Selasa, September 16, 2008

Lipsus Mudik: Go to Balikpapan

Dalam liputan khusus mudik kali ini, pukul 14:55 wib ini saya sedang
berada di bandara internasional Juanda Surabaya, menunggu penerbangan
ke Balikpapan dengan menggunakan pesawat Mandala Air. Menurut rencana,
pesawat akan take off mulai pukul 16:00 wib. Pemirsa, seperti yang
Anda saksikan dibelakang saya nampak suasana bandara didominasi ruang
kosong melompong, tempat duduk ruang tunggu yang lenggang bisa buat
tiduran bagi yang pegel-pegel ataupun pingin bobok siang sembari
menunggu buka puasa. Tentu saja, bila Anda melakukan itu, Anda akan
ditemani polisi keamanan untuk membangunkan Anda untuk makan sahur.
Weks... Error, DoS attack!

Adapun tiket yang saya peroleh sejak awal bulan ini dikenakan harga Rp
0,- dan hanya membayar pajak sebesar Rp 289.500,- saja. Tentu, itu
belum termasuk ongkos becak, taxi, dan boarding pass yang harus
dibayarkan. Apalagi kalau ingin beli 10 biji Dunkin Donat, lumayan
kan.

Demikian liputan khusus kali ini, yang disiarkan secara langsung dalam
perjalanan Yogyakarta-Surabaya-Balikpapan, dengan menggunakan sinyal
kuat 3G, N71, dan Gmail Application. Dengan menggunakan perangkat
kecil itu, pembelian tiket pesawat bisa juga dilakukan, mudah kan?
Jadi, mudik kemana Anda lebaran kali ini?

--
Sent from Gmail for mobile | mobile.google.com

Lipsus Mudik: Potret Kemiskinan dan Hikmah

Salah satu keunikan dalam melakukan perjalanan jauh seperti mudik ini adalah dengan melihat kondisi dan keadaan lingkungan di sekitarnya secara lebih dekat. Sembari mengambil hikmah apa yang dilihat dari setiap laku dan perbuatan masyarakat maupun diri sendiri terhadap lingkungan sekitarnya. Mirip seperti seorang journalist ataupun photographer yang mengambil materi berita ataupun potret dari sudut pandang yang berbeda, sebagai blogger pun sebenarnya bisa mengambil pelajaran yang teramat berharga, menelisik kehidupan masyarakat dan mencatatkannya untuk sesuatu yang mungkin terlihat tidak berharga. Kebanyakan dari manusia memiliki sifat dasar lemah dalam mengambil pelajaran, tetapi lebih suka mengeluh atau membanggakan diri sendiri dengan menunjukkan kemapanan materi. Siapapun mudah menerkanya, kebanyakan materi yang dibanggakannya hanyalah sekedar kulitnya saja, sesuatu yang nampak dari luar dan gemerlap dilihat mata, tetapi lucunya tidak banyak yang benar-benar tahu apa yang dibanggakannya itu. Bila taraf kebosanan mulai menghinggapinya, materi yang dibanggakannya itu bisa jadi akan menjadi sampah yang tidak berarti sebagaimana sampah-sampah lain yang dibuangnya, dan terus berulang kembali.

Sulit bagi saya membuat liputan khusus mengenai mudik yang saya lakukan secara live dengan perangkat teknologi informasi dan telekomunikasi ala kadarnya yang saya miliki ini setelah membaca, mendengar, dan melihat kenyataan, bahwa potret kemiskinan sangat mempengaruhi pola kehidupan bangsa ini. Sejenak tertegun melihat lebih dekat dari sisi kemanusiaan, ternyata ada sesuatu yang lebih penting yang dapat diambil hikmahnya, atau setidaknya ikut merasakan bahwa ada kepelikan dan kerumitan hidup yang cukup berat yang dialami sebagian masyarakat di sebagian wilayah Indonesia tercinta ini. Mengoplos daging dengan daging tidak layak untuk memperoleh keuntungan berlipat, mengolah daging rusak dan makanan sampah untuk dikonsumsi kembali, mudah memuncaknya ketidaksabaran, ketidaklegowoan dan emosional sehingga timbul kerusuhan, hingga matinya puluhan nyawa akibat berebut zakat dari seorang dermawan, cukuplah menambah catatan buram potret kemiskinan dan kerusuhan di negeri ini.

