Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan

Jumat, November 30, 2007

Nggak Puas dengan Hasil Foto, Gunakan saja Gimp!


Beberapa hari yang lalu, saya menyanggupi jalan-jalan bersama anak-anak dan istri yang lebaran lalu tidak sempat ke kampung neneknya di Surabaya, setelah itu dilanjutkan ke Yogyakarta menemani saya, ya ... buat pengalaman untuk anak-anak menjadi si bolang he he he ...

Biasanya, acara foto-foto menjadi bagian yang membuat acara jadi lebih menarik selain sebagai kenang-kenangan. Nah, hasilnya setelah dilihat-lihat, kok ada saja foto-foto yang dirasa masih kurang pas, seperti pada dua kali memotret di Candi Prambanan ini. Gambar pertama, saya memegang payung sewaan, pakai topi sehingga menutupi wajah, lalu aksi anak-anak tidak fokus pada kamera, hmm ... kurang sip dech.

Akhirnya memotret lagi, eh ... begitu siap, payung yang awalnya saya sembunyikan ternyata nggelundung diterpa angin, akibatnya anak-anak melihat ulah payung nggelundung itu, duh ... mau memotret lagi? Wah, sudah nggak sempat, karena banyak orang lewat.
Satu-satunya cara adalah memaksa 'saya' mengalah untuk berpindah posisi, dan membuang payung dengan bantuan tools gratis dari Gimp, dengan sedikit menaikkan saturasinya dan menurunkan pencahayaannya agar tidak terlalu terang. Walaupun anak-anak terlihat sibuk sendiri, tapi hasilnya cukup puaslah ... ;-)

Sabtu, Mei 19, 2007

Antara Lumpur Lapindo, Jalan Tikus dan Pajak Jalanan

Foto diambil saat kembali Surabaya melewati jalan MLG - SBY Sebenarnya tidak ada hubungannya antara lumpur lapindo dengan perjalanan kami menuju Malang dan mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan Malang Cyber City. Hanya saja, saya dibuat penasaran dengan kehebatan lumpur lapindo yang menyisakan penderitaan masyarakat sekitarnya. Ketika pesawat mendarat di Surabaya dan saya lihat jam tangan pukul 20:00 Wita, saya perkirakan bila naik bis, maka tiba di Malang bisa tengah malam. Otomatis kami akan kesulitan mendapatkan angkutan dan mencari penginapan. Untuk itu saya berinisiatif naik travel atau taksi agar tidak lama di perjalanan, tidak kelelahan dan juga fresh kondisi tubuh esok harinya dalam rangka suatu acara.

Taksi yang kami naiki dalam kondisi baik, nyaman, dan sopir tampak profesional, sehingga saya perkirakan saya bisa istirahat di dalam perjalanan. Tapi ternyata tidak bisa istirahat, karena begitu sampai di wilayah Sidoarjo di jalan yang tergenang air lumpur, taksi diharuskan memutar melewati jalan tikus. Apa? Jalan tikus? Saya tahunya istilah jalan tikus malah dari pak Abdul Latief Abadi saat bertemu di UPPTI Unibraw Malang. Jalan tikus, dari namanya ya kondisinya banyak kelokan-kelokan dan sempit, nah, di tiap-tiap kelokan bisa dipastikan ada "pajak" atau kata orang "pungli" yang akan menghadang. Pajaknya siapa? Ya yang memungut pajak, kalau orang Surabaya menyebutnya polisi cepek. Jadi, bila para sopir dari Surabaya menuju Malang atau akan melewati daerah ini tanpa ada masalah, maka dengan menyediakan uang pecahan minimal 500an rupiah dalam jumlah 100 buah untuk polisi cepek yang berada di hampir sepanjang jalan tikungan. Lho kok? Sayang sekali saya tidak sempat menghitung berapa kali sopir taksi membagikan uang receh, yang jelas, ia kehabisan banyak sekali uang receh, saya saja sempat menyumbang 500 rupiah satu-satunya yang saya punya saat itu, sedang rekan saya malah menyumbang 5000 rupiah habis juga.

