Selasa, September 06, 2011

Tutorial Menjalankan XAMPP Setiap Kali Booting pada Ubuntu GNU/Linux

Masih melanjutkan pertanyaan dari email yang belum terjawab, berikut tutorial sederhana menjalankan XAMPP setiap kali booting di Ubuntu 11.04 Natty Narwhal yang baru diinstalasi.

Sebelumnya saya pastikan komputer saya belum berisi web server Apache, buka terminal dan ketik:
:~$ sudo service ap //tekan tab sampai muncul nama2 service
apparmor apport

Tak ada apache2, dengan demikian belum ada web server Apache yang aktif yang dapat mengganggu uji coba ini.

Untuk instalasi ada 4 langkah seperti petunjuk dari situsnya:
  1. Download 
  2. Installation 
  3. Start 
  4. Test 
Installation

Gunakan terminal untuk instalasi, masuk dimana file unduhan berada dan ketik untuk sekaligus membuat direktori /opt:
:~$ sudo tar xvfz xampp-linux-1.7.4.tar.gz -C /opt
 
Start
Kemudian jalankan:
:~$ sudo /opt/lampp/lampp start
Starting XAMPP 1.7.4...
XAMPP: Starting Apache with SSL (and PHP5)...
XAMPP: Starting MySQL...
XAMPP: Starting ProFTPD...
XAMPP for Linux started.
 
Test 
Untuk lihat status apakah XAMPP dalam kondisi running atau tidak, ketik ini:
:~$ sudo /opt/lampp/lampp status 
Version: XAMPP for Linux 1.7.4 
Apache is running. 
MySQL is running. 
ProFTPD is running. 

Bisa juga buka browser dan akses http://localhost

Nah, sampai di sini shutdown dan booting lagi, lalu cek statusnya:
:~$ sudo /opt/lampp/lampp status 
Version: XAMPP for Linux 1.7.4 
Apache is not running. 
MySQL is not running. 
ProFTPD is not running. 


is not running, berarti nggak jalan. Untuk menjalankan setiapkali boot-up di Ubuntu ada 2 cara, cara tradisional atau cara Upstart.

Cara Tradisional

Ingat runlevel? Sebuah runlevel adalah sebuah kondisi operasi yang telah ditetapkan pada sistem operasi mirip Unix. Sederhananya, sebuah 'runlevel' menentukan program mana yang dijalankan pada saat startup sistem. Sebagian besar berurusan dengan sistem startup.

Runlevel Linux secara umum diberi nomor 0 sampai 6. Runlevel berhenti di nomor enam untuk alasan praktis dan historis, tetapi bisa memiliki tingkatan lebih jika diinginkan. Di Ubuntu 6.10 (Edgy Eft) dan versi berikutnya letak nomor level ini ada di direktori "/etc/rc{runlevel}.d/".

Langsung saja, agar XAMPP jalan setiap kali booting, maka dengan cara tradisional buka terminal dan ketik:
:~$ sudo nano /etc/rc.local

Lalu sisipkan skrip ini sebelum 'exit 0' dan simpan:
sudo /opt/lampp/lampp start

Booting lagi dan cek status lagi, voila! :-)

Nah, skrip yang ada rc.local ini akan diseksekusi di semua runlevel (/etc/rc1.d, /etc/rc2.d dst...)

Cara Upstart

Mulai Ubuntu 6.10 (Edgy Eft) dan versi berikutnya menggunakan Upstart sebagai pengganti proses init-tradisional, tetapi Ubuntu masih menyediakan skrip init-tradisional dan SysV-rc Upstart yang cocok digunakan untuk memulai service.

Semua “service” yang dipanggil terletak di direktori “/etc/init.d/”, di contoh akan dikupas membuat service xampp

Buka terminal dan ketik:
:~$ sudo nano /etc/init.d/xampp

lalu sisipkan skrip ini dan simpan:
sudo /opt/lampp/lampp start

buat file eksekusi:
:~$ sudo chmod +x /etc/init.d/xampp

kemudian update rc.d
:~$ sudo update-rc.d xampp defaults

Booting lagi dan cek status lagi, voila! :-)

Semoga bermanfaat.
Referensi:
[1] RcLocalHowto
[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Runlevel
[3] Debian and Ubuntu Linux Run Levels
[4] UbuntuBootupHowto
[5] InitScriptList
[6] http://en.wikipedia.org/wiki/Init
[7] An introduction to run-levels
[8] http://en.wikipedia.org/wiki/Upstart 
[9] http://wiki.linuxquestions.org/wiki/Run_Levels

Minggu, September 04, 2011

Server Web Sekolah: Pilih XAMPP atau LAMP?

