Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Maret 24, 2012

Sepeda, Moda Transportasi Alternatif dan Modal Narsis di Balikpapan

Lebih dari 5.000 pencinta olahraga sepeda memenuhi
Lapangan Merdeka, Balikpapan, Minggu (29/1/2012).
Dok. Kaltimpost.co.id

Dalam sepekan ini saya mencoba menghidupkan kembali dan membiasakan diri bersepeda menuju tempat kerja atau kampus. Mulanya, gowes ini untuk olah raga yang bila ada kesempatan saya lakukan di Minggu pagi atau Sabtu sore, kadang bersama istri, sesekali bersama anak-anak, baik jarak pendek atau jauh untuk ukuran kami.

Jarak terjauh kami lebih kurang 20 km, dengan rute mulai dari Baru Tengah, Karang Anyar, Pelabuhan Semayang, Kantor Walikota, Markoni, Gunung Malang, Karang Jati, Rapak, Karang Anyar, dan kembali ke Baru Tengah. Sedangkan jarak pendek hanya seputar Jembatan Sepaku dan Pasar Pandansari.

Secara umum kontur dan kondisi jalan cukup bagus untuk dilalui dengan bersepeda, dan jalan masih dalam area bisnis di kota Balikpapan. Saat ini yang diperlukan adalah jalur hijau dan rambu-rambu khusus pesepeda.

*******

Dalam 3 tahun terakhir saya perhatikan banyak event fun bike atau cross country yang diadakan di Balikpapan. Muncul pula kelompok atau komunitas sepeda seperti onthel mania maupun komunitas sepeda dari perusahaan maupun jejaring sosial. Beberapa perusahaan besar yang ada di Balikpapan pun sejak 3 tahun lalu bekerja sama dengan pemerintah kota menyediakan jalur hijau khusus untuk pesepeda. Ini pertanda baik regulator dan fasilitator untuk para pengguna sepeda.

Sayang sekali, kegiatan bersepeda hanya ramai di akhir pekan saja, bahkan tidak sedikit digunakan untuk heboh ajang pamer sepeda maupun kostum pakaian. Artinya, selama ini sepeda masih digunakan untuk sekadar bersenang-senang saja di akhir pekan. Sepeda belum menjadi alat transportasi alternatif menggantikan mesin-mesin berasap, yang memenuhi jalanan dan banyak menguras bahan bakar minyak.

Meski demikian, saya optimis bahwa suatu saat masyarakat, tidak hanya Balikpapan, secara perlahan akan merubah moda transportasinya beralih ke sepeda. Hal ini didukung adanya fakta -- dari event fun bike tersebut -- yang menunjukkan bahwa sebagian masyarakat kota telah memiliki sepeda dan mulai menggunakan sepeda untuk beberapa kegiatan dasar seperti olah raga, bekerja, belanja ke pasar, atau antar jemput anak sekolah.

Fakta berikutnya adalah jumlah pengendara motor yang cukup besar dan kemacetan yang terjadi di beberapa ruas jalan pada waktu pergi dan pulang kerja. Apabila kemacetan terus terjadi setiap hari, secara psikologis akan mendorong masyarakat mencari transportasi alternatif. Meski jumlahnya tidak banyak, tetapi setidaknya ikut memberikan pengaruh ekonomi.

Mari hitung-hitungan, diasumsikan jika setiap satu orang mengkonsumsi bensin 1 liter sehari, dan dalam satu kota ada 1000 orang beralih moda transportasi ke sepeda, maka berarti ada 1000 liter per hari yang bisa dihemat kota Balikpapan. Bisa dibayangkan berapa penghematan yang bisa diperoleh dalam sebulan, setahun, 10 tahun? Ini baru salah satu cara mengalihkan konsumsi BBM (bensin) dan kemacetan dengan bersepeda, dan mungkin masih ada banyak cara lain.

Untuk itu dibutuhkan sosialisasi (sosio kultural) guna menumbuhkan kesadaran masyarakat dan budaya bersepeda. Diawali dari gerakan sepeda di lingkungan pemerintah kota, SKPD, sekolah hingga perusahaan-perusahaan dalam gerakan bike to work, bike to office, bike to school atau apalah namanya. Gerakan ini diperlukan paling tidak agar masyarakat tidak minder menggunakan sepeda. Kabarnya gerakan ini sudah ada dan diadakan setiap hari Jumat, sebagai Hari Bersepeda bagi masyarakat Kota Minyak

Bila sudah ada gerakan tersebut, secara perlahan pemerintah kota diharapkan menyediakan fasilitas atau sarana, dan memberlakukan waktu-waktu khusus bebas kendaraan bermotor dan truk pada jalan raya tertentu, atau penambahan fasilitas jalur hijau dan rambu-rambu khusus untuk pesepeda.

Campur tangan pemerintah ini diperlukan untuk menfasilitasi dan memberikan kepastian hukum pada masyarakat, seperti langkah pemerintah pusat pada konsumsi minyak tanah beralih ke gas alam, dan terbukti mampu meredam ketergantungan masyarakat akan minyak tanah. Begitu juga terhadap ketergantungan bensin, pemerintah kota perlu campur tangan mengatur dan memfasilitasi penduduk kotanya dengan baik. Ini terbukti dengan adanya peraturan sementara pembatasan BBM seperti dilansir di media massa ini.

Jika sudah ada kepastian hukum dan sarana prasarana, masyarakat akan merasa aman dan nyaman bersepeda, yang implikasinya ikut menyumbang penghematan BBM, khususnya bensin.

Bagaimana pendapat Anda?

Minggu, Oktober 23, 2011

Membaca Buku Saja Tidak Cukup!

Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang cepat, dan teori-teori yang telah ditemukan sebelumnya kini segera usang dan ditinggalkan. Membaca buku saja di perpustakaan tidak cukup saat ini, bahkan Indiana Jones pernah bilang pada mahasiswanya sejak perang dunia pertama long time ago. :-)

Meski demikian, buku menjadi sumber awal dan dasar informasi, secara fisik tak lekas usang -- kecuali terbakar atau disobek-sobek atau dibuang ke laut. Bisa dikatakan buku menjadi inspirasi dan pemicu untuk tindakan berikutnya. Buku menjadi sangat berjasa bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang membentuk peradaban baru manusia seperti saat ini. Menjadikannya koleksi dan membacanya saja tidaklah cukup saat ini, ia butuh referensi lain yang sahih, agar kaya implementasi, tindakan, aksi, atau amal bagi pembacanya.

Selamat berakhir pekan! :-)

Jumat, Oktober 21, 2011

Persamaan Programmer dengan Penulis

Saya sepakat dengan quote yang dikutip Matt Mullenweg dari Brent Simmons saat 'ngobrol' dengan John Gruber tentang masa depan NetNewsWire. Menurut Simmons, penulis yang baik itu membaca banyak buku (sumber). Penulis yang baik melihat bagaimana penulis lain memecahkan masalah. Penulis yang baik juga memperhatikan apa yang terjadi saat ini sebanyak perhatiannya pada hal-hal sederhana lainnya. Penulis yang baik adalah pembaca lebih dulu, namun bermata elang (tajam, awas, dan jeli) serta pembaca yang berhati-hati.

