Tampilkan postingan dengan label Ubuntu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ubuntu. Tampilkan semua postingan

Minggu, Mei 06, 2012

Mengatasi Problem Ubuntu 12.04 Precise Pangolin pada Acer TravelMate 2420

BELUM lama ini sistem operasi Linux Ubuntu 12.04 telah dirilis untuk publik dunia, dan sudah menjadi kebiasaan sebelumnya jika saat akan menggunakan sistem versi baru, saya menunggu beberapa lama untuk mengetahui perkembangan kelebihan dan kekurangannya lebih dulu. Alasannya sederhana, untuk mengganti sistem lama dengan sistem baru itu butuh waktu dan effort yang tidak sedikit. Tapi saya pikir, hari Jumat kemarin ada waktu luang untuk mencobanya, maka langsung saja deh dimulai.

Saat mencoba Live DVD dan instalasi. Dok. pribadi.


Berikut catatan saya:

Spesifikasi komputer yang akan saya pasang Ubuntu 12.04 adalah laptop lawas dengan usia sekira 6 tahunan, Acer TravelMate 2420, memory 1.5 GB, dan ruang HDD < 10 GB (untuk direktori root / dan swap 1.5 GB).

Live DVD 

Selesai membakar ubuntu-12.04-dvd-i386.iso yang diunduh di kambing.ui.ac.id, langsung saya coba Live DVD tersebut. Hal pertama yang terlihat loading cukup berat. Unity desktop berjalan by default. Satu kendala tampak saat memutar Swansong yang dinyanyikan Josh Wooward, speaker laptop tak mengeluarkan suara, tapi bersuara saat dicolok earphone atau speaker booster.

Instalasi

Setelah mem-backup database dan beberapa berkas penting, proses instalasi dijalankan dengan waktu < 1 jam. Saya pertahankan Windows XP -- original, academic version, yang biasa digunakan untuk pekerjaan lain dalam menjalankan program khusus -- agar berdampingan atau dual boot. Proses instalasi tak ada masalah berarti, semua proses dilalui dengan lancar.

Gnome Shell pada Ubuntu 12.04 saya, cukup nyaman dan stabil.

Testing

Secara keseluruhan proses instalasi dan menjalankan beberapa aplikasi cukup lancar, dan saat ini hanya ada 3 masalah yang saya temui, masing-masing kasus mungkin berbeda tiap orang:
  1. GRUB rusak, saat booting muncul pesan ini:
    error: file not found
    grub rescue>
  2. Saat memutar aplikasi film dan musik, Sound tidak keluar suara sama sekali baik dari speaker laptop maupun booster.
  3. Gagal instalasi MySQL Workbench karena belum tersedia versi untuk Ubuntu 12.04 ini.

Penyelesaian

Solusi GRUB,
  1. Jalankan Live DVD dan terhubung ke Internet
  2. Lalu ikuti langkah di sini: https://help.ubuntu.com/community/Boot-Repair

Solusi Sound tak keluar suara,
  1. Sediakan koneksi Internet dengan bandwidth memadai dan stabil.
  2. Selesaikan dengan langkah yang ada disini: https://help.ubuntu.com/community/SoundTroubleshootingProcedure, jangan lupa pilih untuk versi 12.04

Catatan:
Ketika dalam tahap unduh saya kehabisan quota bandwidth, sehingga proses unduh macet di tengah jalan, dan proses instalasi tidak sempurna. Meski begitu, ternyata suara keluar saat jack speaker dicolok ke speaker booster. Untuk saya solusi ini sudah cukup. :-)

Solusi instalasi MySQL Workbench,

Masalah ada pada tidak tersedianya library yang sudah tidak disediakan untuk versi 12.04 ini: libmysqlclient16 dan libzip1

Library tersebut tersedia untuk versi 11.10 Oneiric, untuk itu ambil saja masing-masing libmysqlclient16 disini http://packages.ubuntu.com/oneiric/libmysqlclient16 dan libzip1 disini http://packages.ubuntu.com/oneiric/libzip1 sesuai masing-masing arsitektur mesin komputer Anda, lalu instal.

$ sudo dpkg -i *.deb


Setelah itu, install masing-masing library berikutnya:

$ sudo apt-get install python-paramiko python-pysqlite2 libctemplate0 libgtkmm-2.4-1c2a


Unduh MySQL Workbench untuk Ubuntu versi 11.04, lalu install dengan dpkg.

Jika semua berhasil jalan dengan baik, saya ucapkan selamat Anda layak jadi Linuxer! :-D

Selasa, September 06, 2011

Tutorial Menjalankan XAMPP Setiap Kali Booting pada Ubuntu GNU/Linux

Masih melanjutkan pertanyaan dari email yang belum terjawab, berikut tutorial sederhana menjalankan XAMPP setiap kali booting di Ubuntu 11.04 Natty Narwhal yang baru diinstalasi.

Sebelumnya saya pastikan komputer saya belum berisi web server Apache, buka terminal dan ketik:
:~$ sudo service ap //tekan tab sampai muncul nama2 service
apparmor apport

Tak ada apache2, dengan demikian belum ada web server Apache yang aktif yang dapat mengganggu uji coba ini.

