Selasa, September 06, 2005

Warung Angkringan & Sego Kucing ™ Jogja

Pertama tahu saya heran, kenapa warung-warung beginian ikutan andil mem-populerkan Yogyakarta ke seantero nusantara bahkan didunia. Padahal warung-warung gini nggak beda jauh dengan warung-warung di kota-kota lain. Saking istimewanya, tak kurang pejabat Jogja bahkan walikota hampir tiap tahun promosi ke kota-kota lain di Indonesia, salah satunya ya Balikpapan ini. Penasaran akibat promo pejabat-pejabat ini, akhirnya pas ke Jogja saya diajak Pak Setyo ikutan nangkring diwarung sore hari, salah satunya depan Kantor Gubernuran ini.

Dibanding warung-warung lain sejenis hampir nggak jauh beda, cirinya hampir sama: gerobak beroda, tenda oranye atau biru, lampu senthir, yang makan nangkring, dan yang bikin trade mark adalah sego kucing yang harganya cuma 600 perak, alamak! Jelas beda banget! Harga segitu kalo’ di Balikpapan mah, beli nasi nggak dapat, cuma dapat gorengan satu biji.
Walaupun harganya miring, bahkan njumplang banget, rasanya juga khas nasi juga, sama enaknya, lauk kering tempe, malah Pak Setyo dapat lauk ikan kuecil banget, dibilang ikan teri ya nggak, mujair ya enggak, ikan sepat kali ya, mungkin juga. Yang jelas, malam itu Pak Setyo kelaparan banget, gawat, sebelumnya habis satu porsi ayam goreng, eh, tambah sekali santap sego kucing langsung habis, hap! Sayang, setelah habis dua porsi ayam goreng dan pecel lele, saya hanya sanggup tiga kali suapan sego kucing, weekgg ... wareg tenan. Mumpung murah jek!

Sego kucing, namamu mendatangkan devisa kotamu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar