Minggu, November 22, 2009

10 Alasan Eee PC 701 menggunakan Ubuntu 9.04 Desktop

ASUS Eee PC 701 4G sempat populer medio 2007 lalu, dan kini 2 tahun lebih mungkin sudah dilupakan banyak orang. Sebaliknya, saya malah beranggapan inilah OLPC XO Laptop unik yang ada saat ini, murah, mungil, ringan, bandel, mobile, dan cocok banget untuk belajar anak-anak sekolah dasar. Ya, itulah alasan pertama saya ingin memilikinya, selain untuk hiburan secara mobile seperti membaca, menulis, menyelesaikan pekerjaan ringan, atau sekedar bersantai bermain social-network. :-)

Saya mendapatkan baru dalam kondisi preinstalled Windows XP OEM Licensed dan tak ada pilihan lain, sehingga harga lebih mahal jika dibanding dalam kondisi tanpa OS. Perkirakan saya harga tanpa Windows XP sekitar $100 US, jauh turun dari harga tahun 2007 lalu sekitar $399 US. Tapi sayang, konon, produsen membatasi distribusi Eee PC 7” ini di beberapa wilayah negara, sehingga untuk mendapatkannya secara bebas sekarang ini agak sulit.

Nah, omong-omong bila ingin memasang sistem operasi Linux, maka pilihan saya jatuh pada distro Ubuntu 9.04 Jaunty Jackalope versi Desktop Standard daripada versi Netbook Remix. Berikut alasannya:
  • Perangkat Lunak Bebas dan Open Source (PLBOS)
    PLBOS dipilih karena terbukti cocok, murah, nyaman, dan lebih bebas tanpa ada kekawatiran yang berlebihan berkenaan masalah lisensi, ketergantungan, dan vulnerabilitas sistem. Meski demikian, OS lain yang sudah ada tetap dibiarkan di tempatnya, karena sudah terbeli dan untuk pilihan lain yang relevan dengan kebutuhan.
  • Telah teruji luas.
    Sejak rilis bulan April lalu, sudah banyak catatan komunitas yang mengulas keunggulan Ubuntu 9.04 berjalan baik di Eee PC 701, yang menunjukkan hardware dikenali dengan baik oleh sistem ~$ hwinfo.
  • Ketersediaan Repository.
    Kebetulan saya sudah memiliki DVD repository, sehingga bila memerlukan paket-paket besar bisa secara offline, sedangkan untuk keperluan support dan update paket kecil cukup akses Internet murah sesuai infrastruktur provider broadband di Indonesia. DVD repository dibutuhkan untuk menghindari ketergantungan dan pemborosan Internet.
  • Cocok dengan layar 7 inchi.
    Meski resolusi layar terbatas hingga mode 800x480, tapi tampilan tetap bisa diatur agar jendela dialog dapat memperlihatkan tombolnya, misalnya dengan menonaktifkan Constraint Y pada compiz-config-setting-manager, mengecilkan font-size, auto-hide panel dan mengatur global-menu ala MacOS. Mungkin bisa juga menkonfigurasi ulang xorg.conf atau xrandr, tapi belum sempat berhasil.
  • Dapat menjalankan perangkat lunak sesuai kebutuhan dasar.
    Kebutuhan yang dimaksud disini adalah kebutuhan belajar anak yang memerlukan perangkat lunak ringan untuk membantu merangsang imajinasinya dengan harapan muncul ide kreatif sehingga tumbuh inovasi, apapun hasilnya. Sesuai usianya di sekolah dasar tingkat pertama, perangkat lunak dasar itu seperti Gcompris, Tuxpaint, Childsplay, Inkscape, Gimp, OpenOffice (for Kids) yang digunakan untuk menerapkan hasil belajar di sekolah (menulis, berhitung, bahasa Inggris, atau menggambar) atau mengaji (mengenal dan menulis huruf Arab).
  • Kurang familiar menggunakan Netbook Remix.
    Beberapa aplikasi tidak berfungsi sebagaimana mestinya di Netbook Remix, jendela dialog terasa kaku, compiz tidak berjalan baik, sulit mengatur tampilan, anak-anak tidak terbiasa menggunakan desktop berbeda dari yang sebelumnya digunakan orangtuanya, dsb.
  • Mendukung Mobilitas.
    Perpaduan antara Ubuntu 9.04 dan XO Laptop ini sangat menarik, ringkas, dan ringan seperti membawa sebuah buku atau e-book reader. Meski begitu, hati-hati membawanya di tempat umum atau saat berkendaraan di mobil, pesawat, kapal laut, bersantai di pinggir pantai, atau dimana saja. Hal itu karena bentuknya yang kecil dan asyik, orang sering lupa menyimpannya kembali ketika selesai menggunakannya.
  • Menanti Ubuntu 10.4 LTS Lucid Lynx.
    Dari beberapa rilis yang pernah saya coba, sepertinya rilis Long Time Support (LTS) Ubuntu memiliki stabilitas lebih baik untuk produktifitas. Maaf, pendapat ini tanpa referensi dan subyektif menurut saya hanya berdasar pengalaman menggunakan cukup lama Ubuntu Hardy Heron sebagai primary OS. Apalagi aktivitas install sistem operasi baru cukup menyita waktu. Meski demikian, saat ini sepertinya repository main Ubuntu 9.04 sudah tidak menyediakan ubuntu-restricted-extras atau gstreamer terpisah yang harus diinstalasi agar bisa memutar dan mendengarkan musik MP3 dan format restricted proprietary lainnya. Cukup instalasi Audacious dan VLC Player, maka paket ketergantungan (dependency packet) restricted tadi akan mengikutinya, sehingga lebih mudah dan ringkas. CMIIW.
  • Battery tua.
    XO Laptop ini sepertinya stok lama, karena diidentifikasi battery tua oleh sistem, sehingga umur battery aktif tanpa listrik sekitar 1 jam untuk aktivitas Internet, sedang tanpa Internet sekitar kurang dari 1,5 jam saja, cukup singkat.
  • Hard-Disk SSD 4 GB.
    Cukup kecil, tapi saya tambahkan 8 GB Removable Disk untuk data dan boot Ubuntu 9.04, syukurlah bisa booting dan running normal, cukup cepat. Berkas penting dan besar disimpan di tempat lain atau online storage, ringkas bukan?


Demikian alasannya, bagaimana dengan alasan Anda?