Untuk instalasi ada 4 langkah seperti petunjuk dari situsnya:
  1. Download 
  2. Installation 
  3. Start 
  4. Test 
Installation

Gunakan terminal untuk instalasi, masuk dimana file unduhan berada dan ketik untuk sekaligus membuat direktori /opt:
:~$ sudo tar xvfz xampp-linux-1.7.4.tar.gz -C /opt
 
Start
Kemudian jalankan:
:~$ sudo /opt/lampp/lampp start
Starting XAMPP 1.7.4...
XAMPP: Starting Apache with SSL (and PHP5)...
XAMPP: Starting MySQL...
XAMPP: Starting ProFTPD...
XAMPP for Linux started.
 
Test 
Untuk lihat status apakah XAMPP dalam kondisi running atau tidak, ketik ini:
:~$ sudo /opt/lampp/lampp status 
Version: XAMPP for Linux 1.7.4 
Apache is running. 
MySQL is running. 
ProFTPD is running. 

Bisa juga buka browser dan akses http://localhost

Nah, sampai di sini shutdown dan booting lagi, lalu cek statusnya:
:~$ sudo /opt/lampp/lampp status 
Version: XAMPP for Linux 1.7.4 
Apache is not running. 
MySQL is not running. 
ProFTPD is not running. 


is not running, berarti nggak jalan. Untuk menjalankan setiapkali boot-up di Ubuntu ada 2 cara, cara tradisional atau cara Upstart.

Cara Tradisional

Ingat runlevel? Sebuah runlevel adalah sebuah kondisi operasi yang telah ditetapkan pada sistem operasi mirip Unix. Sederhananya, sebuah 'runlevel' menentukan program mana yang dijalankan pada saat startup sistem. Sebagian besar berurusan dengan sistem startup.

Runlevel Linux secara umum diberi nomor 0 sampai 6. Runlevel berhenti di nomor enam untuk alasan praktis dan historis, tetapi bisa memiliki tingkatan lebih jika diinginkan. Di Ubuntu 6.10 (Edgy Eft) dan versi berikutnya letak nomor level ini ada di direktori "/etc/rc{runlevel}.d/".

Langsung saja, agar XAMPP jalan setiap kali booting, maka dengan cara tradisional buka terminal dan ketik:
:~$ sudo nano /etc/rc.local

Lalu sisipkan skrip ini sebelum 'exit 0' dan simpan:
sudo /opt/lampp/lampp start

Booting lagi dan cek status lagi, voila! :-)

Nah, skrip yang ada rc.local ini akan diseksekusi di semua runlevel (/etc/rc1.d, /etc/rc2.d dst...)

Cara Upstart

Mulai Ubuntu 6.10 (Edgy Eft) dan versi berikutnya menggunakan Upstart sebagai pengganti proses init-tradisional, tetapi Ubuntu masih menyediakan skrip init-tradisional dan SysV-rc Upstart yang cocok digunakan untuk memulai service.

Semua “service” yang dipanggil terletak di direktori “/etc/init.d/”, di contoh akan dikupas membuat service xampp

Buka terminal dan ketik:
:~$ sudo nano /etc/init.d/xampp

lalu sisipkan skrip ini dan simpan:
sudo /opt/lampp/lampp start

buat file eksekusi:
:~$ sudo chmod +x /etc/init.d/xampp

kemudian update rc.d
:~$ sudo update-rc.d xampp defaults

Booting lagi dan cek status lagi, voila! :-)

Semoga bermanfaat.
Referensi:
[1] RcLocalHowto
[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Runlevel
[3] Debian and Ubuntu Linux Run Levels
[4] UbuntuBootupHowto
[5] InitScriptList
[6] http://en.wikipedia.org/wiki/Init
[7] An introduction to run-levels
[8] http://en.wikipedia.org/wiki/Upstart 
[9] http://wiki.linuxquestions.org/wiki/Run_Levels

Minggu, September 04, 2011

Server Web Sekolah: Pilih XAMPP atau LAMP?

Ada pertanyaan ke saya melalui email seputar membuat server web di Linux. Pertanyaannya agak panjang dan rinci, berikut saya ringkas dalam sebuah kasus kemudian diikuti pembahasannya.  

Kasus 

Saya akan membuat Sistem Informasi Sekolah berbasis web. Sistem informasi disediakan dan diakses user (guru dan siswa) kurang lebih 200 orang dalam jaringan lokal, ke depan diharapkan bisa diakses lewat jaringan Internet. Pihak sekolah meminta saya menyediakan server yang menggunakan Sistem Operasi Ubuntu Linux, karena user ada yang menggunakan Ubuntu. Setahu saya, untuk membuat server web, banyak teman-teman saya menggunakan Xampp, tapi ada saran untuk menggunakan Lamp. Bagaimana saya harus memilih, Xampp atau Lamp?

Pembahasan

Xampp merupakan salah satu dari AMP, yaitu sekumpulan komponen atau subsistem perangkat lunak bebas dan open source yang diperlukan untuk memberikan solusi fungsional server web (dan software pendukungnya) secara penuh. Seperti yang disebutkan dalam situsnya, latar belakang munculnya Xampp karena beberapa tahun lalu (mungkin sekitar 10 tahun lalu), banyak orang kesulitan menginstalasi web server Apache sepaket dengan software MySQL, PHP, dan Perl. Ide Xampp adalah beberapa software tersebut dibundel sehingga dapat disimpan dan dijalankan dalam drive kecil (portable), serta dapat digunakan di lintas sistem operasi (cross-platform). Dengan demikian, kesulitan instalasi dapat diatasi dengan hanya mengunduhnya, mengesktrak, lalu jalankan.

