Setiap perhelatan Piala Dunia saya selalu menjagokan tim Italia, dan rasanya sulit berpindah ke tim negara lain, kecuali tentu saja Indonesia suatu saat. Entahlah, saya mengenal Italia ketika Paolo Rossi dengan kaos birunya bermain di Piala Dunia 1982, selanjutnya, secara emosional saya selalu condong mendukung tim ini. Kenapa? Alasannya sederhana, karena maskulin dan kostumnya yang biru seperti menguasai lapangan ketika dilihat dari atas stadion. Saya menganggap orang Italia selalu tampak cocok bermain bola khas olah raga laki-laki itu, dengan rata-rata postur tubuh pemain yang tidak terlalu gempal tapi kuat berlari dalam tempo lama sambil mengocek bola, rambut gondrong seperti tak pernah sisiran atau diikat karet seadanya, wajah macho khas Italia yang selalu brewokan, bila berselisih dengan pemain lawan dan berteriak rahang atau otot lehernya tampak jelas menggurat di wajah, apalagi kalau mengunyah permen karet. :-)
Tak heran, Italia selalu kontrovesial dengan maskulinitasnya saat bertanding, banyak yang tidak suka dengan tim ini karena selalu "rusuh" dan dianggap mengundang masalah, tentu masih ingat kasus Materazi yang disundul Zidane di final Piala Dunia 2006 lalu di Jerman. Meski demikian, selain karena kelelakiannya itu, saya suka dengan kebanyakan gaya bermain pemainnya, dan pelatihnya yang biasa menuju ke pinggir lapangan tak sabar mengatur permainan. :-)
Di Piala Dunia 2010 ini, karena Indonesia belum bisa merumput di sana, maka kembali saya mendukung Italia, saya percayakan pada pelatihnya, Marcello Lippi, dan penjaga gawang Gianluigi Buffon dkk.
Selamat bertanding!
Minggu, Juni 13, 2010
Kamis, Juni 10, 2010
Konversi MDB ke Format CSV Menggunakan mdbtools di Linux
Bagi sebagian orang atau organisasi, mungkin sudah banyak langkah-langkah atau cara migrasi dari perangkat lunak Proprietary ke Open Source. Salah satu caranya adalah konversi database dari format MDB milik Microsoft Access ke format CSV, untuk kemudian diimpor ke DBMS Open Source seperti SQLite, MySQL atau PostgreSQL. Walaupun cara ini kelihatan 'basi' karena berdasarkan sumber sudah ada sekitar 4 tahunan, tapi lumayan bagus untuk mengingat lagi teknik-teknik pengelolaan data, maklum, kadang sering lupa... :-)
Bagi pengguna Ubuntu Linux (9.04), bersyukur dan berbahagialah, karena di repository standard mdbtools mudah ditemukan dan diinstall, mari bekerja di terminal, ketik:
Lebih lengkap perintah show tables bisa dilihat di manual:
Export ke format CSV
Sumber bacaan:
Converting Microsoft Access MDB Into CSV Or MySQL In Linux
Catatan:
- cara ini lebih cocok untuk organisasi kecil atau UKM (Usaha Kecil Menengah).
- hati-hati untuk tabel dengan tipe data OLE Object dari Access yang digunakan untuk menyimpan image/gambar/foto, karena sifat CSV lebih cocok ke data text, sehingga dikhawatirkan data rusak.
- kelebihan mdbtools ini bisa mengambil data walaupun file .mdb diproteksi password dari Access, jadi hati-hatilah.
- penulis tidak bertanggung jawab terhadap kehilangan/kerusakan/kesalahan penggunaan cara ini, segala resiko ditanggung sendiri.
