Minggu, September 28, 2008

Mana Ada Mahasiswa S2 Tidak Pintar?

Menjelang libur lebaran ini, banyak keluarga yang mengagendakan berkumpul bersama keluarganya dan menghabiskan waktu untuk rekreasi, atau nonton film bareng di rumah, dan setelah itu menjadi bahan perbincangan di kalangan keluarga, acara kumpul-kumpul jadi gayeng. Nah, ada yang sudah menonton film Ayat-ayat Cinta? Konon film ini mengundang kecemburuan bagi banyak wanita terutama yang sensitif dengan poligami. Salah satu adegan dalam film tersebut, Fahri, sangat kebingungan ketika dokumentasi thesisnya di komputer terserang virus, dan ia meminta bantuan pada tetangganya yang perempuan, Maria. Rupanya, adegan ini mengundang tanggapan yang berbeda bagi banyak kalangan, salah satunya di milis cbe ini, berikut kutipan komentarnya:

Mana ada mahasiswa S2 tidak pintar? File tesisnya terkena virus tapi tak mampu atasi, dalam arti antisipasi sebelumnya, buat back up, dsb. sebab tesis menyangkut kelanjutan hidup sebagai mahasiswa di ujung penyelesaian studi, lha kok dodol. Mahasiswa S1 saja sudah canggih, mahasiswa S2 kok ribet.


Mungkin yang mengetahui fakta sehari-hari dan tidak setuju pernyataan di atas akan menimpali, "Pintar apa dulu? Kan Fahri bisa saja belum mengetahui asal muasal virus itu baru atau bukan, lagian belum sempat membackup karena masih baru, jadi ya wajar dong kalau kejadian itu sudah biasa, jangankan yang S2, yang profesor aja terkena virus nyantai aja kok... ayo, pingin bukti?". Tentu, perdebatan akan semakin panjang dan masing-masing orang akan mempertahankan pendapatnya. Jadi, cerita di atas saya tutup sampai di sini. ;-)

Bicara mengenai virus, saya sudah menulis postingan yang barusan sempat saya publikasi di sini, yang saya tulis dalam liputan khusus mudik Yogyakarta-Surabaya-Balikpapan beberapa hari lalu. Kemudian saya sempurnakan kembali setelah mendapatkan lagi keluhan masalah virus dari seorang rekan pada malam 27 Ramadhan kemarin ketika i'tikaf di masjid.

Sila menuju ke artikel Virus dan Perilaku Pengguna Teknologi Informasi

Virus dan Perilaku Pengguna Teknologi Informasi

Entah sudah berapa kali saya setiap bertemu dan ditanya rekan sejawat, kolega, saudara, hingga seseorang yang -- saya tidak mengenalnya secara khusus -- bertanya tentang virus Windows yang menular melalui flashdisk. Secara pribadi saya jarang berurusan dengan virus Windows itu, dan kata kunci yang biasa saya gunakan untuk mengajaknya lari dari masalahnya adalah: "Gunakan Linux, aman, nyaman dan bebas virus, titik!". Meski demikian, saya sendiri masih menggunakan Windows untuk keperluan belajar, testing dan pekerjaan yang saya tekuni saat ini, namun tanpa semacam anti virus, kecuali firewall bawaan Windows itu sendiri dan CCleaner, masih rentan virus bukan? Windows ini pun saya instalasi ke dalam VirtualBox -- bukan dual boot -- dan digunakan sedikit paranoid untuk keperluan sehat saja, sedangkan untuk keseharian cukup menggunakan Linux Ubuntu yang handal ini.

