Melalui Twitter, @blogger telah mengumumkan fasilitas FTP yang sayangnya, ketika saya klik tautnya malah diarahkan ke dashboard akun blogger ini. Kaget campur senang, karena selama ini kalau posting blog via ponsel, maka teknik yang saya gunakan adalah posting via email, tapi kini lebih mudah bisa langsung menuju dashboard yang tampilannya ramah dan user-friendly, bahkan bisa nge-Buzz pula, weleh... weleh...
* Diposkan melalui perangkat bukan BlackBerry, tapi N70 dan Opera Mini.
Tampilkan postingan dengan label Gadget. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gadget. Tampilkan semua postingan
Kamis, Maret 04, 2010
Minggu, Maret 30, 2008
Google Maps dan Peta Kuliner
Beberapa waktu yang lalu, saya mendownload perangkat lunak Google Maps for Mobile versi 2.0.3(#2035) platform Nokia-N70. Saat pertama mencoba gagal, ya sudah lain kali saja. Kalau tidak salah, saat itu juga saya membaca blogger Yogyakarta yang menceritakan pengalamannya ada Culinary Maps Jogja yang dijual pedagang asongan, hmm... ini dia. Secara tidak sengaja, sore sepulang kuliah saya menjumpai ada pedagang ini di perempatan Mataram Kaliurang. Setelah tawar menawar akhirnya saya dapatkan seharga 10 lembar uang seribuan.
Kenapa beli peta? Apa belum hapal jalanan Jogja?
Ya. Saya belum begitu familiar jalan-jalan di Jogja, sebenarnya tahu saja, hanya beberapa lokasi yang menyebutkan tempat tanpa alamat saja yang kadang bikin sebel. Selain itu, kadang saya butuh relaks, biasanya balas dendam soal makananan, dengan mencari tempat-tempat warung makan yang nyaman sekaligus enak. Maklum, hari-hari makan tidak teratur, apa adanya, kadang disebut 4 sehat saja sudah syukur, apalagi 5 sempurna. Ini yang kadang istri saya tak bosan-bosannya mengingatkan agar kondisi badan dan kesehatan dijaga. Sempat bulan lalu saya dibawakan tepung bubuk temulawak dan jahe bikinannya sendiri, agar rutin dan mudah saya minum.
Dengan adanya peta kuliner, saya berharap dapat menjumpai sekaligus menjajal segala macam makanan sesuai peta tersebut. Tentu tidak semuanya dan sekaligus, setidaknya sesuai lingkar perut dan lidah serta ukuran kantong mahasiswa saja. ;-)
Lalu, bagaimana dengan Google Maps?
Google Maps sudah terinstalasi dan sudah bisa diakses, hanya saja membutuhkan resource dan biaya yang tidak sedikit. Setidaknya area tercover pada jaringan 3G atau Internet broadband, serta mobile device yang mendukung. Sebagai misal, saya berada di posisi perempatan Mataram Kaliurang, sedang ingin menuju Keraton Jogja. Dengan Google Maps, saya akan melihat jalur-jalur jalan yang menuju ke arah Keraton. Dari handset diperoleh besaran data terkirim 50 kilo byte (KB) dan data diterima 800 KB. Dengan demikian, bila dikalikan biaya rata-rata akses Internet dengan volume based taruhlah Rp 1,-/KB, maka akan dikenakan biaya Rp 850,- saja. Setelah dari Keraton, mau melanjutkan perjalanan lagi ke Prambanan atau mencari tempat makan misalnya, maka tinggal dihitung berapa biaya yang dibutuhkan. Kalau hanya untuk itu, saya kira peta kuliner sudah cukup membantu dan hemat.
Google Maps yang diakses secara mobile melalui handset akan lebih membantu, apabila saya adalah seorang ibnu-sabil yang sering melakukan perjalanan jauh dan berpindah-pindah kota, propinsi, bahkan antar negara. Dalam waktu tidak terlalu lama, saya kira Google Maps akan melengkapinya dengan disertai beberapa penunjuk jalan, tentu beberapa area harus didukung infrastruktur jaringan Internet yang memadai.
Bagaimana dengan yang di lokasi pengeboran minyak di lepas pantai atau rig, lalu penambangan di hutan, pekerjaan proyek infrastruktur hingga nelayan di laut misalnya, apakah bisa dengan Google Maps? Lebih dari itu, GPS berbasis satelit biasanya yang dipakai dan lebih memadai.
Kenapa beli peta? Apa belum hapal jalanan Jogja?
Ya. Saya belum begitu familiar jalan-jalan di Jogja, sebenarnya tahu saja, hanya beberapa lokasi yang menyebutkan tempat tanpa alamat saja yang kadang bikin sebel. Selain itu, kadang saya butuh relaks, biasanya balas dendam soal makananan, dengan mencari tempat-tempat warung makan yang nyaman sekaligus enak. Maklum, hari-hari makan tidak teratur, apa adanya, kadang disebut 4 sehat saja sudah syukur, apalagi 5 sempurna. Ini yang kadang istri saya tak bosan-bosannya mengingatkan agar kondisi badan dan kesehatan dijaga. Sempat bulan lalu saya dibawakan tepung bubuk temulawak dan jahe bikinannya sendiri, agar rutin dan mudah saya minum.
Dengan adanya peta kuliner, saya berharap dapat menjumpai sekaligus menjajal segala macam makanan sesuai peta tersebut. Tentu tidak semuanya dan sekaligus, setidaknya sesuai lingkar perut dan lidah serta ukuran kantong mahasiswa saja. ;-)
Lalu, bagaimana dengan Google Maps?
Google Maps yang diakses secara mobile melalui handset akan lebih membantu, apabila saya adalah seorang ibnu-sabil yang sering melakukan perjalanan jauh dan berpindah-pindah kota, propinsi, bahkan antar negara. Dalam waktu tidak terlalu lama, saya kira Google Maps akan melengkapinya dengan disertai beberapa penunjuk jalan, tentu beberapa area harus didukung infrastruktur jaringan Internet yang memadai.
Bagaimana dengan yang di lokasi pengeboran minyak di lepas pantai atau rig, lalu penambangan di hutan, pekerjaan proyek infrastruktur hingga nelayan di laut misalnya, apakah bisa dengan Google Maps? Lebih dari itu, GPS berbasis satelit biasanya yang dipakai dan lebih memadai.
Jumat, Januari 25, 2008
Gadget Kraton Yogyakarta Tempo Doele, Mengapa Dijual?
Dua tahun yang lalu, saya berujar pada teman saya, “Rasanya tak lengkap ke Yogyakarta tapi nda mampir ke Mirota Batik”. Ya, ini adalah toko yang berada di depan Pasar Beringharjo, Malioboro. Kesan saya sebagai pendatang, sepintas memang tidak ada bedanya dengan toko-toko lainnya. tetapi saya merasakan ada perbedaan bila singgah di sana, bukan, bukan karena bau dupanya, juga bukan alunan piano yang hanya boleh dimainkan di hari-hari tertentu, tetapi karena pingin beli ramuan tradisional dan ngunduh peta gratisannya hehehe...