Bagi pengguna Ubuntu Linux (9.04), bersyukur dan berbahagialah, karena di repository standard mdbtools mudah ditemukan dan diinstall, mari bekerja di terminal, ketik:
$ sudo apt-get install mdbtoolsSetelah sukses menginstal, masuk ke direktori dimana file .mdb ada untuk diimpor, lihat daftar tabelnya:
$ mdb-tables database.mdb
Lebih lengkap perintah show tables bisa dilihat di manual:
$ man mdb-tables
Export ke format CSV
$ mdb-export nama_file.mdb nama_table > nama_file.csv
Sumber bacaan:
Converting Microsoft Access MDB Into CSV Or MySQL In Linux
Catatan:
- cara ini lebih cocok untuk organisasi kecil atau UKM (Usaha Kecil Menengah).
- hati-hati untuk tabel dengan tipe data OLE Object dari Access yang digunakan untuk menyimpan image/gambar/foto, karena sifat CSV lebih cocok ke data text, sehingga dikhawatirkan data rusak.
- kelebihan mdbtools ini bisa mengambil data walaupun file .mdb diproteksi password dari Access, jadi hati-hatilah.
- penulis tidak bertanggung jawab terhadap kehilangan/kerusakan/kesalahan penggunaan cara ini, segala resiko ditanggung sendiri.
Kamis, Juni 03, 2010
Berganti Template Blog Lagi
Bila melihat posting terakhir blog ini, berarti lebih kurang 3 bulan tidak update. Ya, semenjak perubahan template blog ala online news itu. Dan mulai hari ini, saya ganti template lagi kembali ke semula, tetapi dengan warna biru dari sebelumnya warna hijau. Saya sendiri merasa kurang sreg dengan template online news yang tampaknya saya paksakan itu. Apalagi page-rank malah turun menjadi 2 dari sebelumnya 3. Asumsi saya, turunnya page-rank gara-gara (1) perubahan template yang akhirnya orang jadi malas mengunjungi, atau (2) selama 3 bulan nggak pernah di-update, atau (3) bisa jadi template yang kurang ramah terhadap search engine. Kurang ramahnya template ini bisa dilihat dari artikel yang dipotong menggunakan Javascript.
Hmm… tampaknya perlu dicari solusinya dengan aksi nyata, mudah-mudahan dalam 1 bulan ke depan 3 masalah di atas bisa teratasi dengan naiknya page-rank menjadi 3, semoga.
Hmm… tampaknya perlu dicari solusinya dengan aksi nyata, mudah-mudahan dalam 1 bulan ke depan 3 masalah di atas bisa teratasi dengan naiknya page-rank menjadi 3, semoga.
Sabtu, Maret 06, 2010
Trend Online News, Anniversary 5th Blogku, dan SMKTI.net
Seperti tahun-tahun sebelumnya -- tidak setiap tahun -- blog ini mengalami perubahan wajah. Dan wajah blog ini pun akhirnya memilih model Online News, yang biasanya di bagian headline terdapat photo slider dan lead berita. Pemilihan model ini sedikit banyak terpengaruh oleh trend online media di dunia, termasuk blog lokal Kalimantan Timur milik Pak Adriyanto, Tekno Hikmah yang sepintas perwajahannya mirip dengan media online terkenal dunia, Time.Com, dan SMKTI.net milik SMKTI Airlangga Samarinda.
Khusus situs SMKTI.net, rasa salut saya untuk Pak Adriyanto yang sangat 'berani' membuat gebrakan keren. Pasalnya, SMKTI.net menggunakan hosting di blogger/blogspot milik Google, sedangkan domain milik sendiri. Bila asumsi saya ini benar, tentu itu keren dan jauh menghemat biaya, karena beban biaya hanya pada domain per tahun saja, sedangkan hosting dari blogger dengan space cukup besar setahu saya gratis sebagaimana blog saya ini. Didukung desain yang cantik, rapi, light, dan dibuat sendiri dengan sedikit modifikasi kode HTML, CSS, dan Javascript, ditambah berbagai macam fitur dari Google, situs menjadi jauh lebih kuat dan berkarakter. Dalam merilis informasi atau berita pun bisa langsung melalui ponsel sederhana pada umumnya, sehingga bila ada kegiatan penting yang membutuhkan live report bisa langsung online. Di sisi security, web-admin tak perlu direpotkan untuk mengawasi dan tak perlu wasting time menghapus serangan spammer yang bertubi-tubi, karena Google cukup tangguh bekerja mengantisipasi segala gangguan yang terjadi, dan semua fasilitas itu bisa didapatkan gratis! Bila ada sekolah lain yang menyewa server hosting dengan space berkapasitas besar, desain menggunakan jasa pihak ketiga yang harganya bisa jutaan, belasan hingga puluhan juta rupiah, tentu itu semua tak perlu terjadi karena bisa dibuat jauh lebih hemat lagi.