Hal yang sering ditanyakan adalah banyaknya virus yang kini beredar di masyarakat, yang menular akibat pertukaran data melalui USB external disk. Virus yang menular ini pun tidak berhasil dideteksi, dikarantina, atau dihapus oleh anti virus yang ada. Kalaupun bisa, maka virusnya datang kembali, terus berulang dan menular menjadi endemik. Usaha mendapatkan anti virus yang baik pun bukan perkara mudah dan murah. Akhirnya, pengguna ini sering frustasi sendiri, dan membiarkan virus itu hidup dan bersemayam di dalam komputernya berhari-hari, hingga berbulan-bulan mengganggu aktifitasnya, tanpa disadari menyebar dan menulari komputer anak-istrinya, tetangganya, temannya dan semuanya yang memiliki gaya berkomputer sembarangan. Bila dilihat dari latar belakang pendidikan dan keahliannya, para pengguna teknologi informasi ini tak bisa dianggap enteng. Malahan, saya pun kadang meminta bantuan teknis kepada mereka bila saya sedang mengalami kesulitan dalam bidang lain.

Dalam posisi saya kali ini, kadang saya harus "berdakwah" menyadarkan mereka agar kembali ke jalan yang bebas merdeka, sembari memperbaiki komputernya yang penyakitan. Karena saya tidak memiliki perangkat lunak anti virus high-end, maka pertolongan pertama untuk mengobatinya adalah mendiagnosa perangkat lunak komputernya dengan Clamav di Linux. Dari sini, tingkat infeksi bisa sedikit diketahui, ada yang ringan, ada pula yang terlalu akut, sehingga bisa dipastikan sulit untuk disembuhkan seperti sedia kala. Jalan satu-satunya adalah format ulang dan ganti perangkat lunak baru. Lucunya, kadang oleh Clamav, flashdisk saya pun terdeteksi virus Windows juga, ini disebabkan adanya pertukaran data dengan komputer yang terserang virus tersebut, bukan dari Linux. Hikmahnya, hampir bisa dipastikan siapapun di jaman sekarang ini, tidak peduli latar belakang pendidikan dan keahliannya, atau meski mengaku kebal dengan virus, jangan mudah percaya sebelum membuktikannya sendiri. :-)

Rabu, September 24, 2008

Membingungkan, Penggunaan Kata dalam Berita di KaltimPost

Sebagai orang yang sementara waktu ini tinggal di luar Balikpapan, saya sangat terbantu dengan adanya situs KaltimPost yang menampilkan berita-berita terkini seputar Balikpapan dan Kalimantan Timur. Meski demikian, sejak beberapa tahun lalu (2006?) ketika membaca edisi cetaknya, saya sering menemui penggunaan kata berbahasa Indonesia yang tidak lazim -- setidaknya menurut kebiasaan saya selama ini. Contoh penggunaan kata "dimulakan" pada judul berita ini: "Kontraktor Sudah Ditetapkan, Pembangunan Siap Dimulakan". Mungkin di sini maksud "dimulakan" adalah "mulai dikerjakan" atau kalau tidak salah konon menggantikan kata "dimulai" yang juga dianggap tidak tepat. Ketika merujuk KBBI, kata "dimulakan" -- dari kata "mula" -- malah sulit saya temukan, begitu juga kata "dimulai" -- dari kata "mulai". Ada yang bisa menjelaskan?

Ada juga penggunaan kata "sekira" pada contoh kalimat ini: "Di ruang tamu, ada sekira enam plakat berwarna hitam yang terpajang rapi di dinding". Biasanya, untuk kalimat tersebut saya lebih memilih kata "sekitar" sebagai adverb -- kata keterangan -- yang menyatakan "lebih kurang; kira-kira (untuk bilangan)" daripada kata "sekira". Mulanya saya kira penggunaan kata "sekira" ini hanya salah ketik, tetapi setelah membaca tuntas, dan membaca lagi beberapa topik berita yang berbeda, tampaknya kata "sekira" lebih cenderung dipilih redaksi Kaltimpost untuk menyebut kira-kira suatu bilangan, daripada menggunakan kata "sekitar". Sesekali tengok KBBI, saya kira gaya menulis berita di media massa komersial sangat berbeda dengan gaya tulisan blog pribadi. Bukan begitu?

