Kamis, September 10, 2009

Tips OpenOffice: Portrait dan Landscape pada Satu Dokumen

Bagi pekerja kantoran, pekerja independen, siswa atau mahasiswa yang sering bekerja membuat artikel panjang, naskah cerita, proposal, atau paper ilmiah seperti jurnal, skripsi, tesis maupun desertasi, mungkin sudah terbiasa mengoperasikan Windows dan Microsoft Office untuk mendukung pekerjaannya. Sering dijumpai naskah yang sangat panjang yang terdiri atas beberapa halaman, apalagi orientasi halaman yang berbeda-beda, ada yang tegak (Portrait) ataupun membentang (Landscape) dalam satu dokumen yang berurutan nomor halamannya. Apalagi di dalam dokumen sudah termasuk sampul, kata pengantar, daftar isi otomatis, hingga lampiran tebal yang semuanya harus disusun cepat dan rapi, memiliki bookmarking, hyperlink, export ke format pdf sebagai e-book, dan sebagainya sehingga mudah dilakukan pencetakan, dokumentasi, atau didistribusikan untuk dimanfaatkan secara cepat dan ringkas sesuai tujuan dokumen.

Tapi, apakah semua pekerjaan tersebut bisa ditangani perangkat lunak bebas dan Open Source seperti Linux dan OpenOffice?

Itu mudah saja, dan tentu tak bisa dibahas semua di sini. Peningkatan versi OpenOffice saat ini semakin lengkap dan menarik, dengan harga yang Rp 0, fungsi yang diberikan OpenOffice tak kalah dengan fungsi Microsoft Office.


Sebagai misal untuk masalah pertama pada contoh gambar di atas berupa 2 halaman Portrait dan Landscape pada satu dokumen, maka langkahnya sebagai berikut:
  • Jalankan OpenOffice 3 atau versi 2.4 stabil dan dibawahnya, buat dokumen baru. Dalam hal ini saya gunakan OpenOffice 3.0 stabil pada Linux Ubuntu 9.04 Jaunty Jackalope. Untuk pekerjaan serius, disarankan gunakan versi stabil, jangan ambil resiko menggunakan versi non-stabil.

  • Sebagai percobaan, buat text Portrait dan Landscape.


  • Pilih menu Format > Styles and Formatting (F11), akan muncul kotak dialog kecil, pada menu pilih Page Styles.


  • Tambahkan fungsi baru dalam Page Styles, caranya, arahkan pointer pada area kosong, klik kanan dan pilih New, maka muncul kotak dialog Page Style.


  • Pada tab Organize, isi kolom Name: Portrait, lalu tekan tombol keyboard Tab, maka kolom Next Style akan mengikuti kolom Name. Lalu tekan OK.

  • Lakukan hal yang sama pada langkah 4 dan 5 untuk membuat fungsi Landscape, bedanya, pada Page Style pilih tab Page, lalu cek Orientation: Landscape. Kemudian OK.


  • Berikutnya, arahkan pointer di baris paling akhir sebelum text Landscape, pilih menu Insert > Manual Break, maka muncul kotak dialog. Cek bagian Page Break, pilih dropdown Landscape yang telah dibuat tadi. Tekan OK.


  • Hasil setidaknya seperti gambar pertama di atas tergantung pengaturan. Bila halaman berikutnya ingin kembali ke orientasi Portrait, lakukan Manual Break kembali dan pilih Page Style Portrait.

Mudah sekali, kan? :-)
_________________________________________
Tulisan ini dibuat untuk menyukseskan Lomba Blog Open Source P2I-LIPI dan Seminar Open Source P2I-LIPI 2009.

Senin, Juli 13, 2009

Bermain dengan RIA, Rich Internet Application


Tampaknya RIA akan menjadi mainan bagus di masa depan, beberapa waktu lalu saya sempat mencoba Facebook for AIR, tapi ternyata menggunakan resource CPU yang cukup tinggi. Sempat saya penasaran dengan Time Desktop, yaitu aplikasi desktop untuk pembaca Time.com, dan kecewa berat pada e-paper Kompas dan beberapa media Internet yang... ah, no-comment lah, namun kini terhibur kembali dengan adanya New York Times, dan wasting time bersama Seesmic Desktop yang cool banget.