Begitu juga developer -- atau programmer -- yang baik adalah sama: melihat aplikasi lain, "membaca" aplikasi tersebut, mencari persamaan dengan masalah yang mereka miliki, lalu bagaimana mereka menyelesaikan masalah tersebut. Developer melihat tren, melihat solusi baru, dan memperhatikan kapan sesuatu itu bekerja dan kapan tidak bekerja.

Berkonsentrasilah pada menulis itu sendiri, karena menjadi penulis yang baik akan membantu menjadi pembaca yang lebih baik, dan itu adalah hasil nyata.
Begitu kurang lebih quote selanjutnya.

Nice posting Matt! :-)

Selasa, Juni 14, 2011

Mengukur Kejujuran, untuk Apa?

Pernah saya membaca artikel tentang “Mengukur Kejujuran” tetapi setelah membacanya saya malah bertanya-tanya bagaimana sebenarnya cara mengukur kejujuran itu, karena di artikel tersebut tidak dijelaskan cara mengukur kejujuran yang dimaksud. Saya berpendapat, mengukur kejujuran terkadang sangat subyektif, artinya penilai akan dipengaruhi oleh siapa yang dinilai, bukan apa yang dinilai dan bagaimana penilaiannya. Terkadang juga penilai dipengaruhi oleh perasaannya, seperti like or dislike?

Seorang cendekiawan barat pernah mengungkapkan statement berikut:
When you can measure what you are speaking about and express it in numbers, you know something about it ~ Kelvin

Dalam ranah penelitian sering diungkapkan terdapat dikotomi penggunaan metode penelitian, apakah penelitian tersebut menggunakan metode penelitian kualitatif ataukah penelitian kuantitatif. Di dalam ilmu sosial, penelitian kualitatif bertujuan untuk mengumpulkan pemahaman mendalam tentang perilaku manusia dan alasan yang mengatur perilaku tersebut. Di dalam ilmu komputer, penelitian kualitatif biasanya berupa desain, arsitektur, pewarnaan, ergonomi, dsb. Metode kualitatif menyelidiki mengapa dan bagaimana pengambilan keputusan, bukan hanya apa, di mana, dan kapan.

Sedangkan penelitian kuantitatif bertujuan mengembangkan dan menerapkan model matematis, teori dan atau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena. Proses pengukuran berpusat pada penelitian kuantitatif karena menyediakan hubungan fundamental antara pengamatan empiris dan ekspresi matematis dari hubungan kuantitatif. Secara sederhana, ia lebih banyak melibatkan perhitungan angka-angka ke dalam sebuah model matematis. Lebih disederhanakan lagi, pengukuran (measure) dengan perhitungan matematis termasuk ranah penelitian kuantitatif.

Apa itu kejujuran?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata jujur yang artinya ada 3. Pertama, jujur (honest) (adjective) adalah lurus hati; tidak berbohong (misal dengan berkata apa adanya); kedua, tidak curang (fair) (misal dalam permainan atau ujian, dengan mengikuti aturan yang berlaku); dan ketiga tulus; ikhlas;
Sedangkan ke·ju·jur·an (noun) berarti sifat (keadaan) jujur; ketulusan (hati); kelurusan (hati).

Berdasarkan definisi di atas, dalam tulisan ini, jujur yang dimaksud adalah yang pertama, yaitu yang berarti tidak bohong atau lurus hati. Menurut wikipedia:
Honesty refers to a facet of moral character and denotes positive, virtuous attributes such as integrity, truthfulness, and straightforwardness along with the absence of lying, cheating, or theft.

Bagaimana mengukur kejujuran?

Mengukur kejujuran (manusia) menurut saya membingungkan bila didasarkan pada 2 dikotomi penelitian di atas, termasuk kualitatif ataukah kuantitatif?

Dalam kehidupan sehari-hari di dalam keluarga, sekolah, kerja, atau organisasi lainnya di lingkungan terdekat, seringkali seseorang yang dianggap jujur itu dinilai dari rekam jejak kehidupannya. Semakin lama kita bergaul dan mengetahui integritas seseorang dari kejujurannya selama ini, maka semakin kita yakin bahwa orang tersebut memiliki tingkat kejujuran yang tinggi. Nah! Inilah cara mengukur kejujuran itu, semakin sering seseorang jujur dan memiliki integritas untuk itu dalam waktu tertentu, maka semakin kita tahu seberapa besar tingkat kejujuran dan integritasnya.

Misal saja, si A diuji tingkat kejujurannya selama 6 bulan, yang setiap bulannya akan diberikan ujian kejujuran selama 4 kali. Tiap soal memiliki bobot/skala kejujuran yang didesain oleh pakar terkait yang tidak diketahui sama sekali oleh si A. Setelah 6 bulan ujian berlalu akan diketahui berapa besar perbandingan antara jujur (honest) dan tidak jujur (dishonest) yang telah dilakukan oleh si A. Skala perbandingan itupun ditentukan berdasarkan oleh pakar, psikologi misalnya. Dalam uji ini jelas terlihat penggabungan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif.

Lalu, untuk apa mengukur kejujuran?

Kejujuran itu mendatangkan kepercayaan. Semakin tinggi tingkat kejujuran maka semakin tinggi tingkat kepercayaan.

Seorang terdakwa ketika menghadapi persidangan, pada saat tertentu dilakukan uji kejujuran/kebohongan, yang digunakan untuk menilai apakah yang bersangkutan jujur atau bohong, sehingga dapat dipercaya atau tidak, yang pada akhirnya akan mempengaruhi vonis keputusan hakim.

Dalam rekrutmen karyawan, pimpinan, dan semacamnya terkadang ukuran kejujuran juga diperlukan untuk melengkapi performance measurement dalam blok TQM (Total Quality Management). Dalam rekayasa jaringan komputer, mengukur kejujuran (fairness measure) digunakan untuk menentukan apakah pengguna atau aplikasi telah menerima bagian yang adil dari sumber daya sistem. Di dalamnya ada model matematis dan desain konseptual jaringan yang fair. Jelas, bila operator jaringan yang Anda langgan curang, tentu akan mempengaruhi tingkat kepercayaan Anda dengan operator tersebut kan? :-)

Masih banyak lagi. Bagaimana menurut Anda?

Sabtu, April 09, 2011

Soal Kurikulum TI, SMK vs Perguruan Tinggi, Mana yang Lebih Maju?

Di bulan Maret lalu saya diundang untuk menjadi salah satu juri dalam Lomba Kompetisi Sekolah (LKS) bidang Teknik Komputer dan Jaringan untuk SMK tingkat Kota Balikpapan, yang berlangsung di SMK Negeri 1 Balikpapan. Sedikitnya ada 4 peserta dari 4 sekolah, yang masing-masing sekolah hanya boleh mengirimkan wakil terbaiknya masing-masing 1 orang saja. Lomba berlangsung selama 2 hari atau memiliki waktu sekitar 10 jam. Sedangkan juri, menurut informasi panitia, terdiri atas 3 orang yang berasal dari praktisi, akademisi, dan profesional, dengan pertimbangan memiliki netralitas dalam menilai secara obyektif.