Meski demikian, satu-satunya kekurangan menurut saya adalah hingga saat ini Google belum menyediakan server mirror blogspot di Indonesia, kebanyakan masih berada di luar negeri terutama Amerika Serikat. Saya hanya bisa berharap stabilitas ekonomi dan infrastruktur Internet di tanah air dari waktu ke waktu semakin baik dan jauh meningkat. Ok-lah kalo' begitu, tapi, bukannya mengakses situs blogspot di ponsel tak semudah mengakses Facebook mobile atau Twitter? Hoho... Jangan khawatir, kekuatan situs itu ada pada konten, selama konten selalu di-update dan informatif serta tersedia feeds-nya, jangan sia-siakan, gunakan Google Reader, subscribe RSS/Atom situs tersebut, lalu dapatkan informasi terkininya secara mobile, gampangkan?
Khusus situs SMKTI.net, rasa salut saya untuk Pak Adriyanto yang sangat 'berani' membuat gebrakan keren. Pasalnya, SMKTI.net menggunakan hosting di blogger/blogspot milik Google, sedangkan domain milik sendiri. Bila asumsi saya ini benar, tentu itu keren dan jauh menghemat biaya, karena beban biaya hanya pada domain per tahun saja, sedangkan hosting dari blogger dengan space cukup besar setahu saya gratis sebagaimana blog saya ini. Didukung desain yang cantik, rapi, light, dan dibuat sendiri dengan sedikit modifikasi kode HTML, CSS, dan Javascript, ditambah berbagai macam fitur dari Google, situs menjadi jauh lebih kuat dan berkarakter. Dalam merilis informasi atau berita pun bisa langsung melalui ponsel sederhana pada umumnya, sehingga bila ada kegiatan penting yang membutuhkan live report bisa langsung online. Di sisi security, web-admin tak perlu direpotkan untuk mengawasi dan tak perlu wasting time menghapus serangan spammer yang bertubi-tubi, karena Google cukup tangguh bekerja mengantisipasi segala gangguan yang terjadi, dan semua fasilitas itu bisa didapatkan gratis! Bila ada sekolah lain yang menyewa server hosting dengan space berkapasitas besar, desain menggunakan jasa pihak ketiga yang harganya bisa jutaan, belasan hingga puluhan juta rupiah, tentu itu semua tak perlu terjadi karena bisa dibuat jauh lebih hemat lagi.
Meski demikian, satu-satunya kekurangan menurut saya adalah hingga saat ini Google belum menyediakan server mirror blogspot di Indonesia, kebanyakan masih berada di luar negeri terutama Amerika Serikat. Saya hanya bisa berharap stabilitas ekonomi dan infrastruktur Internet di tanah air dari waktu ke waktu semakin baik dan jauh meningkat. Ok-lah kalo' begitu, tapi, bukannya mengakses situs blogspot di ponsel tak semudah mengakses Facebook mobile atau Twitter? Hoho... Jangan khawatir, kekuatan situs itu ada pada konten, selama konten selalu di-update dan informatif serta tersedia feeds-nya, jangan sia-siakan, gunakan Google Reader, subscribe RSS/Atom situs tersebut, lalu dapatkan informasi terkininya secara mobile, gampangkan?
Kamis, Maret 04, 2010
Ngeblog di Blogger bisa Langsung lewat Ponsel!
Melalui Twitter, @blogger telah mengumumkan fasilitas FTP yang sayangnya, ketika saya klik tautnya malah diarahkan ke dashboard akun blogger ini. Kaget campur senang, karena selama ini kalau posting blog via ponsel, maka teknik yang saya gunakan adalah posting via email, tapi kini lebih mudah bisa langsung menuju dashboard yang tampilannya ramah dan user-friendly, bahkan bisa nge-Buzz pula, weleh... weleh...
* Diposkan melalui perangkat bukan BlackBerry, tapi N70 dan Opera Mini.
* Diposkan melalui perangkat bukan BlackBerry, tapi N70 dan Opera Mini.
Rabu, Februari 03, 2010
Jakarta Memang Berisik!
Di ranah social-media, saya lebih aktif mengakses dan berbagi informasi di Twitter daripada Facebook, bukan tanpa alasan, setengah tahun terakhir saya melihat Twitter sangat populer dan mudah dalam berbagi informasi. Perkembangan Twitter terus meningkat, sysomos, lembaga analisis social-media merilis jumlah pengguna Twitter dari Indonesia menduduki peringkat ke 6 dunia, fantastis!
Ok, baiklah, di sini tercatat Twitter sangat populer di Indonesia, itu berarti ada ceruk, tapi Indonesia bagian mana? Sysomos melaporkan bahwa Jakarta adalah kota teramai aktivitas tweet-nya di Indonesia, ini berarti Jakarta membuktikan memang sejak dari dulu biangnya keramaian. Lalu siapa biangnya keramaian Jakarta di Twitter? Tengoklah artis, berapa jumlah follower-nya? Padahal tweet-nya biasa saja seputar perbincangan dengan sesama artis dan Jakarta, malahan sering tak bisa bedakan antara nge-tweet dengan chatting, bahkan kontennya tak jelas, intensive, tapi orang suka, follower-nya puluhan ribu, aneh. Belum lagi media seperti Detik, Kompas, Vivanews, Republika, Antaranews, dan sebagainya semua berbau Jakarta!
Tampaknya untuk melawan keberisikan Jakarta saat ini tidak mudah, berisik tak perlu dilawan dengan berisik, cukup kalem tapi informatif saja. Ini bisa dimulai oleh media lokal seperti @Tribunkaltim yang sudah aktif nge-tweet berita lokal, sedangkan Kaltimpost -- saat ditulis blog ini -- malah belum memiliki akun Twitter resmi. Sebenarnya berita lokal tak perlu diragukan, tweeps yang nge-tweet dengan berita-berita positif, valid, dan akurat akan sangat membantu orang lain. Saat mendengar kabar berita dari istri saya tentang kebakaran kilang Pertamina lalu saya cukup panik dan membutuhkan informasi yang jelas, mengingat anak-anak tinggal dekat kilang tersebut dan mengungsi di rumah pakdenya, sedangkan saya sedang di luar kota. Tapi syukurlah saya mendapatkan foto cepat dari tweeps lain dan ini membantu saya dan saya pasang di Facebook. Kemudian Detik dan Liputan 6 memperjelasnya dengan berita. Lagi-lagi, informasi saya dapatkan dari Jakarta.
Jakarta memang berisik.
@suburanugerah
Ok, baiklah, di sini tercatat Twitter sangat populer di Indonesia, itu berarti ada ceruk, tapi Indonesia bagian mana? Sysomos melaporkan bahwa Jakarta adalah kota teramai aktivitas tweet-nya di Indonesia, ini berarti Jakarta membuktikan memang sejak dari dulu biangnya keramaian. Lalu siapa biangnya keramaian Jakarta di Twitter? Tengoklah artis, berapa jumlah follower-nya? Padahal tweet-nya biasa saja seputar perbincangan dengan sesama artis dan Jakarta, malahan sering tak bisa bedakan antara nge-tweet dengan chatting, bahkan kontennya tak jelas, intensive, tapi orang suka, follower-nya puluhan ribu, aneh. Belum lagi media seperti Detik, Kompas, Vivanews, Republika, Antaranews, dan sebagainya semua berbau Jakarta!