Ada pertanyaan ke saya melalui email seputar membuat server web di Linux. Pertanyaannya agak panjang dan rinci, berikut saya ringkas dalam sebuah kasus kemudian diikuti pembahasannya.  

Kasus 

Saya akan membuat Sistem Informasi Sekolah berbasis web. Sistem informasi disediakan dan diakses user (guru dan siswa) kurang lebih 200 orang dalam jaringan lokal, ke depan diharapkan bisa diakses lewat jaringan Internet. Pihak sekolah meminta saya menyediakan server yang menggunakan Sistem Operasi Ubuntu Linux, karena user ada yang menggunakan Ubuntu. Setahu saya, untuk membuat server web, banyak teman-teman saya menggunakan Xampp, tapi ada saran untuk menggunakan Lamp. Bagaimana saya harus memilih, Xampp atau Lamp?

Pembahasan

Xampp merupakan salah satu dari AMP, yaitu sekumpulan komponen atau subsistem perangkat lunak bebas dan open source yang diperlukan untuk memberikan solusi fungsional server web (dan software pendukungnya) secara penuh. Seperti yang disebutkan dalam situsnya, latar belakang munculnya Xampp karena beberapa tahun lalu (mungkin sekitar 10 tahun lalu), banyak orang kesulitan menginstalasi web server Apache sepaket dengan software MySQL, PHP, dan Perl. Ide Xampp adalah beberapa software tersebut dibundel sehingga dapat disimpan dan dijalankan dalam drive kecil (portable), serta dapat digunakan di lintas sistem operasi (cross-platform). Dengan demikian, kesulitan instalasi dapat diatasi dengan hanya mengunduhnya, mengesktrak, lalu jalankan.

Karena kemudahan dan portabilitasnya, Xampp sering digunakan developer aplikasi untuk mengembangkan aplikasi atau sistem informasi berbasis web tanpa perlu direpotkan dengan instalasi server web dan perangkat lunak pendukungnya.

Saat ini, penggunaan Xampp dimaksudkan sebagai alat untuk mengembangkan/membangun aplikasi lalu mengujinya, tanpa perlu terhubung ke jaringan Internet. Untuk alasan kemudahan penggunaan, beberapa fitur keamanannya dinonaktifkan. Namun dalam prakteknya, adakalanya Xampp digunakan untuk melayani halaman web pada World Wide Web atau Internet. Jika demikian, maka diperlukan tools khusus untuk alasan keamanan.

Sementara itu, LAMP juga salah satu dari AMP, latar belakang kemunculannya kurang lebih juga sama dengan Xampp, yaitu mempermudah instalasi. So, bila dulu sulit, saat ini menjadi lebih mudah. Hanya dengan beberapa baris perintah atau menggunakan packet-manager misalnya, maka server web (dan beberapa fiturnya) sudah bisa digunakan. LAMP didesain khusus berjalan di lingkungan Linux. Dengan ubuntu-server misalnya, LAMP sudah tersedia, saat menginstalasi sistem operasi cukup pilih LAMP hanya dari sekeping CD ubuntu-server tersebut, tanpa perlu mengunduhnya dari repository.

Keuntungan utama LAMP adalah kemudahan konfigurasi berbasis teks, setting apapun dapat dikonfigurasi dan dimodifikasi sampai detil terkecil menyesuaikan penggunaan dan kebutuhan. LAMP berjalan pada berbagai platform perangkat keras, sehingga pengembang memiliki fleksibilitas penuh mengambil keputusan dalam deployment dan desain infrastruktur server. Manfaat desain arsitektur ini akan memberikan kombinasi optimal dalam efisiensi pemanfaatan sumber daya, ketersediaan yang tinggi, serba guna, serta memiliki skalabilitas tinggi. Dengan skalabilitas tinggi ini, sistem akan lebih mudah ditingkatkan di masa yang akan datang.

Sampai di sini, pilihan sudah bisa ditentukan sendiri, kan? Bagaimana menurut Anda? :-)

Semoga bermanfaat.


Penyangkalan: Pembahasan hanya seputar definisi sederhana yang dikutip dari referensi dan tidak membahas perbandingan teknis antara XAMPP (for Linux) dengan LAMP. Referensi atau rujukan artikel langsung pada taut terkait.