Yang menarik, salah satu pesertanya ada yang wanita dan berasal dari SMK Muhammadiyah, satu-satunya peserta wanita dan dari sekolah swasta yang berani menantang! Mengapa? Karena ini adalah lomba keterampilan yang bersifat teknikal mengenai komputer dan jaringan, mulai dari assembly perangkat keras, crimping, instalasi sistem, setting server dan jaringan seperti webserver, database server, ftp, SSH, DHCP, DNS server, mail server, ntp server, routing, access-point, hingga firewall, dengan teknik konfigurasi dan kecepatan penyelesaian yang cukup tinggi. Hasil akhir yang diharapkan adalah kecepatan waktu, cara konfigurasi yang benar, dan tingkat keberhasilannya. Bila melihat materi yang dilombakan, maka jelas jarang sekali ada wanita yang tertarik dengan lomba yang dominan dikuasai laki-laki ini.

Satu lagi yang menarik, baik server, router, hingga firewall menggunakan perangkat lunak bebas dan Open Source, seperti Debian 5.0 GNU/Linux atau Debian Lenny untuk server dan router, bind untuk dns server, postfix untuk mail server, iptable untuk router, dan squid untuk firewall, semuanya harus dikonfigurasi dalam modus antar muka teks (TUI) dan dilarang menggunakan modus grafis (GUI). Sedangkan client dengan sistem operasi Windows, yang mengakses jaringan melalui access-point. Hasilnya, pemenang pertama dari SMKN 1 berhasil menyelesaikan dengan baik dengan hasil nyaris sempurna dan dalam waktu yang cukup singkat, 3 jam, mengalahkan peserta lainnya yang rata-rata selesai dalam waktu lebih dari 6 jam, itupun masih ada beberapa kesalahan konfigurasi.

Saya teringat pendapat Pak Onno W Purbo, yang menyatakan bahwa kurikulum Teknologi Informasi (TI) di jenjang perguruan tinggi dinilai kurang pas dan tertinggal dua sampai tiga tahun dibanding dengan kurikulum di jenjang pendidikan SMK. Mungkin ada yang beranggapan pendapat tersebut agak berlebihan, mengingat bila di perguruan tinggi mayoritas input-nya BUKAN berasal dari disiplin ilmu atau rumpun yang sama laiknya SMK berbasis TI saja, akan tetapi beragam seperti SMA yang umumnya tidak mendapatkan materi dasar-dasar TI sebelumnya. SMK sendiri memiliki kurikulum yang didesain sedemikian rupa untuk tujuan kejuruannya.

Meski demikian, dengan melihat hasil dari kompetisi LKS tersebut saya berpendapat bahwa materi dasar-dasar teknis TI perlu diasah lebih dulu dijenjang SMA atau sederajat. Dengan begitu, bila lulusan SMA ini masuk ke perguruan tinggi TI, ia sudah siap untuk melanjutkan ke jenjang kurikulum yang lebih tinggi, artinya kurikulum TI di perguruan tinggi bisa lebih “naik” lagi ke atas dibanding yang ada sekarang ini.

Bagaimana menurut Anda?

Rabu, Juni 16, 2010

TI dan Masyarakat: Penghindaran Kesimpangsiuran Informasi atas Video Porno yang Diduga Dilakukan Artis

Geert Hofstede, seorang Profesor dari Universitas Maastricht Belanda mengungkapkan penelitiannya tentang 5 macam dimensi budaya. Penelitian itu ditujukan untuk memberikan wawasan tentang budaya-budaya yang ada di dunia, sehingga, kita, diharapkan dapat lebih efektif dalam berinteraksi dengan orang di negara-negara lain. Jika dipahami dan diterapkan dengan benar, informasi tentang dimensi budaya ini diharapkan dapat mengurangi tingkat frustrasi, kecemasan, dan keprihatinan. Hofstede menjelaskan, kita, cenderung memiliki anggapan bahwa semua orang itu adalah sama. Anggapan ini mendorong kita bila masuk ke daerah atau ke negara lain, dan membuat keputusan berdasarkan pada bagaimana kita bekerja di daerah asal atau negara asal kita, maka kemungkinan kita akan membuat keputusan yang sangat buruk.

Awalnya, Hofstede menganalisis basis data karyawan yang dikumpulkan IBM antara tahun 1967 sampai dengan 1973 yang mencakup data di lebih dari 70 negara. Tahun 2001 nilai tercatat meliputi 74 negara dan daerah, sebagian didasarkan pada basis data dari IBM, namun pada populasi studi internasional yang berbeda. Dari hasil awal, setelah kemudian diperbarui dan dilakukan penambahan, Hofstede merumuskan sebuah model yang mengidentifikasi 4 dimensi budaya. Dimensi budaya ini digunakan untuk membantu dalam membedakan budaya-budaya yang ada dalam masyarakat di dunia, yaitu: Power Distance, Individualism, Masculinity, dan Uncertainty Avoidance. Tiap negara diteliti berdasarkan dimensi budaya itu, dibandingkan nilai dan perilakunya, dan kemudian pada Power Distance dan Uncertainty Avoidance diberikan nilai indeks yang menunjukkan tingkat penerimaan masyarakat atas dimensi budaya tersebut. Pada penelitian internasional selanjutnya yang dilakukan pada China, Hofstede memberikan penambahan satu buah dimensi berikutnya yaitu Long-Term Orientation.

Sumber: http://www.geert-hofstede.com/hofstede_indonesia.shtml

Berdasarkan penelitian tersebut, Uncertainty Avoidance Index (UAI) dibuat memiliki nilai indeks antara 0 sampai dengan 100. Nilai tersebut menggambarkan tingkat penerimaan masyarakat terhadap kesimpangsiuran/ketidakpastian informasi pada suatu negara. Semakin rendah nilai indeks maka semakin besar tingkat penerimaan kesimpangsiuran informasi. Sebaliknya, semakin tinggi nilai indeks maka semakin besar tingkat penolakan kesimpangsiuran informasi. Indonesia mendapatkan UAI sebesar 48, lebih rendah dari rata-rata Asia sebesar 58 dan rata-rata dunia sebesar 64. Ini menggambarkan Indonesia berada pada tingkat menengah atas penerimaan kesimpangsiuran informasi. Artinya, masyarakat Indonesia cukup bisa menerima perubahan, gejolak, polemik, kesimpangsiuran, ketidakpastian, namun memiliki toleransi yang cukup terhadap perbedaan pendapat.

Berkait dengan situasi Indonesia selama 2 minggu ini tentang hebohnya penyebaran video porno atas penyalahgunaan perangkat teknologi informasi, tak heran bila polemik tentang siapa sebenarnya yang berperan dalam video porno artis tanah air tersebut masih berkepanjangan. Sebagian masyarakat menilai artis yang diduga sebagai pemeran video tersebut segera mengaku tegas mengklarifikasi benar tidaknya informasi tersebut pada pihak berwajib dan tidak memberikan informasi berbelit-belit, agar kesimpangsiuran informasi yang bergejolak di masyarakat tentang kebenaran informasi tersebut segera menemukan titik terang, sehingga harapannya masyarakat mendapat kepastian dan berhenti mengikuti informasi itu dan kembali menyusun aktivitas produktif lainnya. Namun sebagian masyarakat menilai informasi tersebut tidak perlu dibahas dan artis yang diduga tersebut tak perlu mengaku, tetapi masyarakat menyerahkan kembali pada pelaku itu sendiri atas akibat yang diduga dilakukannya.

