Saya tidak habis pikir rasanya, benar-benar tidak menduga epaper.kompas.com begitu cepat berubah. Sebagai salah satu pengguna Linux, saya menggunakan epaper.kompas.com untuk koleksi kliping artikel dengan cara take-screenshot, baik artikel berita maupun iklan inspiratif yang menarik saya. Saya tertarik situs tersebut dan pernah saya posting di blog saya, dan saya biasa suka mengoleksi kliping digital, seperti yang pernah saya tempel juga di blog saya ini. Saya akui, cukup berat untuk mengakses epaper Kompas dengan bandwidth minimalis IM2 milik Indosat yang saya langgan ini. Saya tidak tahu mengapa IM2 sangat minimalis, apakah karena harganya murah hanya 100 ribu perbulan unlimited, ataukah karena memang kualitasnya hanya sampai disitu saja? Saya tetap tidak tahu alasan pastinya, dan saya harap ini bukan pencemaran nama tidak baik IM2. Meski demikian, bila suatu saat bandwidth mencukupi dan ada kesempatan membaca, saya dapat mengakses epaper untuk sekedar membaca koran digital itu. Ini mempermudah saya dengan segala keterbatasan untuk mendokumentasikan berita pilihan saya. Namun bila bandwidth mengecil, saya hanya puas mengakses situs berita yang saya langgan di Google Reader melalui perangkat genggam sederhana saya.
Dengan adanya perubahan platform epaper -- yang sebelumnya cukup ramah digunakan oleh beberapa platform -- menjadi hanya untuk satu platform sistem operasi tertentu, maka dampaknya banyak pengguna Linux yang tak berkutik dan tidak dapat mengakses format epaper.kompas.com terbaru itu, meskipun ada tambahan instalasi mono sekalipun. Kini, situs itu walaupun kelihatan tambah canggih, tapi serasa menjadi tidak menarik lagi karena membatasi ruang gerak pembacanya, dan pembaca serasa dipaksa untuk berpindah menggunakan platform yang jelas-jelas bukan menjadi pilihan dan kebutuhannya. Bagi saya ini soal kultur saja, ibaratnya wong ndeso yang biasa nongkrong di warung angkringan nasi kucing yang ekonomis, halal, bikin kenyang dan bergizi, maka tujuan mengisi perut sudah tercapai, daripada wong ndeso sok kaya tapi suka "membajak" alias makan nggak bayar di McDonald, taunya malah bikin sakit perut dan muntah karena nggak cocok. ;-)
Tapi sudahlah, itu sudah menjadi keputusan manajemen Kompas.com selaku enterprise. Bagi saya, semua itu menjadi pelajaran penting bagi organisasi bisnis apa saja, untuk mempertimbangkan kembali langkah penerapan TI tidak hanya berdasarkan teknologi semata, tapi juga atas dorongan bisnis. TI bukan lagi dipandang sebagai pendukung proses bisnis saja, melainkan kebutuhannya lebih didasarkan atas dorongan data fungsi bisnis sesuai kondisi saat ini dan rencana masa depan. Sama seperti situs Internet Banking saat ini, situs media memiliki salah satu fungsi bisnis menjangkau dan melayani customer yang platform-nya heterogen dan dipandang sama, tanpa mendiskriminasi sedikitpun customer yang lain. Nah, disitulah tantangan situs perusahaan berbasis layanan menjalankan TI selaras fungsi bisnis untuk meraih visi yang lebih besar.
Tampilkan postingan dengan label Linux-Aktivis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Linux-Aktivis. Tampilkan semua postingan
Sabtu, Juli 04, 2009
Minggu, Januari 20, 2008
Dasar Penggunaan PLBOS

Topik perbincangan ringan mengenai seberapa jauh penetrasi dan penyerapan (penerapan?) Perangkat Lunak Bebas dan Open Source (PLBOS), bagi saya, ini sangat melelahkan, ini bukan perbincangan ringan, bro! Betapa tidak, kata seberapa jauh identik dengan pengukuran, dan biasnya berupa nilai-nilai yang tersusun secara statistika dengan menggunakan metode pengambilan data yang tepat. Ini sangat bertele-tele dan bukan perkara mudah. Bukan hanya itu saja, lalu apa pengaruhnya bagi kita apabila sudah mendapatkan hasil statistiknya? Apa dengan melihat data statistik tersebut dapat memacu penetrasi berikutnya agar lebih meningkat? Lalu juga bisa mengetahui penyerapannya? Apa hubungannya? Ingat, menurut data statistik BSA tahun 2006, Indonesia masuk di antara peringkat paling tinggi penggunaan perangkat lunak bajakan, lalu apa tindakan pemerintah untuk menurunkan peringkat tersebut? Pening rasanya memutar-mutar data tersebut tanpa tindakan konkrit, sudah banyak pakar yang membahasnya.
Mungkin bila Anda penjual PLBOS, lalu merasakan kok pendapatannya belum significant, lalu Anda menghitung berapa pendapatan atau keuntungan bersih setiap bulannya, maka dari perhitungan tersebut diketahui hasilnya ternyata tidak banyak. Lalu apa tindakan yang harus Anda lakukan? Meningkatkan penjualan, melakukan penetrasi pasar? Bagaimana caranya? Ini PR Anda para penjual. Dan biasanya, penjual hanya tahu jualannya laku, artinya penyerapan oleh pasar berhasil, tanpa tahu apakah penerapannya sesuai atau tidak.
Yang jelas bagi saya selaku pengguna, dasar menggunakan PLBOS adalah berangkat dari kesadaran, kebutuhan, dan manfaat. Sila diterjemahkan sendiri. ;-)
Selasa, November 06, 2007
Perwakilan KPLI Balikpapan mengikuti Indonesia Linux Conference (ILC) 2007 di Yogyakarta

Beberapa hari ke depan, ILC 2007 atau pertemuan para aktivis Linux se-Indonesia tahun 2007 ini akan diadakan di Yogyakarta. Dua rekan saya dari KPLI Balikpapan, Wahyu Budi dan Rizqi Arijono, dijadwalkan akan menghadiri perhelatan akbar ini. Walaupun saya telah terdaftar baik sebagai anggota biasa di KPLI Balikpapan, dan telah mendaftarkan diri secara personal dan didaftarkan sebagai peserta ILC, apalagi jauh hari sudah standby di Yogyakarta, mungkin tidak bisa menghadiri dan menemani rekan-rekan yang sudah menyediakan waktu dan tenaga untuk hadir. Hal ini dikarenakan ada janji yang saya sendiri cukup sulit untuk menghindarinya.
Saya hanya bisa berpesan pada keduanya, agar event ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai modal untuk membangun komitmen awal, dalam memasyarakatkan GNU/Linux khususnya dan Open Source Software secara umum, serta penegakan HaKI dalam mendukung pembangunan kota Balikpapan untuk lebih percaya diri ... ;-)
Akhirnya, selamat berkonferensi!
Langganan:
Postingan (Atom)