Selasa, September 16, 2008

Lipsus Mudik: Go to Balikpapan

Dalam liputan khusus mudik kali ini, pukul 14:55 wib ini saya sedang
berada di bandara internasional Juanda Surabaya, menunggu penerbangan
ke Balikpapan dengan menggunakan pesawat Mandala Air. Menurut rencana,
pesawat akan take off mulai pukul 16:00 wib. Pemirsa, seperti yang
Anda saksikan dibelakang saya nampak suasana bandara didominasi ruang
kosong melompong, tempat duduk ruang tunggu yang lenggang bisa buat
tiduran bagi yang pegel-pegel ataupun pingin bobok siang sembari
menunggu buka puasa. Tentu saja, bila Anda melakukan itu, Anda akan
ditemani polisi keamanan untuk membangunkan Anda untuk makan sahur.
Weks... Error, DoS attack!

Adapun tiket yang saya peroleh sejak awal bulan ini dikenakan harga Rp
0,- dan hanya membayar pajak sebesar Rp 289.500,- saja. Tentu, itu
belum termasuk ongkos becak, taxi, dan boarding pass yang harus
dibayarkan. Apalagi kalau ingin beli 10 biji Dunkin Donat, lumayan
kan.

Demikian liputan khusus kali ini, yang disiarkan secara langsung dalam
perjalanan Yogyakarta-Surabaya-Balikpapan, dengan menggunakan sinyal
kuat 3G, N71, dan Gmail Application. Dengan menggunakan perangkat
kecil itu, pembelian tiket pesawat bisa juga dilakukan, mudah kan?
Jadi, mudik kemana Anda lebaran kali ini?

--
Sent from Gmail for mobile | mobile.google.com

Lipsus Mudik: Potret Kemiskinan dan Hikmah

Salah satu keunikan dalam melakukan perjalanan jauh seperti mudik ini adalah dengan melihat kondisi dan keadaan lingkungan di sekitarnya secara lebih dekat. Sembari mengambil hikmah apa yang dilihat dari setiap laku dan perbuatan masyarakat maupun diri sendiri terhadap lingkungan sekitarnya. Mirip seperti seorang journalist ataupun photographer yang mengambil materi berita ataupun potret dari sudut pandang yang berbeda, sebagai blogger pun sebenarnya bisa mengambil pelajaran yang teramat berharga, menelisik kehidupan masyarakat dan mencatatkannya untuk sesuatu yang mungkin terlihat tidak berharga. Kebanyakan dari manusia memiliki sifat dasar lemah dalam mengambil pelajaran, tetapi lebih suka mengeluh atau membanggakan diri sendiri dengan menunjukkan kemapanan materi. Siapapun mudah menerkanya, kebanyakan materi yang dibanggakannya hanyalah sekedar kulitnya saja, sesuatu yang nampak dari luar dan gemerlap dilihat mata, tetapi lucunya tidak banyak yang benar-benar tahu apa yang dibanggakannya itu. Bila taraf kebosanan mulai menghinggapinya, materi yang dibanggakannya itu bisa jadi akan menjadi sampah yang tidak berarti sebagaimana sampah-sampah lain yang dibuangnya, dan terus berulang kembali.

Sulit bagi saya membuat liputan khusus mengenai mudik yang saya lakukan secara live dengan perangkat teknologi informasi dan telekomunikasi ala kadarnya yang saya miliki ini setelah membaca, mendengar, dan melihat kenyataan, bahwa potret kemiskinan sangat mempengaruhi pola kehidupan bangsa ini. Sejenak tertegun melihat lebih dekat dari sisi kemanusiaan, ternyata ada sesuatu yang lebih penting yang dapat diambil hikmahnya, atau setidaknya ikut merasakan bahwa ada kepelikan dan kerumitan hidup yang cukup berat yang dialami sebagian masyarakat di sebagian wilayah Indonesia tercinta ini. Mengoplos daging dengan daging tidak layak untuk memperoleh keuntungan berlipat, mengolah daging rusak dan makanan sampah untuk dikonsumsi kembali, mudah memuncaknya ketidaksabaran, ketidaklegowoan dan emosional sehingga timbul kerusuhan, hingga matinya puluhan nyawa akibat berebut zakat dari seorang dermawan, cukuplah menambah catatan buram potret kemiskinan dan kerusuhan di negeri ini.