Tampaknya untuk melawan keberisikan Jakarta saat ini tidak mudah, berisik tak perlu dilawan dengan berisik, cukup kalem tapi informatif saja. Ini bisa dimulai oleh media lokal seperti @Tribunkaltim yang sudah aktif nge-tweet berita lokal, sedangkan Kaltimpost -- saat ditulis blog ini -- malah belum memiliki akun Twitter resmi. Sebenarnya berita lokal tak perlu diragukan, tweeps yang nge-tweet dengan berita-berita positif, valid, dan akurat akan sangat membantu orang lain. Saat mendengar kabar berita dari istri saya tentang kebakaran kilang Pertamina lalu saya cukup panik dan membutuhkan informasi yang jelas, mengingat anak-anak tinggal dekat kilang tersebut dan mengungsi di rumah pakdenya, sedangkan saya sedang di luar kota. Tapi syukurlah saya mendapatkan foto cepat dari tweeps lain dan ini membantu saya dan saya pasang di Facebook. Kemudian Detik dan Liputan 6 memperjelasnya dengan berita. Lagi-lagi, informasi saya dapatkan dari Jakarta.
Jakarta memang berisik.
@suburanugerah
Selasa, Februari 02, 2010
iPad, Sepeda Gunung, dan Gaya Hidup
Di Twitter, beberapa hari ini iPad masih masuk dalam trending topics, cukup lama bertahan, ini berarti masih banyak yang menggunjingkannya, pro dan kontra. Betapa tidak, iPad itu sengaja dibuat kontroversial, secara fisik terlihat cantik memesona namun memiliki kelemahan berupa kemampuannya yang kurang “ngeh”. Setelah membaca sana-sini akhirnya saya menarik kesimpulan secara dangkal bahwa iPad itu consumerism, inspired, fashioned, stylish minded. ;-)
Sementara itu sepeda gunung atau MTB, ini berkaitan dengan momen sepedaan, ada undangan di Facebook untuk ikutan Jambore Sepeda sejauh 26 km. Saya tak bisa ikut karena selain di luar kota juga karena tak punya sepeda, tak mungkin banget kalau pinjam sepeda warna pink milik anak saya. ;-)
Setelah menimbang-nimbang budget tabungan sepertinya cukup untuk membeli sepeda, karena seingat saya dulu tacik yang punya toko sepeda bilang harga sepeda MTB yang ia jual seharga 700 ribuan. Oklah, tunggu cik, sementara saya coba lihat-lihat dulu di toko sepeda yang khusus jual merek Polygon. Begitu sampai di toko, ternyata harganya nggak ketulungan! Kelas terendah sampai tertinggi harganya 1,2 juta sampai 80 juta, belum helm-nya yang 200 ribu. Hm... Jadi minder. Kelas-kelas untuk stylish, gumamku. ;-)
Untuk mengobati keinginan yang berlebihan saya menghibur diri: Sepedaan itu intinya adalah olah raga dan tranportasi, siapapun sepakat bahwa olah raga itu baik untuk kesehatan. Kalaupun ditambah unsur gaya itu hanyalah nomor ke 27, jadi gaya itu bukan prioritas. Time menyebutkan bahwa dengan olah raga selain dapat menjaga kesehatan, juga mencegah gejala penyakit kronis, penyakit jantung, osteoarthritis, gangguan mental (demensia) maupun gangguan fisik, sehingga efeknya mencegah penuaan dini. Dengan demikian semakin sering olah raga akan semakin baik.
Function, style, inexpensive, but not a cheap short, are more important than just stylish. - Gondes.
Sementara itu sepeda gunung atau MTB, ini berkaitan dengan momen sepedaan, ada undangan di Facebook untuk ikutan Jambore Sepeda sejauh 26 km. Saya tak bisa ikut karena selain di luar kota juga karena tak punya sepeda, tak mungkin banget kalau pinjam sepeda warna pink milik anak saya. ;-)
Setelah menimbang-nimbang budget tabungan sepertinya cukup untuk membeli sepeda, karena seingat saya dulu tacik yang punya toko sepeda bilang harga sepeda MTB yang ia jual seharga 700 ribuan. Oklah, tunggu cik, sementara saya coba lihat-lihat dulu di toko sepeda yang khusus jual merek Polygon. Begitu sampai di toko, ternyata harganya nggak ketulungan! Kelas terendah sampai tertinggi harganya 1,2 juta sampai 80 juta, belum helm-nya yang 200 ribu. Hm... Jadi minder. Kelas-kelas untuk stylish, gumamku. ;-)
Untuk mengobati keinginan yang berlebihan saya menghibur diri: Sepedaan itu intinya adalah olah raga dan tranportasi, siapapun sepakat bahwa olah raga itu baik untuk kesehatan. Kalaupun ditambah unsur gaya itu hanyalah nomor ke 27, jadi gaya itu bukan prioritas. Time menyebutkan bahwa dengan olah raga selain dapat menjaga kesehatan, juga mencegah gejala penyakit kronis, penyakit jantung, osteoarthritis, gangguan mental (demensia) maupun gangguan fisik, sehingga efeknya mencegah penuaan dini. Dengan demikian semakin sering olah raga akan semakin baik.
Function, style, inexpensive, but not a cheap short, are more important than just stylish. - Gondes.
Rabu, Januari 27, 2010
Quotes: Indiana Jones and The Kingdom of The Crystal Skull

Film garapan Spielberg yang dirilis tahun 2008 lalu ini mungkin sudah banyak yang menontonnya, dan mungkin basi kalau sinopsisnya diceritakan kembali. Tidak, tentu di sini tidak bercerita tentang sinopsis, silakan temukan sinopsis di Internet. Di sini saya hanya mencatat quotes Dr. Henry Jones, Jr. aka Indiana Jones aka Indy yang diperankan Harrison Ford, pada adegan ketika dikejar agen KGB di lingkungan kampus. Saking serunya, Mutt (Shia Labeouf), pemuda yang membonceng Indy, sambil bermotor ngebut masuk ke dalam gedung perpustakaan kampus lalu jatuh di bawah kolong meja. Saat itulah ada mahasiswa yang tertanya, “Excuse me, Dr. Jones. I just had a question on Hardgrove's normative culture model.” Sambil bangun dari jatuhnya Indy menjawab, “Forget Hardgrove. Read Vere Gordon Childe on diffusion ism. He spent most of his life in the field. If you want to be a good archeologist, you got to get out of the library!”
Ya, Indy tidak salah, mendapatkan ilmu memang harus belajar dari ahlinya, dan untuk menjadi ahli tidak hanya sekedar belajar teori saja, tapi juga belajar menyelesaikan masalah-masalah nyata lainnya juga.
Knowing is not enough, we must apply. Willing is not enough, we must do. - Johann Wolfgang Von Goethe.
You're not a detached observer
Jauh sebelum Internet hadir, para profesional dan ilmuwan membutuhkan informasi dari sumber pengetahuan yang berfisik besar, seperi buku tebal maupun catatan yang dikumpulkan dari ribuan macam percobaan, hingga tersusun dan disimpan dalam perpustakaan. Kemudian perpustakaan menjadi salah satu sumber utama dan rujukan berbagai sumber ilmu pengetahuan untuk dikembangkan lebih lanjut. Akumulasinya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin meningkat dan semakin lebih baik. Dengan demikian, semakin banyak membaca dan bereksperimen pada bidang yang ditekuninya, semakin memperkuat pengetahuan dan pengalaman seseorang untuk menjadi ahli dibidangnya tersebut.
Waktu kini berubah, Internet hadir menjadi bagian dari pekerjaan, gaya hidup, atau sekedar hiburan, selain menjadi perpustakaan digital yang dapat memperkaya sumber ilmu pengetahuan. Seiring dengan itu, banyak orang memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik dan fokus dalam menerima informasi penting yang dibutuhkan dari Internet, dan Internet secara simultan tanpa henti memberikan informasi tak terbatas. Tetapi pastinya, kemampuan memory manusia sangat terbatas bila dijadikan repository yang digunakan untuk menyimpan miliaran informasi dari Internet, bahkan informasi selingan (distraction) --seperti update status, gosip selebritis, tebak-tebakan, atau selingan lainnya -- pun bisa membuyarkan fokus pikiran dalam mengerjakan atau mengingat sesuatu yang penting. Yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana mengenali kemampuan diri untuk fokus dalam pekerjaan yang ada saat ini daripada sekedar memiliki banyak informasi pengetahuan tetapi tanpa tindakan berarti.
Kini, Internet menjadi external knowledge yang dapat digunakan sebagai sumber pengetahuan yang tak terbatas, tanpa perlu banyak mengingat dan menyimpannya dalam memori otak yang terbatas, sehingga dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan internal saja. Kebutuhan internal itu sendiri adalah fokus untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan bidang yang dihadapi saat ini.
Meski demikian, Internet memiliki kesamaan dengan perpustakaan konvensional, yaitu informasinya akan menjadi “sampah” bila tidak diperbarui, diperbaiki, dikembangkan, dan ditingkatkan lebih baik oleh pengguna Internet itu sendiri. JD Lasica, founder dan editorial director socialmedia.biz memberikan tips: “Be human. You're not a detached observer, but a participant who need to share and give back instead of just taking.”
Have a nice day!
Waktu kini berubah, Internet hadir menjadi bagian dari pekerjaan, gaya hidup, atau sekedar hiburan, selain menjadi perpustakaan digital yang dapat memperkaya sumber ilmu pengetahuan. Seiring dengan itu, banyak orang memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik dan fokus dalam menerima informasi penting yang dibutuhkan dari Internet, dan Internet secara simultan tanpa henti memberikan informasi tak terbatas. Tetapi pastinya, kemampuan memory manusia sangat terbatas bila dijadikan repository yang digunakan untuk menyimpan miliaran informasi dari Internet, bahkan informasi selingan (distraction) --seperti update status, gosip selebritis, tebak-tebakan, atau selingan lainnya -- pun bisa membuyarkan fokus pikiran dalam mengerjakan atau mengingat sesuatu yang penting. Yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana mengenali kemampuan diri untuk fokus dalam pekerjaan yang ada saat ini daripada sekedar memiliki banyak informasi pengetahuan tetapi tanpa tindakan berarti.
Kini, Internet menjadi external knowledge yang dapat digunakan sebagai sumber pengetahuan yang tak terbatas, tanpa perlu banyak mengingat dan menyimpannya dalam memori otak yang terbatas, sehingga dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan internal saja. Kebutuhan internal itu sendiri adalah fokus untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan bidang yang dihadapi saat ini.
Meski demikian, Internet memiliki kesamaan dengan perpustakaan konvensional, yaitu informasinya akan menjadi “sampah” bila tidak diperbarui, diperbaiki, dikembangkan, dan ditingkatkan lebih baik oleh pengguna Internet itu sendiri. JD Lasica, founder dan editorial director socialmedia.biz memberikan tips: “Be human. You're not a detached observer, but a participant who need to share and give back instead of just taking.”
Have a nice day!