Dari sisi Technological Mix, dukungan terhadap RIAs muncul beragam dari beberapa single technology macam Adobe dengan Adobe AIR, Microsoft dengan Silverlight, Sun Microsystems dengan JavaFX, atau Open Laszlo berbasis Open Source yang kompatibel dengan Flash dan diklaim tidak menyebabkan vendor-lock-in, tetapi yang perlu dari semua itu adalah pemanfaatan RIAs haruslah sama secara bebas digunakan untuk lintas platform, prinsipnya one runtime environment for all.

Semoga bermanfaat.

Sabtu, Juli 04, 2009

Format e-Paper Kompas.Com Memaksa Banget

Saya tidak habis pikir rasanya, benar-benar tidak menduga epaper.kompas.com begitu cepat berubah. Sebagai salah satu pengguna Linux, saya menggunakan epaper.kompas.com untuk koleksi kliping artikel dengan cara take-screenshot, baik artikel berita maupun iklan inspiratif yang menarik saya. Saya tertarik situs tersebut dan pernah saya posting di blog saya, dan saya biasa suka mengoleksi kliping digital, seperti yang pernah saya tempel juga di blog saya ini. Saya akui, cukup berat untuk mengakses epaper Kompas dengan bandwidth minimalis IM2 milik Indosat yang saya langgan ini. Saya tidak tahu mengapa IM2 sangat minimalis, apakah karena harganya murah hanya 100 ribu perbulan unlimited, ataukah karena memang kualitasnya hanya sampai disitu saja? Saya tetap tidak tahu alasan pastinya, dan saya harap ini bukan pencemaran nama tidak baik IM2. Meski demikian, bila suatu saat bandwidth mencukupi dan ada kesempatan membaca, saya dapat mengakses epaper untuk sekedar membaca koran digital itu. Ini mempermudah saya dengan segala keterbatasan untuk mendokumentasikan berita pilihan saya. Namun bila bandwidth mengecil, saya hanya puas mengakses situs berita yang saya langgan di Google Reader melalui perangkat genggam sederhana saya.

Dengan adanya perubahan platform epaper -- yang sebelumnya cukup ramah digunakan oleh beberapa platform -- menjadi hanya untuk satu platform sistem operasi tertentu, maka dampaknya banyak pengguna Linux yang tak berkutik dan tidak dapat mengakses format epaper.kompas.com terbaru itu, meskipun ada tambahan instalasi mono sekalipun. Kini, situs itu walaupun kelihatan tambah canggih, tapi serasa menjadi tidak menarik lagi karena membatasi ruang gerak pembacanya, dan pembaca serasa dipaksa untuk berpindah menggunakan platform yang jelas-jelas bukan menjadi pilihan dan kebutuhannya. Bagi saya ini soal kultur saja, ibaratnya wong ndeso yang biasa nongkrong di warung angkringan nasi kucing yang ekonomis, halal, bikin kenyang dan bergizi, maka tujuan mengisi perut sudah tercapai, daripada wong ndeso sok kaya tapi suka "membajak" alias makan nggak bayar di McDonald, taunya malah bikin sakit perut dan muntah karena nggak cocok. ;-)

Tapi sudahlah, itu sudah menjadi keputusan manajemen Kompas.com selaku enterprise. Bagi saya, semua itu menjadi pelajaran penting bagi organisasi bisnis apa saja, untuk mempertimbangkan kembali langkah penerapan TI tidak hanya berdasarkan teknologi semata, tapi juga atas dorongan bisnis. TI bukan lagi dipandang sebagai pendukung proses bisnis saja, melainkan kebutuhannya lebih didasarkan atas dorongan data fungsi bisnis sesuai kondisi saat ini dan rencana masa depan. Sama seperti situs Internet Banking saat ini, situs media memiliki salah satu fungsi bisnis menjangkau dan melayani customer yang platform-nya heterogen dan dipandang sama, tanpa mendiskriminasi sedikitpun customer yang lain. Nah, disitulah tantangan situs perusahaan berbasis layanan menjalankan TI selaras fungsi bisnis untuk meraih visi yang lebih besar.

Sabtu, Mei 30, 2009

Rokok, Antara Kesehatan dan Penerimaan Negara

Rendahnya harga rokok, pertumbuhan penduduk, kenaikan pendapatan rumah tangga, dan mekanisasi industri rokok kretek ikut menyumbang meningkatnya konsumsi tembakau yang signifikan di Indonesia sejak tahun 1970-an. Sebagian besar perokok di Indonesia (88 persen) mengkonsumsi rokok kretek yaitu rokok yang terdiri dari tembakau yang dicampur cengkeh.

Akibat informasi yang tidak sempurna, sebanyak 78 persen dari perokok Indonesia mulai merokok sebelum usia 19 tahun. Nikotin bersifat sangat adiktif (mencandu), hal ini ditunjukkan oleh perokok usia di bawah 15 tahun, dimana 8 dari 10 diantaranya gagal dalam usahanya untuk berhenti merokok. Konsumen rokok secara terus menerus dihadapkan pada gencarnya iklan yang mempromosikan rokok sebagai sesuatu yang umum diterima di lingkungan sosial.

Merokok menyebabkan timbulnya biaya bagi mereka yang tidak merokok dan masyarakat pada umumnya. Biaya yang harus dikeluarkan untuk menyembuhkan penyakit yang terkait dengan konsumsi rokok mencapai Rp 2,9 triliun sampai Rp11 triliun per tahun (US$ 319 juta – US$ 1,2 milyar). Selain itu, asap rokok bersifat karsinogenik (penyebab kanker). Lebih dari 97 juta penduduk Indonesia yang tidak merokok terpapar asap rokok orang lain.

Rumah tangga perokok menghabiskan 11,5 persen dari total pengeluaran bulanan untuk membeli rokok. Tingginya pengeluaran tersebut memiliki dampak serius terhadap kesejahteraan. Hasil studi pada masyarakat miskin perkotaan menyimpulkan bahwa rumah tangga yang kepala keluarganya merokok akan mengalihkan pengeluarannya dari makanan ke rokok dan meningkatkan prevalensi kurang gizi pada anak-anaknya.

Separuh dari 57 juta perokok di Indonesia saat ini akan meninggal akibat penyakit yang berhubungan dengan rokok. Ironisnya, dari sisi penerimaan negara, cukai tembakau lebih mudah dikelola, karena enam perusahaan rokok besar berkontribusi sekitar 88 persen pada total penerimaan cukai tembakau, dan sekitar 71 persen pangsa pasar dikuasai oleh tiga perusahaan [1].

Indonesia hingga per tanggal 22 Mei 2009, adalah satu-satunya negara di South-East Asian yang belum menjadi anggota Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) [2]. Masa kalah sama Timor Leste?

* Dengan sedikit penyuntingan dan tambahan, sebagian besar artikel dikutip dari ringkasan eksekutif laporan penelitian Ekonomi Tembakau di Indonesia - Lembaga Demografi, FE, UI - 2008. http://www.fctc.org
** Untuk memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, 31 Mei 2009.

Taut terkait:
[1] http://www.fctc.org/index.php?option=com_content&view=section&layout=blog&id=5&Itemid=183
[2] http://www.fctc.org/index.php?option=com_docman&task=doc_details&gid=131&Itemid=159

Rabu, Mei 27, 2009

Kapan Waktu yang Tepat Mengucapkan Selamat Pagi, Siang, dan Malam?

