Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Kamis, Juni 14, 2012

Ada Apa dengan Statistik Blogger?

HARI ini saya buka blog ini dan memeriksa Statistik, tapi tampaknya sistem counter tidak mencatat ringkasan kunjungan sama sekali alias 0 kunjungan. Cukup aneh. Loh kok? Ya... setidaknya ada robot atau apalah namanya, meski bukan orang tetapi ada sejumlah kecil kunjungan.

Penasaran, beberapa kali di-refresh counter tetap 0. Pada ikhtisar perbulan ternyata tercatat selama 7 hari loss, mulai tanggal 7/6/2012 - 14/6/2012, dan Google pagerank turun menjadi 2 dari 3. Hiks...

Ada apa gerangan? #halah #pentinggaksih

 

Update:
Ternyata selama itu saya gak nge-check kalau saja CNAME pada DNS terhapus tanpa sengaja, eh, sengaja sih... salah hapus, hiks... :-)

Sabtu, April 12, 2008

Terima Kasih Pertamina



Sementara itu ibu dosen yang tinggal di Balikpapan ini sudah seminggu pusing ngurusin kompor. Seandainya, 1 tangki minyak milik Pertamina yang ada di jalan minyak itu khusus untuk warga Balikpapan, niscaya ucapan terima kasih itu bukan dari Pertamina sendiri, percayalah.


Artikel ini ditulis di atas perangkat lunak bebas, 100% free, 100% halal, 100% bukan bajakan, 100% bukan sumbangan Pertamina karena ngeles. :P

Minggu, Januari 06, 2008

Being Present

Berapa sering kita menerima panggilan telepon genggam atau sekedar membuka sms ketika menghadapi orang secara tatap muka? Berapa sering pikiran kita melayang tidak konsentrasi bila sedang kuliah, bekerja, menghadapi klien, wawancara, atau saat menghadapi orang-orang yang selalu dekat dengan kita, seperti ibu, ayah, saudara, istri, bahkan pada anak sendiri? Atau yang lebih pokok lagi, pikiran melayang tidak konsentrasi saat melakukan hal yang paling prinsip sekalipun, seperti sholat? Bisa dibayangkan saat kita berkendara di jalan raya bebas hambatan, tetapi pikiran melayang tidak konsentrasi, akan sangat beruntung bila tidak terjadi sesuatu yang menyebabkan nyawa melayang, seperti berita ini.

Saya teringat setelah membaca harian nasional yang saya beli kemarin, pada kolom klasika, terdapat istilah Being Present. Kata “present”, berarti “hadiah” yang juga berarti “saat ini”. Jadi, menurut si penulis, “being present” adalah keberadaan kita saat ini merupakan “present” atau hadiah. Being present berarti realistis dan sadar apa yang ada di hadapan kita, menghargai dan memanfaatkan resources yang kita miliki. Sangat mudah dikatakan, tetapi sulit dilakukan.

Seperti barusan yang saya alami ini, padahal saya sudah tahu. Seperti hendak mengendarai kendaraan, tiba-tiba saja kunci tertinggal karena pikiran melayang entah kemana. Atau bertelepon interlokal dengan istri, tetapi pandangan tertuju ke televisi dan tertawa sendiri. Apakah ada yang mengalaminya?

Kamis, Desember 06, 2007

Bijaklah Mengirimkan Pesan di Milis

Beberapa hari terakhir, saya mengalami kerugian dalam memperoleh informasi yang benar, hanya gara-garanya menerima email yang menyebalkan. Sebenarnya, saya sudah bisa mengetahui melalui subyek yang dikirimkan yang bersangkutan, tapi karena ada yang menjawab, dan lebih dari sekali email bersubyek menyebalkan ini datang, akhirnya saya buka juga, dan ternyata ah ... menyesal saya membukanya, bahkan menghapusnya pun saya masih mengalami kerugian. Rasanya ingin segera unsubscribe saja secepatnya.

* sabar... *

Selasa, Oktober 30, 2007

Tanda-tanda Trafficking di Balikpapan kah?

Tega benar! Tak habis pikir rasanya, itu yang saya rasakan setelah membaca berita di Tribun Kaltim ini. Kedua orang tua si bayi yang tidak mampu membayar biaya persalinan menyerahkan begitu saja secara lisan pada orang yang bisa menebus biaya persalinan yang hanya kurang dari sejuta rupiah, yang diketahui dan disepakati pihak Rumah Sakit Persalinan di daerah Gunung Malang Balikpapan. Apa-apaan ini? Astagfirullah!

