Rabu, Agustus 23, 2006

Antara Balikpapan dan Bajaj Bajuri

Balikpapan dan Bajaj Bajuri, siapa bilang ada hubungannya? Tentu saja tidak ada. Ini diawali keberangkatan kami ke Jakarta 15 Agustus minggu kemarin, tengah malam tiba langsung menuju penginapan Farel di bilangan Gunung Sahari. Ada yang bilang nginap di situ agak susah, pasalnya menu makanan mahal banget sehingga saya dan Pak Mundzir harus keluar dini hari cari makanan. Belum lagi ditambah kamar mandi kebanjiran, nggak keluar air, ac kenceng terus, hingga wc susah disiram, sudah gitu harganya minta ampun …

Pagi diteruskan ke Dunia Fantasi, Ancol, ah … sayang sepertinya mengulang kembali tahun lalu, karena hampir semua tantangan disana sudah pernah saya lalui, selebihnya menemani rekan yang penasaran. Kata Pak Setyo hanya satu yang belum dan pingin dicoba, Kora-Kora, sejenis kapal bajak laut besar yang diayun-ayunkan makin lama makin tinggi, gila! Muka kami sampai pucat!

Sea World, kecuali upacara pengibaran bendera merah putih di dalam air, semua menu yang ada disana hampir sudah pernah dilalui semua dan belum ada tambahan yang berarti. Di Atlantis, kembali kami berenang. Ada perasaan takut luar biasa bagi saya ketika harus mengulang berseluncur dari top level, heran, jika dibanding tahun lalu yang cenderung nekat, kali ini saya agak menahan diri agar tidak terlalu kencang. Walaupun berhasil, sulit mengatakan apa yang menyebabkan saya sedikit paranoid, padahal setelah itu biasa saja.

Hari berikutnya, rencananya ke Kebun Raya Bogor setelah mampir di PPIPTEK TMII lebih dahulu tapi jadi berantakan, pasalnya ketika perjalanan melewati daerah Cibubur, Pak Mundzir baru ingat tasnya ketinggalan di PPIPTEK, nah lho! Terpaksa, kami menunggu di belakang Mall Cibubur Junction hingga 2 jam lebih. Setelah itu dilanjutkan ke Bogor, sayang, terjebak macet, ha … ha … Sapa suruh datang Jakarta! Itu mah, sudah biasa. Satu-satunya jalan alternatif ya kembali lagi ganti obyek, pemandu perjalanan kami memilih Kebun Raya Mekarsari yang katanya milik (almh) Ibu Tien Suharto sebagai obat kecewa. Akhirnya dengan sedikit salak manis kecil, belimbing, dan buah “terlarang” menjadi oleh-oleh berikutnya, ditambah tontonan gratis adegan romantis dua insan muda-mudi disudut-sudut pohon yang rindang serasa bumi milik mereka berdua, indah sekali … oh …

Setelah itu perjalanan dilanjutkan, dan akhirnya menginap di daerah Cibubur Junction, tepatnya di Lemdikanas kompleks bumi perkemahan selama satu malam saja. Ada pengalaman menarik tentang kebersamaan malam itu ketika kami menuju Mall Cibubur Junction, pergi bersama pulang bersama dengan jalan kaki, lumayan agak jauh. Baru kemudian, hari berikutnya jalan-jalan dalam kota Jakarta sepuasnya, mulai dari Kebun Binatang Ragunan hingga Carrefour Mangga Dua Square. Saya sendiri mulai pagi jam 10 hingga jam 10 malam berdua dengan pemandu kami, Pak Ridwan, lengket bermotor ria, sedangkan teman-teman yang lain bersama Mr Goeltom ber-bus ria. Lumayan, dari bebasnya bermotor itu saya bisa melihat dari dekat kampus Gunadarma yang terkenal karena katanya jumlah mahasiswanya paling besar se-Asia Tenggara, juga kampus UI Depok yang megah terkenal dengan Dosen Menteri-nya dan biaya kuliah yang sangat mahal. Apa saya terheran-heran dengan megahnya kampus-kampus itu? Kadang, ada obsesi saya untuk mengunjungi kampus-kampus top level nasional hingga internasional, dari sana ada wawasan dan gambaran kehidupan kampus yang cukup berbeda satu sama lain, cukuplah menjadi pengalaman berharga dimasa depan.

Menjelang sore, bersama Pak Djumhadi saya mendapatkan sebuah laptop Centrino yang saya harapkan, untuk itu tak lupa saya sampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak Satria Dharma atas pinjaman lunak yang selunak-lunaknya itu. Sulit rasanya saya memiliki laptop ini dibanding dengan kebutuhan sekunder lainnya. Mengapa saya mengharapkannya? Ya, tentu saja saya tidak ingin membeli sesuatu yang tidak saya harapkan dan pertimbangkan, berapapun harganya 

Sisa satu hari menjelang kepulangan ke Balikpapan, saya gunakan untuk istirahat penuh bersama Raynord dan Nadia dikamar penginapan, Caravan namanya. Penginapan ini memang lebih baru dan nyaman dibanding penginapan Farel sebelumnya, bedanya, saya sering menjumpai laki-laki perempuan muda maupun paruh baya keluar masuk penginapan tanpa bawaan barang yang banyak. Katanya sich malahan banyak anak-anak sekolahan datang sore pulang pagi disana, hal ini pernah saya jumpai di Yogya dulu ketika mengikuti seminar, bahkan tak sedikit penginapan yang bertarif jam-jaman secara terang-terangan, ah … ini pengalaman yang berharga di kota besar.

Nah, saat pulang kembali ke Balikpapan, setiba di bandara Soekarno-Hatta itulah kami bertemu dan berangkat bersama Mat Solar si Bajaj Bajuri dan keluarganya. Saya nggak ngerti, kenapa teman-teman sama histeria melihat artis ini layaknya fans Michael Jakson, padahal kan selebriti juga manusia he … he … biarlah mereka senang 

Ada ungkapan dari berbagai pengalaman wisata saya selama ini : “Jika ingin menyenangkan anak, bawalah ke Jakarta; jika ingin menyenangkan istri, bawalah ke Yogyakarta; dan jika ingin menyenangkan suami, bawalah ke Bali”. Mungkin ada yang membenarkan ataupun tidak, terserahlah … 

Senin, Agustus 14, 2006

Sapa Suruh Datang Jakarta

Liburan agustusan ini, rencananya temen-temen mau jalan-jalan ke Jakarta, dan ini adalah yang kedua buat saya. Keputusan ke Jakarta diperoleh karena suara terbanyak, nggak tahu kenapa teman-teman demennya ke sono. Mungkin belum tahu bisingnya lalu lintas, macet, apalagi dengar-dengar kejahatan di jalan raya, banyak paku katanya. Sebenarnya saya maunya sich ke Bali, masak orang Indonesia belum pernah ke Bali, tapi ketika voting, ternyata hanya saya saja, walah.

Bagi saya, Jakarta tuch semrawut, lebih semrawut jalannya dari pada Surabaya. Kenapa? Kalo' di Surabaya, ditinggal sendirian sich nggak masalah, masih bisa cari jalan pulangnya, lha kalo' Jakarta, pengalaman kemarin ditinggal Pak Setyo di Mangga Dua saja bingungnya minta ampun, tapi syukurlah ... ada jejaknya he ... he ... maklumlah, wong ndeso.

Sabtu, Agustus 05, 2006

Full Day atau Half Day School?


Setiap waktu pulang pergi bekerja, akhir-akhir ini saya selalu melihat spanduk hijau bertuliskan “Full Day School”. Setahu saya, spanduk ini sudah hampir sebulan yang lalu, dan telah tersebar di sudut-sudut kota. Sepintas saya berasumsi, sekolah ini menerapkan sistem belajar 7 hari seminggu terus menerus, jadi hari minggu tetap sekolah. Tapi begitu tanya pada si empunya spanduk, asumsi saya ternyata keliru! Full Day School itu maksudnya waktu belajar mulai pukul 7 pagi hingga pukul 5 sore, jam belajar yang biasanya 7 – 8 jam menjadi 10 – 11 jam. Alamak! Teler dech.
Namun demikian, biasanya selama satu minggu hanya 5 hari yang digunakan yaitu senin sampai jumat, sedang hari sabtu tetap masuk sekolah yang biasanya diisi dengan relaksasi dan kreatifitas.

