Minggu, September 18, 2005

Balikpapan, tetap si Kota Minyak

Sudah seminggu lebih sejak teman kakak dari Surabaya datang minggu lalu di Balikpapan, saat dalam perjalanan pulang kerumah hampir ditiap sudut jalan besar sambil terkagum-kagum dia melihat kerumunan antrian panjang kebanyakan ibu-ibu dengan jirigen minyak tanahnya, panic buying. Sudah seminggu lebih juga surat kabar nasional “mempertanyakan” kebenaran Balikpapan si Kota Minyak, kira-kira masih layak nggak sih menyandang Kota Minyak.

Lebih mengagetkan lagi, si produsen minyak yang dibanggakan kota ini, Pertamina UP V, malah ketiban sial kemalingan crude oil via Lawe-lawe. Banyak cerita versi surat kabar seolah-olah ikut menghukum siapa-siapa yang jadi maling. Layaknya maling ayam kampung beneran, biasanya bogem mentah, tendang, sikut bahkan batu bisa bikin monyong malah remuk muka si maling ayam. Sebagai pimpinan tindakan langsung memecat pekerjanya yang terlibat dan dilaporkan polisi untuk diproses cukup disesalkan banyak pihak, mestinya mereka diproses lebih dahulu secara hukum agar diketahui tingkat keterlibatannya. Cukup aneh dan mengherankan, yang diduga maling ini ternyata petugas-petugas lapangan dan pengawas jaga saja. Asumsi berkembang, mestinya para petugas ini didaerahnya tinggal adalah orang kaya dan berada, cukup aneh kalo' ternyata jauh dari dugaan biasanya. Cukup aneh juga kalo' kapal tanker besar itu adalah maling yang diketahui dan dibiarkan.

Sabtu sore kemarin, saat saya jalan-jalan sepertinya suasana kota Balikpapan agak sepi, di mall, dilapangan merdeka kompleks Pertamina yang biasanya ramai dipenuhi keluarga dan anak-anak kecil bersantai-santai saat itu terasa sepi dari mereka seolah-olah ikut merasakan duka yang dalam. Yang ada tetap anak-anak muda main bola dengan sepatu bolanya yang bergerigi itu menghancurkan rumput-rumput mungil terawat seolah-olah ikut menghukum Pertamina. Yang agak beda di pantai melawai tempat kongkow anak muda malah ada band musik cadas jalanan, “emang gue pikirin!!”, gitu kali liriknya.
By the way, tentu, kita berharap ada keadilan, dan Balikpapan tetaplah si Kota Minyak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar