dilalui untuk umum, masa bodoh ah, kasian anak-anak capek dech. Dari belakang saya lihat turis asing berjalan cepat-cepat mengikuti arah jalan saya. Awalnya saya cuek saja, tetapi setelah turis-turis ini melewati saya, saya baru sadar, turis-turis ini jalan cepat karena dikejar pedagang suvenir, coba lihat, si turis cewek ketawa-tawa saja sampai mau minta tolong, wakakak...

Memang, pedagang kaki lima seperti ini jumlahnya luar biasa di kawasan wisata Indonesia, dan sudah menjadi pemandangan umum, kabarnya, di Bali malah lebih luar biasa aksinya, hmmm...

Omong-omong, coba tebak, di foto itu, berapa jumlah turisnya?

Jumat, Januari 25, 2008

Gadget Kraton Yogyakarta Tempo Doele, Mengapa Dijual?

Dua tahun yang lalu, saya berujar pada teman saya, “Rasanya tak lengkap ke Yogyakarta tapi nda mampir ke Mirota Batik”. Ya, ini adalah toko yang berada di depan Pasar Beringharjo, Malioboro. Kesan saya sebagai pendatang, sepintas memang tidak ada bedanya dengan toko-toko lainnya. tetapi saya merasakan ada perbedaan bila singgah di sana, bukan, bukan karena bau dupanya, juga bukan alunan piano yang hanya boleh dimainkan di hari-hari tertentu, tetapi karena pingin beli ramuan tradisional dan ngunduh peta gratisannya hehehe...


Di toko itu, saya juga akhirnya mengenal barang-barang antik yang konon milik anggota keluarga Kraton Yogyakarta, gadget telepon tempo doeloe ini misalnya. Ada banyak perangkat yang dipajang, seperti gramofon, radio transistor, timbangan surat, jam antik, mesin penghitung uang, sampai tombak pun ada. Beberapa diantaranya tertulis masih bisa digunakan. Sayang, barang-barang antik ini dijual untuk umum dengan harga yang sangat terjangkau, beberapa terlihat sudah tidak berada di tempatnya. Menurut saya, justru barang-barang antik ini memiliki daya tarik sendiri agar pengunjung tetap ramai. Mungkin sebaiknya Mirota Batik menyediakan ruang pamer khusus untuk barang peninggalan kraton jaman dulu. Yang lain boleh terjual, tetapi tidak untuk barang antik. Dengan begitu, ciri khas yang dimiliki toko ini menjadi tombak keberadaannya sendiri.

Hmm... akhirnya saya jadi tahu kan, jaman dulu saja para darah biru ini sudah biasa menggunakan gadget yang canggih ya, apalagi sekarang... kira-kira gadget macam apa yang dipunyai?