Tentu saja apabila kedua orang tua yang tidak mampu ini menjadi kalut begitu setelah mengetahui biayanya yang tinggi, karena bisa saja posisinya yang terdesak dan pikiran rupeg. Yang terjadi justru, mengapa pihak rumah sakit tidak memberikan alternatif misalnya memberi waktu untuk melunasi, agar si ayah bisa mengumpulkan biaya yang diperlukan, atau menunjukkan orang tua si bayi untuk menggunakan askes, jamkesda, jamsostek atau apalah namanya, anehnya, malahan diberikan orang lain? Adakah ini tanda-tanda trafficking yang dilakukan oknum rumah sakit persalinan di Balikpapan?

[Update] 11/11/2007

Kini ada kabar gembira dari pemkot Balikpapan untuk mengatasi kesulitan biaya persalinan, seperti diberitakan di Tribun Kaltim ini, semoga membantu.

Jumat, September 28, 2007

Pengalaman dengan Starone

Bulan lalu, seperti yang telah saya tulis sebelumnya mengenai bermasalahnya deactivate layanan tambahan Paket Internet 150k Starone, yang ternyata memang benar bahwa saya masih ditagih sisa pembayaran yang pihak Indosat sendiri lakukan kesalahan. Akibatnya, nomor Starone pasca bayar saya tidak dapat melakukan panggilan keluar lagi per tanggal 23/09 karena diblokir, duuh ...

Atas dasar itu dan posisi saya yang berada di Yogyakarta, dengan nada geram saya menulis klaim melalui email ke bagian support@mystarone.com. Tak lupa juga saya tambahkan "ancaman" seperti dibawah ini:

    Karena saya berada di Yogyakarta, saya tidak mau datang ke Indosat Balikpapan hanya sekedar mengurus beginian, cukup merugikan. Apabila dalam tempo 1x24 jam tidak ada tanggapan dari pihak Indosat, saya tidak akan membayar apapun kepada Starone Indosat dan tidak akan bertanggung jawab atas penggunaan nomor +62 542 xxxxxxx saat ini juga

Kurang dari 24 jam sudah mendapat balasan, serta verifikasi oleh mbak Fanny dan pembukaan blokir pada hari berikutnya, tanpa perlu repot mendatangi Gedung Kuning Indosat Balikpapan (sambil bawa golok misalnya).

Cukup jadi pengalaman berharga atas ketidaknyamanan suatu layanan.

Rabu, Juli 04, 2007

Listrik, masuk persoalan Bangsa?

Duh... saya membaca beberapa media massa bahwa memang listrik menjadi masalah utama beberapa kota di Indonesia, tak hanya Balikpapan, Samarinda dan kota-kota di Kalimantan Timur saja, basi banget bila saya baru tahu ini. Lihat di Medan seperti berita detikcom ini, masyarakat malah diminta memboikot PLN! Sudah sedemikian parahnya persoalan ini. Menurut berita, PLN melakukan apa yang disebut wanprestasi ini adalah masalah ketidakmampuan biaya produksi, mengingat harga minyak tinggi, sedangkan pemasukan dari masyarakat sering telat. Duh... emang PLN itu perusahan yang baru kemarin sore berdiri apa 5 tahunan siih?

Kamis, Juni 28, 2007

Balikpapan, Mimpi jadi Kota Maju

Saya tidak tahu bagaimana Balikpapan akan menjadi kota besar, kota saiber, atau cuman kota minyak doang, tapi saya baru tahu bagaimana bila bermimpi saja tentang kota besar dan maju. Bagaimana tidak, mulai dari listrik yang ancur tak berdaya, air PDAM yang pasang surut dan masih banyak warga yang tergantung penuh olehnya, hingga kondisi lalulintas yang banyak dikuasai "taxi" alias angkot, beuh ... ngetem sembarangan, atau cari penumpang berhenti di tengah jalan. Hati-hati bila berkendara di belakang "taxi", atau barusan tadi saya bermotor, eh... itu "taxi" main klakson bunyi-bunyi minta jalan menang sendiri, beberapa kali saya mengalaminya, ngelus dada dech ... Kok nggak dimarahin saja, lempar batu gitu? Beuh ... orang begini ini model hilang akal dan waras, lebih baik ngelus dada saja ... Lalu, polisi, polhub dimana? hehehe... minggir saja dech.