Uniknya, justru kerumitan dan cobaan duniawi itu terlihat nyata dan dapat dirasakan pada bulan Ramadhan, bulan suci dimana pahala dan dosa dilipatgandakan melalui ujian hawa napsu, kerumitan, konflik kepentingan dan cobaan duniawi lainnya. Sepuluh hari di akhir bulan Ramadhan, adalah kesempatan bagi sesama umat muslim untuk lebih berlomba-lomba lagi dalam kebaikan. Namun kebanyakan dari hari-hari itu adalah puncak dimana segala persiapan menyambut lebaran begitu tinggi, yang begitu menguras biaya dan tenaga yang tidak sedikit. Seolah-olah ujian untuk beribadah menjadi semakin sulit dan lebih halus menghalang-halangi diri untuk berkontemplasi sejenak, agar lebih mendekatkan diri kepadaNya secara ikhlas.

Mari kita jalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini dengan baik.

Surabaya, 16 September 2008.

Senin, September 15, 2008

Lipsus Mudik: Now, Stay in Surabaya

Alhamdulillah, akhirnya sampai di Surabaya waktu subuh. Tak salah
memang Surabaya disebut kota metropolis, karena sejak subuh pun
aktifitas warga kota sudah mulai hiruk pikuk, motor mobil para pekerja
luar kota masuk menyesaki arus lalu lintas, media informasi dan
telekomunikasi mulai menyala bergerak cepat, kebanyakan informasi yang
beredar seputar Surabaya dan Jawa Timur. Sangat beda dengan Yogyakarta
yang feminim, atau Balikpapan yang hedonis dengan pusat media
informasi dari Jakarta. Surabaya menjadi trend setter bagi kota-kota
di Jawa Timur, bila dibandingkan dengan kota lain di Indonesia bisa
jadi levelnya setara Jakarta, begitu juga kerasnya kehidupan seperti
tak ada kompromi.
Kembali ke topik, dalam perjalanan dari Solo sekitar jam 11.30 wib
malam hari arah menuju kota Ngawi, ternyata arus lalu lintas cukup
padat. Ini karena sepanjang jalan banyak rombongan mirip konvoi
pengguna motor berpelat Solo, perkiraan saya ribuan jumlahnya.
Sebagian besar tak menggunakan helm, juga tak terlihat kawalan polisi,
tapi cukup tertib. Lewat dari Ngawi nampaknya sopir mengantuk, ini
sangat berbahaya, saya yang duduk di dekatnya sesekali membuatnya
sadar. Syukurlah setiba di Saradan Madiun mampir di rumah makan,
sekalian makan sahur sambil menghilangkan rasa kantuk. Tetap ingin
menjalankan puasa? Ya iyalah. Perjalanan kan malam hari dan tidak
sedang berpuasa, lagian jaman sekarang ada kemudahan transportasi,
sehingga fisik tidak terlalu lelah. Bila perjalanan jauh --dengan
jarak tertentu -- di waktu puasa sangat melelahkan atau kondisi berat
seperti perjalanan jauhnya orang-orang dahulu naik onta atau kuda di
waktu terik bisa menyebabkan puasa jadi berat juga, maka terdapat
rukshoh atau kemurahan membatalkan puasa -- mokel -- dan wajib diganti
di hari lainnya. Tetapi tunggu, kalimat terakhir itu pendapat dan
pemahaman saya. CMIIW.

--
Sent from Gmail for mobile | mobile.google.com

Minggu, September 14, 2008

Lipsus Mudik: Yogya Solo Lancar

Perjalanan darat Yogya Solo malam hari ini bebas lancar tak ada macet.
Hanya sering jalan bareng travel lain, bis maupun truk expedisi. Sopir
malah sering menerobos lampu merah, mudah-mudahan perjalanan aman
selamat lancar sampai tujuan. Sempat baru ingat, berhubung tadi
berangkat buru-buru, kran air kamar mandi lupa ditutup, walah! Malahan
tadinya kunci kamar ketinggal menggantung di pintu, beuh! Akhirnya sms
mbak Wiwik minta ditutupin krannya dari lantai atas, sembari maaf
maaf... Pasalnya, gara-gara sopir jemput masih jam 7 lewat, kirain jam
8, lah jam segitu lagi terawih, akhirnya gak jadi terawih deh. Makanya
dong, jangan buru-buru, penting banget persiapan dan bekal.

--
Sent from Gmail for mobile | mobile.google.com

Lipsus Mudik: Go to Surabaya

Malam ini saya sedang dalam perjalanan mudik dari Yogyakarta ke
Surabaya, naik travel Racmalia mulai pukul 8 malam. Arus mudik
diperkirakan meningkat tajam mulai H-10, ini terlihat sore tadi saya
lihat di travel agent banyak kursi sudah dibooking penumpang. Ikuti
laporan perkembangan mudik Yogya - Balikpapan selanjutnya langsung di
perjalanan.