Senin, Januari 11, 2010
10/01, Introspeksi Setahun Bermain Facebook dan Social Media
Tanggal 10 Januari adalah hari bersejarah bagi saya pertama kalinya mulai aktif bermain Facebook dan ikut bersosialisasi melalui media baru tersebut. Sebenarnya tak ingat kapan pastinya tanggal bersejarah itu, tapi melalui email data menjadi mudah ditelusuri kembali. Dengan begitu akan tahu kira-kira kapan dan bagaimana mulai aktif ber-facebook ria. Selama setahun itu cukup merasakan asam, asin, manis, hambar, dan kecutnya Facebook. Sebagaimana bersosialisasi yang sesungguhnya dalam hidup bermasyarakat, saat berkomunikasi verbal bisa menunjukkan tutur kata, intonasi suara, bahasa tubuh, dan ekspresi wajah, namun saat bersosialisasi di social-media sangat terbatas sehingga sering menimbulkan masalah, siapapun pengguna Facebook aktif akan merasa mengalaminya atau tidak.
Pengalaman tersebut menjadi sangat berharga, sehingga ada beberapa pengalaman yang saya catat sebagai pelajaran yang mungkin tidak terlalu istimewa. Pertama, terjalinnya kembali kontak komunikasi dengan teman-teman lama yang terpisah belasan hingga puluhan tahun lamanya, beberapa kasus di media massa menyebutkan hingga bisa menumbuhkan cinta lama bersemi kembali yang menimbulkan masalah hubungan dalam rumah tangga, atau masalah hubungan antar personal lainnya. Kedua, wawasan dalam mengenal berbagai macam karakter manusia secara terbatas, baik secara konteks maupun konten dari status dan aktivitas subyektif pengguna. Mengontrol dan menempatkan diri untuk bijaksana melihat situasi, itu adalah pilihan baik. Ketiga, setiap saat siapapun bisa menjadi apapun, kapanpun mau, dan resiko ditanggung sendiri. Keempat, tak ada junker dan spammer yang menyenangkan. Kelima, antisipasi banyak user mulai menunjukkan tanda-tanda kejenuhan dengan rutinitas. Keenam, banyak group yang inkonsisten dan vakum. Ketujuh, kontrol waktu secara proporsional. Kedelapan, banyak undangan yang tak jelas dan asal.
Sampai di sini, lebih banyak mana antara manfaat dan mudharat? Berhenti, kurangi, beralih, atau bersahabat dengan Facebook, itu semua adalah pilihan. Selamat memilih.
Pengalaman tersebut menjadi sangat berharga, sehingga ada beberapa pengalaman yang saya catat sebagai pelajaran yang mungkin tidak terlalu istimewa. Pertama, terjalinnya kembali kontak komunikasi dengan teman-teman lama yang terpisah belasan hingga puluhan tahun lamanya, beberapa kasus di media massa menyebutkan hingga bisa menumbuhkan cinta lama bersemi kembali yang menimbulkan masalah hubungan dalam rumah tangga, atau masalah hubungan antar personal lainnya. Kedua, wawasan dalam mengenal berbagai macam karakter manusia secara terbatas, baik secara konteks maupun konten dari status dan aktivitas subyektif pengguna. Mengontrol dan menempatkan diri untuk bijaksana melihat situasi, itu adalah pilihan baik. Ketiga, setiap saat siapapun bisa menjadi apapun, kapanpun mau, dan resiko ditanggung sendiri. Keempat, tak ada junker dan spammer yang menyenangkan. Kelima, antisipasi banyak user mulai menunjukkan tanda-tanda kejenuhan dengan rutinitas. Keenam, banyak group yang inkonsisten dan vakum. Ketujuh, kontrol waktu secara proporsional. Kedelapan, banyak undangan yang tak jelas dan asal.
Sampai di sini, lebih banyak mana antara manfaat dan mudharat? Berhenti, kurangi, beralih, atau bersahabat dengan Facebook, itu semua adalah pilihan. Selamat memilih.
Langganan:
Postingan (Atom)