Di toko itu, saya juga akhirnya mengenal barang-barang antik yang konon milik anggota keluarga Kraton Yogyakarta, gadget telepon tempo doeloe ini misalnya. Ada banyak perangkat yang dipajang, seperti gramofon, radio transistor, timbangan surat, jam antik, mesin penghitung uang, sampai tombak pun ada. Beberapa diantaranya tertulis masih bisa digunakan. Sayang, barang-barang antik ini dijual untuk umum dengan harga yang sangat terjangkau, beberapa terlihat sudah tidak berada di tempatnya. Menurut saya, justru barang-barang antik ini memiliki daya tarik sendiri agar pengunjung tetap ramai. Mungkin sebaiknya Mirota Batik menyediakan ruang pamer khusus untuk barang peninggalan kraton jaman dulu. Yang lain boleh terjual, tetapi tidak untuk barang antik. Dengan begitu, ciri khas yang dimiliki toko ini menjadi tombak keberadaannya sendiri.
Hmm... akhirnya saya jadi tahu kan, jaman dulu saja para darah biru ini sudah biasa menggunakan gadget yang canggih ya, apalagi sekarang... kira-kira gadget macam apa yang dipunyai?

Di toko itu, saya juga akhirnya mengenal barang-barang antik yang konon milik anggota keluarga Kraton Yogyakarta, gadget telepon tempo doeloe ini misalnya. Ada banyak perangkat yang dipajang, seperti gramofon, radio transistor, timbangan surat, jam antik, mesin penghitung uang, sampai tombak pun ada. Beberapa diantaranya tertulis masih bisa digunakan. Sayang, barang-barang antik ini dijual untuk umum dengan harga yang sangat terjangkau, beberapa terlihat sudah tidak berada di tempatnya. Menurut saya, justru barang-barang antik ini memiliki daya tarik sendiri agar pengunjung tetap ramai. Mungkin sebaiknya Mirota Batik menyediakan ruang pamer khusus untuk barang peninggalan kraton jaman dulu. Yang lain boleh terjual, tetapi tidak untuk barang antik. Dengan begitu, ciri khas yang dimiliki toko ini menjadi tombak keberadaannya sendiri.
Hmm... akhirnya saya jadi tahu kan, jaman dulu saja para darah biru ini sudah biasa menggunakan gadget yang canggih ya, apalagi sekarang... kira-kira gadget macam apa yang dipunyai?
Sabtu, Oktober 20, 2007
Download Gutsy Gibbon dengan TelkomselFlash

Tepat rilis Ubuntu 7.10 Gutsy Gibbon, 18/10/2007, saya mengunduh .iso yang tersedia menggunakan TelkomselFlash, kartuHalo dan N70-1 sebagai modem plus kabel data. Mencoba FOSS-ID maupun si kambing sangat tanggung, karena waktu itu mungkin banyak yang berebut jalur pipa, setelah coba-coba akhirnya pilih server mirror dari Jepun. Untuk ukuran .iso 700Mb butuh waktu 8 – 10 jam, dengan rerata perpindahan berkas antara 14 kBps – 45 kBps, kurang dari itu harus berhenti agar hemat waktu dan biaya dan dilanjutkan lain waktu (Resume).

Selama proses unduh bisa juga merambah yang lain atau mengunduh program kecil. Karena saya berlangganan 40 jam sebulan dengan biaya Rp 100.000, maka biaya perjamnya adalah Rp 2.500,-. Dengan demikian, untuk 10 jam proses unduh terkena biaya Rp 25.000,- saja dengan syarat masih masa promosi ... :P
Sekarang tinggal “gojekan” bareng Gutsy Gibbon, jangan nakal ya ...
Kamis, Februari 08, 2007
Kesulitan di OperaMini

Di sela istirahat dua hari yang lalu saya merambah Internet seperti biasa menggunakan ponsel sederhana saya, N2865. Kebiasaan ini saya lakukan pada waktu istirahat untuk melihat atau sekedar berkirim email singkat serta membaca berita terkini di wap.detik.com. Dahulu, ketika saya merasa pernah membaca berita dan ingin membuka kembali berita atau artikel menarik, biasanya saya simpan berupa berkas xhtml dalam cache memory, sehingga apabila saya ingin membacanya kembali tinggal panggil file tersebut tanpa perlu online. Tapi itu semua sudah lama sekali, ketika masih menggunakan perambah bawaan ponsel yang terbilang jadul banget.
Nah, kesulitan baru saya alami bila menggunakan OperaMini, kecuali berkas citra/image, artikel atau berita berupa teks tak bisa saya simpan dalam bentuk file xhtml, karena perambah ini sifatnya yang client server belum menyediakan fasilitas penyimpanan berkas teks atau copy paste sekalipun. Sehingga apabila ingin membaca kembali maka paling tidak harus kembali ke history dan tentu saja bila mengkiliknya harus online. Disisi lain, OperaMini memang berhasil menerima ukuran berkas yang diunduh lebih kecil sehingga efeknya mengurangi beban biaya atau pulsa, namun tentu tidak efisien apabila harus online kembali berulang setiap mengambil berkas yang sama.
Ada yang bisa mengajari tips dan triknya?
Langganan:
Postingan (Atom)