Karena kemudahan dan portabilitasnya, Xampp sering digunakan developer aplikasi untuk mengembangkan aplikasi atau sistem informasi berbasis web tanpa perlu direpotkan dengan instalasi server web dan perangkat lunak pendukungnya.

Saat ini, penggunaan Xampp dimaksudkan sebagai alat untuk mengembangkan/membangun aplikasi lalu mengujinya, tanpa perlu terhubung ke jaringan Internet. Untuk alasan kemudahan penggunaan, beberapa fitur keamanannya dinonaktifkan. Namun dalam prakteknya, adakalanya Xampp digunakan untuk melayani halaman web pada World Wide Web atau Internet. Jika demikian, maka diperlukan tools khusus untuk alasan keamanan.

Sementara itu, LAMP juga salah satu dari AMP, latar belakang kemunculannya kurang lebih juga sama dengan Xampp, yaitu mempermudah instalasi. So, bila dulu sulit, saat ini menjadi lebih mudah. Hanya dengan beberapa baris perintah atau menggunakan packet-manager misalnya, maka server web (dan beberapa fiturnya) sudah bisa digunakan. LAMP didesain khusus berjalan di lingkungan Linux. Dengan ubuntu-server misalnya, LAMP sudah tersedia, saat menginstalasi sistem operasi cukup pilih LAMP hanya dari sekeping CD ubuntu-server tersebut, tanpa perlu mengunduhnya dari repository.

Keuntungan utama LAMP adalah kemudahan konfigurasi berbasis teks, setting apapun dapat dikonfigurasi dan dimodifikasi sampai detil terkecil menyesuaikan penggunaan dan kebutuhan. LAMP berjalan pada berbagai platform perangkat keras, sehingga pengembang memiliki fleksibilitas penuh mengambil keputusan dalam deployment dan desain infrastruktur server. Manfaat desain arsitektur ini akan memberikan kombinasi optimal dalam efisiensi pemanfaatan sumber daya, ketersediaan yang tinggi, serba guna, serta memiliki skalabilitas tinggi. Dengan skalabilitas tinggi ini, sistem akan lebih mudah ditingkatkan di masa yang akan datang.

Sampai di sini, pilihan sudah bisa ditentukan sendiri, kan? Bagaimana menurut Anda? :-)

Semoga bermanfaat.


Penyangkalan: Pembahasan hanya seputar definisi sederhana yang dikutip dari referensi dan tidak membahas perbandingan teknis antara XAMPP (for Linux) dengan LAMP. Referensi atau rujukan artikel langsung pada taut terkait.

Selasa, Juni 29, 2010

Tutorial: PHP dan PostgreSQL

Pada tutorial sebelumnya telah dibuat user dan database 'foo' di PostgreSQL, langkah berikut yaitu membuat tabel 'orang' yang berisi identitas seperti id, nama, tempat lahir dan tanggal lahir.


Login ke database foo:

$ psql foo
Welcome to psql 8.3.10, the PostgreSQL interactive terminal.
Type: \copyright for distribution terms
\h for help with SQL commands
\? for help with psql commands
\g or terminate with semicolon to execute query
\q to quit

foo=#


Buat tabel orang:

foo=# create table orang (
foo(# id varchar(10),
foo(# nama varchar(30),
foo(# tplahir varchar(30),
foo(# tglahir date,
foo(# primary key(id));
NOTICE: CREATE TABLE / PRIMARY KEY will create implicit index "orang_pkey" for table "orang"
CREATE TABLE
foo=#


Cek deskripsi tabel:

foo=# \d orang
Table "public.orang"
Column | Type | Modifiers
---------+-----------------------+-----------
id | character varying(10) | not null
nama | character varying(30) |
tplahir | character varying(30) |
tglahir | date |
Indexes:
"orang_pkey" PRIMARY KEY, btree (id)

foo=#


Isikan tabel orang dengan beberapa data:

foo=# insert into orang values ('1001', 'Sukimo bin Sukijo', 'Bandung', '1990-10-11') , ('1002', 'Budi', 'Lamongan', '1991-02-24'), ('1003', 'Pepi', 'Jakarta', '1992-03-09');
INSERT 0 3


Nah, terlihat 3 record sudah berhasil ditambahkan, coba lihat isi tabelnya:

foo=# select * from orang;
id | nama | tplahir | tglahir
------+-------------------+----------+------------
1001 | Sukimo bin Sukijo | Bandung | 1990-10-11
1002 | Budi | Lamongan | 1991-02-24
1003 | Pepi | Jakarta | 1992-03-09
(3 rows)