Uniknya, justru kerumitan dan cobaan duniawi itu terlihat nyata dan dapat dirasakan pada bulan Ramadhan, bulan suci dimana pahala dan dosa dilipatgandakan melalui ujian hawa napsu, kerumitan, konflik kepentingan dan cobaan duniawi lainnya. Sepuluh hari di akhir bulan Ramadhan, adalah kesempatan bagi sesama umat muslim untuk lebih berlomba-lomba lagi dalam kebaikan. Namun kebanyakan dari hari-hari itu adalah puncak dimana segala persiapan menyambut lebaran begitu tinggi, yang begitu menguras biaya dan tenaga yang tidak sedikit. Seolah-olah ujian untuk beribadah menjadi semakin sulit dan lebih halus menghalang-halangi diri untuk berkontemplasi sejenak, agar lebih mendekatkan diri kepadaNya secara ikhlas.

Mari kita jalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini dengan baik.

Surabaya, 16 September 2008.

Senin, September 15, 2008

Lipsus Mudik: Now, Stay in Surabaya

Alhamdulillah, akhirnya sampai di Surabaya waktu subuh. Tak salah
memang Surabaya disebut kota metropolis, karena sejak subuh pun
aktifitas warga kota sudah mulai hiruk pikuk, motor mobil para pekerja
luar kota masuk menyesaki arus lalu lintas, media informasi dan
telekomunikasi mulai menyala bergerak cepat, kebanyakan informasi yang
beredar seputar Surabaya dan Jawa Timur. Sangat beda dengan Yogyakarta
yang feminim, atau Balikpapan yang hedonis dengan pusat media
informasi dari Jakarta. Surabaya menjadi trend setter bagi kota-kota
di Jawa Timur, bila dibandingkan dengan kota lain di Indonesia bisa
jadi levelnya setara Jakarta, begitu juga kerasnya kehidupan seperti
tak ada kompromi.
Kembali ke topik, dalam perjalanan dari Solo sekitar jam 11.30 wib
malam hari arah menuju kota Ngawi, ternyata arus lalu lintas cukup
padat. Ini karena sepanjang jalan banyak rombongan mirip konvoi
pengguna motor berpelat Solo, perkiraan saya ribuan jumlahnya.
Sebagian besar tak menggunakan helm, juga tak terlihat kawalan polisi,
tapi cukup tertib. Lewat dari Ngawi nampaknya sopir mengantuk, ini
sangat berbahaya, saya yang duduk di dekatnya sesekali membuatnya
sadar. Syukurlah setiba di Saradan Madiun mampir di rumah makan,
sekalian makan sahur sambil menghilangkan rasa kantuk. Tetap ingin
menjalankan puasa? Ya iyalah. Perjalanan kan malam hari dan tidak
sedang berpuasa, lagian jaman sekarang ada kemudahan transportasi,
sehingga fisik tidak terlalu lelah. Bila perjalanan jauh --dengan
jarak tertentu -- di waktu puasa sangat melelahkan atau kondisi berat
seperti perjalanan jauhnya orang-orang dahulu naik onta atau kuda di
waktu terik bisa menyebabkan puasa jadi berat juga, maka terdapat
rukshoh atau kemurahan membatalkan puasa -- mokel -- dan wajib diganti
di hari lainnya. Tetapi tunggu, kalimat terakhir itu pendapat dan
pemahaman saya. CMIIW.

--
Sent from Gmail for mobile | mobile.google.com

Minggu, September 14, 2008

Lipsus Mudik: Yogya Solo Lancar

Perjalanan darat Yogya Solo malam hari ini bebas lancar tak ada macet.
Hanya sering jalan bareng travel lain, bis maupun truk expedisi. Sopir
malah sering menerobos lampu merah, mudah-mudahan perjalanan aman
selamat lancar sampai tujuan. Sempat baru ingat, berhubung tadi
berangkat buru-buru, kran air kamar mandi lupa ditutup, walah! Malahan
tadinya kunci kamar ketinggal menggantung di pintu, beuh! Akhirnya sms
mbak Wiwik minta ditutupin krannya dari lantai atas, sembari maaf
maaf... Pasalnya, gara-gara sopir jemput masih jam 7 lewat, kirain jam
8, lah jam segitu lagi terawih, akhirnya gak jadi terawih deh. Makanya
dong, jangan buru-buru, penting banget persiapan dan bekal.

--
Sent from Gmail for mobile | mobile.google.com

Lipsus Mudik: Go to Surabaya

Malam ini saya sedang dalam perjalanan mudik dari Yogyakarta ke
Surabaya, naik travel Racmalia mulai pukul 8 malam. Arus mudik
diperkirakan meningkat tajam mulai H-10, ini terlihat sore tadi saya
lihat di travel agent banyak kursi sudah dibooking penumpang. Ikuti
laporan perkembangan mudik Yogya - Balikpapan selanjutnya langsung di
perjalanan.

--
Sent from Gmail for mobile | mobile.google.com

Jumat, September 05, 2008

Keamanan Data: Hati-hati dengan Situs Pertemanan

Entah sudah berapa kali saya mendapat undangan untuk bergabung dalam jaringan situs pertemanan, mulai tagged, friendster, hi5, fupei, multiply, dan sebagainya -- kecuali facebook belum pernah. Tetapi dengan amat sangat, kiranya saya mohon maaf mungkin belum bisa memenuhi ajakan undangan untuk bergabung fren-frenan seperti ini. Tentu, bukannya saya tidak menghargai undangan rekan semua, justru saya sangat berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua rekan, kolega, maupun kenalan yang telah mengundang saya, tetapi karena banyaknya hal-hal yang menyebabkan saya kurang memperhatikan situs-situs pertemanan inilah yang akhirnya jadi terbengkalai. Sayang kan, sudah keluar waktu, biaya dan susah-susah membuatnya akhirnya jadi teronggok begitu saja. Tak heran, friendster saya jarang sekali saya tengok atau update. Tetapi karena sudah membuat akun friendster, akhirnya sesekali bila ada pesan atau ingin mengajak bertemanan mau tak mau saya meresponnya, tentu dengan senang hati. ;-)

Yang perlu diperhatikan bagi yang gemar mengupdate situs pertemanan adalah soal keamanan data penting. Ambil contoh salah satu situs pertemanan di atas, pada saat mendaftarkan diri untuk bergabung, ada langkah yang harus dilalui yaitu mengisikan alamat email dan password email, sebenarnya bisa diabaikan, tetapi link atau icon untuk mengabaikan ini letaknya -- disengaja -- tidak menyolok. Apabila ceroboh, user awam biasanya tanpa curiga memasukkan email beserta passwordnya karena dianggap sebagai syarat yang musti dilalui. Jangan mudah percaya, ini sangat berbahaya! Biasanya situs ini akan menjaring data pada akun email tanpa diketahui pemiliknya, seperti address book misalnya. Siapa yang bisa menjamin bahwa situs pertemanan ini tempat yang aman dan tidak mengeksploitasi data-data penting email Anda? Perhatikan juga, situs pertemanan biasanya tidak dilengkapi security yang baik -- semisal SSL -- untuk melindungi data mentah yang Anda gunakan ketika men-submit data. Untuk menangkap data Anda di jaringan Internet publik misalnya, itu mudah sekali, hanya berbekal software dari Internet yang tersedia bebas dan gratis data Anda akan mudah dieksploitasi orang yang tidak bertanggung jawab, atau orang yang mengaku bertanggung jawab sekalipun!

Untuk itu, mari lebih bijak dan berhati-hati. Mudah-mudahan bermanfaat.