Jumat, Juli 15, 2005

HEMAT ENERGI ≠ HEMAT BIAYA

Hemat energi di negeri ini sepertinya menjadi prioritas pemerintah guna memuluskan kebijakannya. Alam demokrasi, pro kontra hal biasa. Saya sendiri tidak mengomentari terlalu jauh tentang euforia aparat pemerintahan atas kebijakan baru ini seperti naik kuda ke kantor yang menurut saya malah bikin repot parkirnya, meringkik ngagetin orang kantor, jadi tontonan orang kantor, belum lagi kalo’ be’ol. Saya menganggap cara berhemat energi yang dicontohkan “penguasa” otonomi daerah sering tidak tepat.

PLN didaerah saya, adalah salah satu yang sering “hemat energi”. Saking hematnya, terhitung tiap hari benar-benar hemat energi. Entahlah, saya mungkin masih kesel dengan PLN, betapa tidak, usaha keluarga berupa pabrik es batu guna memasok kebutuhan nelayan tidak dapat berjalan dengan baik, sebentar-bentar listrik padam, padahal untuk mbikin sebongkar es dengan kapasitas 350 balok perhari paling tidak mesin harus menyala 24 jam, namun karena tersendatnya pasokan listrik, tentu mudah dibayangkan. Seperti kalo’ ada yang usaha mbikin es krim, es ganepo atau es lilin pake’ lemari es atau freezer misalnya, kalo dinginnya sering terputus, nda jadi-jadi dah! Tentu saja, si pembeli nunggu lama beli, malah bisa jadi nda jadi beli.
Susahnya lagi, pasokan listrik yang setengah “jadi” tadi tetap dihitung, alamak! Alih-alih hemat energi tapi kok malah boros biaya?

Anda mengalaminya? Mengapa iya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar