Tampilkan postingan dengan label Debunking. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Debunking. Tampilkan semua postingan

Jumat, Oktober 15, 2021

Kuliah Aplikasi Sosial Media: Content Creator

Kuliah materi Aplikasi Sosial Media hari ini terkait dengan Content Creator. Ada banyak jenis Content pada Sosial Media baik berupa naskah teks, suara, gambar, video, maupun podcast.

Content pada pembahasan kali ini adalah seputar membuat naskah pada Media Sosial. Pada dasarnya sama seperti kita berkomunikasi secara tatap muka, kita akan melihat terlebih dahulu siapa yang akan diajak bicara, ada di mana, dan kapan kita berbicara.

Istilah lain, bagi orang Jawa, hal itu dikenal dengan istilah Papan Empan Adepan, yakni melihat atau mengetahui ada dimana kita berbicara, ada dimana, dan kepada siapa kita berbicara. Jika memahami konteks ini, maka kita akan mudah untuk berkomunikasi dengan baik dengan  mengurangi kesalahpahaman antar komunikan.  

Senin, Mei 28, 2012

Tarik ATM di BNI46 Hanya 50 Ribu, Biayanya 25 Ribu?

HARI Minggu sore kemarin, 27/5/2012, saya bersama anak-anak jalan-jalan ke Toko Buku Gramedia di Balikpapan Center untuk sekadar refreshing sambil melihat kalau saja ada informasi buku baru. Mengingat sekadar jalan-jalan, kami membatasi uang jajan harus tak lebih dari anggaran.

Dalam perjalanan menuju tempat tujuan, kami sempatkan mampir di anjungan tunai SPBU Pertamina Kalianyar Balikpapan untuk mengambil sejumlah kecil dana. Awalnya, saya masuk ke mesin ATM BCA karena memang saya miliki kartu ATM BCA. Di mesin ATM tersebut ternyata hanya menyediakan nominal 100 ribuan saja, padahal saya butuh 150 ribu. Setelah berhasil menarik 100 ribu, saya menuju ATM Mandiri, tetapi batal karena tidak menyediakan 50 ribuan.

Pilihan berikutnya saya beralih ke deretan mesin ATM BNI, dan berhasil menarik 50 ribuan dengan kartu ATM BCA saya. Tetapi saya tersentak, jumlah saldo saya berkurang cukup drastis! Sekitar 25 ribuan!

Bukti transaksi dilihat melalui Internet Banking BCA, Senin, 28/5/2012. Dok. pribadi.


Senin pagi ini, 28/5/2012, saya sempatkan cek di Internet Banking BCA dan memang benar, saldo Interchange berkurang 25 ribu. Saya tidak tahu apakah biaya sebesar 25 ribu tersebut adalah biaya untuk BCA atau BNI, atau untuk keduanya?

Alangkah baiknya jika di mesin ATM (semua Bank) tersebut ditempel pemberitahuan mengenai rincian biaya tarik antar bank (Interchange) dalam jaringannya. Agar masyarakat yang tidak menjadi nasabahnya tidak menjadi korban biaya yang tidak diketahui seperti ini. Bukankah saat ini kita masuk dalam era keterbukaan informasi?

Sungguh ini pengalaman berharga, barangkali ini bermanfaat untuk pembaca yang lain.

Update:
Informasi lengkap disini!

Minggu, April 19, 2009

Kliping: Imajinasi


Tampaknya untuk menjadi seorang perencana, peneliti, perancang, programer, atau ingin menjadi calon anggota legislatif sekalipun, memiliki imajinasi itu perlu. Albert Einstein mengatakan "Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world, and all there ever will be to know and understand." Nah, untuk mengerti kata-kata Einstein itu agak repot bila didefinisikan sendiri, barangkali kliping ini sedikit menjelaskannya.

Semoga bermanfaat.

Kamis, Desember 25, 2008

Generasi Instan

Kecut rasanya melihat beberapa blog yang berisi komentar minta dikirimi tutorial, kode program, atau bahkan minta dituntun langsung tahap demi tahap, padahal di artikel blog tersebut sudah dijelaskan secara ringkas dan sedikit membutuhkan aktivitas pembacanya. Sepertinya, pembaca tak mau repot dan ingin langsung cepat selesai secara instan. Secara singkat saya menggarisbawahi ada dua macam komentator generasi instan ini, yang satu sekedar basa-basi bertanya ala kadarnya tanpa berharap banyak atas respon penulis, mirip spammer yang melempar spam-nya begitu saja dan lari (hit and run), kemudian yang kedua memang bertanya demikian apa adanya karena ketidaktahuannya.

Bagi saya apabila sebagai penulis, ciri yang satu bisa ditebak pada jenis komentarnya yang tidak serius, bisa juga dibumbui pujian macam-macam seolah-olah mendukung dan serius, padahal intinya hanya “minta dikirimi” saja. Bahkan yang bersangkutan tak segan-segan menyisipkan taut yang mengarah pada iklan. Untuk itu, jawaban yang tepat adalah dengan basa-basi juga atau cukup diabaikan saja. Sedang komentator kedua, jawaban bisa bermacam-macam, biasanya yang bersangkutan bertanya karena memang “tersesat” pada pilihan informasi yang tidak tepat, sehingga jawabannya adalah menanyakan kembali apa yang sebenarnya dibutuhkan dan mengarahkan pada artikel yang dimaksud.