Listrik, seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, PLN sering maunya menang sendiri, usaha keluarga kini tak berdaya akibat pemutusan sepihak tanpa pemberitahuan, padahal masih belum jatuh tempo, apa-apaan ini PLN, bukankah sudah banyak dan setiap hari sampah hujatan melayang di media massa hanya untuk PLN dan temannya, PDAM? Saya jadi kurang yakin dengan pencanangan Balikpapan Cyber City bisa terus berlanjut, lha wong ngurusi listrik saja tidak bisa kok ngurusi yang lain, mimpi kali yee ...

Kalau PDAM, saya sendiri sudah tidak ambil pusing dengannya, mau dibubarin sekalian toh sama saja, keberadaannya sama dengan ketiadaannya. Uhh... keluh.

Senin, Juni 11, 2007

Menentukan Prioritas dan Target

Beberapa hari ini ada banyak pekerjaan dadakan yang cukup memusingkan, betapa tidak, pekerjaan-pekerjaan dadakan ini bukan sekedar dikerjakan dan diselesaikan begitu saja. Tapi membutuhkan tindak lanjut yang juga harus dievaluasi, weks ...

Di antara pekerjaan dadakan tersebut sebenarnya berasal dari pekerjaan lama yang belum selesai yang membutuhkan support, namun support yang dibutuhkan saat itu baru muncul belakangan ini. Selain itu juga, muncul beberapa keinginan disela-sela menyelesaikan pekerjaan utama padahal pekerjaan dadakan belum selesai dan menunggu beberapa hal yang harus diselesaikan. Keinginan ini biasanya ditimbulkan akibat otak berjalan-jalan dalam menyelesaikan pekerjaan atau suatu masalah, ya ... ibarat jalan-jalan ke mall lalu melihat sesuatu yang menarik lalu muncul keinginan untuk mendapatkan sesuatu itu suatu saat, begitu jalan lagi dan melihat sesuatu yang menarik muncul keinginan lagi, dan seterusnya.

Untuk itu, agar penyelesaian masalah tidak melebar kemana-mana, sepertinya harus ada batasan dalam menyusun prioritas serta target pencapaian, agar goal yang diharapkan [mudah-mudahan] terwujud.

Well ... berikutnya menyusun apa-apa saja yang menjadi prioritas.
Selamat bekerja.

Selasa, Mei 29, 2007

Buruknya Listrik di Balikpapan

Senin kemarin, 28/05, aliran listrik di Balikpapan mengalami gangguan, padam hingga 24 jam, pemkot Balikpapan pun nampaknya tak berdaya. Tercatat mulai kemarin saat saya akan berangkat kerja hingga barusan menyala saat saya berangkat kerja hari ini. Tak habis pikir rasanya, kesal berkecamuk entah apa, yang jelas beberapa hal menjadi terhambat dan usaha keluarga dalam mengelola produksi es balok mandeg dan mengalami kerugian cukup besar. Sumber daya listrik tergantung penuh pasokan listrik PLN Wilayah Kalimantan Timur (Jangan masuk ke Buku Tamu, pasti rugi dech). Tentu saja akibatnya produksi terhambat dan pemasukan pun macet. Anehnya, tagihan listrik sering tidak mau kompromi melihat kondisi ini, maunya menang sendiri. Cukup sering petugas datang menagih dengan membawa peralatan untuk memutus kabel pasokan listrik.

Hal yang mungkin membuat saya bisa menerima kenyataan buruknya kondisi perlistrikan di Balikpapan adalah dengan melihat saudara-saudara kita di daerah bencana, seperti Lumpur Lapindo, gempa bumi Yogyakarta, Tsunami di Aceh dan musibah besar lainnya yang lebih berat cobaannya. Namun, apakah kondisi listrik yang dikelola PLN di Balikpapan ini sama dan layak disandingkan dengan musibah besar tersebut?

Selasa, April 03, 2007

Blogger.Com yang Tercemar Spam

Kaget bukan main, baru saja saya menambahkan plugin Akismet di mesin wordpress yang saya kelola, sudah bejibun spam sialan berasal dari blogspot.com, doh ... spam sialan!

Tak hanya itu, walaupun sudah lama mengetahuinya, banyak sekali blog-blog yang mencemari citra blogger.com, seperti blog parno, blog fitnah, blog basbang, dan blog-blog yang pokoknya sambang alias sampah banget. Barangkali ini adalah konsekuensi penyedia layanan blog gratisan ya.

Itulah mengapa, rasanya blogger.com ini perlu ditinggalkan saja, agar adminnya lebih serius menangani blog-blog sambang itu. Apalagi kini plugin Captcha yang biasa ditempel di bagian Create Post blog ini sudah tidak ada, apa itu pengaruh dari sambang itu ya?