Minggu, Agustus 21, 2011

NetBeans 7 Dukung Elemen HTML5

Setelah menunggu beberapa lama saat masih menggunakan NetBeans 6.9.1, akhirnya di bulan Agustus 2011 ini telah dirilis NetBeans 7 yang sudah mendukung editing element HTML5. Penasaran, saya coba instalasikan ke Ubuntu dan menulis beberapa kode HTML5, Javascript dan CSS. Kebiasaan ketika membuat kode HTML4 mungkin akan berubah karena akan segera usang (obsolete), tetapi sebagai pengayaan konsep kode HTML4 cukup bermanfaat untuk digunakan setidaknya dalam masa transisi (menuju HTML5 sepenuhnya) saat ini.

Berikut beberapa tangkapan layar percobaan NetBeans 7.0.1 pada Ubuntu server 10.4 yang digunakan untuk menulis kode sederhana HTML5, Javascript dan CSS, untuk menghasilkan output berupa image kotak pada browser Firefox 6.

Tangkapan layar kode HTML5, Javascript, dan CSS pada NetBeans 7.0.1

Informasi pada baris 12 yang menyatakan fungsi
tersebut tak dapat berjalan baik
di browser tertentu.

Keluaran (Output) berupa image kotak

Tampaknya materi kuliah perlu menyesuaikan standar HTML yang baru ini, fasilitas di laboratorium komputer juga perlu menggunakan teknologi yang relevan.

Referensi:
[1] HTML5 Tutorial
[2] W3C, HTML5, A vocabulary and associated APIs for HTML and XHTML
[3] HTML5: Working with the canvas element

Selasa, Agustus 16, 2011

Pentingnya Perhatikan Detil

Iklan Nokia. idownloadblog.com


Ini pelajaran berharga bagi siapa saja terutama bagian periklanan, humas, atau yang biasa berhubungan dengan layanan kustomer. Dikutip dari idownloadblog.com, iklan ini terlihat di sebuah mal di Australia. Nah, coba amati tampaknya perempuan dalam gambar ini sebenarnya menggunakan iPhone 4.

Lucunya, seseorang menemukan gambar wanita tersebut di iStockPhoto.com, dan desainer iklan tidak menyadari bahwa wanita itu menggunakan iPhone. Meski ini di toko kecil untuk menarik pengunjung toko tersebut, tetapi ini sungguh pelajaran yang sangat amat berharga!

Senin, Agustus 15, 2011

Apa yang Dicari di Blog ini?

Hari ini saya coba mengevaluasi blog ini setelah mengetahui pagerank turun drastis dari 2 menjadi 0 dan belum mengalami kenaikan sama sekali sejak 30 Juli 2011 lalu. Ini disebabkan karena setelah saya ganti domain pribadi dari sebelumnya yang menggunakan subdomain di blogspot. Dari mesin pencarian Google hingga saat ini pun masih menyimpan taut domain lama, http://subura2005.blogpsot.com, meski nantinya bila diklik akan dialihkan ke domain suburanugerah.com

Statistik Blog

Dari statistik blog ini terungkap, terhitung selama 1 bulan (17 Juli-15 Agustus 2011) artikel yang banyak diklik adalah artikel terbaru yang “panas”, misal tentang anak. Ada beberapa sebab yang mungkin menjadikan artikel tersebut paling banyak diklik.
1. Sharing ke jejaring sosial (saat itu saya share ke Google+ saja, belum ke yang lain).
2. Bertepatan dengan hari Anak Nasional, 23 Juli 2011.
3. Bertepatan dengan momen tahun ajaran baru 2011.
4. Referring sites.

Screenshot Statistik Bulanan, Juli-Agustus 2011

Tetapi untuk jangka panjang, yang selalu dicari user Internet adalah artikel tutorial ringan untuk pemula dan untuk kepentingan pembelajaran. Selama lebih dari 2 tahun (Mei 2009 – Agustus 2011), data berikut ini menjadi bukti yang bisa dijadikan acuan.

Screenshot Statistik Tahunan, per 2 tahunan


Konklusi

Dari informasi statistik ini bisa dibaca apa saja yang perlu dilakukan untuk menaikkan trafik blog. Beberapa diantaranya adalah membuat artikel “panas” atau berkaitan dengan momen yang pas, sharing ke jejaring sosial, referring sites, dan membuat tutorial atau petunjuk teknis. Penggunaan program backlinks dan semacamnya kurang prefer saya gunakan.

Sabtu, Juli 30, 2011

Photoblog: Jejak Gowes

Jejak gowes 2 minggu yang lalu di atas jembatan baru Perumahan Atas Air Pandan Sari Balikpapan.

Send from My Nokia 5130 XpressMusic

Senin, Juli 18, 2011

Tak Benar, Membiarkan Anak Bekerja di Usia Sekolah

Masih segar di ingatan, beberapa minggu menjelang tahun ajaran baru lalu berita media massa nasional mengangkat cerita mengenai anak-anak yang putus atau tidak sekolah dan memilih bekerja, seperti membajak sawah, berjualan, hingga isu politisi menelantarkan anak. Beberapa alasan mengapa tidak sekolah pun diangkat, dan alasan yang paling ditonjolkan adalah tidak ada biaya atau masalah kemiskinan. Minggu berganti, isu berita pun berganti, topik berita tentang anak terlantar dan anak bekerja hilang bagai disapu angin.

Serasa datang angin segar, Minggu ini saya membaca berita bahwa Walikota Manado bergerak mencari anak-anak yang putus sekolah dan yang bekerja untuk dikembalikan ke sekolah. Dikatakan, sebagai tulang punggung masa depan bangsa, anak-anak tak boleh dibiarkan bekerja, mereka harus bersekolah dan menikmati kesejahteraan, membiarkannya bekerja di usia sekolah adalah hal yang sama sekali tidak benar.

Eksploitasi Saat ini

Eksploitasi ekonomi yang memanfaatkan anak saat ini semakin canggih, salah satunya adalah sering kita jumpai di dunia industri hiburan televisi. Jika di jalanan anak-anak dibuat mengiba, di televisi justru dibuat menghibur. Masa bermain anak-anak yang menghibur, lucu, dan menyenangkan, itu berarti ada kesempatan yang bisa diambil dan menjadi nilai ekonomi (oportuniti) orang dewasa. Acara kontes-kontesan, sinetron, hingga hiburan kejar tayang yang melibatkan anak-anak menjadi komoditas industri hiburan. Ambil saja contoh beberapa anak yang kini menjadi komoditas hiburan televisi sebagai artis cilik. Orang tua kadang secara tidak sadar ikut mendorong anak-anak terlibat di dalamnya dengan alasan 'asal tidak merugikan ya gapapa donk', toh di acara tersebut anak-anak bermain dan sangat menyukainya, anak-anak juga tetap sekolah, lalu apa salahnya? Apalagi dapat duit bisa ditabung untuk bekal dewasa nanti, malah untung, kan?

Hak dan Mental Anak dalam Hukum Negara

Anak sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa memiliki hak asasi atau hak dasar sejak dilahirkan, sehingga tidak ada manusia atau pihak lain yang boleh merampas hak tersebut [1]. Hak dasar anak diakui secara universal, dan beberapa bentuk hak dasar anak ada1ah setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi [5].

Pasal 28B (ayat 2) UUD 1945 menyatakan bahwa “setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”, ini berarti bahwa anak mempunyai hak konstitusional dan negara wajib menjamin serta melindungi pemenuhan hak anak yang merupakan hak asasi manusia (HAM).

Edaran elektronik Konsep dan Pengertian Pengarusutamaan Hak Anak (PUHA) yang diterbitkan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan membuat kategori hak dasar anak menjadi 4 bagian antara lain:
  1. Hak Kelangsungan Hidup, seperti: hak hidup, hak memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai, hak untuk menikmati suatu kebudayaan dan agama, hak atas standar kehidupan yang memadai, hak atas nama, identitas dan kewarganegaraan.
  2. Hak Tumbuh Kembang, seperti: hak memperoleh pendidikan, hak untuk istirahat dan waktu luang, hak akses memperoleh perawatan dan dukungan orang tua.
  3. Hak Perlindungan, seperti: hak untuk dilindungi dari perlakuan salah dan penelantaran, hak untuk mendapatkan perawatan khusus bagi anak cacat/disabel, hak untuk memperoleh jaminan sosial, hak untuk dilindungi dari eksploitasi seksual komersial, hak untuk tidak menjadi korban child trafficking, hak untuk selamat dalam situasi darurat atau keadaaan sulit seperti dalam konflik bersenjata atau anak tanpa keluarga, hak untuk memperoleh bantuan hukum dan proses, peradilan yang memadai, hak untuk tidak diperlakukan diskriminatif, hak dilindungi terhadap eksploitasi ekonomi dan pekerjaan berbahaya.
  4. Hak Partisipasi, seperti: hak untuk menyampaikan pendapat, hak untuk kebebasan berserikat, hak atas kebebasan berekspresi, hak untuk memperoleh informasi, hak atas kebebasan pribadi, hak untuk kebebasan berpikir, berhati nurani dan beragama.

Pada Lembaran Tahun 2000 Nomor 30 tentang penjelasan atas Konvensi ILO No. 182 mengenai pelarangan dan tindakan segera penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak [1], saya menemukan informasi menarik tentang mental anak. Konvensi ini dimaksudkan untuk menghapuskan segala bentuk praktek mempekerjakan anak serta meningkatkan perlindungan dan penegakan hukum secara efektif sehingga akan lebih menjamin perlindungan anak dari eksploitasi ekonomi, pekerjaan yang membahayakan keselamatan dan kesehatan otak, mengganggu pendidikan, serta mengganggu perkembangan fisik dan mental anak.

Berkait dengan mental anak, istilah mental dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti berkaitan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga, atau dalam bentuk nomina berarti batin dan watak atau karakter atau kepribadian. Karakter dasar anak adalah seperti memiliki rasa ingin tahu (curiosity) yang tinggi, tahap tumbuh kembang, peniru yang ulung (imitator), dan rentan dieksploitasi (vulnerable). Pembentukan karakter ke arah yang baik membutuhkan strategi yang mendorong, mendampingi, dan membantu anak untuk melakukan pencapaian tumbuh kembang yang layak dan optimal sebagai makhluk individu dan sosial.

Menurut Prof. Suyanto Ph.D, karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat [6].

Usia Minimum Bekerja

Pada pasal 2 Konvensi tersebut, istilah "anak" berarti semua orang yang berusia di bawah 18 tahun [1][5]. Pada pasal 2 ayat (1) Konvensi, disebutkan Indonesia melampirkan Pernyataan (Declaration) yang menetapkan bahwa batas usia minimum untuk diperbolehkan bekerja yang diberlakukan di wilayah Republik Indonesia adalah 15 tahun. Yang menarik, angka 15 tahun ini tidak serta merta mutlak, tetapi ada pertimbangan-pertimbangan lain, misalnya diperbolehkan antara 13-15 tahun untuk pekerjaan yang ringan atau tidak beresiko (Pasal 7 Konvensi), dan minimum 18 tahun untuk pekerjaan beresiko (Pasal 3 Konvensi). Resiko disini kurang lebih adalah dapat membahayakan bagi kesehatan, perkembangan fisik dan mental anak, mengganggu kehadiran anak mengikuti pelajaran sekolah, mengganggu mengikuti orientasi kejuruan atau program pelatihan di sekolah, atau mengganggu kemampuan anak dalam menerima manfaat dari pelajaran sekolah [1].

Jika merujuk usia wajib belajar di Indonesia adalah 7-15 tahun [2][3], maka penggunaan Pasal 7 Konvensi tersebut menurut saya kurang aman atau sulit untuk bebas dari resiko-resiko di atas, bahkan rentan penyalahgunaan (abuse) baik yang dilakukan oleh industri hingga orang tua atau wali. Adapun fakir miskin dan anak-anak terlantar (yang kesulitan wajib belajar) dipelihara oleh negara [4]. Ini bukan berarti masyarakat lepas tangan tidak membantu, tetapi mencoba mengingatkan penguasa dan negara agar tidak lupa akan kewajiban hukum yang harus dipenuhi.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa usia minimum bekerja adalah sekurang-kurangnya 18 tahun. Apabila kurang dari 18 tahun, anak tidak berkewajiban bekerja dan harus mendapatkan pendidikan atau sekolah. Kewajiban untuk menanggung biaya sekolah anak merupakan tugas negara tanpa ada diskriminasi. Mengapa harus negara? Karena anak adalah tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan [5]. Selain itu, negara telah mengeluarkan produk hukumnya sendiri bahwa wajib belajar dijamin oleh negara [2][3].

Usia Minimum Sekolah

Usia 6 tahun dapat mengikuti wajib belajar atau sekolah pada jalur formal apabila anak dipandang siap baik secara fisik maupun mental. Dari sisi sekolah pun juga mempertimbangkan selama kapasitas kelas atau daya tampung masih memungkinkan [2][3]. Ini berarti yang menjadi prioritas wajib belajar adalah usia 7 tahun, dan sering dijadikan sebagai dasar atau pedoman penerimaan siswa baru (PSB) pada tahun ajaran baru seperti saat ini [2][3].

Adapun mulai usia 0 – 6 tahun, metode pendidikan yang diberikan adalah berupa rangsangan pendidikan yang ditujukan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki tahap usia berikutnya [3]. Tumbuh kembang ini adalah proses yang terjadi baik pada fisik maupun mental sesuai jenjang usianya. Materi dan metode rangsangan pendidikan pun disesuaikan dengan tingkat usianya, dan tentu saja melibatkan ahli atau pakar psikologi pendidikan anak usia dini. Sebaliknya, penggunaan materi dan metode yang tidak tepat justru akan merugikan anak itu sendiri. Tidak adil rasanya memperlakukan anak sama seperti halnya orang dewasa.

Kesimpulan

Yang disebut anak adalah semua orang yang berusia di bawah 18 tahun. Usia minimum bekerja adalah 18 tahun, baik pekerjaan beresiko atau tidak. Yang dimaksud resiko adalah dapat membahayakan bagi kesehatan, perkembangan fisik dan mental anak, mengganggu kehadiran anak mengikuti pelajaran sekolah, mengganggu mengikuti orientasi kejuruan atau program pelatihan di sekolah, atau mengganggu kemampuan anak dalam menerima manfaat dari pelajaran sekolah. Oleh karena itu, patut diapresiasi apa yang dilakukan oleh Walikota Manado untuk mencari dan mendata semua anak putus sekolah yang telah bekerja untuk dikembalikan ke sekolah, meski sebenarnya hal itu sudah menjadi kewajiban pemerintah sesuai peraturan pemerintah dan perundang-undangan. Langkah sang walikota layak dan semestinya diikuti pemerintah daerah lainnya.

Referensi:
[1] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2000 tentang Konstitusi Organisasi Ketenagakerjaan Internasional (International Labour Organization (ILO) Convention No. 182 Concerning The Prohibition And Immediate Action For The Elimination Of The Worst Forms Of Child Labour atau Konvensi ILO No. 182 Mengenai Pelarangan Dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak)
[2] Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar
[3] Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
[4] Undang-Undang Dasar 1945 pasal 34 ayat 1
[5] Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
[6] Prof. Suyanto Ph.D, Urgensi Pendidikan Karakter
[7] Konsep dan Pengertian Pengarusutamaan Hak Anak (PUHA), Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan

Penyangkalan (Disclaimer)
Tulisan ini disusun berdasarkan referensi yang diterjemahkan menurut sudut pandang penulis sebagai orang awam. Kekurangan pengetahuan mengenai hukum dan perundangan sangat rentan mengingat tulisan ini hanya untuk pembelajaran menulis dengan latar belakang penulis bukan dari bidang hukum maupun terkait. Penulis tidak bertanggung jawab bila tulisan ini digunakan sebagai pustaka atau referensi karya ilmiah, silakan pelajari referensi yang penulis gunakan di sini maupun referensi lainnya. Penulis tidak ada hubungan apapun dengan subyek yang disebutkan di tulisan ini. Apabila tulisan ini digunakan sebagai sumber berita silakan kontak penulis.

Selasa, Juni 14, 2011

Mengukur Kejujuran, untuk Apa?

Pernah saya membaca artikel tentang “Mengukur Kejujuran” tetapi setelah membacanya saya malah bertanya-tanya bagaimana sebenarnya cara mengukur kejujuran itu, karena di artikel tersebut tidak dijelaskan cara mengukur kejujuran yang dimaksud. Saya berpendapat, mengukur kejujuran terkadang sangat subyektif, artinya penilai akan dipengaruhi oleh siapa yang dinilai, bukan apa yang dinilai dan bagaimana penilaiannya. Terkadang juga penilai dipengaruhi oleh perasaannya, seperti like or dislike?

Seorang cendekiawan barat pernah mengungkapkan statement berikut:
When you can measure what you are speaking about and express it in numbers, you know something about it ~ Kelvin

Dalam ranah penelitian sering diungkapkan terdapat dikotomi penggunaan metode penelitian, apakah penelitian tersebut menggunakan metode penelitian kualitatif ataukah penelitian kuantitatif. Di dalam ilmu sosial, penelitian kualitatif bertujuan untuk mengumpulkan pemahaman mendalam tentang perilaku manusia dan alasan yang mengatur perilaku tersebut. Di dalam ilmu komputer, penelitian kualitatif biasanya berupa desain, arsitektur, pewarnaan, ergonomi, dsb. Metode kualitatif menyelidiki mengapa dan bagaimana pengambilan keputusan, bukan hanya apa, di mana, dan kapan.

Sedangkan penelitian kuantitatif bertujuan mengembangkan dan menerapkan model matematis, teori dan atau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena. Proses pengukuran berpusat pada penelitian kuantitatif karena menyediakan hubungan fundamental antara pengamatan empiris dan ekspresi matematis dari hubungan kuantitatif. Secara sederhana, ia lebih banyak melibatkan perhitungan angka-angka ke dalam sebuah model matematis. Lebih disederhanakan lagi, pengukuran (measure) dengan perhitungan matematis termasuk ranah penelitian kuantitatif.

Apa itu kejujuran?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata jujur yang artinya ada 3. Pertama, jujur (honest) (adjective) adalah lurus hati; tidak berbohong (misal dengan berkata apa adanya); kedua, tidak curang (fair) (misal dalam permainan atau ujian, dengan mengikuti aturan yang berlaku); dan ketiga tulus; ikhlas;
Sedangkan ke·ju·jur·an (noun) berarti sifat (keadaan) jujur; ketulusan (hati); kelurusan (hati).

Berdasarkan definisi di atas, dalam tulisan ini, jujur yang dimaksud adalah yang pertama, yaitu yang berarti tidak bohong atau lurus hati. Menurut wikipedia:
Honesty refers to a facet of moral character and denotes positive, virtuous attributes such as integrity, truthfulness, and straightforwardness along with the absence of lying, cheating, or theft.

Bagaimana mengukur kejujuran?

Mengukur kejujuran (manusia) menurut saya membingungkan bila didasarkan pada 2 dikotomi penelitian di atas, termasuk kualitatif ataukah kuantitatif?

Dalam kehidupan sehari-hari di dalam keluarga, sekolah, kerja, atau organisasi lainnya di lingkungan terdekat, seringkali seseorang yang dianggap jujur itu dinilai dari rekam jejak kehidupannya. Semakin lama kita bergaul dan mengetahui integritas seseorang dari kejujurannya selama ini, maka semakin kita yakin bahwa orang tersebut memiliki tingkat kejujuran yang tinggi. Nah! Inilah cara mengukur kejujuran itu, semakin sering seseorang jujur dan memiliki integritas untuk itu dalam waktu tertentu, maka semakin kita tahu seberapa besar tingkat kejujuran dan integritasnya.

Misal saja, si A diuji tingkat kejujurannya selama 6 bulan, yang setiap bulannya akan diberikan ujian kejujuran selama 4 kali. Tiap soal memiliki bobot/skala kejujuran yang didesain oleh pakar terkait yang tidak diketahui sama sekali oleh si A. Setelah 6 bulan ujian berlalu akan diketahui berapa besar perbandingan antara jujur (honest) dan tidak jujur (dishonest) yang telah dilakukan oleh si A. Skala perbandingan itupun ditentukan berdasarkan oleh pakar, psikologi misalnya. Dalam uji ini jelas terlihat penggabungan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif.

Lalu, untuk apa mengukur kejujuran?

Kejujuran itu mendatangkan kepercayaan. Semakin tinggi tingkat kejujuran maka semakin tinggi tingkat kepercayaan.

Seorang terdakwa ketika menghadapi persidangan, pada saat tertentu dilakukan uji kejujuran/kebohongan, yang digunakan untuk menilai apakah yang bersangkutan jujur atau bohong, sehingga dapat dipercaya atau tidak, yang pada akhirnya akan mempengaruhi vonis keputusan hakim.

Dalam rekrutmen karyawan, pimpinan, dan semacamnya terkadang ukuran kejujuran juga diperlukan untuk melengkapi performance measurement dalam blok TQM (Total Quality Management). Dalam rekayasa jaringan komputer, mengukur kejujuran (fairness measure) digunakan untuk menentukan apakah pengguna atau aplikasi telah menerima bagian yang adil dari sumber daya sistem. Di dalamnya ada model matematis dan desain konseptual jaringan yang fair. Jelas, bila operator jaringan yang Anda langgan curang, tentu akan mempengaruhi tingkat kepercayaan Anda dengan operator tersebut kan? :-)

Masih banyak lagi. Bagaimana menurut Anda?

Sabtu, April 09, 2011

Soal Kurikulum TI, SMK vs Perguruan Tinggi, Mana yang Lebih Maju?

Di bulan Maret lalu saya diundang untuk menjadi salah satu juri dalam Lomba Kompetisi Sekolah (LKS) bidang Teknik Komputer dan Jaringan untuk SMK tingkat Kota Balikpapan, yang berlangsung di SMK Negeri 1 Balikpapan. Sedikitnya ada 4 peserta dari 4 sekolah, yang masing-masing sekolah hanya boleh mengirimkan wakil terbaiknya masing-masing 1 orang saja. Lomba berlangsung selama 2 hari atau memiliki waktu sekitar 10 jam. Sedangkan juri, menurut informasi panitia, terdiri atas 3 orang yang berasal dari praktisi, akademisi, dan profesional, dengan pertimbangan memiliki netralitas dalam menilai secara obyektif.