Tapi itu semua tergantung pada penulisnya, apabila ia suka dengan komentator generasi instan ini untuk alasan tertentu, sah-sah saja dan ditanggapi seperlunya. Dan bila berada di posisi komentator, sebaiknya biasakan dengan komentar yang relevan dengan artikel yang dimuat, lebih dulu baca selengkapnya, pelajari lebih dalam dan bertanya apabila menemui kesulitan, usahakan ada effort yang telah dikerjakan. Komentator hendaknya tidak terlalu menuntut jawaban yang tepat dan cepat dari penulis, karena bisa jadi perbedaan persepsi atas pertanyaan yang diajukan, atau dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk dijawab atau karena sebab lainnya. Hargai si penulis atas usaha yang telah dikeluarkan secara sukarela untuk menulis artikel tersebut.

Penyangkalan: Pendapat di atas ditulis berdasarkan pengamatan secara singkat pada berbagai blog terkait dan pengalaman sendiri. Penulis tidak bertanggung jawab atas penggunaan artikel ini yang dapat merugikan pihak tertentu.

Minggu, Desember 14, 2008

Pikirkan Sekali lagi Sebelum Posting Blog

Blog itu bebas, cenderung subyektif, dan kadang membuat narsis pemiliknya, apalagi bila ada keinginan untuk menjadi populer. Hanya karena ingin menjadi populer, hal-hal yang tidak rasional atau cenderung negatif bisa berbuntut masalah, menjadi rumit, dan semakin rumit. Untuk menyampaikan pendapat yang diposting di blog, adakalanya tanpa konfirmasi, seperti pendapat pribadi yang berdasarkan pengalaman hidup. Namun apabila sudah menyangkut pernyataan atau opini tentang sesuatu apalagi menyerempet-rempet, sebaiknya juga menggunakan kaidah jurnalistik yang memadai dan berimbang, mengambil jalan tengah dan tak memvonis atau tidak merugikan pihak lain. Saya sendiri biasanya hanya menggunakan model bebas, namun tetap mengacu pada sumber-sumber yang relevan, diusahakan dapat dipercaya dan mudah-mudahan mudah diverifikasi. Penulisan yang mbeler akibat perujukan sumber yang tak jelas hanya akan menjadi sampah tak berarti yang membuat mata pedih, otak rupeg dan hati teriris, apalagi mengundang penyidik cyber-crime melirik terus.

Penyangkalan
: pendapat di atas ini adalah pendapat pribadi, tak ada sumber rujukan, dan ditulis asal-asalan tanpa dasar yang jelas karena habis makan roti enak. Penulis tidak bertanggung jawab atas penggunaan artikel ini dan itu apabila ada pihak yang merasa dirugikan, tersinggung atau tersungging dengan membaca atau merujuk artikel ini dan itu.

Minggu, September 28, 2008

Mana Ada Mahasiswa S2 Tidak Pintar?

Menjelang libur lebaran ini, banyak keluarga yang mengagendakan berkumpul bersama keluarganya dan menghabiskan waktu untuk rekreasi, atau nonton film bareng di rumah, dan setelah itu menjadi bahan perbincangan di kalangan keluarga, acara kumpul-kumpul jadi gayeng. Nah, ada yang sudah menonton film Ayat-ayat Cinta? Konon film ini mengundang kecemburuan bagi banyak wanita terutama yang sensitif dengan poligami. Salah satu adegan dalam film tersebut, Fahri, sangat kebingungan ketika dokumentasi thesisnya di komputer terserang virus, dan ia meminta bantuan pada tetangganya yang perempuan, Maria. Rupanya, adegan ini mengundang tanggapan yang berbeda bagi banyak kalangan, salah satunya di milis cbe ini, berikut kutipan komentarnya:

Mana ada mahasiswa S2 tidak pintar? File tesisnya terkena virus tapi tak mampu atasi, dalam arti antisipasi sebelumnya, buat back up, dsb. sebab tesis menyangkut kelanjutan hidup sebagai mahasiswa di ujung penyelesaian studi, lha kok dodol. Mahasiswa S1 saja sudah canggih, mahasiswa S2 kok ribet.


Mungkin yang mengetahui fakta sehari-hari dan tidak setuju pernyataan di atas akan menimpali, "Pintar apa dulu? Kan Fahri bisa saja belum mengetahui asal muasal virus itu baru atau bukan, lagian belum sempat membackup karena masih baru, jadi ya wajar dong kalau kejadian itu sudah biasa, jangankan yang S2, yang profesor aja terkena virus nyantai aja kok... ayo, pingin bukti?". Tentu, perdebatan akan semakin panjang dan masing-masing orang akan mempertahankan pendapatnya. Jadi, cerita di atas saya tutup sampai di sini. ;-)

Bicara mengenai virus, saya sudah menulis postingan yang barusan sempat saya publikasi di sini, yang saya tulis dalam liputan khusus mudik Yogyakarta-Surabaya-Balikpapan beberapa hari lalu. Kemudian saya sempurnakan kembali setelah mendapatkan lagi keluhan masalah virus dari seorang rekan pada malam 27 Ramadhan kemarin ketika i'tikaf di masjid.

Sila menuju ke artikel Virus dan Perilaku Pengguna Teknologi Informasi