Bagaimana menurut Anda?

Update, Selasa, 22 Juni 2010

Download Materi Kuliah TI dan Masyarakat

Rabu, Januari 27, 2010

You're not a detached observer

Jauh sebelum Internet hadir, para profesional dan ilmuwan membutuhkan informasi dari sumber pengetahuan yang berfisik besar, seperi buku tebal maupun catatan yang dikumpulkan dari ribuan macam percobaan, hingga tersusun dan disimpan dalam perpustakaan. Kemudian perpustakaan menjadi salah satu sumber utama dan rujukan berbagai sumber ilmu pengetahuan untuk dikembangkan lebih lanjut. Akumulasinya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin meningkat dan semakin lebih baik. Dengan demikian, semakin banyak membaca dan bereksperimen pada bidang yang ditekuninya, semakin memperkuat pengetahuan dan pengalaman seseorang untuk menjadi ahli dibidangnya tersebut.

Waktu kini berubah, Internet hadir menjadi bagian dari pekerjaan, gaya hidup, atau sekedar hiburan, selain menjadi perpustakaan digital yang dapat memperkaya sumber ilmu pengetahuan. Seiring dengan itu, banyak orang memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik dan fokus dalam menerima informasi penting yang dibutuhkan dari Internet, dan Internet secara simultan tanpa henti memberikan informasi tak terbatas. Tetapi pastinya, kemampuan memory manusia sangat terbatas bila dijadikan repository yang digunakan untuk menyimpan miliaran informasi dari Internet, bahkan informasi selingan (distraction) --seperti update status, gosip selebritis, tebak-tebakan, atau selingan lainnya -- pun bisa membuyarkan fokus pikiran dalam mengerjakan atau mengingat sesuatu yang penting. Yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana mengenali kemampuan diri untuk fokus dalam pekerjaan yang ada saat ini daripada sekedar memiliki banyak informasi pengetahuan tetapi tanpa tindakan berarti.

Kini, Internet menjadi external knowledge yang dapat digunakan sebagai sumber pengetahuan yang tak terbatas, tanpa perlu banyak mengingat dan menyimpannya dalam memori otak yang terbatas, sehingga dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan internal saja. Kebutuhan internal itu sendiri adalah fokus untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan bidang yang dihadapi saat ini.

Meski demikian, Internet memiliki kesamaan dengan perpustakaan konvensional, yaitu informasinya akan menjadi “sampah” bila tidak diperbarui, diperbaiki, dikembangkan, dan ditingkatkan lebih baik oleh pengguna Internet itu sendiri. JD Lasica, founder dan editorial director socialmedia.biz memberikan tips: “Be human. You're not a detached observer, but a participant who need to share and give back instead of just taking.”

Have a nice day!

Rabu, September 24, 2008

Membingungkan, Penggunaan Kata dalam Berita di KaltimPost

Sebagai orang yang sementara waktu ini tinggal di luar Balikpapan, saya sangat terbantu dengan adanya situs KaltimPost yang menampilkan berita-berita terkini seputar Balikpapan dan Kalimantan Timur. Meski demikian, sejak beberapa tahun lalu (2006?) ketika membaca edisi cetaknya, saya sering menemui penggunaan kata berbahasa Indonesia yang tidak lazim -- setidaknya menurut kebiasaan saya selama ini. Contoh penggunaan kata "dimulakan" pada judul berita ini: "Kontraktor Sudah Ditetapkan, Pembangunan Siap Dimulakan". Mungkin di sini maksud "dimulakan" adalah "mulai dikerjakan" atau kalau tidak salah konon menggantikan kata "dimulai" yang juga dianggap tidak tepat. Ketika merujuk KBBI, kata "dimulakan" -- dari kata "mula" -- malah sulit saya temukan, begitu juga kata "dimulai" -- dari kata "mulai". Ada yang bisa menjelaskan?

Ada juga penggunaan kata "sekira" pada contoh kalimat ini: "Di ruang tamu, ada sekira enam plakat berwarna hitam yang terpajang rapi di dinding". Biasanya, untuk kalimat tersebut saya lebih memilih kata "sekitar" sebagai adverb -- kata keterangan -- yang menyatakan "lebih kurang; kira-kira (untuk bilangan)" daripada kata "sekira". Mulanya saya kira penggunaan kata "sekira" ini hanya salah ketik, tetapi setelah membaca tuntas, dan membaca lagi beberapa topik berita yang berbeda, tampaknya kata "sekira" lebih cenderung dipilih redaksi Kaltimpost untuk menyebut kira-kira suatu bilangan, daripada menggunakan kata "sekitar". Sesekali tengok KBBI, saya kira gaya menulis berita di media massa komersial sangat berbeda dengan gaya tulisan blog pribadi. Bukan begitu?

Selasa, Agustus 12, 2008

Menulis Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar itu Sulit

Berapa lama Anda belajar bahasa Indonesia?
Ada yang menyebut 12 tahun, karena dimulai dari tingkat sekolah dasar (SD) selama 6 tahun, kemudian 3 tahun sekolah menengah pertama (SMP), dan terakhir 3 tahun sekolah menengah atas (SMA). Adapula yang menyebut lebih dari 12 tahun, sebab masih dilanjutkan ujian masuk perguruan tinggi yang menyertakan syarat ujian Bahasa Indonesia, kemudian bila memilih jurusan atau program studi Bahasa Indonesia pun masih belajar lagi hingga sarjana. Bukan itu saja, pada program studi selain itu, syarat untuk menulis laporan tugas akhir, harus memenuhi kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar, dan ini wajib dilalui dengan baik ketika harus menyelesaikan thesis bagi program pasca sarjana, hingga desertasi doktor.

Jadi, seandainya ada orang yang berpendidikan tinggi, setidaknya cara menulis yang baik dan benar tercermin dalam kegiatan sehari-harinya. Akan menjadi suatu pertanyaan besar dan berbuntut panjang, bila ternyata menulis bahasa Indonesia saja masih kacau balau. Lalu, bagaimana sebaiknya berbahasa Indonesia yang baik dan benar? Apakah seperti tulisan saya ini? Lho... bukannya sudah puluhan tahun belajar bahasa Indonesia? Ah, kacau sekali, baik, baiklah, saya masih perlu belajar lagi menulis yang baik. Untuk itu, tolong sekali lagi ingatkan dan ajarkan saya berbahasa Indonesia yang baik dan benar, minimal Anda dapat memeriksa kesalahan dan membetulkan tulisan saya ini. ;-)