Penasaran ingin mencari tahu, saya tidak menemukan aturan mengenai sistem belajar ini selain berita tentang sekolah yang mengadakan program ini di lingkungan Depdiknas, atau memang sudah ada dan saya ketinggalan informasi kali ya? Atau mungkin Depdiknas membolehkan sistem ini untuk menyongsong UAN tahun depan yang sepertinya semakin tidak ada kompromi?

Sedikit mempelajari sejarah munculnya Full Day School, program ini lahir pada awal tahun 1980an di Amerika Serikat yang diterapkan untuk sekolah taman kanak-kanak, yang akhinya melebar ke jenjang sekolah dasar hingga menengah atas. Menurut ringkasan penelitian, ketertarikan kebanyakan masyarakat AS terhadap Full Day School dilatarbelakangi karena:

  • Meningkatnya jumlah orang tua, terutama ibu yang bekerja dan memiliki anak dibawah 6 tahun.
  • Meningkatnya jumlah anak-anak usia prasekolah yang ditampung di sekolah-sekolah milik publik/masyarakat umum.
  • Meningkatnya pengaruh televisi dan kesibukan (mobilitas) orang tua.
  • Keinginan untuk memperbaiki nilai akademik agar sukses menghadapi jenjang yang lebih tinggi.

Dengan adanya Full-Day program, semua masalah diatas diharapkan dapat diatasi dengan baik. Berdasarkan penelitian sebelumnya menyebutkan; sebagian pelajar yang mengambil Full-Day Program menunjukkan keunggulan akademik lebih baik. Penelitian ini juga menyebutkan bahwa pelajar yang mengambil program full-day memiliki performa lebih baik pada setiap kali mengikuti pelajaran tanpa efek merugikan yang signifikan, dibanding pelajar yang mengambil Half-Day Program. Half Day Program adalah yang biasa kita sebut sekolah reguler yang kebanyakan sekolah di Indonesia menerapkannya, dengan waktu belajar mulai pagi hingga siang hari saja.

Namun point kritis Full Day Program terletak pada biaya yang sangat mahal, hal ini disebabkan karena sekolah menyesuaikan kebutuhan dan kualitas staf pengajar yang always standby, serta penanganan manajemen sekolah untuk terus menjaga rasio keseimbangan jumlah siswa, staf pengajar dan ruang belajar. Pengeluaran lainnya yang semakin menambah beban biaya sekolah seperti menyediakan makanan dan transportasi, namun apabila tidak disediakan tentu kembali lagi akan menambah beban orang tua. Untuk beberapa kasus akan ditambah pengeluaran untuk kebutuhan pemeliharaan gedung sekolah agar tetap nyaman dan tidak membosankan.

Berbeda dengan Half-Day Program, kebanyakan pendidik di AS lebih menyukai program ini. Dijelaskan bahwa half-day program dapat menyediakan kualitas pendidikan yang tinggi serta dapat mengasah pengalaman sosial si murid agar lebih peka dan tajam terhadap lingkungan sekitarnya. Lebih lanjut disebutkan, half-day program memberikan pengalaman yang sistematis dan waktu yang lebih banyak dalam menyelesaikan masalah untuk menghindari stress dibanding dengan full-day program. Para pendukung half-day-program lebih percaya pada penelitian yang menyebutkan bahwa usia lima tahun lebih baik diberikan perhatian secara perlahan, membangun minat, dan aktifitas di rumah yang memungkinkan banyak waktu bagi anak untuk bermain dan berinteraksi dengan teman sebaya atau pun yang lebih tua.

Hanya saja seperti disebutkan kekurangan program ini sepertinya mengada-ada, yaitu pengaruh atau godaan lingkungan dan teknologi informasi yang cenderung sulit di-filter yang membawa ke arah negatif.