Sampai di sini pembuatan database dan satu tabel selesai. Berikutnya adalah membuat kode PHP untuk dihubungkan ke database 'foo' di PostgreSQL dan memanggil tabel 'orang' yang sudah dibuat sebelumnya. Untuk membuat kode PHP biasanya membutuhkan tools atau perangkat lunak yang khusus dibuat untuk menulis kode-kode PHP, biasanya cukup menggunakan teks editor sepeti notepad di Windows, atau cukup menggunakan nano atau vim di Unix/Linux. Akan tetapi, karena banyaknya kode yang hendak ditulis, programmer membutuhkan tools yang tidak hanya sekedar menulis saja, tetapi tools tersebut bisa menyimpan variabel-variabel yang telah ditulis dan memanggilnya kembali secara mudah, mengoreksi kesalahan penulisan kode program (debug), menggunakan library, framework, hingga mengeksekusinya dengan cepat dan bisa ditampilkan di browser. Untuk itu dibutuhkan IDE atau Integrated Development Environment yang khusus untuk PHP, biasa disebut PHP IDE. Nah, salah dua contoh yang termasuk PHP IDE ini adalah Netbeans dan Eclipse, lebih lengkap tentang PHP IDE bisa dilihat di Wikipedia.

Cara penggunaan IDE tidak dibahas di sini, tapi cukup kode PHP dasarnya saja, mari dimulai. Buka editor teks atau PHP IDE, lalu buat kode PHP berikut:


**********************************

>?
// koneksi database;
$foo_host = 'localhost';
$foo_user = 'foo';
$foo_pasword = 'rahasia'; // password sesuaikan
$foo_database = 'foo';

// buat variabel koneksi ;
$konek_foo = pg_connect("host=$foo_host dbname=$foo_database user=$foo_user password=$foo_pasword") or die ('Gagal konek foo : ' .pg_errormessage());

// buat SQL
$sql_db = "SELECT * FROM orang";
// eksekusi SQL dengan query;
$query_db = pg_query($sql_db) or die ('Gagal query : ' .pg_errormessage());
// catat record tabel;
$rows = pg_num_rows($query_db);
// buat list berdasarkan jumlah record;
$no = 1;
for ($i=0; $i<$rows; $i++) { 

$row = pg_fetch_row($query_db, $i); 
echo $no++ . " - "; 
echo $row[0]. " - "; 
echo $row[1]. " - "; 
echo $row[2]. " - "; 
echo $row[3]. ".";

}

// tutup koneksi bila sudah tidak digunakan;
pg_close($konek_foo);

?>

***********************************


Simpan dengan nama tbfoo.php, panggil di browser, setidaknya hasilnya seperti ini:



Sampai di sini dulu.

Minggu, Juni 20, 2010

Tips and Trick: Mengambil Foto Asli yang Lekat pada Berkas Dokumen MS Word

Suatu ketika saya menerima email dari seorang kolega yang menyebutkan bahwa beliau telah mengirimkan beberapa gambar foto. Setelah membuka email, saya tidak menemukan foto yang dimaksud selain berkas (file) dokumen yang berekstensi doc (berkas dengan format standar MS Word) yang berukuran besar. Segera saya unduh berkas tersebut dan saya buka dengan OpenOffice Writer. Sayang sekali, setelah terbuka foto yang ada di dalamnya terlihat seperti 'penyok', bisa jadi itu disebabkan adanya usaha me-resize foto agar tampak kecil sesuai ukuran halaman dokumen Microsoft Word. Jika foto hanya di-capture (take-screenshot) atau di-copy paste dan di-edit dengan software malah bisa hancur hasilnya, belum lagi mengedit itu butuh waktu. Setelah dipikir-pikir akhirnya saya ingat cara mengambil foto itu persis aslinya, bukan sekedar persis atau mirip, tapi asli, tentu lengkap dengan metadata yang berisi data atau informasi foto tersebut, halah... ;-)

Mau tahu caranya?

Bongkar berkas itu. Caranya, buka berkas doc tersebut dengan OpenOffice Writer, kemudian Save-As dengan format .odt (jenis ekstensi dari format dokumen OpenOffice Writer), lalu simpan. Berikutnya buka Nautilus (seperti Windows Expoler) menuju direktori dimana berkas tersebut disimpan, arahkan pointer pada berkas .odt tersebut, klik kanan mouse pointer, dan pilih Extract. Selanjutnya dalam extract berkas odt itu foto bisa ditemukan di direktori Pictures. Selesai.

Menggunakan OpenSource itu terbukti menguntungkan, kan ya?! ;-)

Semoga bermanfaat.

Kamis, Juni 10, 2010

Konversi MDB ke Format CSV Menggunakan mdbtools di Linux

Bagi sebagian orang atau organisasi, mungkin sudah banyak langkah-langkah atau cara migrasi dari perangkat lunak Proprietary ke Open Source. Salah satu caranya adalah konversi database dari format MDB milik Microsoft Access ke format CSV, untuk kemudian diimpor ke DBMS Open Source seperti SQLite, MySQL atau PostgreSQL. Walaupun cara ini kelihatan 'basi' karena berdasarkan sumber sudah ada sekitar 4 tahunan, tapi lumayan bagus untuk mengingat lagi teknik-teknik pengelolaan data, maklum, kadang sering lupa... :-)

Bagi pengguna Ubuntu Linux (9.04), bersyukur dan berbahagialah, karena di repository standard mdbtools mudah ditemukan dan diinstall, mari bekerja di terminal, ketik:
$ sudo apt-get install mdbtools
Setelah sukses menginstal, masuk ke direktori dimana file .mdb ada untuk diimpor, lihat daftar tabelnya:

$ mdb-tables database.mdb

Lebih lengkap perintah show tables bisa dilihat di manual:

$ man mdb-tables

Export ke format CSV

$ mdb-export nama_file.mdb nama_table > nama_file.csv

Sumber bacaan:
Converting Microsoft Access MDB Into CSV Or MySQL In Linux

Catatan:
- cara ini lebih cocok untuk organisasi kecil atau UKM (Usaha Kecil Menengah).
- hati-hati untuk tabel dengan tipe data OLE Object dari Access yang digunakan untuk menyimpan image/gambar/foto, karena sifat CSV lebih cocok ke data text, sehingga dikhawatirkan data rusak.
- kelebihan mdbtools ini bisa mengambil data walaupun file .mdb diproteksi password dari Access, jadi hati-hatilah.
- penulis tidak bertanggung jawab terhadap kehilangan/kerusakan/kesalahan penggunaan cara ini, segala resiko ditanggung sendiri.

Senin, September 14, 2009

Simulasi Rukyatul Hilal 1 Syawal 1430 H

Seperti yang banyak diketahui, di Indonesia menjelang 2 hari raya Islam, Idul Fitri dan Idul Adha, pemerintah sibuk menggelar sidang itsbat dengan ahli hisab dan rukyat di Departemen Agama Jakarta, sehingga sebagian orang sering mendengar istilah rukyatul hilal atau mengamati bulan secara langsung. Hal ini karena berdasarkan perintah Rosululloh sebagai berikut: “Apabila kamu sekalian melihat hilal (bulan awal tanggal Ramadhan) maka berpuasalah (pada tanggal 1 Ramadhan), apabila kamu sekalian melihat hilal (bulan awal tanggal Syawal) maka berbukalah, dan apabila kamu sekalian melihat bulan tertutup (tak terlihat/terhalang), maka hitunglah 30 hari!” HR Muslim.

Nah, berikut hasil simulasi saya dengan menggunakan Stellarium pada Ubuntu 9.04 Jaunty Jackalope, dengan patokan: akan merukyat 1 Syawal 1430H di Balikpapan, dalam 1 bulan Hijriah ada yang terdiri atas 29 hari atau 30 hari. Awal 1 Ramadhan 1430 H jatuh pada tanggal 22 Agustus 2009, maka mulai merukyat pada tanggal 29 Ramadhan atau tanggal 19 September 2009 menjelang matahari terbenam. Hasilnya, berdasarkan simulasi ini hilal terlihat saat matahari terbenam, atau awal 1 Syawal jatuh pada tanggal 20 September 2009.



Simulasi ini tidak ada hubungannya dengan keterangan Menteri Agama Dr. KH Muhammad Maftuh Basyuni hari Senin ini, 14/09, tapi ini hanyalah simulasi dan hanya ilmu pengetahuan yang saya coba-coba saja. :-)

Semoga bermanfaat.

Kamis, Mei 21, 2009

CD Ubuntu 9.04, Backup dan Sebarkan



Sekitar 2 minggu yang lalu 5 CD paket Ubuntu 9.04 atau Jaunty Jackalope edisi Desktop yang saya pesan dari shipit Canonical sudah saya terima, termasuk paket-paket sebelumnya, untuk itu saya ucapkan terima kasih pada Mark Shutterlworth melalui Canonical atas kirimannya. Jumlah CD sengaja saya tidak mengambil banyak, bahkan versi sebelumnya saya hanya memesan 1 buah saja. Tujuannya untuk membantu hemat Canonical, halah, padahal ongkos kirim mungkin sama dengan jumlah CD yang lebih banyak ya... :-)

Saya sendiri malah hingga saat saya tulis ini belum sempat menjajal Jaunty, bahkan Intrepid Ibex pun juga belum, maklum, masih nyaman dengan Hardy Heron yang -- rasanya -- lebih stabil untuk development.

Bagi yang sudah menerima namun dalam jumlah sedikit, sedangkan jumlah peminat cukup banyak, apalagi bandwidth mahal tak mampu download file iso, tak perlu khawatir untuk berbagi merasakan manisnya Ubuntu bersama orang-orang terdekat, tetangga kiri kanan, atau bahkan mau dijual pun boleh-boleh saja asal ada yang mau beli. Gunakan disk-dump untuk meng-iso-kan CD dengan perintah:
$ sudo dd if=/dev/cdrom of=/home/path/anda/cdimage.iso

Semoga bermanfaat.

Jumat, Mei 01, 2009

Facebook Desktop for AIR: Boros Memori dan Bikin Cepat Panas?


Sudah beberapa kali kejadian laptop tiba-tiba mati shutdown sendiri tanpa ada pemberitahuan, atau minimal notifikasi lebih dulu dari sistem memberitahukan bahwa sistem operasi akan shutdown 5 menit lagi. Dengan begitu saya bisa siap-siap mematikan sendiri secara prosedur, tapi anehnya notifikasi itu tidak ada. Selidik punya selidik, dari informasi sistem saat proses shutdown memberitahukan CPU kepanasan, nah loh!

Memang, dari letak laptop di atas meja, di sudut ruangan yang sirkulasi udaranya kurang tepat, ditambah lapisan meja beralaskan kertas koran menjadi kurang baik untuk pendingin dan sirkulasi udara di bawah laptop, plus hawa udara yang juga panas. Selain itu, proses sistem bekerja ternyata juga mempengaruhi, misalnya, saya coba bandingkan dua aktivitas yang berbeda. Pertama, mengetik saja menggunakan OpenOffice, hasilnya tidak atau jarang menyebabkan laptop tiba-tiba mati. Kedua, berinternet menggunakan Firefox dan Facebook Desktop for AIR. Yang terakhir ini yang paling dominan bikin panas dan shutdown mendadak. Dari System Monitor terlihat, woo... pantas saja... nomor satu penggunaan memori paling tinggi adalah Facebook Desktop for AIR, CPU usage malah 30% lebih dan makin lama makin naik! Herannya, mau di-uninstall kok sayang... hehehe...

Source Donwload: Facebook Desktop for AIR, Adobe AIR

Minggu, Oktober 05, 2008

FSCK is File System ChecK

Sekedar dokumentasi saya saja, pasalnya, tempo hari saya mendapati file fsck0000.rec, fsck0001.rec, dst, di partisi FAT32 yang saya gunakan sebagai data-storage. Tadinya saya kira virus yang menyerang Linux Ubuntu, tapi ternyata file itu adalah hasil auto-renaming oleh fsck saat booting yang ke 25 kalinya, kemudian fsck -- dalam hal ini dosfsck -- menemukan beberapa file yang tidak konsisten atau berada pada blok yang bermasalah akibat crash atau power-loss, dan mengubah file-file yang bermasalah tersebut menjadi file fsck0000.rec di atas sesuai jumlahnya. Pada intinya, file tersebut diselamatkan dari kerusakan dan tetap bisa digunakan, walaupun ekstensinya berbeda (.rec).

Fsck itu sendiri terkenal di lingkungan Unix Command, kalau di Windows yang biasa dikenal adalah Defragmentation, Scandisk, atau Chkdsk -- yang sering menghasilkan file chk0000 dan berukuran besar menyita ruang hardisk. Fsck biasa digunakan untuk file system DOS seperti FAT. Perintah fsck bisa dilihat di manualnya, contohnya:

$ sudo fsck -v -n -t vfat /dev/sda1

Yang terpenting adalah tidak melakukan fsck pada file system ext3 dalam kondisi mounted, karena berpotensi mengakibatkan data corruption/loss, lagipula ext3 tak perlu di-fsck atau didefrag. Setting fsck berada di fstab, sedang untuk mengubah-ubah aturan yang lebih luas bisa dicoba program kecil AutoFSCK.

Minggu, Mei 04, 2008

Migrasi Linux dan VirtualBox





Beberapa waktu lalu, seorang rekan meminta sumbang saran pada saya mengenai rencana beliau memigrasikan semua perangkat lunak yang berbasis proprietary software ke open source software, lebih tepatnya dari Windows ke Linux, yang akan diterapkan di seluruh divisi tempat kerjanya. Jujur saya tidak mempunyai pengalaman atau pengetahuan memadai perihal migrasi memigrasikan dalam skala perusahaan besar. Sehingga jawaban saya pun cenderung subyektif menurut saya, tentu tidak memuaskan. Secara pribadi, saya sendiri lebih condong melihat hal itu atas dasar kebutuhan dan kesadaran (gayane sok butuh sok sadaaar... :P). Sedangkan bila sudah menyangkut banyak orang, maka saya berpendapat hal ini harus dipaksa dengan aturan. Analoginya seperti merubah kebiasaan orang dari kebiasaan sehari-harinya yang merokok, berubah untuk tidak merokok, atau beralih ke permen. Kalau bukan kesadaran bahwa rokok itu merugikan (mudhorot) dan bukan kebutuhan akan kesehatan, sulit merubahnya bukan? Ada yang tak setuju dengan pendapat saya? Itu pasti ada. It's your choice.

Untuk itulah dibuat aturan yang 'memaksa' untuk merubah kebiasaan 'asing' itu jadi kebiasaan yang biasa dikerjakan. Misalnya menjadikan semua perangkat lunaknya menggunakan Linux tanpa dual boot. Sehingga user mau tak mau memilih Linux sebagai basis kerjanya, tidak ada pilihan ke Windows. Apakah dengan begitu sudah merasa aman user tidak kembali ke kebiasaan lama? Tentu saja tidak, Windows pun masih bisa dijalankan juga, misalnya dengan menggunakan Virtual Machine seperti VMWare atau VirtualBox. Kendati demikian, setidaknya penggunaan Virtual Machine ini mempersempit ruang gerak kebiasaan tadi, minimal user masih bisa merasakan 'kangen'nya pada Windows, tapi tidak sadar di lingkungan Linux hehehe...

Lalu, apa nilai lebihnya migrasi ke Linux? Apakah dengan menggunakannya akan mempengaruhi produktifitas kerja menjadi lebih effisien dan effektif? Apakah pengeluaran untuk kebutuhan teknologi informasi lebih hemat atau makin boros? Bagaimana dengan dukungan dan kemudahan layanan perbaikan dan pengembangan perangkat lunaknya? Mungkinkah bisa diperbaiki dan dikembangkan sendiri? Bisakah dijalankan pada lintas platform? Lebih amankah? Murahkah? Bagaimana dengan virus? Perlukah membeli lisensi seperti kebiasaan lama? Bagaimana dengan polisi? Lho kok?

Hihihi... jadi banyak pertanyaan nih, gara-gara banyak pertanyaan malah nggak jadi nanti, sudahlah, migrasi saja nanti kan tahu sendiri... :D

Selasa, April 29, 2008

tasksel



Entahlah, awalnya saya hanya mau instalasi Netbeans 6 di Ubuntu 7.10 mengambil dari repository Ubuntu 8.04, ternyata space partisi sudah tak cukup, sehingga OpenJDK tak berhasil di-install. Solusinya harus resize partisi, cukup gawat, jadi hati-hati dan data di-backup dulu. Maka untuk partisi saya gunakan bantuan distro SystemRescueCD. Karena kapasitas hardisk hanya 40Gb yang terbagi 3 partisi, maka salah satu partisi harus 'rela' ditendang. Dan... pilihan jatuh pada space Windows XP yang banyak nganggur... hiks.

Setelah upgrade selesai, ternyata masih perlu tambal sulam sana-sini. Agar proses tambal lebih singkat, mudah, dan pas, maka tasksel bawaan Ubuntu 8.04 bisa langsung dicoba, sebelumnya arahkan ke repository utama (Main). Tapi, ternyata saya lebih suka konfigurasi sendiri, pingin bebas saja...

Jumat, April 18, 2008

Speed Test Results History

Bila tetap tak sabar menunggu, perlu persiapan unduh file iso Hardy Heron, coba speed test Indosat 3G, modem N71, kabel USB, set baud 921600, ping target: Jakarta, Adelaide, Tokyo, dan New York.
Hasilnya?









Berani coba?

Pesan Ubuntu Hardy Heron Sekarang!



Apakah Anda termasuk orang yang gelisah ingin segera menjajal Ubuntu 8.04 LTS a.k.a Hardy Heron? Segera pesan CD-nya di Shipit, sekarang!

Sabtu, Maret 15, 2008

Seorang Ubuntu Zealot yang Mac Bigot


Setelah mampir di authorized Mac di Mega Bazaar Computer, Yogyakarta, dan sempat incip-incip rasanya Leopard, walah... nggak biasa tangan ini megang mouse khas Mac OS. Tekan tombol tengah, eh... malah zooming, weh... jadi kelihatan seperti orang kemlinthi yang o'on! Halah!

Masih ada keinginan mejeng minimal dengan MacBookAir gitu, tapi entah kapan ya, lagian apa itu penting? Ah... sementara modifikasi Ubuntu ini saja sudah cukup, Ubuntu Zealot yang kepingin Mac Bigot hahaha...

Senin, Januari 21, 2008

KDE 4



KDE 4 on my Ubuntu Gutsy Gibbon. The first version (4.0.0) of this series was released on 11 January 2008

Senin, November 05, 2007

Memasang Fusion Icon Tray pada Ubuntu Gutsy Gibbon


Saat saya pertama kali menginstalasi Gutsy Gibbon pada Acer Travelmate 2428, compiz fusion langsung aktif, namun Compiz Config Manager harus diinstall sendiri bila ingin mengatur konfigurasi Compiz Fusion agar berjalan sesuai yang diharapkan. Setelah Compiz Config Manager terinstall dan melakukan konfigurasi sana-sini, rasanya masih ada yang kurang, ini jelas terlihat apabila sedang menjalankan Netbeans IDE 5.5.1 yang mengalami blind, sehingga tampilan hanya berwarna putih kosong tanpa menu atau fungsi lainnya. Hal ini karena pengaruh Compiz yang ternyata tidak ramah dengan Netbeans. Maka satu-satunya cara adalah mengganti modus Compiz dengan Metacity, dengan mengetikkan pada Terminal:
    $ metacity --replace &&

Tentu saja Terminal harus dalam keadaan aktif bila menginginkan Metacity tetap bekerja, jadi masih kurang nyaman. Untuk itu agar modus Compiz maupun Metacity bisa dengan mudah dipilih, gunakan Fusion Icon Tray, yang tidak disertakan pada repository standard Gutsy Gibbon. Mudah-mudahan sudah tersedia lengkap pada masa yang akan datang.

Berikut tips instalasi Fusion Icon Tray:
  • Install build essential, masukkan Live CD Gutsy Gibbon, ketik pada Terminal:
    $ sudo apt-get install build-essential
  • Donwload fusion-icon di sini
  • Extract ke direktori home/user/
  • Ketik pada terminal:
    $ cd /home/user/fusion-icon
  • Lakukan kompilasi dan installasi
    $ make
    $ sudo make install
  • Atur sessions agar fusion-icon selalu aktif setiap kali Startup, klik System > Preferences > Sessions, dan masukkan pada Command nilai fusion-icon.
  • Reboot.

Selamat mencoba!