Kamis, Juni 19, 2008

Perpustakaan, Kini dan Akan Datang

Dulu, saya mengenal perpustakaan ketika masih menginjak sekolah dasar, dan buku-buku yang saya pinjam adalah komik serial karena tertarik teman. Lambat laun, saya tidak begitu suka komik serial, karena ceritanya tak pernah habis dan bikin nanggung. Saat ini, saya bisa dikatakan termasuk orang yang jarang ke perpustakaan sekolah, kampus ataupun perpustakaan kota yang hening. Pernah memiliki kartu keanggotaan perpustakaan, berbayar tapi tidak atau jarang digunakan untuk meminjam. Biasanya kalau ke perpustakaan karena ada tujuannya, mencari bahan untuk tugas atau keperluan pekerjaan. Justru kini saya lebih suka dan lebih sering ke toko buku murah, misalnya ke Toga Mas atau Gramedia Store, untuk apa ke sana? Untuk mencari hal baru, apa saja yang terlihat menarik untuk dibaca... ;-)

Menariknya, seperti Jogja sini, toko buku tiap hari hampir tidak pernah sepi, apalagi bila menjelang petang, malam minggu atau hari libur. Ini tak berbeda dengan kota tempat tinggal saya, Balikpapan. Tengok saja beberapa toko buku di tengah kota, hampir setiap hari orang masuk lalu lalang sekedar baca buku atau hanya melihat-lihat saja, walaupun tak disediakan meja untuk membaca layaknya perpustakaan, tapi pengunjung tetap puas membaca sambil berdiri. Suasananya pun ramai, berisik, kadang ada musiknya keras-keras. Saya pun biasanya bila sekedar jalan-jalan, tak segan-segan menjadikan toko buku sebagai prioritas untuk dikunjungi, bukan mall.

Bila melihat kondisi yang berbeda di atas, salah satu kelemahan perpustakaan ini banyak sekali dan nampaknya cukup kompleks. Mungkin ada yang menganggap bahwa perpustakaan kini hanya mirip gudang buku dan jurnal usang, buku tebal kertas coklat, berisi penuh filosofi berat, teoritis, numerical dan tak ada hal yang baru. Didukung dengan wajah petugas yang lesu, kurang simpatik, ruangan kusam, gelap, komputer jadul dan hanya bisa dipakai main solitaer, apalagi kartu anggota yang berbayar dan mudah lecek, denda keterlambatan yang muahal, manajemen amburadul, semakin membuat perpustakaan sebagai gedung besar yang berhantu.

Hm... perpustakaan? Bagaimana sebaiknya?

Rabu, Mei 28, 2008

Pengalaman Transaksi Online Ticketing


Membaca pengalaman Pak Adriyanto membeli tiket pesawat Mandala Air di mandalaair.com, saya jadi teringat pengalaman yang sama yang sudah saya lakukan hingga kini. Tak beda jauh dengan pengalaman beliau, pembelian tiket secara online saya lakukan sudah berjalan beberapa waktu yang lalu, juga termasuk rekan-rekan lainnya yang 'senasib' dengan saya.

Saya sendiri menjadi member untuk beberapa maskapai penerbangan yang menyediakan pembelian tiket secara online. Untuk menjadi member pun cukup mudah dan gratis. Dari beberapa maskapai tersebut, yang sering saya gunakan adalah Mandala Air dan Lion Air, sedang Batavia Air agak sulit, karena setahu saya hanya menyediakan pembayaran via kartu kredit Visa atau Mastercard. Pernah ketika mencoba memasukkan data Visa ATM Mandiri ternyata tidak bisa diproses oleh sistem, ya sudah akhirnya batal dan cari yang lebih mudah. Bagaimana dengan Garuda? Belum pernah dicoba, sejak penghapusan rute penerbangan Balikpapan-Jogjakarta, saya tidak tahu lagi kabarnya.

Sekedar menambahkan informasi yang sudah ada, dengan adanya pembelian tiket online ini kadang membuat saya menjadi agak selenge'an. Betapa tidak, tiket pesawat yang saya gunakan cukup berupa print-out ATM saja, kertas faksimili kecil, lusuh, dilipat dan disimpan di dompet, kelihatan remeh temeh dan tidak berguna. Bisa juga berupa print-out pembayaran dari Internet Banking atau cetak kode pemesanan pada ½ halaman folio atau lebih kecil lagi untuk diselipkan ke dompet bercampur dengan karcis-karcis lainnya. Kok begitu? Bagaimana bila melewati petugas penjaga bandara ketika hendak masuk pemeriksaan bagasi atau ketika check-in? Syukurlah, selama ini saya lancar-lancar saja. Tetapi ini bukan saran yang baik bila sewaktu-waktu ada masalah nantinya, jadi jangan hanya bergantung penuh pada print-out pembayaran dari bank saja. Sangat disarankan juga mencetak tiket yang dikeluarkan oleh sistem pembelian tiket maskapai penerbangan tersebut. Sehingga bila ada masalah ketika melewati pemeriksaan diharapkan akan lebih mudah dan membantu.

Selain itu, kemudahan yang saya dapatkan adalah pengiriman berita melalui email, kemudian bisa membandingkan harga tiket antar maskapai penerbangan dan memilih harga tiket yang paling murah, juga memilih waktu keberangkatan (seperti tiket lebaran tahun ini oleh Air Asia) yang jauh hari sudah disediakan dan mulai diserbu masyarakat, dan beberapa kemudahan lainnya.

Sayang sekali, hampir semua sistem pembelian tiket online yang saya gunakan saat ini tidak menyediakan aplikasi pembatalan atau perubahan jadwal keberangkatan untuk umum, hanya disediakan untuk kantor cabang atau agen resmi saja. Sehingga bila melakukan pembatalan atau perubahan jadwal keberangkatan harus melalui kantor cabang terdekat, plus biaya administrasi dan pembatalan yang disesuaikan dengan perubahan harga. Saya tidak tahu bila seandainya ada perubahan jadwal, taruhlah mundur beberapa hari dari jadwal sebelumnya, apakah dengan demikian harga bisa jadi lebih murah? Sepertinya tidak ada penurunan harga, coba lihat kembali fare-rules.

Saya berpendapat bahwa untuk membuat aplikasi pembatalan atau perubahan jadwal tersebut sebenarnya mudah saja dibuat, tetapi ini mungkin berkaitan dengan faktor lainnya yang harus dipertimbangkan, seperti faktor sosial dan keamanan. Bila awareness masyarakat tentang fungsi Internet dan e-commerce terus tumbuh dan membaik, tak pelak agen-agen penjualan tiket suatu saat akan banyak yang tutup. Seperti halnya banyak wartel (warung telekomunikasi) yang saya temui akhir-akhir ini sudah banyak yang tidak beroperasi, mengingat biaya telekomunikasi saat ini juga sudah semakin murah dan mudah.

Lalu, bagaimana dengan harga melalui pembelian tiket online ini? Setahu saya lebih murah bila dibandingkan dengan harga dari agen, selisih beberapa puluh ribu saja, jadi kalau Anda berminat membuka jasa penjualan tiket penerbangan saat ini masih terbuka kesempatan lebar... ;-)

Rabu, Mei 07, 2008

Menulis Artikel di Blog sebagai Sebuah Profesi

Bila pembaca blog saya ini melihat artikel pertama blog berisi kutipan penuh artikel media massa, tentu tidak kaget, lho emang buat apa kaget? Tujuan saya kala itu adalah mengisi blog lebih dulu dengan satu hingga beberapa artikel yang ditemui, karena belum siap menulis tentang topik tertentu ketika blog baru selesai dibuat. Tentu saja, sumber artikel saya sebutkan di sana, tak lupa saya mengirimkan permohonan ijin melalui email untuk menempelkan artikel tersebut pada blog saya. Ketika jawaban tak kunjung datang, saya mengira berarti ada 2 jawaban, boleh atau tidak boleh. Setelah melihat kembali aturan pengutipan yang kira-kira menyebutkan bahwa tidak diperkenankan mengutip isi maupun sebagian untuk kepentingan komersial, dan saya kira blog saya ini adalah blog abal-abal, maka saya berpendapat berarti boleh, dengan syarat tetap mencatumkan sumbernya.

Sebenarnya pengutipan dengan mencantumkan sumber itu menguntungkan pihak yang dikutip, apalagi dengan memberikan taut (link), karena informasi tersebut dapat tersebar luas secara cuma-cuma, juga dapat menaikkan traffic situs media tersebut, yang imbasnya menguntungkan secara finansial. Lho kok? Dengan traffic yang tinggi, situs media tersebut akan dengan mudah menarik iklan untuk berbondong-bondong memasang iklannya dan berani membayar mahal. Secara tidak sadar, si pengutip menjadi key-influencer bagi media kapitalis. Sebaliknya, sedangkan bila mengutip tanpa ada sumbernya, apalagi dengan percaya diri ditujukan untuk media luas dan komersial, itu bisa sangat memalukan.

Setelah sadar, barulah kemudian saya mulai belajar menulis secara mandiri untuk publik, terutama untuk mendukung kegiatan belajar mengajar saat itu. Kalau dilihat kembali tulisan-tulisan awal kelihatan lucu, baik gaya tulisan maupun isi lebih banyak menyoal tentang sesuatu menurut perspektif saya, kira-kira berisi uneg-uneg yang meledak-ledak gitu hehehe... Kebanyakan blog saya ini hanya berisi opini pendek maupun koleksi foto pribadi serta capture image yang saya lakukan sendiri, atau mencomot image yang setidaknya berlisensi bebas, mudah-mudahan tak ada hasil jiplakan, lupa oiy...

Sesuai webtracking yang terpasang, kadang bisa di-tracking beberapa foto pada blog atau tulisan saya (yang ada juga di blog lain) telah di-copy oleh blog orang lain. Walaupun tak banyak, pada dasarnya tidak masalah bagi saya, selagi yang bersangkutan tetap mencantumkan sumbernya. Justru kadang saya merasa senang, kendati tidak menguntungkan secara finansial, tetapi tulisan maupun foto tersebut ternyata menarik minat orang lain, halah! GR!... :P.

Hingga sekarang, rasanya belum ada minat serius menjadikan blog ini sebagai sebuah profesi yang menghasilkan uang secara langsung. Kalaupun bisa, paling banter hanya bisa menempelkan Google Adsense Searching yang nempel di atas artikel ini saja, itupun cuman $1 saja sudah bingung banget cara mengambilnya. Weleh...

Lain kali perlu dicoba yang lebih serius sikit dengan blog baru, tapi rasa malas ini selalu saja mengikuti... uuh... tendang males!

Keamanan Akses Internet pada Jaringan Komputer Publik

Sudah beberapa kali setiap saya mampir di warnet, kadang secara tidak sengaja menemukan celah suatu situs atau data pribadi yang oleh pemiliknya dinyatakan sangat penting, entah disengaja atau tidak data tersebut beredar sangat bebas. Bahkan data XML yang berisi username dan password pun dengan teledor dibiarkan terpaku pada software ftp. Pada jaringan wired maupun wireless publik, biasanya kelihatan sudah diatur cukup baik oleh admin jaringan tersebut, bahkan diset sangat terbuka agar client dengan mudah menggunakannya, kendati demikian justru hal seperti ini perlu diwaspadai, sebab dari sisi client atau pengguna jaringanlah yang mungkin banyak dengan mudah dieksploitasi.

Dua hari kemarin, karena jatah quota bandwidth 1,2 Gb saya bulan Mei ini telah habis dalam 3 hari saja gara-gara sedot Ubuntu Hardy, mau tak mau kalau ada kesempatan saya mampir ke warnet wifi. Saat itu juga masih saja menemukan beberapa komputer pengguna yang terbuka lebar yang berisi data-data penting pribadinya. Satu yang perlu diperhatikan bagi pengguna adalah soal keamanan dan pengamanan diri sendiri, dengan menutup celah aliran paket data yang mungkin bisa dieksploitasi. Gunakan sistem operasi yang memiliki update security yang baik, jangan ambil resiko menggunakan sistem yang jadul untuk keperluan vital. Siapkan network analyzer yang memadai seperti kismet, wireshark, ethereal dan semacamnya untuk memantau paket data yang mencurigakan. Walaupun begitu, tidak ada system yang 100% secara teknis aman. Kesalahan justru lebih banyak karena kecerobohan dan human error. Apabila terpaksa mengakses email penting dari webmail lewat jaringan wifi publik, ubah kembali password dengan segera secara aman. Paranoid? Nggak juga, hati-hati adalah lebih baik daripada sembarangan. Ingat, kejahatan bukan hanya timbul atas adanya niat saja, tetapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!

Minggu, Mei 04, 2008

Migrasi Linux dan VirtualBox





Beberapa waktu lalu, seorang rekan meminta sumbang saran pada saya mengenai rencana beliau memigrasikan semua perangkat lunak yang berbasis proprietary software ke open source software, lebih tepatnya dari Windows ke Linux, yang akan diterapkan di seluruh divisi tempat kerjanya. Jujur saya tidak mempunyai pengalaman atau pengetahuan memadai perihal migrasi memigrasikan dalam skala perusahaan besar. Sehingga jawaban saya pun cenderung subyektif menurut saya, tentu tidak memuaskan. Secara pribadi, saya sendiri lebih condong melihat hal itu atas dasar kebutuhan dan kesadaran (gayane sok butuh sok sadaaar... :P). Sedangkan bila sudah menyangkut banyak orang, maka saya berpendapat hal ini harus dipaksa dengan aturan. Analoginya seperti merubah kebiasaan orang dari kebiasaan sehari-harinya yang merokok, berubah untuk tidak merokok, atau beralih ke permen. Kalau bukan kesadaran bahwa rokok itu merugikan (mudhorot) dan bukan kebutuhan akan kesehatan, sulit merubahnya bukan? Ada yang tak setuju dengan pendapat saya? Itu pasti ada. It's your choice.

Untuk itulah dibuat aturan yang 'memaksa' untuk merubah kebiasaan 'asing' itu jadi kebiasaan yang biasa dikerjakan. Misalnya menjadikan semua perangkat lunaknya menggunakan Linux tanpa dual boot. Sehingga user mau tak mau memilih Linux sebagai basis kerjanya, tidak ada pilihan ke Windows. Apakah dengan begitu sudah merasa aman user tidak kembali ke kebiasaan lama? Tentu saja tidak, Windows pun masih bisa dijalankan juga, misalnya dengan menggunakan Virtual Machine seperti VMWare atau VirtualBox. Kendati demikian, setidaknya penggunaan Virtual Machine ini mempersempit ruang gerak kebiasaan tadi, minimal user masih bisa merasakan 'kangen'nya pada Windows, tapi tidak sadar di lingkungan Linux hehehe...

Lalu, apa nilai lebihnya migrasi ke Linux? Apakah dengan menggunakannya akan mempengaruhi produktifitas kerja menjadi lebih effisien dan effektif? Apakah pengeluaran untuk kebutuhan teknologi informasi lebih hemat atau makin boros? Bagaimana dengan dukungan dan kemudahan layanan perbaikan dan pengembangan perangkat lunaknya? Mungkinkah bisa diperbaiki dan dikembangkan sendiri? Bisakah dijalankan pada lintas platform? Lebih amankah? Murahkah? Bagaimana dengan virus? Perlukah membeli lisensi seperti kebiasaan lama? Bagaimana dengan polisi? Lho kok?

Hihihi... jadi banyak pertanyaan nih, gara-gara banyak pertanyaan malah nggak jadi nanti, sudahlah, migrasi saja nanti kan tahu sendiri... :D

Senin, April 21, 2008

Menjadi Konsumen Professional

Kata professional identik dengan seseorang atau pelaku usaha jasa suatu layanan ataupun produk yang memiliki tingkat layanan dengan tingkat kepuasan yang tinggi, dengan aturan main yang bersih dan sesuai, biasanya digunakan oleh para pelaku usaha itu sendiri. Sumber di Wikipedia menyebut:
A professional can be either a person in a profession (certain types of skilled work requiring formal training/education) or in sports (a sportsman/sportwoman doing sports) for payment.Sometimes it is also used to indicate a special level of quality of goods or tools, sometimes also called "commercial grade".

Sebagai contoh seorang sales atau penjual bisa dikatakan professional apabila ia telah menguasai seluk beluk layanan per-sales-an, mulai dari hal-hal yang kecil seperti persiapan hingga teknik-teknik negosiasi yang dapat mempengaruhi targetnya untuk terpikat dan akhirnya membelinya. Tidak hanya itu saja, sales tersebut setidaknya telah memiliki track-record atau catatan karirnya yang cemerlang dengan berbagai prestasi sebelumnya. Begitu juga suatu produk professional, masih segar diingatan adanya Windows XP Professional, sah-sah saja Microsoft menjual produknya dengan nama Professional, namun tentu Microsoft memiliki alasan sendiri mengapa memberi nama produknya dengan label atau seri Professional. Konon Windows XP muncul sebagai penyempurna dari berbagai sistem operasi sebelumnya, yang tentu saja disesuaikan dengan catatan-catatan yang dimilikinya.

Berkaitan dengan professional, setidaknya pengalaman saya menjadi konsumen produk telekomunikasi di Indonesia ini menjadi bekal yang lumayan bagi saya pribadi. Adanya iklan jar-jer-jor di media masa hingga di jalanan sering membuat saya geli, masalahnya kadang malah membuat perut mual, lho kok? Bagaimana tidak? Kawin sama monyet dan kambing apa malah nggak membuat perut mual? Atau pesan “kassiihdaaah...” yang dijewer telinganya makin menunjukkan kalau iklan tersebut cocok dengan model peloncoan, enak di awal mbendol belakangan hehehe... jangan dianggap serius, itukan cuman iklan.

Sebagai konsumen, adanya persaingan produk telekomunikasi ini bagi saya menjadi pilihan untuk dibuat riset sendiri. Sudah tak terhitung berapa kali simcard yang saya gunakan untuk masa sekali pakai. Hah? Don't try this at home! Teman saya malah menyebut saya sebagai penjual simcard! Tapi jangan berburuk sangka dulu, ini saya lakukan untuk riset kecil saya, yaitu mencari alternatif yang paling murah untuk biaya interlokal dengan keluarga atau sejawat di seberang lautan, serta untuk keperluan akses data yang paling murah tetapi memiliki kualitas yang baik. Tentunya, itu semua harus bisa disesuaikan dengan perangkat (hardware-software) yang saya miliki. Lalu melakukan kajian atau riset kecil tadi dengan membandingkan berbagai sumber (studi literatur) baik dari pengalaman seseorang, internet hingga buku-buku yang banyak beredar. Sehingga, hasilnya bisa diketahui sekiranya produk apa yang cocok yang dapat saya gunakan, sedangkan produk yang gagal cukup tendang keluar jendela, beres. Menjadi konsumen professional dan pengalaman yang cukup agaknya menjadi hal yang perlu dipertimbangkan siapa saja.

PS. Pelajaran berharga, pengalaman saya menjadi konsumen loyal produk telekomunikasi untuk saat ini tidak (belum) dianggap menguntungkan. Lega rasanya hari ini berhasil melepaskan jerat. :P

Senin, April 07, 2008

Antara Andong, Iklan dan CRM



Andong nyentrik dan iklan telekomunikasi, kira-kira penumpangnya dapat benefit juga ya?

PS: Saya tidak tahu, bagaimana cara perusahaan telekomunikasi sekarang ini mempertahankan dan mengembangkan pelanggan loyalnya? Apakah di perusahaan tersebut menerapkan Customer Relationship Management (CRM)?

Secara umum dapat dikatakan bahwa CRM akan dibutuhkan bila usaha untuk mendapatkan pelanggan baru tidak mudah dan memerlukan dana yang jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya untuk mempertahankan pelanggan lama. Malah ada yang mengatakan, bahwa dari hasil penelitian mempertahankan pelanggan yang sudah ada jauh lebih mudah dibandingkan dengan mendapatkan pelanggan baru.

Hmm... masak iya sich? Mungkin ini yang menyebabkan hak-hak pelanggan loyal terabaikan, seperti pelanggan pasca-bayar yang tetap bayar mahal. Kalau begitu bagaimana kalau penggunaan CRM perlu ditinjau ulang? Atau mungkin memang salah menerapkan? Atau mungkin lebih penting untuk ganti-ganti nomor baru?

Jumat, Maret 28, 2008

Ribut Membangun Bangsa

Ribut membangun bangsa?

Beda pendapat itu biasa. Walaupun merasa benar, tak perlu gontok-gontokan, bersitegang, emosional, apalagi mendiskreditkan orang lain, biasa sajalah, ikuti pelan-pelan, tak perlu semuanya, tak perlu serius banget, itu menguras tenaga, produktifitas otak dan energi positif jadi hilang, jobs dan tasks jadi tertunda, rugi kan?

Membangun bangsa caranya gampang. Salah satunya bisa melalui blog, diawali dengan menulisnya, berisi hal-hal mulai dari yang kecil, mulai dari lingkungan terdekat, mulai dari hal-hal sepele, hal-hal yang remeh, beri kesan positif apa yang pernah dilakukan atau pengalaman positif, kadang bagi saya ini baik untuk instropeksi diri. Bila pesan untuk orang lain, beri pesan membangun dan tidak bertele-tele, jelas, tidak basa-basi, tidak menggurui, dan mudah dimengerti. Sekali menulis bercanda tidaklah mengapa, yang penting candaan itu bisa berfaedah, menghibur dan toleran, itu juga baik dan sehat.