Ada pertanyaan "Kenapa tidak usah dikasih saja?" atau katakan saja "Tak ada uang receh!" atau sesekali ingin memberi pelajaran "Nanti gue laporkan polisi!", kan beres? Setelah saya lihat memang tidak semudah itu, ada banyak kemungkinan bila melakukan seperti demikian. Selain ada banyak efek psikososial yang ditinggalkan musibah lumpur lapindo, mereka para polisi cepek ini juga dalam jumlah banyak yang berkuasa atas kelokan atau tikungan tertentu, bisa dikatakan mafianya lingkungan sekitar. Bila mereka tidak diberi, maka bisa dipastikan perjalanan akan terganggu, dan yang lebih membuat kesal adalah bila menolak permintaan mereka walaupun penolakan itu benar, maka penolakan itu biasanya tidak sepadan dengan akibatnya.

Bagaimana Anda bersikap bila menghadapi hal demikian seolah-olah mengalaminya sendiri?

Jumat, Mei 04, 2007

Tumben, ada Pelampung Keselamatan di Kapal Penyeberangan



Minggu lalu, saya melakukan perjalanan dari Balikpapan ke Banjarmasin melalui darat dengan menggunakan bis antar propinsi. Untuk dapat sampai di Banjarmasin sepertinya harus selalu melewati berbagai rintangan. Rintangan pertama yang harus dilalui adalah menyeberangi teluk Balikpapan menuju kabupaten Penajam Pasir Utara, yang cukup jauh apabila harus memutar melewati darat. Bila dipaksakan memutar lewat jalur darat, salah-salah jalan daratnya tidak tersedia, akibatnya bisa jadi malah tambah jauh saja.

Lewat waktu maghrib, saya sudah berada di kapal dan sambil menunggu giliran sholat maghrib, saya duduk dan ngobrol bareng teman-teman yang ikut bersama dalam satu tujuan. Tiba-tiba perhatian tertuju di depan deretan tempat duduk, betapa tidak, seorang pria beraksi layaknya pramugari yang memeragakan cara-cara mengenakan pelampung penyelamat. Bedanya, bila yang di pesawat diperagakan oleh beberapa wanita cantik dan seksi, sedang di kapal penyeberangan ini yang memeragakan hanya seorang pria paruh baya, nggak seksi lagi. Pria ini begitu lancar menjelaskan cara pelampung penyelamat itu bekerja, cara menyalakan lampu, cara meniup peluit, hingga cara kondisi badan dan tangan bila ikut tenggelam bersama pusaran kapal. Tak ketinggalan pula, untuk yang belum pernah mencoba pelampung penyelamat, ditawarkan untuk dicoba saat itu juga tanpa perlu malu-malu. Karena saya termasuk wong ndeso, saya pun mencobanya. Setelah merasakan dan melihat-lihat, baru tahu bedanya. Bedanya dengan yang di pesawat, pelampung ini tanpa perlu ditiup, karena sudah berisi busa ringan. Harga sepertinya lebih murah dan pemakaiannya pun lebih simpel.

Setelah clingak-clinguk kebelakang, ternyata yang ndeso cuma saya ... hehehe ... dari semua penumpang yang ada, hanya saya yang mencobanya. Tapi nggak apa, disinilah kelebihannya dibanding bila pramugari yang memeragakan, karena sepanjang sepengetahuan saya, tak pernah terlihat seorang penumpang pun yang mencobanya. Atau bila penumpang memerhatikan, paling yang diperhatikan adalah kemolekan tubuh pramugari itu, atau kecantikannya, atau bibirnya, atau rambutnya ... banyak dech yang diperhatikan.

Pada peragaan terakhir, pria itu menunjukkan letak pelampung penyelamat itu disimpan dalam satu kotak lemari, dengan jumlah 100 buah untuk dewasa, dan 15 buah untuk anak-anak. Jumlah tersebut sepertinya kurang bila dibandingkan dengan jumlah penumpang yang ada saat itu. Menurut saya, idealnya tiap-tiap kapal penyeberangan menyediakan 400 - 500 buah pelampung penyelamat layak pakai tiap kali beroperasi..

Kembali ke pria langka itu, anehnya, setelah selesai memeragakan pelampung penyelamat, pria itu melanjutkannya dengan pisau kupas sambil memeragakan cara mengupas singkong, timun, dan cara membuat keripik singkong, lho kok? Ternyata ... menyelam sambil minum air ya, kreatif, ok dech ... saya beli pisau kupasnya 1 biji, seep! Sayang, orang kreatif seperti ini memang sangat langka. Saya nggak tahu, apakah di kapal-kapal penyeberangan yang lain di seluruh Indonesia juga diperagakan cara-cara menyelamatkan diri, mengantisipasi bila terjadi kecelakaan kapal tenggelam? Bila di pesawat terbang dilakukan, kenapa tidak di kapal laut?