--
Sent from Gmail for mobile | mobile.google.com

Jumat, September 05, 2008

Keamanan Data: Hati-hati dengan Situs Pertemanan

Entah sudah berapa kali saya mendapat undangan untuk bergabung dalam jaringan situs pertemanan, mulai tagged, friendster, hi5, fupei, multiply, dan sebagainya -- kecuali facebook belum pernah. Tetapi dengan amat sangat, kiranya saya mohon maaf mungkin belum bisa memenuhi ajakan undangan untuk bergabung fren-frenan seperti ini. Tentu, bukannya saya tidak menghargai undangan rekan semua, justru saya sangat berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua rekan, kolega, maupun kenalan yang telah mengundang saya, tetapi karena banyaknya hal-hal yang menyebabkan saya kurang memperhatikan situs-situs pertemanan inilah yang akhirnya jadi terbengkalai. Sayang kan, sudah keluar waktu, biaya dan susah-susah membuatnya akhirnya jadi teronggok begitu saja. Tak heran, friendster saya jarang sekali saya tengok atau update. Tetapi karena sudah membuat akun friendster, akhirnya sesekali bila ada pesan atau ingin mengajak bertemanan mau tak mau saya meresponnya, tentu dengan senang hati. ;-)

Yang perlu diperhatikan bagi yang gemar mengupdate situs pertemanan adalah soal keamanan data penting. Ambil contoh salah satu situs pertemanan di atas, pada saat mendaftarkan diri untuk bergabung, ada langkah yang harus dilalui yaitu mengisikan alamat email dan password email, sebenarnya bisa diabaikan, tetapi link atau icon untuk mengabaikan ini letaknya -- disengaja -- tidak menyolok. Apabila ceroboh, user awam biasanya tanpa curiga memasukkan email beserta passwordnya karena dianggap sebagai syarat yang musti dilalui. Jangan mudah percaya, ini sangat berbahaya! Biasanya situs ini akan menjaring data pada akun email tanpa diketahui pemiliknya, seperti address book misalnya. Siapa yang bisa menjamin bahwa situs pertemanan ini tempat yang aman dan tidak mengeksploitasi data-data penting email Anda? Perhatikan juga, situs pertemanan biasanya tidak dilengkapi security yang baik -- semisal SSL -- untuk melindungi data mentah yang Anda gunakan ketika men-submit data. Untuk menangkap data Anda di jaringan Internet publik misalnya, itu mudah sekali, hanya berbekal software dari Internet yang tersedia bebas dan gratis data Anda akan mudah dieksploitasi orang yang tidak bertanggung jawab, atau orang yang mengaku bertanggung jawab sekalipun!

Untuk itu, mari lebih bijak dan berhati-hati. Mudah-mudahan bermanfaat.

Kamis, Agustus 21, 2008

Social Behavior, Murah, Maag dan Ramadhan

Ini hanya bagian kecil cerita bersosial di Jogja, dimana saya selalu heran dan salah tingkah dengan adat dan budaya daerah, seperti ketika mengobrol dengan orang yang termasuk sepuh. Budaya Jawa, terutama daerah Surakarta dan Ngayogyakarta terkenal sangat halus bahasa pergaulannya, selalu menggunakan logat Jawa kromo inggil, bahasa yang jadi mata pelajaran paling menakutkan ketika saya masih sekolah dasar. Akibatnya, kini saya selalu salah tingkah saat berbincang dengan orang-orang “halus” ini, misalnya ketika berbicara dengan menunjuk sesuatu dengan jari telunjuk, maka orang-orang “halus” ini malah bertanya kembali seolah-olah tidak jelas mana sesuatu yang ditunjuk, padahal jelas-jelas yang ditunjuk itu di depan mata. Tapi coba lipat 4 jari telunjuk dan gunakan jempol kanan --ibu jari-- untuk menunjuk dengan arah telapak menghadap ke atas, maka itu sudah cukup sopan sebagai tanda menunjuk sesuatu, walaupun yang ditunjuk itu saaa...ngat jauh, bahkan tidak terlihat sekalipun.

Yang paling sering adalah ketika makan di warung, selesai makan tentu terakhir adalah membayar, “Tadi makan nasi tahu telor, teh hangat, tambahnya krupuk emping satu, berapa?” Sambil komat-kamit penjual menghitung, “Lima ribu lima ratus”. Hmm... murah ya, sambil menyerahkan uang lebih. Karena rasanya terlalu murah sering saya kira penjual salah menghitung, konyolnya saya ulang kembali rincian makan tadi. Maka di sinilah suara agak keras si penjual dengan merinci satu persatu harga masing-masing komponen segala macam itu. Agar tidak salah paham, saya katakan “Murah...” datar sambil mangut-mangut. Sing ati-ati karo wong Jowo tole, weleh...

Betul murah kah? Iya betul, di jaman ekonomi sulit sekarang ini harga segitu murah sekali bila dilihat kualitas dan kuantitasnya, bahkan ada yang lebih murah lagi, dan itu sering saya mengalami salah paham gara-gara sok ndeso makan di warung. Karena banyak salah paham itu, akhirnya jadi sungkan, ewuh pakewuh untuk datang lagi, padahal itu warung terdekat. Maka saya keluar agak jauh lagi dari rumah, mencari nasi padang, lotek, soto ayam, soto daging, soto kudus, sayur bayam, sayur lodeh, sop, telor bali, ceker ayam, sate ati, wah... lebih banyak variasinya. Dan semua itu termasuk murah dan terjangkau menurut saya. Coba bandingkan, adakah seporsi soto ayam seharga Rp 2.500? Nasi padang, sepotong dadar telor ayam pedas tebal, sepotong tempe, tambah teh hangat, semuanya Rp 5.500? Soto daging sapi Rp 4.000? Tapi jangan dibandingkan dengan jaman sebelum krisis moneter 10 tahun lalu, ketika seporsi soto ayam hanya 250 - 500 perak, seliter bensin premium 450 perak, dan sebulan biaya hidup anak kost tak lebih dari 100 ribu, karena kini semuanya naik lebih dari 10x lipatnya.

Untuk berhemat dan agar tidak keluar rumah, kadang mencoba memasak sendiri, tapi ternyata cukup repot dan wasting time, jadi cukup menanak nasi di hari-hari libur saja. Kendati demikian, pola makan saya sering tidak teratur, hampir setiap hari si sulung, Nasywa, di telepon selalu mengingatkan “Ayah... ayah mam apa sih?”, “Ayah sudah mam apa belom?”,” Ayah ini sudah dibilangin jangan makan indomie terus yah... ayah bisa mam sama telor, ayam goreng, soto, yah... blablabla...” Saya yang mendengarnya hanya tersenyum --plengeh-- saja, tapi... ayahnya ini sangat bandel juga sih, sudah sering diingatkan... eh, akhirnya kini maag-nya kambuh lagi. Nah loh!

Dan kemarin, saya mencoba saran ibunya anak-anak, langganan katering untuk puasa ramadhan, agar lebih nyaman dan mudah-mudahan lebih tertib... :-)

Minggu, Agustus 17, 2008

Merdeka itu Cinta


Diadaptasi dari film Ayat-Ayat Cinta, menampilkan Fahri Abdullah (Fedi Nuril) dan Aisha Greimas (Rianti Cartwright).

Selasa, Agustus 12, 2008

Menulis Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar itu Sulit

Berapa lama Anda belajar bahasa Indonesia?
Ada yang menyebut 12 tahun, karena dimulai dari tingkat sekolah dasar (SD) selama 6 tahun, kemudian 3 tahun sekolah menengah pertama (SMP), dan terakhir 3 tahun sekolah menengah atas (SMA). Adapula yang menyebut lebih dari 12 tahun, sebab masih dilanjutkan ujian masuk perguruan tinggi yang menyertakan syarat ujian Bahasa Indonesia, kemudian bila memilih jurusan atau program studi Bahasa Indonesia pun masih belajar lagi hingga sarjana. Bukan itu saja, pada program studi selain itu, syarat untuk menulis laporan tugas akhir, harus memenuhi kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar, dan ini wajib dilalui dengan baik ketika harus menyelesaikan thesis bagi program pasca sarjana, hingga desertasi doktor.

Jadi, seandainya ada orang yang berpendidikan tinggi, setidaknya cara menulis yang baik dan benar tercermin dalam kegiatan sehari-harinya. Akan menjadi suatu pertanyaan besar dan berbuntut panjang, bila ternyata menulis bahasa Indonesia saja masih kacau balau. Lalu, bagaimana sebaiknya berbahasa Indonesia yang baik dan benar? Apakah seperti tulisan saya ini? Lho... bukannya sudah puluhan tahun belajar bahasa Indonesia? Ah, kacau sekali, baik, baiklah, saya masih perlu belajar lagi menulis yang baik. Untuk itu, tolong sekali lagi ingatkan dan ajarkan saya berbahasa Indonesia yang baik dan benar, minimal Anda dapat memeriksa kesalahan dan membetulkan tulisan saya ini. ;-)