Well …

Sumber:
Full-Day Kindergarten Programs.
Full-Day or Half-Day Kindergarten?
Recent Research on All-Day Kindergarten

Kamis, Agustus 03, 2006

Rekomendasi? Pikir-pikir dululah ...

Suatu hari, ketika seorang teman meminta saya untuk merekomendasikan seseorang yang saya kenal (baca: mahasiswa) yang memiliki keahlian di bidang komputer, entah itu pemrograman atau jaringan komputer, saya selalu kesulitan memilih siapa kira-kira yang pas untuk mengisi kebutuhan mendadak tersebut. Walaupun kebutuhan itu hanya pada entry level, tapi entah sudah berapa kali permintaan itu datang.

Seringnya yang akan saya rekomendasikan telah bekerja dan merasa enjoy dengan dengan pekerjaannya atau sudah kabur entah kemana, mengakibatkan saya menemukan mahasiswa yang yaa ... saya pikir cukuplah. Namun akibatnya, apa yang saya rekomendasikan masih dianggap kurang memenuhi kelayakan oleh perusahaan itu, karena setelah dilakukan testing, ternyata kemampuan atau keahlian yang bersangkutan masih dibawah yang diharapkan. Nah lho!

Atas dasar itulah, saya lebih senang dan enjoy ujian berbasis kemampuan (baca: kompetensi) layaknya ujian sekolah kejuruan. Ujian ini biasanya langsung untuk mengetahui sampai dimana masing-masing mahasiswa menyerap dan mengaplikasikan materi yang telah disampaikan, atau mampu berimprovisasi dengan keahliannya. Dengan begitu, saya cukup tenang memberikan nilai yang pantas dan pas.

Tapi, ah ... sulit dach melanjutkan tulisan ini.

Selasa, Agustus 01, 2006

Nge-blog pake MIDlet, asik juga ya!? (1)


Menyambung posting sebelumnya yang hanya posting coba-coba, MIDlet yang digunakan untuk ngeblog yaitu Opera Mini. Hanya saja, untuk mengakses Internet melalui emulator MIDP yang terinstall di komputer, sehingga layarnya tampak lebar dibanding jika melalui ponsel. Tentu saja semuanya nampak terbatas jika dibanding dengan browser Opera biasa. Sebenernya malu mengulas ini di blog, soalnya sudah banyak yang ngebahas sih ... tapi gapapalah :)

Kenapa harus GPRS? Sifatnya yang mobile itulah saya lebih sering menggunakan GPRS,
dengan adanya Opera Mini mampu membantu mengkompresi halaman situs yang cukup besar hingga sepersekian kecil yang diterima, sehingga tidak terlalu memakan pulsa terlalu banyak. Saya sendiri merasakan manfaat yang cukup signifikan dari adanya MIDlet ini, seperti membuka email dari Gmail yang menjadi momok pelanggan GPRS bisa diminimalisir hingga lebih dari 68%. Sayang, dengan blogger.com belum bisa posting berita dengan baik. Sepertinya, javascript milik blogger.com telah direduksi ketika di server Opera sehingga tidak bisa berjalan dengan benar. Sedang jika menggunakan wordpress masih bisa karena xhtml, seperti di blogsome.com atau wordpress.com. Mungkin sudah saatnya untuk migrasi ke wordpress ya?

Untuk mengakali biaya, beli saja kartu prabayar yang dijual murah, biasanya yang akan expired. Misalnya, membeli perdana IM3 seharga 5 - 7 ribu dengan isi pulsa 10 ribu. Dengan pulsa segitu sudah lumayan banyak untuk browsing kecuali donlut, jika telah habis ya dibuang saja. Beli yang murah lagi, he ... he ...

Selasa, Juli 25, 2006

Nge-blog pake MIDlet, asik juga ya!?

Walah, sudah 3x nyoba nge-blog pake' Java MIDlet browser Opera Mini postingnya gagal terus, cuma Titlenya saja yang bisa, nggak tahu kenapa ya. Entar dicari dulu, Searching dulu ah ... :)

Asyik juga sebenernya sich, bisa ngirit hingga sekitar lebih dari 68% hemat pulsa GPRS. Tapi ngomong-ngomong 68% dari mana ya? Kan cuma kira-kira, he ... he ... serius amat.

Kamis, Juli 20, 2006

Hari tidak melihat TV

Saat mengetahui hari tanpa TV, ada yang paling menggelitik jika saya ditanya tentang acara tv apa yang paling saya tidak suka? Jawaban saya adalah: saya paling nggak suka dengan sinetron Indonesia, titik. Lalu acara apa yang paling saya suka? Ya, yang kusuka yang kumau menurut saya. Misalnya apa? Ehmmm ... apa ya? Lho kok?

Dulu, saat ramai-ramai tarik tv kabel di kampung, mungkin cuma saya saja yang ketinggalan kereta nggak langganan sampai sekarang. Jadi nggak heran, saya ngikuti defaultnya kota ini saja dengan 6 saluran tv: TVRI, TransTV, Indosiar, RCTI, MetroTV, dan SCTV. Jadi, mungkin saya paling ketinggalan informasi kali ya?

Senin, Juli 10, 2006

Jago Gue Menang, Mak!!


Italy's Fabio Cannavaro (C) lifts the World Cup Trophy as he celebrates with team mates after the World Cup 2006 final soccer match between Italy and France in Berlin July 9, 2006.
Copyright: (Reuters)

Jago gue menang, Mak!!

Rabu, Juli 05, 2006

Biarkan Jerman Menangis


From left, first row, Andrea Pirlo, Fabio Cannavaro, Mauro Camoranesi, Gennaro Gattuso, Simone Perrotta and Gianluca Zambrotta. Second row, standing, Marco Materazzi, Luca Toni, Gianluigi Buffon, Fabio Grosso and Francesco Totti.
(AP Photo/Andrew Medichini)


Sejak awal piala dunia 2006, berdasarkan pengamatan singkat saya memprediksi Tim Samba Brasil akan melawan tuan rumah Jerman di final, tentu saja jago saya adalah Brasil. Tapi sayang, prediksi saya ternyata sama dengan kebanyakan prediksi umum lainnya, meleset!
Akhirnya, saya pilih siapa saja asal bukan Jerman, lho kok?
Entahlah, saya agak kurang sreg aja jika juaranya Jerman, walaupun ada beberapa pemain yang saya kagumi seperti Bernd SCHNEIDER, Philippe LAHM, David ODONKOR dan sang kiper Jens Lehmann.
Ok dech, sempat pesimis sebelumnya melihat penampilan Italy sebelumnya, kini Azzurri patut saya dukung karena berhasil membuat nangis Jerman. Viva Azzurri!!

Kamis, Juni 29, 2006

Screenshot Contoh Soal Paket Program Niaga II



Hampir saja saya kelupaan menyelesaikan Soal Paket Program Niaga II, bersyukur banget diingatkan Mas Ahmad Rijali di comment blog ini. Soal dibangun di atas M$ Access dan Visual Basic for Application bawaan M$ Office, jangan lupa install juga Visual Basic 6, sangat simpel, mudah dan familiarity banget. Nggak perlu lama-lama bikinnya, karena semuanya masih ada di materi kuliah, kalo’ kesulitan juga bisa sharing langsung itu lebih bagus daripada lewat sms, email atau telepon. Kesannya males banget, jadinya males-malesan juga nanti.

Berikut screenshot yang dimaksud, boleh Anda menjiplak persis atau berkreasi dan memodifikasi sendiri itu lebih baik, asal bukan asal-asalan saja.
Jika telah selesai, secepatnya untuk maju presentasi, jangan menunggu hingga batas akhir (deadline) yang diberikan, siapa sich yang suka antrian panjang menjemukan? Lewat dari batas waktu tidak akan di terima lagi. Tak ada susulan, perbaikan, black-mail, atau semacamnya. Perbaikan hanya diberikan kepada yang benar-benar berhalangan seperti sakit dengan dibuktikan surat keterangan dokter, atau hal-hal di luar kemampuan, itupun masih dalam semester aktif.

Untuk melihat screenshot yang lain agar lebih jelas, silahkan menuju di sini.