Hari itu terlihat lalu lalang orang pergi bekerja melewati jalanan, saat jam dinding menunjukkan pukul 9.10, dan saya pun menelpon sebuah kantor "Selamat Siang...", begitu sapaan dari seberang kantor itu. Saya pun membalas "Selamat Pagi..." Perbedaan sapaan ini saya sengaja, dan ini bukan yang pertama kali. Saya katakan bahwa hari itu masih pagi, masih pukul 9 pagi lebih sedikit, dan itu sebuah kantor! Tapi, apa jawaban di sana, "Oh... not bad, itu karena Bapak bangunnya kesiangan... " Wahaha...

Memang, ada yang menyebutkan batas pagi dan siang, tidak dapat ditentukan secara tegas. Namun demikian saya sepakat dengan artikel pak Gunawan Munsyi, yang menyebutkan kita lazim mengucapkan selamat siang antara pukul 10.00 dan pukul 14.00. Selamat sore lazim diucapkan antara pukul 14.00 dan pukul 18.30. Pada pukul 16.30 sampai pukul 18.30, pada situasi yang formal, lazim diucapkan selamat petang. Selamat malam lazim diucapkan antara pukul 18.30 dan 04.00. Kita tidak lazim mengucapkan selamat subuh atau selamat dini hari. Antara pukul 04.00 dan pukul 10.00 lazim diucapkan selamat pagi.

Semoga bermanfaat.

Kamis, Mei 21, 2009

CD Ubuntu 9.04, Backup dan Sebarkan



Sekitar 2 minggu yang lalu 5 CD paket Ubuntu 9.04 atau Jaunty Jackalope edisi Desktop yang saya pesan dari shipit Canonical sudah saya terima, termasuk paket-paket sebelumnya, untuk itu saya ucapkan terima kasih pada Mark Shutterlworth melalui Canonical atas kirimannya. Jumlah CD sengaja saya tidak mengambil banyak, bahkan versi sebelumnya saya hanya memesan 1 buah saja. Tujuannya untuk membantu hemat Canonical, halah, padahal ongkos kirim mungkin sama dengan jumlah CD yang lebih banyak ya... :-)

Saya sendiri malah hingga saat saya tulis ini belum sempat menjajal Jaunty, bahkan Intrepid Ibex pun juga belum, maklum, masih nyaman dengan Hardy Heron yang -- rasanya -- lebih stabil untuk development.

Bagi yang sudah menerima namun dalam jumlah sedikit, sedangkan jumlah peminat cukup banyak, apalagi bandwidth mahal tak mampu download file iso, tak perlu khawatir untuk berbagi merasakan manisnya Ubuntu bersama orang-orang terdekat, tetangga kiri kanan, atau bahkan mau dijual pun boleh-boleh saja asal ada yang mau beli. Gunakan disk-dump untuk meng-iso-kan CD dengan perintah:
$ sudo dd if=/dev/cdrom of=/home/path/anda/cdimage.iso

Semoga bermanfaat.

Jumat, Mei 01, 2009

Facebook Desktop for AIR: Boros Memori dan Bikin Cepat Panas?


Sudah beberapa kali kejadian laptop tiba-tiba mati shutdown sendiri tanpa ada pemberitahuan, atau minimal notifikasi lebih dulu dari sistem memberitahukan bahwa sistem operasi akan shutdown 5 menit lagi. Dengan begitu saya bisa siap-siap mematikan sendiri secara prosedur, tapi anehnya notifikasi itu tidak ada. Selidik punya selidik, dari informasi sistem saat proses shutdown memberitahukan CPU kepanasan, nah loh!

Memang, dari letak laptop di atas meja, di sudut ruangan yang sirkulasi udaranya kurang tepat, ditambah lapisan meja beralaskan kertas koran menjadi kurang baik untuk pendingin dan sirkulasi udara di bawah laptop, plus hawa udara yang juga panas. Selain itu, proses sistem bekerja ternyata juga mempengaruhi, misalnya, saya coba bandingkan dua aktivitas yang berbeda. Pertama, mengetik saja menggunakan OpenOffice, hasilnya tidak atau jarang menyebabkan laptop tiba-tiba mati. Kedua, berinternet menggunakan Firefox dan Facebook Desktop for AIR. Yang terakhir ini yang paling dominan bikin panas dan shutdown mendadak. Dari System Monitor terlihat, woo... pantas saja... nomor satu penggunaan memori paling tinggi adalah Facebook Desktop for AIR, CPU usage malah 30% lebih dan makin lama makin naik! Herannya, mau di-uninstall kok sayang... hehehe...

Source Donwload: Facebook Desktop for AIR, Adobe AIR

Selasa, April 21, 2009

Studi: Facebook Mempengaruhi Prestasi Belajar dan Kekanak-kanakan

Pertengahan bulan ini, kandidat doktor dari Ohio State University, Aryn Karpinski, bersama co-authornya, Adam Duberstein dari Ohio Dominican University merilis hasil survei barunya yang menunjukkan, bahwa mahasiswa yang sering menggunakan online-social-network memiliki indeks prestasi belajar lebih rendah daripada mahasiswa yang tidak menggunakan online-social-network.

Survei dilakukan pada 219 mahasiswa dan lulusan yang secara signifikan memiliki perbedaan hasil belajarnya, antara pengguna Facebook vs non-pengguna. Meski demikian, 79% pengguna Facebook tidak percaya aktivitasnya mempengaruhi hasil belajarnya yang rendah. Karpinski sendiri mengatakan tidak kaget dengan ketidakpercayaan Facebookers ini, tetapi ia juga memberikan klarifikasi bahwa survei ini tidak menunjukkan secara langsung hubungan Facebook dengan rendahnya prestasi belajar penggunanya. Hanya saja ia mengatakan ada dua faktor yang berhubungan dengan menurunnya prestasi belajar, “Mungkin para pengguna Facebook itu hanya sekedar mencari selingan saja, mungkin juga sekedar menunda-nunda pekerjaan yang menjadi prioritasnya.” Tapi malah keterusan dan lupa waktu, iya kan?

Sementara itu di bulan Februari, studi yang sama juga dilakukan oleh Susan Greenfield, seorang neurosains dari Oxford University, menyebutkan bahwa social-network seperti Facebook dan Bebo mudah membuat penggunanya kekanak-kanakan hingga berperilaku seperti anak kecil. Gary Small, neurosains dari UCLA malah memberikan peringatan tentang menurunnya kemampuan para pengguna social-netkwork dan teknologi modern terhadap perhatiannya pada ekspresi dan isyarat emosional seseorang secara sosial di kehidupan nyata, akibat kurangnya bertatap muka atau bersosialisasi secara langsung, nah loh!

Yogyakarta, 21 April 2009.

Sumber: Time

Minggu, April 19, 2009

Kliping: Imajinasi


Tampaknya untuk menjadi seorang perencana, peneliti, perancang, programer, atau ingin menjadi calon anggota legislatif sekalipun, memiliki imajinasi itu perlu. Albert Einstein mengatakan "Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world, and all there ever will be to know and understand." Nah, untuk mengerti kata-kata Einstein itu agak repot bila didefinisikan sendiri, barangkali kliping ini sedikit menjelaskannya.

Semoga bermanfaat.

Sabtu, April 18, 2009

Kuliner: Kepiting Saos Tambora


Kepiting Saos Tambora
Originally uploaded by suburanugerah

Begitu mendengar kepiting saos, bayangan saya langsung tertuju pada cangkang merah kepiting dengan bumbu pedas di atas piring lonjong dan aromanya yang hmm... maknyus. Rasanya akan semakin sip markosip bila disantap bareng keluarga atau orang-orang terdekat, harga yang tinggi untuk ukuran saya sekali-kali akan terasa membuat tersenyum. :-)

Bila penasaran, sebenarnya bisa membuat sendiri di dapur dengan jumlah yang lebih banyak lagi dan harga lebih murah. Mau?