Dial-up Internet pada Ubuntu, N70 dan Telkomsel Flash atau 3G

Berikut adalah catatan saya yang sudah cukup lama, barangkali ada manfaatnya bagi pembaca. Koneksi Internet menggunakan Ubuntu Gutsy Gibbon, Nokia N70 sebagai modem, dan kabel data serta Telkomsel Flash. Ada dua cara dial-up yang saya gunakan yaitu dengan wvdial atau dengan KPPP, tetapi yang lebih sering adalah dengan menggunakan KPPP, it's simple.
Berikut tips menggunakan KPPP, dengan catatan Ubuntu telah terinstall KPPP:

  • Hubungkan usb kabel data N70 dengan komputer, periksa apakah device sudah dikenali atau belum, ketik Terminal:
    $ dmesg | tail
    ...
    [ 2395.704000] cdc_acm 1-1:1.8: ttyACM0: USB ACM device
    ...
  • Buka konfigurasi KPPP, pilih tab Modem, pilih New, dan set Device dengan nilai Modem device seperti point 1 di atas:

  • Kemudian masuk ke tab Account, pilih New, Create New Account, pilih tombol Manual Setup, dan pilih tab Dial, masukkan nilai seperti berikut:

  • Lakukan uji coba koneksi, buka aplikasi KPPP, pilih Connect to flash, Login ID: wap, Password: wap123, lalu kilik Connect, voila!


Sedangkan bila menggunakan wvdial, langkahnya sebagai berikut:

  • Hubungkan usb kabel data N70 dengan komputer, periksa seperti apakah device sudah dikenali atau belum, ketik pada Terminal:
    $ dmesg | tail
    ...
    [ 2395.704000] cdc_acm 1-1:1.8: ttyACM0: USB ACM device
    ...
  • Edit konfigurasi wvdial.conf menggunakan text editor, ketik:
    $ sudo nano /etc/wvdial.conf
  • Masukkan paramater sebagai berikut:
    Init1 = ATZ
    Init2 = ATQ0 V1 E1 S0=0 &C1 &D2 +FCLASS=0
    Init3 = AT+CGDCONT=1,"IP","flash"
    Modem Type = USB Modem
    Baud = 460800
    New PPPD = yes
    Modem = /dev/ttyACM0
    ISDN = 0
    Phone = *99#
    Password = ''
    Username = ''
    Stupid Mode = 1
  • Simpan, dan lakukan uji coba koneksi Internet dengan mengetikkan:
    $ wvdial

Kemudian enter, tunggu proses koneksi. Voila!

Selamat mencoba!

Sabtu, Oktober 20, 2007

Download Gutsy Gibbon dengan TelkomselFlash


Tepat rilis Ubuntu 7.10 Gutsy Gibbon, 18/10/2007, saya mengunduh .iso yang tersedia menggunakan TelkomselFlash, kartuHalo dan N70-1 sebagai modem plus kabel data. Mencoba FOSS-ID maupun si kambing sangat tanggung, karena waktu itu mungkin banyak yang berebut jalur pipa, setelah coba-coba akhirnya pilih server mirror dari Jepun. Untuk ukuran .iso 700Mb butuh waktu 8 – 10 jam, dengan rerata perpindahan berkas antara 14 kBps – 45 kBps, kurang dari itu harus berhenti agar hemat waktu dan biaya dan dilanjutkan lain waktu (Resume).
Selama proses unduh bisa juga merambah yang lain atau mengunduh program kecil. Karena saya berlangganan 40 jam sebulan dengan biaya Rp 100.000, maka biaya perjamnya adalah Rp 2.500,-. Dengan demikian, untuk 10 jam proses unduh terkena biaya Rp 25.000,- saja dengan syarat masih masa promosi ... :P

Sekarang tinggal “gojekan” bareng Gutsy Gibbon, jangan nakal ya ...

Rabu, Juli 18, 2007

LCD Projector adalah Infocus

Beberapa waktu yang lalu, saya menulis pengalaman saya menggunakan Ubuntu dan Infokus di blog ini juga dikutip teman saya di blog KPLI Balikpapan. Kemudian muncul komentar dari sana yang mengoreksi redaksional istilah yang benar kata infokus, sebenarnya sengaja saya gunakan ejaan salah pada kata Infokus yang seharusnya adalah Infocus, yang tujuannya menghindari nama yang sama dengan merk dagang dari LCD Projector tersebut, juga penggunaan kata ini sudah biasa diucapkan di kalangan masyarakat luas, hampir sama dengan penyebutan Mie Instan itu Indomie. Kemudian istilah ini muncul di thread milis id-ubuntu yang diposting seseorang. Secara berkelakar, pak Rusmanto menimpali:

    Canda iseng (tidak ada maksud promosi):

    LCD projector adalah Infocus.
    Wireless LAN adalah Wavelan.
    Pasta gigi adalah Odol.
    Motor adalah Honda.
    Sepeda gunung adalah Federal.
    Mie adalah Indomie.
    Telepon kabel adalah Telkom.
    Listrik adalah PLN.
    Minyak adalah Pertamina (nyaak..nyaak!)
    Komputer adalah IBM-PC (dulu), sekarang PC saja.
    Laptop adalah Asus (belum pasti, sih).
    Program komputer adalah Linux (sekarang), dulunya Windows.
    Linux adalah Ubuntu (sekarang), ke depannya BlankOn...hehehe.

    Rus

Hahaha ...