Yang menarik, salah satu pesertanya ada yang wanita dan berasal dari SMK Muhammadiyah, satu-satunya peserta wanita dan dari sekolah swasta yang berani menantang! Mengapa? Karena ini adalah lomba keterampilan yang bersifat teknikal mengenai komputer dan jaringan, mulai dari assembly perangkat keras, crimping, instalasi sistem, setting server dan jaringan seperti webserver, database server, ftp, SSH, DHCP, DNS server, mail server, ntp server, routing, access-point, hingga firewall, dengan teknik konfigurasi dan kecepatan penyelesaian yang cukup tinggi. Hasil akhir yang diharapkan adalah kecepatan waktu, cara konfigurasi yang benar, dan tingkat keberhasilannya. Bila melihat materi yang dilombakan, maka jelas jarang sekali ada wanita yang tertarik dengan lomba yang dominan dikuasai laki-laki ini.

Satu lagi yang menarik, baik server, router, hingga firewall menggunakan perangkat lunak bebas dan Open Source, seperti Debian 5.0 GNU/Linux atau Debian Lenny untuk server dan router, bind untuk dns server, postfix untuk mail server, iptable untuk router, dan squid untuk firewall, semuanya harus dikonfigurasi dalam modus antar muka teks (TUI) dan dilarang menggunakan modus grafis (GUI). Sedangkan client dengan sistem operasi Windows, yang mengakses jaringan melalui access-point. Hasilnya, pemenang pertama dari SMKN 1 berhasil menyelesaikan dengan baik dengan hasil nyaris sempurna dan dalam waktu yang cukup singkat, 3 jam, mengalahkan peserta lainnya yang rata-rata selesai dalam waktu lebih dari 6 jam, itupun masih ada beberapa kesalahan konfigurasi.

Saya teringat pendapat Pak Onno W Purbo, yang menyatakan bahwa kurikulum Teknologi Informasi (TI) di jenjang perguruan tinggi dinilai kurang pas dan tertinggal dua sampai tiga tahun dibanding dengan kurikulum di jenjang pendidikan SMK. Mungkin ada yang beranggapan pendapat tersebut agak berlebihan, mengingat bila di perguruan tinggi mayoritas input-nya BUKAN berasal dari disiplin ilmu atau rumpun yang sama laiknya SMK berbasis TI saja, akan tetapi beragam seperti SMA yang umumnya tidak mendapatkan materi dasar-dasar TI sebelumnya. SMK sendiri memiliki kurikulum yang didesain sedemikian rupa untuk tujuan kejuruannya.

Meski demikian, dengan melihat hasil dari kompetisi LKS tersebut saya berpendapat bahwa materi dasar-dasar teknis TI perlu diasah lebih dulu dijenjang SMA atau sederajat. Dengan begitu, bila lulusan SMA ini masuk ke perguruan tinggi TI, ia sudah siap untuk melanjutkan ke jenjang kurikulum yang lebih tinggi, artinya kurikulum TI di perguruan tinggi bisa lebih “naik” lagi ke atas dibanding yang ada sekarang ini.

Bagaimana menurut Anda?

Jumat, April 01, 2011

Wow, Balas Email bisa dengan Gerakan Tangan!

Malam ini saya hendak membuka Gmail untuk menge-check email masuk, tapi... tiba-tiba perhatian saya tertuju pada taut pesan Gmail Motion. Wah, hebat juga nih... pikirku... dari keterangannya sungguh meyakinkan, dijelaskan bagaimana user bisa buka email, baca, balas, forward, dst cukup dengan gerakan tubuh, wew... kereeen banget. Penasaran pingin coba, saya klik Try Gmail Motion dan... voila! April Fools! Asssyeeemm...! ehehe... idenya menarik!

Ini fungsi-fungsi motion buat Gmail, tirukan gerakannya!

Tuh, membuat proposal bisnis bisa dengan gerak-gerakin tangan berkelompok... wew, gila gak?


Wew, buat flow chart cuman dengan jungkir balik? Susahnyaaa...

Buat grafik pia warna-warni sesuaikan warna baju? Hebat!

Nah loh! Kena tipu! Eh, jangan marah ya... ehe...