Cara Marketing dan Minat yang Rendah

Hari ini saya mendapati email dari pimpinan saya, berisi permintaannya untuk mempelajari attachment dari orang (atau perusahaan) yang menawarkan program aplikasi SMS gateway untuk perguruan tinggi. Cara marketing service provider akhir-akhir ini memang beragam, saya melihatnya perguruan tinggi di Indonesia adalah ladang yang subur untuk bisnis ini, karena mayoritas pasarnya adalah kaum muda, lebih-lebih yang gaptek dan konsumtif. Saya memandangnya secara kasar, tak ubahnya mereka (provider) berjualan kartu perdana, voucher hingga pernak-perniknya di halaman kampus kita, di kantin kita, di ruang kelas ketika sedang proses belajar-mengajar, hingga di sudut ruangan kerja menemani kita. Hampir saja kampus sebagai base-knowledge tidak menerima manfaat yang lebih dari sekedar jualan itu kecuali kampus hanya dimanfaatkan saja, sebagai kendaraan gratis agar dagangannya laku, laris manis, namun itu semua tidak kita sadari.


Mungkin hal di atas adalah penilaian saya yang salah, atau mungkin ada baiknya saya yang pernah bersama-sama mengembangkan aplikasi sejenis yang lebih dulu ada dan telah digunakan di suatu institusi sedikit berbagi pengalaman disini. Aplikasi sejenis tersebut dinamakan SMS Kampus. SMS Kampus awalnya dibangun seorang teman yang akhirnya diserahkan kode sumbernya untuk dimanfaatkan. Akhirnya secara bertahap kami kembangkan sendiri dengan bebas memodifikasinya dan dimanfaatkan baik untuk riset dalam rangka pendidikan, sehingga perkembangannya lebih terasa. Kendalanya adalah administrator dan developer yang memiliki waktu, tenaga dan dana (yang bisa dibilang kocek sendiri) yang sangat terbatas untuk mengelola dan mengembangkannya. Bila pengelolaan lebih serius, mampu, dan profesional, aplikasi SMS kampus seperti ini bisa dibangun sendiri dengan mudah, bila memungkinkan akan menjadi ladang bisnis yang sangat menggiurkan.


Namun demikian, setelah implementasi aplikasi tersebut, ternyata sedikit sekali bahkan tidak ada pengguna yang berminat memanfaatkan, padahal pengguna adalah point pentingnya keberadaan SMS Kampus mengingat ada target yang harus dipenuhi untuk service provider. Disisi harga sebenarnya adalah standard nasional, biaya push-pull (kirim-terima) SMS berkisar Rp 700 hingga Rp 800, cukup murah untuk skala mahasiswa di Balikpapan. Setelah saya amati (tidak ilmiah tentunya) kurangnya minat mahasiswa disebabkan karena lebih sayangnya mereka pada rupiah, ada alternatif lebih murah seperti menggunakan Internet dan konten lebih banyak, jarak yang dekat dengan tempat tinggal dan mudah dicapai dan sebagainya. Ketika saya membuat aplikasi berbasis WAP, saya berasumsi ini akan banyak membantu dan lebih murah dibanding SMS, namun saya kaget, ternyata itu tidak banyak dimanfaatkan untuk membantu mereka.


Suatu ketika saya mengajar, saya sempat mengungkapkan kekesalan ini di depan mahasiswa saya saat itu "Lha iyo, arek-arek iki yak opo sich, wis digawekno teknologi angel-angel, eh ... nggak digawe pisan, koyo ditukokne Lamborghini, ndilalah lha kok nggak iso nyupir kekekeke ..." Begitu saya berujar dengan bahasa Jawa, jujur saja :)

Kamis, Februari 15, 2007

Antara Kota Saiber dan Persepsi

Kita banyak yang tahu ide dan wacana Cyber City memang sudah meluas di milis-milis bahkan media massa atau dalam bentuk tantangan, sehingga berbondong-bondong berbagai kalangan baik dari komunitas, akademisi hingga pemerintah mempunyai keinginan yang sama mewujudkan kota saiber di masing-masing kota mereka. Tapi, adakah yang memiliki kesamaan landasan?

Jujur saja, saya merasa risau dan saya harus memaksakan diri belajar dengan melahap berbagai sumber bak mempersiapkan thesis Magister Teknologi Informasi tentang Concept and Strategy Indonesia Cyber City, Cases Study: Silicon Valley, USA.