So, menulislah dengan sehat, jangan manyun mulu.

Senin, Februari 25, 2008

Mana yang Lebih Tepat, Donatur atau Sponsor?

Beberapa hari yang lalu, saya mengirimkan email ke beberapa rekan dan kolega saya, berkaitan dengan sebuah sistem informasi yang saya kembangkan sendirian. Dalam email tersebut saya meminta pertimbangan atau saran tentang program yang rencananya saya letakkan berupa icon pada sistem tersebut. Program itu adalah “Buy me a coffee”. Biasanya, program seperti ini diambil oleh pengembang-pengembang program open source independen dalam menjaga eksistensinya agar tidak layu kekurangan dana. Beberapa contoh yang dapat kita lihat seperti “Do you like my service? Buy me a coffee” atau “Give me a cup of coffee” dan sebagainya yang pada dasarnya adalah sama. Terkadang dari kita, ada sebagian yang memandang hal ini adalah 'hina', seperti mengemis atau meminta imbalan, sehingga tidak pantas dan dianggap murahan. Mari kita tilik lebih dalam.

Sebagai contoh, saya sering menggunakan aplikasi atau piranti lunak bebas yang sering saya peroleh dengan gratis, dan pengembangnya membolehkan siapapun untuk menggunakannya dengan bebas. Dalam penggunaan sehari-haripun, piranti lunak ini mampu membantu saya mengekpresikan diri, melakukan improvisasi, menyelesaikan persoalan-persoalan kecil, belajar, produktifitas kerja hingga sekedar mencari hiburan, bahkan saya memperoleh benefit dari hasil kreatifitas mengolah piranti lunak ini. Artinya, saya benar-benar terbantu oleh piranti lunak ini walaupun pengembangnya membolehkan saya menggunakannya dengan gratis sesuai lisensi yang termuat di dalamnya, dengan tanpa ada ketergantungan terhadap piranti lunak ini. Sewaktu-waktu saya bisa merubahnya sendiri atau berpaling menggunakan piranti lain yang lebih baik bila ada. Saya, adalah salah satu dari sekian ribu atau sekian juta pengguna piranti lunak ini dan merasa terbantu. Sebagai rasa terima kasih, terkadang di antara pengguna ada keinginan membalas jasa-jasa para pengembang piranti lunak ini, yang sebegitu besarnya membuat perubahan dalam pembangunan manusia cerdas di seluruh dunia.

Tapi, bagaimana caranya?

Ada banyak cara, seperti membantu para pemula memanfaatkan piranti lunak ini, mengirimkan donasi langsung ke rekening bank atau paypal mereka, atau salah satunya dengan “membelikan secangkir kopi” seperti yang mereka inginkan. Para pengguna piranti lunak yang berbaik hati ini sadar, bahwa dengan eksistensinya piranti lunak tersebut dapat membantu perubahan-perubahan dunia ke arah yang lebih baik.

Lalu, mana yang lebih tepat bagi Anda, sebagai donatur, sponsor ataukah tidak sama sekali?

Senin, Februari 11, 2008

Belajar dari Tarakan: Tarif Dasar Listrik Regional


Akibat kesel banget lampu mati, saya mencari sebab mengapa Balikpapan hingga sekarang masih byar-pet, padahal hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 111. Akhirnya surfing saja, dan saya penasaran membaca berita Tribun Kaltim ini, terutama kalimat berikut pada alinea terakhir:

Menurut Imdaad, Balikpapan tidak bisa seperti Tarakan yang menerapkan tarif dasar listrik regional.

Mengapa tidak bisa? Ternyata jawabannya sudah lama dan saya tidak tahu, berikut saya kutip dari sumbernya, Sinar Harapan:
Direktur PT PLN (Persero) Eddie Widiono mengakui ada masalah di hulu, yaitu pasokan gas untuk pembangkit listrik di Balikpapan. Padahal kota ini kaya sumber gas, sampai-sampai akan dibangun jalur pipa gas ke Jawa Tengah. Eddie mengingatkan harga gas mengikuti harga minyak (parity to oil), sehingga ketersediaan energi primer yang murah untuk pembangkit listrik menjadi isu yang perlu diwaspadai, terutama ketika daerah ini akan menerapkan Tarif Dasar Listrik (TDL) Regional. Apalagi Balikpapan tersambung dalam sistem jaringan Mahakam-Balikpapan-Tenggarong. Ini makin tidak memudahkan niatan kota lumbung energi ini menerapkan TDL Regional.

Selain itu, kalaupun TDL Regional berlaku di Balikpapan, bagaimana dengan nasib warga yang kadang sudah di-subsidi saja sering nunggak? Yang perlu diingat, sumber energi minyak dan gas bumi kini mulai mengkeret, mampet. Nampaknya, Tarakan hanya mengulur waktu saja, untuk saat ini TDL Regional dirasa cukup membantu, setidaknya bisa mengatasi byar-pet dalam jangka waktu tertentu. Kata orang sih, lari jarak jauh dengan lari jarak pendek, masalahnya hanya cara mengatur napas dan tenaga, ngos-ngosan. Au ah gelap.

Jumat, Januari 25, 2008

Gadget Kraton Yogyakarta Tempo Doele, Mengapa Dijual?

Dua tahun yang lalu, saya berujar pada teman saya, “Rasanya tak lengkap ke Yogyakarta tapi nda mampir ke Mirota Batik”. Ya, ini adalah toko yang berada di depan Pasar Beringharjo, Malioboro. Kesan saya sebagai pendatang, sepintas memang tidak ada bedanya dengan toko-toko lainnya. tetapi saya merasakan ada perbedaan bila singgah di sana, bukan, bukan karena bau dupanya, juga bukan alunan piano yang hanya boleh dimainkan di hari-hari tertentu, tetapi karena pingin beli ramuan tradisional dan ngunduh peta gratisannya hehehe...


Di toko itu, saya juga akhirnya mengenal barang-barang antik yang konon milik anggota keluarga Kraton Yogyakarta, gadget telepon tempo doeloe ini misalnya. Ada banyak perangkat yang dipajang, seperti gramofon, radio transistor, timbangan surat, jam antik, mesin penghitung uang, sampai tombak pun ada. Beberapa diantaranya tertulis masih bisa digunakan. Sayang, barang-barang antik ini dijual untuk umum dengan harga yang sangat terjangkau, beberapa terlihat sudah tidak berada di tempatnya. Menurut saya, justru barang-barang antik ini memiliki daya tarik sendiri agar pengunjung tetap ramai. Mungkin sebaiknya Mirota Batik menyediakan ruang pamer khusus untuk barang peninggalan kraton jaman dulu. Yang lain boleh terjual, tetapi tidak untuk barang antik. Dengan begitu, ciri khas yang dimiliki toko ini menjadi tombak keberadaannya sendiri.

Hmm... akhirnya saya jadi tahu kan, jaman dulu saja para darah biru ini sudah biasa menggunakan gadget yang canggih ya, apalagi sekarang... kira-kira gadget macam apa yang dipunyai?