Konsepnya ternyata tidak sesederhana apa yang ada di angan-angan dan ingin segera diwujudkan begitu saja, atau melihat apa yang kita lihat kemudian mencontohnya dan diterapkan begitu saja tanpa melakukan kajian terlebih dahulu. Hasil kajian inilah dasar pemikiran untuk mewujudkan sebuah kota layak tidaknya menjadi kota saiber, dari tingkat kelayakan itu pula maka konsep dan strategi yang sesuai dapat ditentukan. Lalu, bagaimana melakukan kajian atau penelitian? Cukupkah itu semua?
Menurut saya, inilah tantangan yang sebenarnya dan ini pulalah yang menurut saya seperti mempersiapkan thesis.

Kerisauan saya ini hanyalah sepenggal curahan hati saja, karena saya merasa tak mampu menyusun outline dasar dan proposal dalam waktu yang begitu singkat, 1-2-3 hari saja sebagaimana saya menulis blog. Saya hanya bisa tertegun kosong mendapati sms dari seorang rekan yang juga nampaknya mengalami hal yang sama, gundah gulana, dan tampak "marah-marah" pada saya dan menganggap saya tidak menanggapinya. Tulisan ini juga bukan saya maksudkan sebagai apologi saya, namun sekedar menunjukkan ternyata selama ini saya memiliki persepsi yang berbeda.

Selasa, Januari 16, 2007

Akses Internet Melambat?

Sudah beberapa hari ini akses Internet melambat, kenapa ya? Memang sepertinya tidak semuanya, hanya beberapa saluran tertentu saja. Padahal Google dan Yahoo juga tidak masalah, blogger.com yang biasanya lambat malah kini terasa cepat sekali. Beberapa situs lokal macam detik.com, dikti.org, vlsm.org nggak masalah, tapi beberapa situs yang hosting luar negeri sangat lambat, priyadi.net sampai lelet banget, beberapa weblog dari wordpress.org juga lelet.

Ada apa lagi sech?

Rabu, November 22, 2006

Hati-hati, Bandara Baru dan Orang Baru



Surabaya punya bandara baru, ketika saya datang pertama kali di bandara baru ini Rabu malam, 15/11/2006, jam sudah menunjukkan setengah 12 malam waktu bandara, saya lihat suasana sudah sepi, penggunaan fasilitas tangga langsung sebagaimana bandara internasional belum (atau memang tidak) digunakan saat itu. Walaupun sudah sering dan orang Surabaya tulen, saya masih merasa asing dengan bandara ini, sepertinya ada di Bandara Sukarno-Hatta, tapi enggak juga. Kesan saya, begitu sampai di tempat pengambilan bagasi, saya menemui tas saya sudah tak teratur posisinya, dan semakin janggal kancing tas sudah pernah terbuka. Kebiasaan saya menutup kancing tas sedemikian rupa agar apabila telah dibuka kelihatan kejanggalannya, dan benar dugaan saya ini setelah isi tas yang banyak berisi baju sudah teracak berantakan. Merasa tidak puas, saya lapor ke bagian pemeriksa tas, ah ... rasanya malas menulis komentar pegawai bagian ini, kebiasaan lamanya adalah “Silahkan bapak laporkan ke ... Ada barang yang hilang nggak Pak?”, bukan hilang sich, tapi baju-baju yang sudah dilipat rapi istri saya ini jadi lungset semua gara-gara maling bandara ini, ujung-ujungnya hanya menambah rasa kesal. Daripada kesal, sudahlah, saya abaikan saja. Sepertinya bukan hanya saya saja mengalami hal ini, terbukti media lokal memuat keluhan seseorang yang mengalami hal serupa yang saya alami. Herannya, kejadian kemalingan di bandara ini sepertinya sudah jadi kebiasaan bandara dan pelakunya rutin tak pernah ditindak tegas pengelola bandara.

Begitu juga ketika naik taksi, saya sempat membuat seolah-olah saya orang baru yang baru datang di Surabaya, sehingga wajar jika saya bertanya pada sopir taksi “Ini daerah apa Pak” “Ow... begitu ya” dan jika lengah kadang dibawa ke daerah yang agak sepi dan banyak belokan, padahal itu hanya muter-muter saja. Ini saya alami dan saya tahu bahwa saya dibawa di seputar Rungkut Industri, secara tak sadar saya kesal “Pak, woi ... sampean kok bawa saya muter-muter disini sech!”. Walaupun saya nggak ambil pusing karena sebenarnya sudah bayar di pos taksi bandara.

Jadi, bagi yang belum tahu bandara baru Juanda Surabaya dan tak kenal daerah sekitar bandara ini, berhati-hatilah.